
“Sudah dua hari berlalu semenjak angin topan muncul tiba-tiba di pinggiran kota Barat Daya, sampai saat ini tidak diketahui penyebabnya, peneliti membentuk sebuah tim untuk mencari tahu kenapa angin yang sangat besar kembali muncul di kota itu, ditakutkan kejadian seperti tahun lalu terjadi, tapi untungnya kali ini terjadi di pingggiran kota dan mengarah ke laut, tidak ada korban dalam kejadian ini, tetapi pepohonan yang berada di dalam hutan dan sekitarnya terlihat tumbang.”
Amalia yang baru bangun tidur duduk di sofa dan menonton sebuah berita.
“Lagi-lagi Angin besar muncul di sana.”
Dia mengangkat tangannya dan melakukan peregangan.
“Untung saja kali ini tidak memakan korban jiwa.”
Arin mengenakan pakaian sekolah dan tas turun dari tangga.
“Rin sekolah ?”
“Hari ini ujian.”
Dia melihat kearah kalender yang berada di tembok dekat tangga.
“13 juni, Ah iya minggu ini terakhir kalian masuk sekolah ya ?, kalau gitu semangat.”
“Ya.”
Arin berjalan menuju pintu rumah dan pergi untuk berangkat ke sekolah.
------------------------------------
Terlihat sudah banyak siswa berdatangan ke sekolah, mereka takut terlambat karena ujian akan dimulai, kelas F terlihat sudah cukup banyak siswa yang berkumpul dan mulai mengobrol.
“Aku belum siap.”
“Kenapa harus ada ujian.”
“Sial aku sama sekali tidak bisa mengingat, apa yang telah aku pelajari.”
Beberapa anak mengeluh karena ujian akan dimulai, mereka sama sekali tidak mengingat apapun.
Intan duduk di kursinya dan membaca buku pelajaran Maya berdiri di sampingnya dan mengajak bicara.
“Arin belum datang ya ?”
“Iya.”
“Apa masih sakit ?”
“.….”
Semenjak pertengkaran mereka dan mendengar Arin tidak masuk sekolah, Intan menjadi jarang bicara. Maya melihatnya dari belakang dan menggaruk kepalanya.
Seseorang datang dan membuka pintu kelas, gadis itu datang dan menutupi kelapanya menggunakan hodie, dia berjalan menuju meja yang berada di belakang. Entah kenapa seluruh orang di kelas melihat kearahnya dan suasana kelas menjadi tenang. Dia menyimpan tasnya di atas meja lalu duduk.
“Rin sudah sembuh.”
__ADS_1
Maya mendekatinya dan bertanya, ada selang waktu 30 detik sampai di jawab.
“Ya.”
Seluruh kelas melihat itu dan suasana menjadi aneh. Seluruh kelas F senang mendengar Arin menjadi MVP di pertandingan mereka ingin merayakannya. Karena belakangan ini dia terlihat cukup akrab dengan klub basket jadi mereka ingin mencoba menjadi lebih dekat dengannya. Tetapi saat melihat Ekspresi yang dia keluarkan saat ini, dia menjadi sama saat pertama kali masuk sekolah, raut tajam yang dia keluarkan membuat mereka semua melihatnya.
(Ekspresi yang dia keluarkan seperti saat masuk, dia menjadi Ratu es kembali.)
Maya merasa suasana tidak beres dan pergi untuk duduk di kursi miliknya. Intan melihat ke belakang dan melihat seorang gadis yang sedang menatap kearah jendela.
Ting, tong…
Bel sekolah berbunyi dan seluruh murid terlihat panik karena ujian akan dimulai, Arin membuka jaket dan melipatnya, tidak lama setelah itu Pengawas ujian datang dan membawa lembar ujian.
------------------------------------
Waktu istirahat tiba, ada murid yang terlihat merasa putus asa karena tidak bisa mengejerjakan soal dengan benar. Kelas sangat ribut dan beberapa orang berdiskusi.
Arin mengenakan jaketnya dan pergi menuju luar kelas. Dia berjalan menaiki tangga, menuju atap sekolah. Sampai di sana dia duduk di kursi dan mulai mengenakan earbuds dan membaca sebuah buku.
Selang beberapa menit tiba-tiba terdengar suara seseorang.
“Sudah kuduga kamu di sini.”
Karena ia terlalu fokus tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di depannya.
Seorang gadis yang tidak cukup dekat dengannya berdiri di depannya.
------------------------------------
“Hey, bukannya dia menjadi seperti pertama sekolah ?”
“Benar Ekspresi menyeramkan itu, sama seperti pertama kali masuk.”
“Padahal belakangan ini senyumnya menjadi lebih baik ya.”
“Dia menjadi Ratu ES kembali ya, tapi itu juga yang kita suka darinya.”
“Benar sih, tapi apa kau tidak ingin dekat dengannya, seperti orang-orang dari klub basket.”
“Iri sih liat mereka.”
“Mereka wanita kan, jadi tentu saja bisa dekat, sedangkan kita ini pria.”
Mendengar nama Ratu es Cindy menatap sekelompok orang itu dan mendengarkan percakapan mereka.
(Apa dia sudah kembali masuk sekolah ?)
“Maaf menunggu.”
Kalia keluar dari toilet dan melihat ekspresi temannya yang tampak sedang berpikir.
__ADS_1
“Kenapa cin ?”
“Tidak apa-apa ko.”
“Beli makanan yuk lapar.”
“Ya aku ingin beli sandwich.”
Mereka pergi menuju kanti dan mengantri untuk membeli makanan, terlihat Intan, Maya, dan Naila.
“Arin kemana, aku dengar dia sudah masuk ?”
“Iya, setelah bel berbunyi dia pergi entah kemana,”
“Eh, padahal aku sangat menghawatirkannya.”
“Lebih baik jangan bicara dulu dengannya.”
“Kenapa ?”
“Saat ini dia terlihat seperti pertama masuk sekolah, banyak hal yang terjadi sih.”
“Baiklah.”
Maya dan Naila mengobrol dan Intan hanya diam. Cindy dan Kalia mendengar percakapan mereka.
“Cindy kau dengar itu, kayanya Arin udah masuk sekolah.”
“Ya, tapi kalau kata Alvan, kamu tau kan ?”
“Apa dia baik-baik saja ?”
Saat hari senin Amalia datang ke apartemen untuk memberitahu Maria dan Chanan soal Arin tidak masuk sekolah, di jalan dia bertemu dengan Alvan. Dia memberitahukan bahwa Arin tidak akan masuk sekolah lalu pergi entah kemana. Alvan memberitahukan kondisi ini ke Cindy dan kalia, meskipun mereka tidak dekat tapi dia ingin berusaha untuk menghibur gadis itu.
Mereka membeli beberapa makanan, Cindy membeli 2 buah sandwich dan minuman.
“Kalia aku akan pergi mencari gadis itu.”
“Aku juga ikut.”
“Jangan, dia tidak suka keramaian.”
“Tapi kalau kamu sendiri-.”
Cindy menyela perkataan Kalia.
“Tenang saja, kali ini percaya padaku.”
“Kamu tau, dimana dia berada ?”
“Sepertinya.”
__ADS_1
Dia tersenyum dan pergi membawa pelastik itu menuju atap sekolah.