TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 16. Pulang bersama


__ADS_3

Tiga orang berjalan di lorong sekolah menuju ke kantin untuk membeli makan, sepanjang jalan semua siswa melihat kearah mereka dan saling berbisik.


Setelah sampai di sana mereka menganti untuk membeli makan .


“Nasi goreng spesial dengan toping Chiken katsu 1.”


“Baik.”


“Wah seperti biasa kamu beli itu ya, apa kah enak ?.”


“Coba saja !.”


“Kalau begitu, bibi aku juga pesan yang sama.”


“Baik.”


Setelah mereka selesai memesan lalu memilih untuk duduk di sudut ruangan kantin karena sepi. Mereka pun menarik kursi dan duduk.


“Oh ini ternyata enak, pantas saja Arin selalu memesan ini.”


“Gitu ya ?.”


“Cobain deh ini, aaaaaaa”


Intan mengambil sesendok nasi dan 1 potongan kecil katsu lalu mencoba untuk menyuapi Maya.


“Baik lah.”


Maya memakannya.


“Oh ini lumayan juga, lain kali aku akan memesannya juga.”


Arin melihat mereka berdua mengobrol sembari melanjutkan makannya.


Semenjak Arin datang ke sekolah Intan dan Maya terus mengikutinya.


“Kau terlalu berlebihan.”


“Pokoknya kemana pun kamu pergi aku akan ikut.”


Setelah berbicara begitu mereka pun seharian ini terus bersama, banyak rumor yang beredar mulai dari sang pangeran mengikuti seorang gadis, bentrok antara Knight of prince dan Ratu Es, Ternyata Ratu Es memiliki teman Menjadi perbincangan saat ini. Saat mereka makan pun banyak sekali tatapan kearah mereka dan itu sangat mengganggu Arin.


“Kenapa Rin ?.”


“Sejak kemarin banyak sekali yang memperhatikan, membuatku kesal.”


“Yah setelah kejadian seperti itu pasti banyak mengundang tatapan.”


“Ngeselin ya mereka menatap kearah kita, apa perlu aku marahi saja.”


“May jika kamu melakukan itu yang ada malah tambah parah.”


Intan menatap tajam kearahnya.


“Baiklah.”


Mereka pun melanjutkan makan tanpa peduli tatapan yang mengarah kearahnya.


“Ah iya, hari ini aku tidakakan ikut latihan.”


“Kenapa ?.”


“Ibuku sedang tidak enak badan jadi hari ini aku akan mengatarkannya ke dokter.”


“Apakah baik baik saja ?.”


“Ya hanya demam ringan jadi tidak perlu khawatir.”


“Kalau gitu aku mengantar Arin sendirian.”


“Tidak aku juga akan ikut, dengan kekuatanku kemana pun akan cepat hahaha.”


“Yah kalau itu mau.”


Arin melihat kearah keduanya dan berbicara.


“Sudah ku bilang tidak usah.”


“Pokoknya ga boleh sendirian.”


Dia menghela nafas karena intan sangat egois kali ini.


“Gimana kalau kita pakai kekuatan ku saja biar lebih cepat sampai nya.”


“Eh kalau pakai teleport aku tidak bisa mengulur waktu.”


“Oh jadi itu tujuan aslimu .?”

__ADS_1


“Tidak-tidak itu sampingan saja.”


Sambil mengalihkan padangan Intan menjawab nya.


“Yosh karena sudah selesai makan kita ke ruang guru sebentar ya rin mencari pelatih dan meminta izin.”


“Terserah kalian.”


Mereka berjalan bersama menuju ruang guru, kali ini Intan dan Maya berjalan di depan dan Arin mengikutinya dari belakang. Sesampainya di sana mereka berdua masuk ke dalam dan memberikan penjelasan kepada pelatih. Arin menunggu diluar dan melihatnya dari jendela, untuk sesaat guru itu melihat kearanya dan mengangguk kepada Intan dan Maya. Setelah itu mereka berterima kasih dan keluar.


“Sudah ?.”


“Ya guru sudah menginjinkan kita.”


“Kalau gitu ayo kembali ke kelas.”


Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju kelas.


------------------------------------


Arin, Intan dan Maya sedang berjalan menuju rumah Arin. Sepanjang jalan mereka berbincang.


“Udah lama ya ga pulang jam segini.”


“Apa maksudmu tan, kau kan kembali lagi ke sekolah hahaha.”


“Uh. Sial jangan ingatkan aku.”


“Hahaha, ya karena pertandingan antar sekolah 1 minggu lagi, jadi tiap hari kita harus latihan.”


Arin melihat mereka sedang berbincang, dia menyadari kalau hari ini Alvan mengikutinya.kemudian dia berhenti dan melihat sekitar.


“Kenapa berhenti Rin.”


“Tidak.”


“.…….”


“Hanya saja stalker itu tidak mengikuti hari ini.”


“Ah maksud mu si pangeran ?, tentu saja karena kemarin Intan me-.”


Intan menutup mulut Maya dengan cepat.


“Gak apa apa, gak apa apa ko rin hahahaha.”


Lalu arin pun berjalan kembali


“Kamu tuh ya, jangan dibocorin dong.”


“Emang apa salahnya?.”


“Malu tau.”


“Haaahhh gitu aja malu.”


Keduanya melanjutkan langkah mereka.


------------------------------------


Ketika sudah cukup dekat dari rumahnya, dari belakang ada orang yang memanggil


“RIN- ARIN.”


Ketika mendengar seseorang memanggilnya, semuanya berbalik badan dan melihat ke sumber suara.


Di sana terlihat Maria yang berjalan menghampiri mereka.


“Ah kak Maria lama tidak berjumpa.”


“Oh Intan sudah lama ya .?”


“Kak jangan teriak begitu malu-maluin.”


“Hohoho apakah adikku ini malu karena aku panggil hahaha.”


Maya melihat Arin yang tampak malu dan dipeluk oleh seseorang sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.


(Jadi dia bisa berekspresi seperti itu, tak kusangka.)


“Menjauhlah terlalu dekat.”


“Jangan malu hahaha.”


“Hahaha, ka Maria tidak berubah sama sekali ya.”


“Jadi siapa itu tan ? kakaknya Arin.?”

__ADS_1


“Ah maaf-maaf, bukan tapi dia adalah penghuni dari apartemen yang dikelola oleh ibunya Arin.”


Maria pun melepaskan Arin dan mendekati kearah Maya.


“Ah perkenalkan aku Maria, salam kenal.”


“Maya teman sekelas Intan dan Arin.”


Keduanya saling berkenalan dan berjalan bersama.


Mereka terlihat asik mengobrol dan Arin berjalan di depan dan sedikit berjaga jarak.


Tidak lama setelah itu mereka sampai di depan apartemen Stars.


“Terima kasih, maaf merepotkan kalian.”


“TIdak apa-apa rin, aku melakukan ini karena keinginan ku.”


“Ya karena Intan aku hanya ikut saja.”


“Kalau begitu aku duluan.”


Setelah mengatakan itu Arin berjalan kearah rumahnya dan membuka pintu pagar dan masuk kedalam rumah.


Sekarang hanya tersisa tiga orang, Maria membuka pembicaraan.


“Arin beneran udah berubah ya.”


“Ya aku sampai tidak mengenalinya ka, kalau dia tidak menyapaku saat di kelas mungkin aku tidak akan dapat mengenalinya.”


Intan menjelas sedikit pertemuan antaranya dengan Arin setelah sekian lama.


“Apakah kakak tau penyebabnya ?.”


“Ya.”


Dengan ekspresi yang agak sedih dia menjawab.


“Bisa kah kakak beri tahu aku ?.”


Dengan wajah penuh harapan dia bertanya. Intan sudah berusaha mencari tau tetapi sampai saat ini dia tidak menemukan titik terang, akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang mengetahu perubahan terhadap sahabatnya.


“Kau sama sekali tidak tahu ?.”


“Ya kakak, setelah kelas 3 aku bahkan tidak pernah bertemu lagi dengannya, kemarin aku menelepon beberapa teman ku saat SMP tapi semuanya bilang tidak tau.”


“Kalau begitu maaf aku tidak bisa memberitahumu sekarang.”


Maya yang melihat keduanya berbicara serius tidak bisa mengikuti arah pembicaraan dan mengaruk kepalanya


“Sebaiknya kamu bertanya langsung kepada Arin, aku bisa saja mengatakannya sekarang, tapi itu juga akan mengganggumu nantinya.”


Intan bingung dan memiringkan kepalanya


“Karena sepertinya kasus itu emang ditutupi karena suatu sebab, meskipun aku tidak enak kepadamu tapi-.”


Maria menundukan kepalanya kepada Intan dan berkata.


“Maaf dan tolong jaga Arin di sekolah.”


Intan dan Maya kebingungan melihat situasi di depanya dan berkata


“Kak aku memang tidak tahu apa yang terjadi pada Arin hingga bisa berubah seperti sekarang.”


Dia mendekati Maria dan memegang tanganya


“Tapi mau itu dulu atau sekarang dia tetap temanku, sahabat dekatku, jadi ka Maria tidak perlu sampai seperti ini.”


Dengan penuh senyuman di wajahnya Intan berkata


“Benarkan  May.”


“Huuuh sebenarnya aku masih bingung dengan semua ini, tapi ya serahkan pada kami.”


Maria pun berdiri dan tersenyum kearah mereka.


“Terima kasih.”


Dengan begitu mereka berpisah. Keduanya berjalan bersama menuju sekolah.


“Makin penarasan apa yang terjadi padanya.”


“Ya aku juga.”


Keduanya berjalan perlahan sambil berbincang


“Kalau gitu pakai kekuatanmu untuk mengantarkan ku ke ruang klub.”

__ADS_1


“Haha baiklah.”


Maya memengang tangan Intan dan menghilang dari jalan.


__ADS_2