
Dibandingkan dengan kerusakan yang dialami oleh kota Barat daya. Daerah di sekitar SMA barat yang terkena oleh Badai angin hanya mengalami sedikit kerusakan. Pepohonan dan tiang listrik yang tumbang. Beberapa kaca pada bangunan hancur akibat terhantam oleh beda yang berterbangan. Setelah angin mereda para murid bersyukur karena mereka mengalami beberapa luka saja. Tapi dari luar sekolah mereka mendengar alarm ambulan yang datang.
“Hey ada ambulan yang datang.”
“Apa ada yang terluka parah ?”
“Semoga saja tidak.”
Terlihat petugas medis yang turun dan berlari membawa dua tandu.
“Minggir beri kami jalan.”
Mereka berlari menuju atap sekolah.dengan terburu-buru, para murid yang melihat itu memberikan mereka jalan. Tidak lama setelah itu tim medis kembali turun membawa dua orang gadis.
“Hey bukannya itu Ratu ?”
Para murid menyadari siapa yang sedang dibawa oleh mereka. Di kuatkan oleh Devina, Maya, Cindy, Kalia dan Alvan yang mengikuti mereka dari belakang.
“Maaf tapi satu mobil hanya dapat membawa 1 orang untuk menjaga pasien.”
Salah satu petugas berbicara kepada mereka.
“Karena ada dua mobil jadi siapa yang akan naik ?”
Alvan bertanya.
“Kalau gitu Ketua dan Cindy.”
Maya menyaranakan.
“Aku akan meminta pelatih untuk mengantarkan kami menggunakan mobil.”
Sambil memegangi bahu kirinya yang terasa sakit akibat bantingan dari Arin.
“Baiklah ayo cepat.”
Devina masuk ke dalam mobil yang mengangkut Intan, sedangkan Cindy menjaga Arin. Setelah mereka berdua masuk, mobil langsung berangkat.
“Kalau gitu ayo cari pelatih.”
Maya mengajak Alvan dan Kalia
“Iya.”
Mereka berlari menuju ruang guru.
------------------------------------
Terlihat para guru sedang berkumpul setelah badai berhenti. Mereka menelpon polisi untuk datang dan memeriksa daerah sekitar. Karena takutnya ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Kana duduk di meja miliknya, terlihat pakaian yang dia kenakan sangat kotor. Ia terjatuh saat sedang membantu para murid evakuasi karena terhantam oleh tempat sampah yang terbang.
“PELATIH.”
Maya membuka pintu berteriak dengan kencang. Dia melihat kearah pintu masuk di sana terlihat tiga orang yang datang penuh dengan luka.
“KALIAN KENAPA.”
Melihat murid didikannya penuh luka dia berdiri dan berlari kearahnya. Para guru yang berada di sana menatap mereka.
“Ayo cepat ke ruang perawatan, aku akan mengobati kalian.”
“Pelatih yang lebih penting antarkan kami ke rumah sakit.”
__ADS_1
“Intan dan Arin saat ini sedang dibawa oleh ambulan.”
“Mereka terluka cukup parah.”
Kana yang awalnya mencoba menarik tangan Maya terkejut setelah mendengar ketiga orang itu berbicara. Dia mengerutkan keningnya lalukembali menuju meja lalu mengambil kunci mobilnya.
“AYO CEPAT.”
Tanpa pikir panjang dia langsung berlari menuju mobil, diikuti oleh ketiga orang di belakangnya.
------------------------------------
Cindy sangat mencemaskan keadaan Arin, mundar-mandir di depan ruang IGD. Ruangan yang Arin masuki dan Intan berjarak cukup jauh jadi dia menunggu sendiri di sana.
“Semoga tidak terjadi apa-apa…. semoga tidak terjadi apa-apa.”
Setelah banyak hal yang terjadi diantara mereka, dia menjadi sangat mengagumi Arin dan sangat ingin menjadi temannya. Berkat dirinya Cindy dapat bangkit dari penyesalannya.
“Aku belum membalas budi apapun, kau harus selamat.”
10 menit berlalu, terlihat empat orang berlari menuju mereka.
“Gimana dengan Arin ?”
Kana bertanya mereka terlihat sangat kelelahan karena berlari.
“Masih belum keluar.”
“Kalau dengan Intan ?”
Maya bertanya.
“Dia berada diruangan yang berbeda di sana.”
Cindy menunjuk ke arah tikungan lorong.
Mereka berdua berlari mencari ruangan yang dimaksud.
Seorang perawat melihat ketiga orang yang terluka datang menghampirinya membawa kotak darurat.
“Kalian bertiga juga terluka harus segera diobati.”
“Tidak luka kami tidak parah.”
Kalia menjawab sembari menahan rasa sakit dipunggungnya.
“Tidak aku akan mengobati kalian di sini jadi duduk di kursi itu.”
Perawat itu memaksa untuk mengobati mereka. Cindy mengangguk dan semuanya duduk di kursi yang berada di depan ruangan IGD. Dimulai dari Alvan karena terlihat dia mengalami luka yang paling parah seluruh tubuhnya banyak goresan benda tajam.
“Apa yang sebenarnya terjadi kepada kalian ?”
Ketiga orang itu tidak menjawab dan memasang wajah sangat sedih.
“Tenanglah dokter yang menangani teman kalian adalah dokter terbaik di rumah sakit kami.”
Sambil membersihkan luka Alvan menggunakan alkohol dia berbicara agar mereka menjadi lebih tenang.
5 menit kemudian lampu IGD mati dan dokter keluar.
“Apa keluarganya sudah hadir ?”
“Aku kerabatnya.”
__ADS_1
Alvan yang selesai diobati berjalan menghampiri dokter itu.
“Bagaimana keadaan Arin ?”
“Tulang kering pada kedua kakinya dan beberapa di tempat lain mengalami retak, serta terjadi pendarahan pada organ dalamnya.”
Mendengar itu mereka memasang ekspresi sangat cemas dan takut.
“Untung tepat waktu jadi tidak terlalu parah, saat ini dia sudah membaik kalian tidak perlu cemas.”
Akhirnya mereka dapat bernafas dengan lega setelah mendengar perkataan dokter.
“Kalau gitu tolong isi formulir untuk menyelesaikan pendaftaran dan hal lainnya.”
“Terima kasih dok.”
Cindy menundukan kepalanya.
“Sama-sama.”
Dokter itu tersenyum dan pergi.
“Kalau gitu aku akan mengurus administrasinya, Aku akan mencari bu Kana dan mengajaknya sekalian mengisi punya Intan juga.”
Kalia berbicara.
“Oh iya bagaimana dengan Intan ?”
Cindy bertanya.
“Dia baik-baik saja.”
Alvan menggunakan kekuatan miliknya, mendengar perkataan dokter dan Kana yang sedang berbicara.
“Kalau gitu kalian ikuti Arin menuju ruangannya ya.”
Kalia pergi mencari kana untuk menyelesaikan administrasi yang ada.
“Aku sangat bersyukur Arin selamat, saat dia mengeluarkan darah dan pingsan aku sangat panik.”
Cindy berbicara dan Alvan melihat ke baju Arin yang terkena muntahan darah.
“Tapi kenapa Tulang nya bisa retak dan mengalami pendarahan ?”
“Sepertinya itu akibat Gravitokinesis milik Intan.”
Alvan menyadari tekanan gravitasi yang Intan keluarkan untuk menyerang Arin sangat kuat.
“Aku juga penah terkena serangannya, itu sangat berat, tapi tidak sampai terluka seperti itu.”
“Kemungkinan besar emosi miliknya membuat gadis itu mengerahkan seluruh kemampuannya, apa kamu tidak sadar Cindy ?”
“.….”
“Pijakan dimana Arin berdiri, dan tempat dia dipukulin oleh gadis itu, terjadi retakan pada lantainya.”
Cindy menyimpitkan matanya.
“Saat Arin terlepas dari gravitasi itu, dia juga mengeluarkan darah dari mulutnya kan ?”
“Jadi pada saat dia sudah mengalami luka itu dia tetap berdiri dan menghajar kita semua ya ?”
“Benar.”
__ADS_1
Cindy terkagum sekaligus ketakutan. Karena dengan kondisi seperti itu dia dapat mengalahkan empat orang yang berdiri mencegahnya. Lalu dapat membuat Alvan seorang Rank S terluka cukup parah.
Kemudian para perawat mengeluarkan Arin dari ruang IGD dan akan memindahkannya ke ruangan biasa, mereka yang melihat itu mengikutinya dari belakang.