TRIGGER

TRIGGER
BAB 2, Chapter 56 Kebenaran. (4)


__ADS_3

Haqi memandangi Arin yang duduk di sebelah Maria di dalam bus, dia ingin mengatakan sesuatu untuk menyemangatinya tapi tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun.


(Huh apa pilihanku salah ?, tapi lama kelamaan juga Intan akan mulai mengetahui kebenarannya, dan kenapa informasi mengenai kematian Nia tidak dipublikasikan ?.)


Chanan yang duduk di sebelahnya merasakan bahwa temannya saat ini sedang dalam keadaan terpuruk.


“Bukan salahmu qi, cepat atau lambat keadaan ini akan terjadi.”


Mendengar itu dia menatapnya.


“Apa kau tau kenapa kematian Nia tidak dipublikasikan ?, itulah yang menyebabkan keadaan ini kan ?”


“Aku tidak tau, dulu aku juga sangat penasaran dan mencari tau hal ini, tapi aku tidak dapat menemukan apapun.”


Sepanjang perjalanan menuju rumah Arin hanya diam tanpa berbicara sedikitpun, Maria memegangi tangannya tanpa berbicara.


------------------------------------


“Pekerjaanku baru selesai, padahal aku sangat ingin menonton pertandingan Arin.”


Amalia mengurus beberasa urusannya dan baru kembali sore hari, dia sangat ingin menonton pertandingan anaknya setelah sekian lama tidak bermain basket. Dia sangat kecewa dengan hal ini dan tiduran di sofa karena kelelahan.


Tidak lama setelah itu pintu rumahnya terbuka, dia berdiri dan melihat, di sana ada Arin, Maria, Haqi dan Chanan yang masuk ke dalam rumah.


“Eh rin ko sudah pulang, bukannya bilang pulang jam 6 lebih ya ?”


“.….”


Akan tetapi anaknya tidak membalas perkataan itu, Arin langsung pergi dan menuju ke kamarnya.


“Arin ?”


Melihat eskpresi dari anaknya yang terlihat sedih dia penasaran dan berusaha mengerjarnya.


“Tante.”


Maria meraih tangannya dan menghentikan dia.


Mereka pergi menuju sofa yang berada di ruang tamu dan duduk.


“Jadi, kalian tau Arin kenapa ?”


“Iya tante.”


“Sebenarnya tadi terjadi sesuatu dengan Intan.”


“Sepertinya dia belum mengetahui dengan kematian Nia, hari ini dia mendengar itu dari teman sekelas Arin saat kelas 3 SMP.”


Ketiga orang itu menjelaskan secara bergiliran.


“Jadi Intan belum tau ?”


“Benar, dan dia menyangka kalau Arin menutupi, dan mulai memarahinya.”


“Itu yang terjadi ya, semoga mereka cepat berbaikan, karena teman yang di miliki Arin sedikit.”


Amalia memandang kearah tangga.


“Kalian bertiga mau makan malam di sini ?”


“Boleh saja tante.”


“Biar aku yang memasak, karena sepertinya Arin tidak akan bisa.”


Haqi mengajukan dirinya. Kemudian dia melihat bahan yang ada di kulkas dan mulai berpikir ingin memasak apa.


“Oh iya tante, ini video pertandingan Arin tadi.”


Chanan menyerahkan Handphone miliknya dan memperlihatkan video pertandingan antara SMA Barat vs SMA Utara.


“Wah, nanti tante minta ya.”


“Tentu saja, ah iiya… Bawaan Arin nanti Alvan yang bawain.”


Setelah mengatakan itu dia pergi ke dapur untuk membantu Haqi untuk menyiapkan makan malam, Maria menggunakan Smart view dan mengkoneksikannya dengan televisi dan menonton itu dengan Amalia.

__ADS_1


------------------------------------


Setelah memasuki kamarnya Arin membaringkan dirinya di kasur, dia menatapi atap tanpa memikirkan apapun, setelah beberapa saat berlalu dia melihat meraih foto yang berada di atas meja belajarnya dan memandanginya, itu adalah foto Arin bersama dengan klub basket dari SMP Barat, di sebelah kanannya adalah Nia dan di kiri adalah Intan.


(Hubungan manusia memang merepotkan.)


------------------------------------


Citra membawa Intan menuju tempat sepi di daerah taman, Kirana dan Danti pergi untuk membeli minuman untuk membuatnya tenang. Gadis itu hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Beberapa saat kemudian mereka kembali dan memberikan sebuah air mineral kepadanya.


“Tan minum ini.”


Kirana memberikan botol yang sudah dibuka olehnya.


10 menit berlalu dan Intan sudah mulai tenang, ketiga orang itu hanya duduk di sampingnya tanpa berbiara.


(Aku tidak tau harus berbicara apa di saat seperti ini ?)


Kirana memandangi langit sore yang sudah mulai.


(Informasi mendadak ini, aku sendiri sangat terkejut, apa lagi anak ini yang merupakan temannya.)


Danti menatap Intan yang hanya menunduk melihat ke tanah.


“Intan, Apa kau sudah tenang ?”


Citra menanyakan keadaanya.


“Ii… Iya ..”


Bicaranya belum lancar.


“Karena di sini hanya ada kita berempat aku akan menceritakan apa yang aku tahu kepada kalian, tapi jangan beritahu kepada orang lain, aku juga tidak tau kenapa tapi hanya kelas kami saja yang mengetahui kematian Intan.”


Lalu dia menceritakan kisah yang dia ketahui kepada mereka.


------------------------------------


Sudah 2 hari Arin dan Nia tidak masuk sekolah, teman-temannya di kelas mulai membiarakan itu.


“Benar sudah 2 hari tidak ada kabar.”


“Nomer mereka juga tidak dapat di hubungi.”


Citra mendengar obrolan itu diam dan duduk di belakang kelas.


(Kemana sih mereka.)


Tidak lama setelah itu wali kelasnya datang dengan memasang ekspresi sedih dan berjalan menuju depan kelas.


“Bu kemana Arin dan Nia ?”


“Mereka biasanya pasti memberitahu alasan karena tidak masuk kelaskan.”


“Kalau ibu tau beritahu kami dong.”


“.….”


Tetapi guru itu malah meneteskan Air matanya, seluruh kelas melihat itu mencemaskannya.


“Kenapa bu?”


“Apa terjadi sesuatu ?”


“Kalian semua.”


Dia berbicara dan seluruh kelas diam mendengarkan.


“Sebenarnya aku di suruh untuk tutup mulut dan tidak memberitahukan hal ini ke kalian.”


“..…”


“Aku akan memberitahukan kalian apa yang terajadi, tapi dengan syarat.”

__ADS_1


“Apa itu bu ?”


“Kalian tidak boleh memberitahukan hal ini kepada siapapun kecuali semua orang yang ada di kelas ini.”


Ekspresinya sangat serius dan air matanya tidak berhenti keluar.


“Apa yang akan terjadi jika kami membocorkannya.”


“Kemungkinan besar Seluruh kelas akan dikeluarkan dari sekolah, termasuk aku juga.”


Seluruh kelas menjadi sangat ribut dan berdiskusi dengan apa yang terjadi, tapi karena mereka sangat penasaran karena wali kelasnya sampai menangis seperti ini, mereka sepakat dan tidak akan membocorkan apapun yang akan dibicarakan olehnya.


“Baiklah kalau gitu karena sepertinya kalian semua sepakat.”


Semuanya mulai mendengarkan dan tidak ada satu orang pun yang mengeluarkan suara.


“Pagi ini aku menerima kabar kalau Arin dan Nia terlibat dalam insiden kecelakaan, yang menyebabkan distrik perbelajaan di daerah Barat daya menjadi hancur.”


“Itu bukannya seisi kota hancur ?”


“Benar aku melihatnya di internet dan sangat berantakan.”


“Apa mereka baik-baik saja bu ?”


Reaksi para murid mulai bermunculan.


“Arin baik-baik saja tapi-.”


Dia menutupi wajahnya menggunakan buku yang dipeggang olehnya.


“Katanya Nia meninggal dalam Insiden ini.”


“HAAAAAAAAAAAAAAAAAA ??.”


“BOHONGKAN ?”


“IBU TIDAK BERBOHONG KEPADA KAMI KAN ?”


Seluruh kelas sangat berisik dan berteriak karena tidak percaya dengan berita yang didengar, Citra yang duduk di belakang kelas mengeluarkan ekspresi sangat terkejut dan seluruh tangannya gemeteran.


(Bohongkan ?)


“UNTUK APA AKU BERBOHONG DI SITUASI SEPERTI INI ?”


Guru itu membentak muridnya yang tidak terkendali.


“Bisa kah, ibu ceritakan kronologinya kepada kami ?”


Ketua kelas berdiri dan berbicara.


“Yang aku dengar dari petugas keamanan dan kepala sekolah, katanya Mereka melihat Arin yang sedang berusaha mendorong mobil dengan keadaan berlumuran darah, Saat mereka mendekatinya dia melihat Seorang gadis tertimpa oleh mobil itu.”


Seluruh kelas menjadi sunyi saat mendengar ceritanya.


“Nia berhasil dikeluarkan dalam keadaan hidup, tapi dia tidak berhasil selamat selama di ruangan operasi.”


Dia berbicara dengan terpatah-patah, setelah selesai menceritakan itu dia jatuh ke lantai lalu mulai menangis. Beberapa gadis yang melihat itu mulai menangis dan para lelaki menundukan kepala mereka.


“Bohongkan ?”


“Ku harap ini mimpi.”


“Nia, aku tidak percaya ini, aku tidak mempercayai ini.”


Banyak pria di kelas yang menyukainya dan tidak ingin percaya dengan berita mendadak ini.


Ketua kelas berdiri dan medekati guru itu.


“Ibu tenanglah, Bagaimana dengan Arin.”


“Dari yang aku dengar, dia baik-baik saja, tapi-.”


Guru itu melepaskan buku dan mulai melihat tangannya yang tidak mau berhenti bergetar.


“Arin melihat sahabat baiknya meninggal di depan matanya, aku tidak bisa membayangkan perasaanya saat ini, Nia mendorong Arin yang akan tertimpa oleh mobil yang terbang kearah mereka, dia mencoba mendorong mobil dan bersusah payah menyelamatkan Nia, tetapi perjuangannya sia-sia karena Nia meninggal karena seluruh organ dan tulangnya hancur, TEMAN BAIKNYA MENUKARKAN NYAWANYA UNTUK MENYELAMATKAN DIA, AKU TIDAK BISA MEMBAYANGKAN PERASAAN GADIS ITU SAAT INI.”

__ADS_1


Seluruh kelas menjadi sangat sunyi, hanya terdengar tangisan, mereka yang awalnya tidak menangis tetapi saat mendengar kronolgi lengkapnya mulai meneteskan air mata mereka.


Citra hanya duduk menangis, tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mengetahui hal yang terjadi.


__ADS_2