TRIGGER

TRIGGER
BAB, 4 Chapter 104. Pemulihan 6


__ADS_3

Maria bergebas berlari menuju lab miliknya di ikuti oleh Chanan dari belakang, banyak orang yang melihat kearahnya karena terlihat panik, saat petugas keamanan mencoba bertanya, Chanan berhenti dan menjelaskan apa yang terjadi, oleh karena itu tidak terjadi keributan. Maria langsung membuka pintu dan masuk ke dalam, saat dia mendekat ke healingpod, dia cukup terkejut karena Arin sudah membuka matanya.


Arin yang sudah sadar panik sesaat, dia lupa kalau dirinya sedang berada di dalam sebuah healingpod, dia berusaha menggerakan tangannya lalu, lalu melihat sekelilingnya, tempat sempit seperti dalam sebuah kurungan yang dipenuhi dengan air, dia mengingat kembali kenapa dia bisa berakhir seperti ini, sampai akhirnya dia menyadari dengan situasi saat ini, dia melihat ke depan di sana terlihat Maria dengan ekspresi terkejut sedang melihatnya.


“rin.. Arin kamu dengan ?”


Dia menganggukan kepalanya.


“Syukurlah, kamu baik-baik saja ?”


Dari belakang Chanan masuk langsung mendekat kearah laptop di meja dan mengecek status dari sana.


Arin memandangi Seolah ingin mengatakan sesuatu.


“Kenapa rin ?”


Maria tidak mengerti, memiringkan kepalanya lalu menebak nebak apa yang ingin dikatakan oleh anak itu.


“Jangan bilang kamu lapar ya ?, maaf tapi masih ada waktu yang tersisa, sekitar 1 jam lagi rin.”


Sembari tersenyum dia berbicara dengan polosnya, Ekspresi kesal dikeluarkan oleh Arin, lalu dia mencoba memukul bagian dalam mesin cukup keras.


“Hey, Arin itu bukan kamu yang kerjaannya ingin makan.”


Melihat tingkah laku Maria, Chanan sedikit kesal lalu berbicara.


“Jadi apa dong ?”


“Mungkin maksudnya, Dia ingin keluar dari sana !”


“Apa itu benar rin ?”


“Tapi masih ada waktu yang tersisa, nanti pengobatannya tidak berjalan dengan bagus tau.”


Arin menggelengkan kepalanya lalu memukul mesin terus menerus dengan sangat cepat dan cukup kuat.


“Arin hentikan nanti rusak.”


Maria mencoba menghentikannya, tapi pukulan itu semakin keras.


“Ria, kalau kamu lihat sekarang gimana kondisi Arin ?”


Mendengar itu dia mengaktifkan angel eye miliknya lalu memperhatikan tubuh gadis itu dari bawah ke atas dengan perlahan, kondisi Arin sudah membaik, semua luka sudah hampir pulih, akan tetapi masih ada luka pada beberapa bagian organ dalam.


“Arin bisa tidak menunggu 1 jam lagi ?, biar seluruh lukamu sembuh.”


Dia berusaha meyakinkan Arin, tetapi ekspresinya semakin kesal.


“Sekarang kamu baru pulih 80% tau.”


Arin malah semakin meronta-ronta tidak hanya tangan bahkan kakinya mulai menendang bagian dalam healingpod.


Maria menatap Chanan yang menggelengkan kepalanya, mereka berdua bingung harus berbuat apa, tetapi jika di biarkan takutnya akan merusah bagian dalam mesin.


Akhirnya dia pasrah dan berjalan mendekat ke Chanan.


“Matikan mesinnya, keluarkan Arin.”


“Tapi ria-.”


“Kalau mesinnya rusak gantinya mahal loh.”


Maria membayangkan healingpod rusak dan harus menggganti rugi kepada profesornya.


“Ah sialan-.”


Akhirnya dia menyetujui itu dan menguras liquid yang menutupi Arin, cairan itu perlahan menghilang. Maria mengambil handuk lalu berjalan menuju mesin.


Healingpod terbuka lalu Arin perlahan keluar dari sana.Maria menyerahkan handuk untuk mengelap dirinya yang basah.

__ADS_1


“Keluarnya hati-hati.”


“Makasih.”


Dia mengelap tubuhnya lalu memandangi kakinya dia menghentakan kakinya ke tanah dengan keras lalu melompat-lompatkan tubuhnya.


”Arin apa yang kamu lakukan ?”


Chanan cemas melihat tindakan itu, lalu berjalan mendekatinya.


“Tidak, aku hanya terkejut kakiku sudah sembuh.”


“Hati-hati, kata ria kamu baru pulih 80% kan.”


“Benar Arin, ini belum waktunya keluar jadi, istirhatlah dulu.”


Seolah tidak mendengarkan keduanya ia berjalan menuju kamar mandi lalu memakainya untuk membersihkan diri.


“Hahh..”


Chanan kesal berjalan kembali ke kursi lalu duduk di sana.


Maria membuka tas yang di bawa oleh Gina, di dalam itu ada pakaian ganti Arin yang sudah disiapkan sebelumnya.


“Rin ini baju gantinya.”


“Ya.”


Arin mengambil itu lalu menyusunnya, dia sudah selesai membersihkan badannya lalu mengeringkan badannya menggunakan handuk, kemudian memakai ****** ***** serta bra, dia melihat kearah cermin memperhatikan tubuhnya.


(Tidak kusangka kalau healingpod dapat menyembuhkan luka dengan cepat.)


Mungkin saat ini dia berpikir kalau temannya mendapatkan pengobatan menggunakan mesin yang digunakannya saat ini, apakah dia akan selamat.


“Huh.. kak Maria pernah bilang tidak mungkin, menyesal sekarang sudah terlambat.”


“Apa masih ada yang sakit rin ?”


Maria melihat itu bertanya, terlihat ekspresi cemas dari wajahnya, Arin melihat itu sedikit menyesal dengan tindakan yang sudah dia lakukan.


“Tidak kak, makasih sudah mendengar keegoisanku.”


“Lain kali kamu harus mendengarkan apa yang aku bicarakan.”


“Baik.. jaketku mana ya ?”


“Ini.”


Dia memberikan jaket yang sudah dia pegang.


Arin mengenakan itu lalu berjalan keluar ruangan.


“Mau kemana rin ?”


“Cari udara.”


Tanpa menoleh dia keluar dari laboratorium.


“Aku mau mengikuti Arin, gimana dengamu Chanan ?”


“Aku akan menghabiskan waktu di sini, aku pinjam laptopmu untuk main game ya !”


Dia sudah sangat kesal dengan keegoisannya lalu mencoba mengganti suasana.


“Baiklah, jangan macam-macam dengan Intan loh.”


“Kamu pikir aku bajingan seperti apa sih.”


“Haha..”

__ADS_1


Dia berjalan keluar lalu menyusul Arin yang berjalan cukup cepat.


“Rin mau kemana ?”


“.…”


“Gimana kalau ke Cindy ?, sekalian berterima kasih untuk biaya healingpod !”


Tanpa berbicara gadis itu berjalan keluar dari gedung, tangannya masuk ke dalam saku jaket lalu menggenggam cutter yang berada di sana.


Tanpa mendengar lokasi Cindy dari Maria dia langsung menuju taman dan melambatkan langkahnya sembari melihat sekelilingnya. Langit sudah mulai gelap, situasi di sana cukup sepi. Dari kejauhan Arin melihat beberapa orang sedang duduk di meja taman. Dia langsung menghampiri mereka.


Orang-orang itu sadar dengan kedua orang yang berjalan menghampiri mereka.


“Eh Arin ?”


“Bukannya masih lama ya ?”


“Benar masih ada waktu sekitar 1 jam yang tersisa.”


Gina, Cindy, Maya serta Almya terkejut dengan sosok yang berjalan mendekat.


Gadis itu berjalan menuju Cindy tanpa berbicara apapun lalu menatapnya. Cindy yang terkejut bingung dan melihat ke arah muka Arin, keduanya saat ini sedang bertatapan.


Semua orang yang melihat itu bingung, memiringkan kepala mereka.


“.…..”


“.…..”


Arin berdiam menatapnya cukup lama lalu berbicara.


“Terima kasih… lain kali akan aku balas.”


“Eh.. Ya, sama-sama.”


Cindy yang masih bingung menjawabnya dengan spontan, Arin berjalan mejauh dari mereka.


“Eh mau kemana kamu ?”


“Arin duduk di sini bersama kami.”


Kalia dan Gina bertanya sembari mengikutinya dari belakang, Arin menoleh ke belakang tapi tidak menjawab apapun, dia melihat kearah Maria yang berjalan kearahnya.


“Aku pergi dulu kak.”


“Haaah.. baiklah tapi hati-hati, ingat untuk tidak pulang terlalu malam.”


Dia berjalan sembari mengeluarkan Smartwatch milik lari lalu mengenakannya di tangan kanan Arin.


“Pastikan ke kamarku, karena kunci rumahmu ada di Gina.”


“Eh, jagan pergi kamu baru saja sembuh kan.”


“Benar kita bahkan tidak tau efek dari obat itu rin.”


Almya serta Cindy yang menghawatirkannya berusaha menghentikan gadis itu.


Alvan, Maya serta Haqi hanya diam melihat situasi dihadapan mereka, kedua pria itu bingung harus melakukan apa, akhirnya hanya dian dan duduk di kursi.


“Terima kasih.”


Setelah mengatakan itu Angin yang cukup besar berkumpul di sekitar Arin, dedaunan serta bunga ikut terbang kearahnya dan mengitari bagian bawah tubuhnya, lalu angin yang sangat besar melontarkan gadis itu dan membuatnya menghilang dalam sekejap.


“Eh ?”


Almya terkejut saat angin mulai berhembus mengitari Arin, saat dia melihat Arin melompat dengan tinggi dia tidak dapat menyembunyikan ekspresinya.


“Arin seorang Esper, sungguh ?”

__ADS_1


__ADS_2