
Maya berjalan sendirian menuju lorong dimana papan pengumuman berada. Terlihat para murid mengeluarkan ekspresi berbeda ketika mereka melihat hasil nilai dari ujian.
“Yeahh.”
“Syukurlah tidak harus mengikuti kelas tambahan.”
“Ahhh sial aku harus mengikuti kelas tambahan.”
“Tidak.”
“Aku ingin mengulang waktu.”
Ada yang senang karena mendapatkan nilai di atas rata-rata dan tidak harus mengikuti kelas tambahan selama libur musim panas. Beberapa dari mereka juga terlihat kecewa karena mendapat nilai jelek.
Teman-teman dari kelas F memperhatikan Maya berjalan.
“Maya terlihat tidak bersemangat ya.”
“Tentu saja, sesuatu terjadi kepada teman dekatnya.”
“Bukannya Intan itu baru sembuh belakangan ini ya ?”
“Benar, sekarang dia kembali di rawat kembali.”
“Semoga saja dia cepat sembuh ya.”
Devina mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di tempat tujuan mereka mulai mencari nama mereka di papan peringkat.
Maya mencari namanya.
(Peringkat 120 ya.)
Murid kelas 1 mempunyai jumlah kurang lebih 500 orang.
(Intan berada diperingkat 90, sedangkan Arin.)
Kemudian dia berjalan mencari nama Arin, dari kejauhan dia melihat Alvan, Cindy dan teman-temannya yang berdiri di depan papan peringkat 1 sampai 20.
“Aku tidak menyangka kalau Arin ternyata pintar.”
Cindy tertawa melihat Nama Arin yang berada diperingkat 6.
“Dia adalah salah satu dari kandidat kelas A kan ?”
Maya berjalan mendekati mereka dan berdiri di sebelah Alvan.
(Jadi Anak itu berada diperingkat 6 ya.)
“Gimana kondisi Arin ?”
“Hmm… pagi ini dia sudah sadar, tetapi langsung menanyakan kondisi Intan.”
Setelah mendengar jawaban dari Alvan gadis itu hanya diam.
“Kau akan ke rumah sakit lagikan ?”
Cindy bertanya untuk mencairkan suasana.
“Ya..tidak ada kerjaan juga.”
“Mau berangkat bersama ?”
“.….”
“Kak Maria menyuruhku untuk membeli banyakan makanan haha.”
“Ma….ya…. , Ah kalian lagi bersama ya.”
Tiba-tiba dari belakang Naila memeluknya.
“Iya.. gimana dengan nilai mu ?”
“Lumayan, engga buruk hahaha.”
Naila berada di kelas A karena prestasinya dalam olahraga basket. Nilainya kurang bagus jika itu menangkut pelajaran umum.
“Oh iya.. Kami di ajak pelatih untuk menjenguk Intan.”
Dia menatap ke sampingnya. Tidak jauh dari sana anggota klub basket sedang berkumpul.
“Kau ikut bersama kami kan ?”
Maya menatap kearah mereka, Riana melambaikan tangannya dan tersenyum.
“Maaf tapi aku akan pergi bersama mereka.”
__ADS_1
“Tentu saja.”
Cindy menjawab.
“Eh.. Apa kalian berencara pergi bersama ?”
“Tidak kok, Kalau gitu kami pergi dulu ya.”
Setelah mengatakan itu Cindy dan Alvan pergi menjauh dari mereka.
“Apa aku menggangu ? maaf ya.”
“Tidak.. hanya berbicara sebentar.”
Maya berjalan menuju anggota klub basket.
“Ayo.”
------------------------------------
Maria sedang berada di dalam bus yang menuju Universitas Selatan. Dia berencana untuk mengecek hasil penelitiannya. Saat mendengar Arin masuk rumah sakit dia tanpa pikir panjang meninggalkan laboratorium. Setelah Sarapan pagi bersama Gina dia memintanya untuk menjaga Arin.
Bus berhenti di depan universitas, dia turun dan berjalan. Suasana sudah cukup sepi karena sudah memasuki libur musim panas. Meskipun terlihat beberapa Mahasiswa yang berlalu-lalang.
Dia berjalan masuk dan langsung menuju laboratorium. Dengan prestasi yang sudah diraih olehnya Maria diberikan akses khusus untuk bisa memasuki semua fasilitas yang berada di Universitas Selatan.
“Maria.”
Dari belakang salah satu temannya memanggil.
“Ya ?”
“Apa kemarin terjadi sesuatu ?”
Kemarin beberapa orang yang mengenalnya melihat dia sedang berlari dengan tergesa-gesa.
“Salah satu kenalanku masuk ke rumah sakit.”
“Apa dia baik-baik saja ?”
Mereka berjalan bersama menuju laboratorium.
“Iya tenang saja.”
“Kau bahkan lupa mengunci ruangan, Gimana kalau ada orang yang mengambil hasil penelitianmu.”
“Untung saja kemarin aku melihat kamu dan langsung mengunci laboratorium.”
“Terima kasih ya.”s
“Meskipun hanya orang khusus yang diberikan akses tapi kamu bahkan tidak menutup kembali pintunya.”
Sesampainya di depan laboratorium mereka menempelkan ID card dan menepelkan pada sebuah scanner yang menempel pada pintu. Pintu terbuka dan keduanya masuk ke dalam.
Laboratorium di Universitas Selatan sangatlah luas, lebih dari 2000 ruangan, setiap ruangannya memiliki akses berbeda. Maria berjalan menuju ruangan yang dipinjamkan oleh profesor kepadanya untuk melakukan sebuah penelitian mandiri.
Dia melihat ke sekeliling ruangan.
“Apa yang lagi kau teliti ria ?”
“Sebuah obat.”
“Obat apa ?”
“Entahlah.”
Temannya memiringkan kepala karena jawaban darinya.
Maria mendekati mesin yang sedang dia gunakan untuk memproses komponen dari obat yang diberikan oleh Arin.
“Tunggu… ini tidak berjalan.”
Lalu dia menggunakan kekuatan miliknya untuk melihat ke dalam mesin.
(Tidak ada.)
Dia berlari menuju meja yang berada komputer miliknya di sana.
“Ada apa ria ?”
“.….”
(Hasil penelitianku selama ini masih ada, tapi-.)
Maria mencari dokumen dan catatan yang dia tulis saat meneliti obat.
“Hasil penelitianku tidak ada.”
__ADS_1
“APA ?.”
“Apa kemarin kamu langsung menutup pintu ini ?”
“Tentu saja.”
“Kalau gitu kita ke ruang pengawas.”
Mereka berdua pergi menuju ruang pengawas untuk memeriksa rekaman cctv yang berada di sana.
“Oh.. Maria ada apa ?
Dia masuk dan melihat ada seorang petugas sedang duduk dan mengawasi setiap monitor yang berada di ruangan itu.
“Bisa lihat rekaman CCTV saat aku kemarin keluar dari dalam ruangan.”
“Tentu kenapa tidak.”
Dengan mudah pertugas itu menyetujuinya dan mulai mencari.
“Ada apa memangnya ?”
“Salah satu penelitianku ada yang hilang.”
“SERUISAN ?, kalau gitu kita harus mencari tahu sampai ketemu.”
Petugas itu menayangkan video di saat Maria berlari meninggalkan ruangan dengan terburu-buru. Sudah 10 menit berlalu tetapi tidak ada yang aneh.
“Pak bisa percepat videonya.”
Video di percepat 10x dan tidak ada sesuatu yang aneh sampai video itu berakhir.
“Eh tidak ada orang yang masuk ko.”
“Bisa di ulang lagi.”
Mereka menonton video itu berulang kali lebih dari 15 kali.
“Apa tidak tertinggal di luar atau di kamar gitu ?”
“Tidak mungkin… karena aku tidak pernah membawa keluar hasil penelitianku selama ini.”
Sampai akhirnya Maria menyadari ada sebuah glitch yang berlangsung selama 2 detik saat video itu di ulang terus menerus. Setelah glitch itu terjadi sebuah dokumen yang seharusnya berada di meja tiba-tiba menghilang.
“Tidak ada yang mencurigakan dari rekaman ini.”
“Apa kita akan laporkan ke profesor ?”
“Tidak usah.”
(Awalnya aku mengira salah satu dari kedua orang ini mungkin pelakunya, tapi sepertinya bukan. Mereka juga tidak menyadarinya.)
Maria berjalan menuju pintu.
“Lagi pula itu bukan sesuatu yang penting, jadi tidak perlu dibesar-besarkan.”
Dia berjalan meninggalkan ruangan pengawas dan kembali menuju laboratorium tempat dia bekerja. Dia mengambil handphone yang berada di saku miliknya dan menelepon seseorang.
“Chanan bodoh tidak diangkat.”
Dia menunggu selamat 5 menit dan terus melakukan panggilan.
“Halo ria ? maaf aku sed-.”
“Bodoh kenapa tidak di angkat.”
“Sudah ku bilang kemarin, kalau aku cukup sibuk.”
“Sudahlah, tolong lakukan hacking kepada Universitas selatan dan ambil data CCTV yang merekam aktivitas kemarin malam.”
“ITU KEJAHATAN TAU.”
“.….”
“Memang apa yang terjadi ?”
“Huuuh.. Obat yang sedang aku teliti hilang dengan seluruh data yang sudahku temukan.”
“Apa itu benar ?”
Suara Chanan menjadi serius.
“Iya dan ada sesuatu yang aneh pada rekaman CCTV.”
“Kenapa kamu tidak memintanya saja langsung ?”
“Aku tidak dapat mempercayai siapapun di sini.”
__ADS_1
Maria sangat waspada karena bisa saja mereka yang berada di sekitarnya saat ini adalah orang yang mengambilnya.