TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 1. Seorang gadis bernama Arin


__ADS_3

Seorang guru yang sedang memegang buku berjalan dari belakang menuju depan kelas. Suasana kelas yang begitu sunyi, para siswa yang serius mendengarkan guru yang sedang mengajar.


“Esper adalah sebutan bagi manusia yang memiliki kekuatan khusus, setiap dari mereka memiliki kemampuan yang berbeda. Setiap manusia hanya dapat memiliki satu kemampuan, Seperti yang kalian ketahui kekuatan pada esper sendiri memiliki berbagai macam jenis dan oleh sebab itu pemerintah memberikan peringkat pada setiap orang yang dapat menggunakan kekuatan mereka, Dimulai dari E mereka yang tidak dapat menggunakan kekuatan, D pada peringkat ini mereka hanya dapat menggunakan 10% dari kekuatannya, C mereka yang dapat menggunakan 30 % kekuatan mereka, B mereka yang dapat 50% kekuatannya, Mulai dari A dan S adalah mereka yang terlahir dengan bakat dan mereka yang bekerja keras melatih kekuatannya. Jadi bagi kalian yang memiliki perinkat E, D, C. janganlah menyerah dan terus lah berusaha.”


Hanya seorang gadis yang duduk di belakang dekat jendela tidak memperhatikan ia terlihat sangat bosan dengan pelajaran gadis itu bernama Arin.


(Membosankan mendengarnya hal seperti ini, apakah tidak ada hal lain yang harus disampaikan ?)


“Dan ada beberapa orang yang hanya bisa menggunakan kekuatannya ketika memeggang suatu benda tertentu, benda itu digunakan sebagai pemicu agar dapat memunculkan kekuatannya. Benda itu disebut sebagai Trigger, jika tanpa Trigger mereka tidak dapat menggunakan kekuatannya.”


Ting tong…..


Terdengar suara bel sekolah yang berbunyi guru itu menutup buku dan kembali ke meja.


“Baiklah sampai di sini saja hari ini, jadi janganlah menyerah jika kalian berusaha suatu hari nanti pasti akan bisa menggunakan kekuatan, sampai jumpa dipertemuan selanjutnya.”


Guru itu melangkah keluar kelas .


Para murid mulai merapikan perlengkapan mereka dan mulai meninggalkan kelas.


Arin berjalan menuju lemari di belakang kelas untuk mengambil alat kebersihan.


“Kamu piket hari ini ya rin ?”


Teman satu kelas menghampirinya.


“Tidak, kebiasaan.”


“Haha, seperti biasa kamu rajin ya kalau soal kebersihan.”


“.…..”


“Intan ayo cepat, nanti bisa dimarahi kalau telat ke ruang klub.”


“Aduh iya kalau begitu aku duluan ya, dah.”


Mereka melambaikan tangannya dan keluar kelas.


“Dia kok cuek begitu sih tan, kesel sumpah dengan sikapnya yang seperti itu.” Dengan nada kesal Maya bertanya.


“Eh dia baik kok rajin bersih-bersih juga.”

__ADS_1


“Tapi dari yang kulihat dia seperti tidak peduli dengan sekitarnya jadi susah untuk didekati, lagian kamu aneh, kok bisa sih cukup dekat dengannya dan anehnya kalau kau bertanya dia pasti menjawab, kalau ke yang lain mana pernah.”


“Hmmm, engga juga deh kayanya tapi yah mungkin karena aku kenal dia dari SMP dan pernah sekelas saat kami kelas 2. Saat itu dia ramah kok orangnya ceria tapi agak cengeng.”


“Wah serius dia cengeng ?, aku jadi ingin lihat ketika dia menangis haha.”


“Lucu loh ketika Arin menangis hahaha, para lelaki selalu mengganggu dia tapi Nia pasti datang dan menghajar orang yang membuat Arin menangis.”


Dengan senyuman dan tawa Intan bercerita.


“Aku dan Arin dulu cukup dekat, tetapi memasuki kelas tiga kelas kami berbeda dan mulai jarang bertemu. Aku bertemu lagi dengan dia saat pertama masuk SMA. Saat aku melihatnya aku tidak mengenalinya sama sekali, dia benar-benar seperti orang yang berbeda. Kalau dia tidak menyapaku terlebih dahulu, aku mungkin tidak akan mengenalinya.”


Dengan nada sedih Itan berkata dan menundukkan kepala dan bahunya.


“Jadi kau memang dekat dengan Arin yah, aku masih tidak percaya kalau dia ramah.….. Eh kok kita malah jadi mengobrol sih ayo cepat kalau tidak bisa terlambat.”


Dengan nada agak tinggi Maya berbicara.


“Aduh… iya kamu sih.”


“Eh …. kok jadi aku ?”


Arin berjalan keluar kelas sembari memegang kantung plastik di tangan kanannya dan tangan kirinya memengang sapu, lalu ia memasukan plastik itu ke tempat sampah


“Dengan ini kelas sudah bersih sebaiknya aku bergegas untuk pulang.”


Arin berjalan menuju lemari tempat penyimpanan dan menyimpan semua perlengkapan kebersihan. Lalu ia mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas, suasana lorong sekolah sangat sepi.


Berbeda dengan di lorong sekolah, halaman sekolah begitu ramai dengan siswa yang tengah melakukan kegiatan eksul, Arin melihat kearah kirinya klub basket yang sedang bermain tetapi berbeda dengan permainan basket pada umumnya karena beberapa dari mereka ada yang menggunakan kemampuannya. Terlihat ketika seseorang sedang melakukan shooting seketika angin kencang menghebuskan bola dan membuatnya menjauh dari ring, siswa lainnya mengambil bola itu dan tiba-tiba menghilang, semua terlihat bingung dan mencarinya lalu ia terlihat di bawah ring  dan melakukan shoting. Mereka bermain dan menggunakan kekuatan meskipun pada pertandingan sesungguhnya hal itu tidak boleh dilakukan karena akan terkena sebuah pinalty. Para siswa itu tertawa dan Arin pun berjalan meninggalkan sekolah.


------------------------------------


Sesampainya di depan rumah Arin membuka pagar dan membuka pintu.


“Bu aku pulang.”


“Selamat datang, Rin bisa tolong kesini bantu ibu?”


Lalu Arin berjalan menuju dapur dan begitu terkejut ia melihat betapa berantakannya dapur, tepung terigu dan alat memasak yang berserakan dimana-mana.


“Aduh apa sih yang ibu lakukan.”

__ADS_1


Arin meletakan tas yang ia bawa dan langsung berlari membantu ibunya.


“Ibu bisa tidak jangan membuat dapur selalu berantakan ?. satu hari aja.” Dengan nada kesal Arin berkata.


“Haha tadi ibu menyimpan plastik terigu di atas wastafel lalu ibu ingin mengambil tempat untuk membuat adonan kue, eh… terigunnya jatuh dan membuat ibu kaget dan jatuh, ibu tidak sengaja melemparkan ember kecil ke arah rak tempat penyimpanan alat masak ya jadi seperti ini putih hahaa”


Ibu Arin yang tertawa seluruh tubuhnya terselimuti oleh tepung terigu.


“Ya lain kali kalau bisa lebih hati-hati, setiap pulang sekolah membersihkan kekacauan yang dilakukan ibu, lama kelamaan kesel tau.”


“Haha baik-baik. Jangan marah dong.”


Arin pergi mengambil sapu yang berada di luar rumah, ia berjalan sambil melihat ruangan. Di rumah ini hanya tinggal ia dan ibunya, ayahnya bekerja di luar negeri dan jarang pulang. Kalau pulang pun dalam tiga bulan hanya sekali, ia sangat sibuk karena bekerja di pusat penelitian Esper yang dibangun pemerintah dunia dan hanya orang tertentu yang dapat bekerja di sana.


Ibu Arin mulai mencuci peralatan yang kotor terkena tepung. Arin yang menyapu tepung yang berserakan, setelah ruangan bersih mereka mulai memasak untuk makan malam.


“Oh iya, nanti malam anak dari teman ayahmu akan tinggal di Apartemen kita loh.”


Keluarga ibu Arin memiliki apartemen dengan 3 lantai dan setiap lantai memiliki 6 ruangan. Setiap ruangan memiliki 1 dapur, 1 kamar mandi, 1 ruang tidur.  Para penyewa rata-rata adalah mahasiswa dan mahasiswi. Lantai 3 dikhususkan untuk wanita dan para pria dilarang masuk tanpa izin, lantai 2 untuk pria dan wanita. Jika lantai atas penuh terpaksa ditempatkan di bawah, saat ini penghuni apartemen berjumlah 10 orang, 4 orang wanita dan 6 pria.


“Katanya ganteng loh, mungkin kamu bakalan suka.”


“Hentikan,sudah ku bilang, kalau aku tidak tertarik untuk hal semacam ini.”


“Tapi bukannya gadis seumuran kamu sekarang udah banyak yang punya pacar ya ?”


“…..”


Ting, Tong…..


Setelah selesai memasak mereka merapikan meja makan, lalu menyimpan lauk pauk dan nasi, mereka duduk di meja makan. Tidak lama setelah itu bel rumah pun berbunyi.


“Kayannya tamu sudah datang rin, keluar dulu yu ga sopan.”


“Ya.”


Arin berjalan di depan, ia membuka pintu rumah. Pemandangan yang ada di depannya membuatnya sedikit terkejut. 2 orang pria menggunakan blazer rapi seperti mafia berdiri di depan pintunya.


“Permisi apakah ini-.”


Karena terkejut, secara spontan dia menutup pintu rumahnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2