
Terlihat seorang gadis sedang membaringkan dirinya di kasur, dia menutupi wajahnya dengan bantal dan berteriak agar tidak terdengar keluar.
“WWAAAAAAAA.”
Tetapi tetap saja suaranya yang keras terdengar dan mengganggu. Setelah cukup lama dia melakukan terdengar suara langkah kaki di depan kamar.
“INTAN DARI TADI NGAPAIN SIH TERIAK-TERIAK GA JELAS GITU BERISIK TAU INI UDAH JAM 12 MALEM.”
Kakaknya membuka pintu kamarnya dan berteriak kepadanya.
“Kenapa lagi sih, semenjak pulang dari pertandingan kemarin, kamu aneh tau.”
Intan tidak menjawabnya dan hanya melihatnya dengan wajah sedih dan mata yang sangat merah.
“Kamu nangis lagi ya ?”
Dia berusaha menutupi matanya agar tidak ketahuan.
“Engga ko.”
“Huh.”
Kakaknya menghampiri dia dan duduk di kasur.
“Aku ini kakakmu, jangan pikir bisa membohongiku.”
“.….”
“Apa terjadi sesuatu kepadamu dan Arin ?”
Saat dia bertanya, Intan terkejut tetapi tidak menjawab apapun.
“Benar ya haha.”
“Kenapa tau ?”
“Sudahku bilang aku ini kakakmu.”
“Kak mya.”
Kakak Intan bernama Almya yang berarti Batu permata, Tingginya 165 cm, berambut panjang dan orangnya lumayan tegas.
“Jika tidak keberatan ceritakan itu kepadaku ?”
Intan berpikir cukup lama dan akhirnya dia memberanikan dirinya untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Arin kepada Almya.
------------------------------------
__ADS_1
Saat Arin dan Ina berjalan keluar dari taman 3 orang lelaki menghadang dan mulai menggoda keduanya.
“Hey dua gadis cantik jam segini berkeliaran.”
“Mau bermain bersama kami ?”
Ina merasa ketakutan dan bersembunyi di belakang Arin.
“Tidak usah takut, kami tidak akan memakan kalian hahaha.”
Mereka mulai mendekatinya dan mencoba untuk menyetuh bahu Arin. Saat tangan pria itu mendekatinya Arin menepis.
“Jangan dingin gitu dong.”
“Ayo kita bersenang-senang bersama ?”
Senyum yang mereka keluarkan membuat Arin muak dan merasa sangat kesal, ketiga pria di depannya melihat mereka dengan tatapan penuh gairah dan merasa wanita di depannya tidak dapat melakukan apapun. Salah satu melangkah dan berdiri tepat dihadapannya.
“Ayolah bermain bersama ka-.”
Saat orang itu berbicara Sebuah pukulan menghantam dagu miliknya dan membuat dia terpental dan terjatuh ke tanah.
“Beraninya kamu gadis sialan.”
Kedua temannya merasa kesal dan berusaha menyerang, Arin mendorong Ina yang bersembunyi di belakangnya agar menjauh.
Sebuah pukulan mengarah ke kepala, Arin menunduk dan menendang perut lawan.
“RASAKAN INI.”
Pria terakhir berusaha memukulnya tetapi dia berhasil menghidari setiap pukulannya dengan mudah, Arin menginjak kaki lawan dan dia terjatuh ke tanah.
“Konyol.”
Dia memandang Semua pria yang terjatuh di tanah dengan tatapan menghina.
“Ayo pergi.”
“Ahh Iya.”
Meski ini bukan pertama kalinya Ina melihat Arin melakukan pertarungan, ia terkesan dan kagum melihat seorang wanita dapat mengalahkan 3 pria dengan mudah.
“TUNGGU BAJINGAN.”
Salah satu dari mereka berdiri dan mengeluarkan Sejumlah Api di tangannya.
“KALIAN YANG MEMINTANYA HAHAHA.”
__ADS_1
Dia melemparkan Api itu kearah mereka.
“Pyrokinesis lagi.”
Arin sedikit kesal melihat kekuatan di depannya mengingatkan dia tentang penyerangan terhadap Intan. Kebanyakan Esper memiliki kekuatan Pyrokinesis dan Hydrokinesis, jadi sangat mudah menemui seseorang yang memiliki kekuatan tersebut.
Saat serangan mau menghantam Arin, pria di hadapannya tertawa semakin kencang. Tetapi dia sangat terkejut saat melihat Bola api yang dia lemparkan terbelah dua dan menghilang begitu saja.
“Eh apa, SEKALI LAGI.”
Dia terus menerus melakukan Serangan tetapi hal yang sama terulang. Ina yang berada di belakang menyadari kalau Arin menggunakan Angin untuk menebasnya.
(Angin yang sangat tipis dan cepat memotong tepat di tengah titik Bola api itu, membuat musuh di depannya tidak menyadari kalau dia menggunakan kekuatan, Control yang sangat hebat.)
“APA YANG TERJADI.”
Arin bejalan perlahan mendekati pria di hadapannya yang terlihat gelisah.
“Kamu yang memulainya.”
Angin yang bedara di sekitar mereka mulai berhebus menuju sekitar mereka.
“APA INI KENAPA ANGIN TIBA-TIBA MENJADI BESAR.”
“Menindas yang lemah, Kau tergabung dalam sebuah geng ya ?”
Gadis itu terus berjalan perlahan. Pria di depannya merasa ketakutan saat melihat tatapan Arin yang seakan membunuhnya. Gadis yang berada di hadapannya berhenti dan menghentakan kakinya ke tanah.
WUUUUUSSSSHHHH!
“Apa yang terjadi ?”
Dalam sekejap pria itu sudah berada di udara dan terlempar, dia tidak menyadari apa yang terjadi.
“AHH.”
Ina semuanya dengan jelas, Saat Arin menghentakan kakinya, di bawah pria itu terkumpul Angin yang sangat besar dan menerbangkannya ke atas, lalu merobekan pakaian yang dikenakannya dan berteriak dengan kencang. Kedua temannya yang akhirnya sadar melihat itu lalu melarikan diri.
DUUUG!!
Orang itu terjatuh dengan pakaian yang sudah robek dan beberapa luka sayatan ditubuhnya.
“Ayo pergi.”
Arin membalikan badannya dan berjalan lalu mengajak Ina pergi.
“HAHAHAHA, Padahal akhirnya aku menjadi seorang Esper tapi dikalahkan dengan mudah.”
__ADS_1
Dia tidak peduli dengan perkataanya dan berjalan meninggalkan pria yang tergeletak di tanah sendirian, Ina mengikutinya dari belakang dan sambil menoleh ke belakangnya.