TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 76. Berbohong


__ADS_3

TING, TONG!!


TING, TONG!!


Amalia yang sedang menonton televisi di ruangan tengah mendengar bel rumahnya berbunyi beberapa kali, dia pergi mengecek siapa yang datang mengunjunginya.


Saat membuka pintu dia kembali terkejut dengan dua orang pria yang berpakaian rapih serba hitam.


“Ah.. kalian yang datang bareng Alvan ya ?”


Tetap dia langsung menyadari setelah menatap wajah dari kedua orang itu.


“Maaf jika datang tiba-tiba bu.”


“Kami di sini untuk menjemput ibu.”


Kebingungan dengan situas saat ini Amalia memiringkan kepalanya.


“Pemimpin kami berkata kalau suami ibu sedang sakit, dan kami diminta untuk mengantarkan ibu ke sana ?”


“Eh beneran ?, kalau gitu tunggu sebentar aku akan pergi mengambil hal penting dulu.”


Dia berlari menuju kamarnya dengan panik dan berkemas. Beberapa menit kemudian dia keluar membawa sebuah tas cukup besar.


“Ah.. Arin belum pulang, kita harus memberitahu ini kepadanya.”


Amalia mencoba mengambil handphone miliknya.


“Maaf bu, tapi kami sudah memberitahukan kabar ini kepada tuan muda.”


“Saat ini mereka masih menjalani tes di sekolah.”


Kedua orang berbicara dan mencoba menghentikannya.


“Oh baiklah kalau gitu.”


Amalia mengunci pintu rumah lalu pergi menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya.


“Eh tante mau kemana ?”


Gina yang baru saja pulang melihatnya yang terburu-buru datang mendekat.


“Ah ini ayahnya Arin sedang sakit, tante mau ke sana sekarang.”


Dia memberikan kunci rumah yang sedang dia pegang kepada gina.


“Nanti kasihin ke Arin ya, dia masih belum pulang.”


“Baik tante.”


“Bilang ke Arin kalau mau menyusul pakai dulu uang miliknya.”


Gadis itu mengangguk , Amalia masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil itu pergi Gina pergi menuju Apartemen miliknya.


------------------------------------


Terlihat seorang pria sedang berdiri di dalam sebuah laboratorium. Dia menatap layar handphone miliknya.


“Misi selesai ya.”


Dia melepaskan jas miliknya dan meletakannya di kursi.


“Sepertinya Alvan sudah memahami sifat Arin ya.”

__ADS_1


Mengambil tas yang berada di atas meja.


“Arin juga pasti tidak ingin membuat ibunya menjadi sedih.”


Berjalan meningglakan lab.


“Kalau gitu aku akan bersiap-siap, Meski pun aku juga ingin melihat kondisi Arin, tapi aku yakin dia lebih memilih untuk tidak membuat Amalia khawatir.”


Orang itu menatap foto Arin yang berada di handphone miliknya.


“Maafkan aku Karena akan membohongimu Amalia.”


Pria ini adalah orang tua dari Arin, dia sangat sibuk karena pekerjaan miliknya dan jarang sekali bertemu dengan keluarganya sendiri. Oleh karena itu dia dan Arin tidak memiliki hubungan yang bagus. Meski begitu dia tetap menyayangi anaknya.


Setelah mendapatkan panggilan dari temannya dan mendengar anaknya mengalami kecelakaan dia langsung berlari untuk pergi. Tetapi setelah mendengar kalau kondisi yang dialaminya tidak serius dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh temannya dia akhirnya setuju, dan lebih memilih untuk tidak pergi karena setuju dengan rencananya. Dia berpikir mungkin ini juga hal yang ingin dilakukan oleh anaknya.


“Cepat sembuh Arin.”


------------------------------------


Terlihat seseorang membuka sebuah pintu ruangan yang di dalamnya ada Intan yang sedang berbaring tidak sadarkan diri,  Maya yang berada di sebelahnya sedang memainkan handphone miliknya.


“Maya ?, apa gadis itu Intan ?”


Almya bertanya karena tidak dapat melihat dengan jelas wajah dari Intan yang di balut dengan perban.


“Iya kak.”


“Huuh… Setelah mendapat telpon dari guru aku bergegas kemari, sepanjang jalan aku mendengar berita kalau di SMA Barat terjadi badai angin yang sangat besar.”


Dia berjalan dan memperhatikan kondisi adiknya.


“Ketika kami berada di atap, tiba-tiba saja angin yang sangat besar datang, aku dan beberapa orang lainya berhasil menyelamatkan diri, tetapi Intan yang menyadari Arin tertinggal kembali untuk menolongnya dan mereka berdua pun tertimpa oleh pohon yang terbang.”


“Dia juga di rawat di rumah sakit ini, kakinya patah tapi kondisinya lebih baik dari Intan.”


Almya duduk di kasur dan memegangi tangan adiknya.


Terlihat ekspresi yang Maya keluarkan saat ini sangat tegang. Karena dia telah berbohong kepada kakaknya tentang apa yang sudah terjadi sebenarnya. Semua orang yang tau dengan situasi sebenarnya sepakat dengan cerita kalau Intan berusaha menyelamatkan Arin.


“Maya sebaiknya kamu kembali dulu.”


Dia menatapnya.


“Meskipun luka kamu sudah diobati tapi bajumu berantakan begitu.”


Baju olahraga yang di kenakan olehnya sangat kotor dan tertinggal bercak darah.


“Terima kasih karena sudah menjaga Intan, jadi kamu pulang dulu untuk membersihkan diri, setelah itu baru kembali lagi ke sini.”


Maya yang melihat senyuman darinya akhirnya mengangguk.


“Kalau gitu nanti aku akan kembali lagi kak.”


Dia pergi keluar menggunakan teleport untuk mempersingkat waktunya, dia pergi ke sekolah untuk membawa barang mereka yang tertinggal, di sana terlihat masih banyak orang dan sekolah tampak berantakan. setelah itu dia kembali menuju apartemennya.


------------------------------------


Maria sedang duduk di sofa yang berada di ruangan 608. Arin dan Intan ditempatkan di ruangan VIP karena keinginan Alvan dan Cindy. Saat ini dia sedang membaca berita dari handphone miliknya tentang badai yang terjadi di SMA Barat.


“Banyak sekali berita yang membahas ini.”


Alvan, Cindy dan Kalia kembali menuju sekolah untuk membawa barang mereka lalu membersihkan dirinya, sedangkan Chanan kembali menuju Apartemen untuk mengambil beberapa keperluan miliknya dan mengambil beberapa barang yang di minta oleh Maria.


Dia merasakan ada sesuatu yang melihatnya dari arah jendela. Ia berdiri  berjalan mendekat. Tetapi sebelum mencapai jendela itu ada seseorang yang membuka pintu.

__ADS_1


“ARIIIIN.”


Haqi datang dan terlihat sangat kelelahan. Dia mendekat Arin yang berbaring di kasur.


“Hey kamu tidak apa-apa ?”


Maria datang menghampirinya  dan memukul kepalanya dari belakang.


“BERISIK BODOH.”


“Kau memukul sekuat tenaga kan sialan.”


“Jangan berisik, Biarkan Arin tetap seperti itu.”


“Maaf.. Maaf.”


Haqi mendekati sofa dan duduk di sana.


“Kemana aja malah baru datang.


“Aku sedang melakukan praktek dari siang hari.


Dia mengatur pernafasannya.


“Aku melihat kalau Arin berbicang dengan Intan sebelum sangat sibuk tadi, tidak kusangka akan menjadi seperti ini.”


Melihat Haqi yang tampak menyesal dan mengepalkan tangannya Maria berbicara.


“Sudahlah.”


“Kau tidak marah ?”


“Entahlah aku juga tidak yakin setelah mendengar situasinya.”


Maria memperhatikan keluar jendela dari samping kasur milik Arin, terlihat ada sesuatu yang terbang di sana.


“Apa itu ?”


“Ha ?”


Dia bergegas menuju jendela dan membukanya. Tetapi benda itu sedang menghilang entah kemana.


“Ada apa ria ?”


“Tidak, hanya saja ada sesuatu yang terbang di dekat jendela tadi.”


“Hey-hey jangan berbicara yang tidak-tidak ah kita di rumah sakit ini.”


Haqi merasa takut dengan ucapan Maria.


“Apa yang kau bicarakan ?”


Maria memiringkan kepalanya.


“Ahh kau berpikir aku berbicara tentang hantu ya ? hahaha sudah besar juga masih takut dengan hal seperti itu.”


Dia tertawa terbahak-bahak.


“Si…siapa yang takut, kalau gitu apa yang kau lihat tadi ?”


“Entahlah tapi aku yakin benda itu ada di sana tadi, itu seperti sebuah drone.”


“Drone ?”


“Iya.”

__ADS_1


__ADS_2