TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 21. Mencari musuh.


__ADS_3

Saat sedang melakukan three poin shooting Arin dihampiri oleh Kana dan mengajaknya berbicara.


“Apakah kamu sering berlatih seperti itu dari dulu ?.”


“Tidak, baru belakangan ini.”


Selama berbicara dia terus melakukan latihan shooting, akurasi yang dia miliki saat berlatih sekitar 90% semua bolanya masuk.


“Apakah kau bermain basket di tempat lain ?.”


“Sudah ku katakan, aku tidak bermain lebih dari 1 tahun.”


Terlihat perbedaan sikap saat Arin membalas perkataan Kana, biasanya dia akan cuek tidak menjawab pertanyaan orang lain. Akan tetapi karena dia adalah guru serta pelatihnya saat ini dan juga Kana yang sopan kepadanya.


“Sungguh ? akurasi three poin milikmu dari tadi hampir semuanya masuk.”


“.…..”


Arin tidak menjawab dan terus melakukan latihannya


“Bagaimana jika kau aktif kembali dalam basket ?, banyak yang kecewa saat kalian tiba-tiba berhenti.”


Ia berhenti dan melihat kearah Kana dan menghela nafasnya.


“Tidak tertarik.”


“.…..”


“Lagi pula saat ini aku sedang berlatih boxing.”


“Oh… kau ikut berlatih dimana ?.”


“Monarch .”


Setelah menjawab mendengat nama itu wajahnya menjadi tidak karuan dan berteriak


“MONARCH ?, klub yang melahirkan para petinju terkenal itu ?.”


Beberapa anggota ekskul melihat karena kearah mereka mendengar suara yang cukup keras.


“Ya.”


“Eh bukannya sangat sulit ketat dalam memilih anggotanya.”


“Sepertinya .”


“Jadi bagaimana bisa ?.”


“Kak Maria mengajakku.”


“MARIA ? jangan bilang Maria si dewa petarung ?.”


Arin berhenti melakukan shooting dan menoleh ke samping.


“Oh jadi dia memiliki sebutan itu ?.”


Dari jauh Maya menghampiri mereka


“Hey pelatih dari tadi kau berteriak tidak jelas ada apa.”


Kana tidak mempedulikan itu dan berbicara kepada Arin dengan memegang bahunya dan menggoyang goyangkan badannya.


“Bagaimana kau bisa kenal dengan Maria ?.”


“.…..”


Dia tidak menanggapi perkataan Kana dan hanya menatapnya.


“Maria ? apa maksud pelatih Maria kakaknya Arin ?.”


“KAKAK ?.”


“BUKAN.”


Arin membantah perkataan Maya dengan tegas.


“Sudah lah bukannya kita ini ingin latihan.”


“Maafkan aku.”


Dengan begitu dia berlanjut latihan dan tidak memperdulikan sekitarnya.


------------------------------------


Terdengar suara rintikan Air dari arah ruang mandi sekolah, di sana Seluruh anggota klub basket sedang mandi dan Arin ikut bersama mereka.


“Bagaimana jika kita membeli makan saat kembali nanti ?.”


“Ya aku setuju.”


“Aku ingin membeli es krim roll yang belakangan terkenal itu.”


“Hey tidak baik makan yang dingin setelah berlatih.”


Sembari mandi dan membersihkan seluruh tubuh mereka berbicara dan bercanda. Arin yang selesai Mandi mengeringkan tubuhnya dengan handuk. setelah selesai ia menutupi tubuhnya dan berjalan menuju ruang ganti untuk memakai pakaiannya. Saat berganti pakaian Raina datang menghampirinya.


“Gimana kalau kamu ikut bersama kami ?.”

__ADS_1


“Tidak usah.”


“Bahaya pulang sendiri, aku tidak ingin kejadian seperti pada Intan dan Kirana terjadi lagi.”


Dengan memasang wajah sedih dia berbicara, Seluruh anggota klub basket sangat menyesal setelah mendengar kabar tersebut dari Kana, Raina merasa sangat bertanggung jawab sebagai ketua klub.


“Ketua maaf tapi aku dan Arin sudah memiliki rencana, jadi kami tidak bisa ikut bersama dengan yang lainya.”


Maya yang tubuhnnya ditutupi oleh handuk datang dari belakang.


“Benar kah ?.”


“Ya, kami akan datang untuk menjenguk Intan benarkan ?.”


Dia tersenyum kepada Arin


“Ya.”


“Baiklah tapi kalian harus hati-hati.”


Mereka melanjutkan mengganti pakaian.


Meskipun ada kebohongan dalam perkataan Maya tapi Arin setuju untuk tidak melibatkan lebih banyak orang, karena akan berbahaya bagi mereka jika ikut terlibat.


------------------------------------


Arin menuju perbatasan kota utara dia terlihat sedang berjalan sendiran tanpa seseorang yang menemaninya, kepalanya ditutupi oleh tudung dan kedua tanganya masuk ke dalam saku jaket. Ia berjalan sembari memperhatikan sekitarnya dengan waspada, tapi yang dia rasakan hanya Maya yang sedang mengikutinya menggunakan kekuatan teleportasi, dia berpindah ke dalam gang kecil, atap rumah, dan beberapa tempat tersembunyi lainnya.


(Aku sudah memperhatikan semua lokasi tetapi benar benar tidak terlihat tanda tanda seseorang.)


Maya berteleportasi ke atap sebuah gedung dan melihat sekelilingnya dengan teliti tanpa ada yang terlewat satupun.


(Apa mereka tau kalau aku dan Arin mencari mereka ?, tidak mungkin ya.)


Kemudiah ia menatap Arin dari kejauhan.


(Tapi yang pasti mereka berasal dari SMA Utara, aku akan memeriksa data mereka saat kembali nanti.)


Telihat Arin mengangkat tanganya, itu adalah tanda yang mereka setujui untuk berkumpul bersama, lalu dia teleport ke hadapannya.


“Ada apa ?.”


“Hari ini cukup di sini, mereka tidak akan keluar.”


“Ya baiklah lagi pula hari ini sudah sangat gelap, kalau gitu kita akan teleport ke rumahmu.”


Maya memegang bahunnya dan berteleportasi secara bertahap menuju rumah Arin


ia hanya mampu melakukan teleportasi dengan jarak sekitar 50 m sampai 100 m saja, Esper yang memiliki kemampuan teleportasi dengan rank A saat ini tercatat bisa mencapai jarak 500 m saja. Mereka juga dapat berpindah tempat saat di udara, jadi saat ini Maya melakukan teleportasi secara beruntun.


------------------------------------


“Wah Arin kapan kamu sampai, bikin kaget aja.”


“Ah.. selamat sore tante.”


“Oh ini siapa ya ?.”


“Aku Maya teman sekelas Arin.”


“Makasih sudah nganterin Arin, gimana kalau makan bareng  ?.”


“Engga usah tante ngerepotin nantinya.”


“Engga apa-apa ko di dalam juga ada Maria, Gina, Haqi dan Alvan yang akan bersama kita.”


Amalia menajaknya dengan sedikit memaksa, setelah mendengar nama Alvan, Arin memasang wajah kesal dan menatap Maya.


“Kau ikut ?.”


“Haha baiklah, maaf merepotkan .”


“Kalau gitu ayo masuk.”


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.


Arin menuju kamarnya untuk menyimpan Tas dan jaket yang ia kenakan, Maya menuju meja ruang tamu, di sana terlihat Maria, Gina dan Alvan sedang duduk di sofa, dan ada seorang pria yang berdiri di dapur sambil memasak.


“Oh bukannya ini Maya ?.”


“Selamat sore kak Maria, dan Pangeran.”


“Sudah kubilang hentikan panggilan itu.”


“Yo, kalian pulang sore banget ya hahaha.”


“Abis latihan Basket.”


“Siapa kenalin dong ?.”


Gina melihat Maya dan Maria secara bergantian.


“Haha maaf-maaf ini adalah Maya teman sekelasnya Arin.


“Aku Gina salam kenal.”


“Salam kenal kak.”

__ADS_1


Setelah itu Maria menunjuk ke dapur.


“Dan pembantu yang sedang memasak di dapur itu Haqi .”


“SIAPA YANG KAU SEBUT PEMBANTU SIALAN.”


“Hahahaha.”


Beberapa menit kemudian Arin turun dan membantu Haqi dan ibunya menyiapkan makanan, Maya ingin ikut membantu tetapi digentikan oleh Arin, saat itu dia bertanya kepada Maria dan Gina kenapa tidak ikut membantu lalu Haqi menjawab pertanyaan itu dan membalas ejekan Maria.


“Jika mereka memasak, mungkin kamu akan masuk rumah sakit haha .”


Dengan wajah mengejek dia tertawa


“DIAM KAU HAQI SIALAN.”


10 menit kemudian masakan sudah jadi dan mereka duduk bersama di meja dan makan bersama.


“Sudah lama rasanya tidak makan masakan Arin.”


Gina dengan bersemangat memakan masakan itu.


“Teman yang suka bersama mu kemana dia ?.”


Alvan bertanya kepada Maya.


“Oh iya ngomong ngomong Intan ga ada.”


“Ah itu-.”


“Dia di rawat.”


Arin memotong Maya yang sedang berbicara, lalu semua orang melihatnya


“Kenapa rin.?”


Amalia bertanya.


“.…..”


“Dia menjadi korban penyerangan yang terjadi di SMA barat.”


“EEHHH BENARKAH ?.”


“Gimana keadaanya saat ini.?”


Maria dan Amalia yang mengenal Intan dengan baik bertanya karena sangat mencemaskan keadaanya.


“Tidak apa apa tante sekarang sudah agak mendingan.”


“Baik syukurlah kalau begitu.”


Mereka menghela nafas dan melanjutkan makannya.


“Dimana dia di rawat ?, aku akan menjenguk dia nanti.”


”Rumah sakit Barat pusat kamar nomer 405 kak.”


Maria cukup dekat dengan Intan karena saat Arin aktif di klub basket dulu mereka sering datang ke rumah untuk bermain, dan dia juga sering menonton pertandingan.


Setelah selesai makan Haqi, Alvan, Gina, Maria, dan Maya berpamitan.


“Kalau gitu terima kasih sudah mengajak kami makan tante.”


“Maya ga apa apa pulang sendiri ? gimana kalau kalian semua anterin dulu, udah malem ini.”


“Aku sih tidak keberatan.”


“Ya.”


“Benar bahaya juga pulang sendiri ?.”


Amalia yang mencemaskan Maya menyuruh penghuni apartemen untuk mengantarkannya pulang, setelah mengetahui kalau Intan di rawat dia menjadi sangat cemas dan mengomeli Arin.


“Tidak apa-apa tante, kurang dari 2 menit aku akan langsung berada di kamarku ko !!”


“Tapi….”


Maya melakukan teleportasi dan menghilang dari hadapan mereka, tapi dia kembali lagi, ia memperlihatkan kekuatanya agar tidak membuat Amalia merasa cemas.


“Menghilang dan muncul lagi.”


“Baru kali ini aku melihat teleportasi secara langsung.”


“Menarik.”


“Baiklah, tapi tetap hati-hati ya ?.”


“Makasih tante sudah mencemaskanku.”


Dengan tersenyum dia berbicara


“Main lagi ke sini ya.”


“Ya, sampai jumpa.”


Maya pun menghilang dari hadapan mereka semua, lalu penghuni apartemen Star kembali, Arin dan ibunya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2