TRIGGER

TRIGGER
BAB 2, Chapter 44. Kewaspadaan Arin


__ADS_3

“Bukan kah Arin bersikap aneh hari ini ?, dia bahkan tidak berlari seperti biasa setelah datang untuk latihan, hanya duduk dan menatap Handphone miliknya ?”


Kana terlihat bingung saat melihat Arin hanya melihat handphone miiknya dan duduk di pinggir lapangan. Padahal dia adalah orang yang akan belatih lebih keras dari pada anggota lainnya, ini sangat membuat dia penasaran.


“Dari pagi hari dia sudah seperti itu pelatih.”


“Benar saat sebelum dimulai pelajaran, saat tidak ada guru, Bahkan saat istirahat dia hanya menatap Handphone miliknya dan diam di kelas.”


Intan dan Maya yang memperhatikannya dari pagi juga merasa sangat aneh.


“Kalian berdua tau apa yang dia lihat ?”


“Dia melihat pertandingan SMA Utara.”


“Oh jadi dia sedang menganalisis musuh ya ?, bagus kalau begitu.”


Kana terlihat senang mendapat jawaban dari Intan, tapi Maya menggaruk kepalanya dan memasang wajah kebingungan.


“Tapi anehnya dia melihat Hampir semua pertandingan Klub tidak hanya basket.”


“Eh .. jadi sebenarnya apa yang dia lakukan ?, fokus dan bahkan tidak menjawab saat dipanggil, haruskah aku menegurnya ?”


“Lebih baik biarkan saja dia pelatih, saat dia sudah fokus seperti itu, tidak akan ada yang bisa mengganggunya, dulu ataupun sekarang sama saja.”


Intan memberi penjelasan.


“Dan pasti ada sesuatu yang mengganggunya, Bukannya Arin menyuruh kita untuk merekam pertandingan dari SMA Utara ?”


“Ah iya aku lupa memberikan video itu kepadanya, dan kalau tidak salah masih dipegang oleh anggota komite disiplin.”


“Kenapa ada pada mereka ?”


“Karena aku meminta bantuan kepada osis dan mereka tentunya hahaha.”


Semua anggota klub berlatih seperti biasa, meski terganggu akan kelakuan Arin saat ini tapi karena mereka tau kemampuan dia yang sebenarnya jadi tidak ada yang berani protes, termasuk Kirana dan Riana.


Arin terus menonton ulang beberapa video yang dia dapatkan dari Haqi dan Cindy. Dia melihat itu dengan seksama tanpa melewatkan sedikitpun gerakan mereka.


(Sudah kuduga ada yang aneh di setiap pertandingan mereka, tidak ada gerakan istimewa yang digunakan, tetapi lawannya terkecoh dengan mudah, yang paling aneh pertandingan mereka dengan Citra, sudah jelas musuh belum melakukan apa-apa tapi mereka sudah melompat untuk melakukan blok.)


Dari luar gedung terlihat 5 orang datang dan berjalan mendekatinya.


“Arin ?”


“Hey dengar tidak ?”


Dirinya sangat fokus dan menggunakan earbuds jadi dia tidak bisa mendengar orang yang menyapanya. Akhirnya orang itu menepuk Arin, ia menyadari kalau beberapa orang sudah mengelilinginya.


“Akhirnya sadar juga kamu.”


“Maafkan aku terlalu fokus.”

__ADS_1


Arin melepas earbuds miliknya dan menyimpannya dalam saku jaket. Orang yang datang adalah Devina, Alvan, Cindy, Kaila, dan Daniel. Dia meminta mereka untuk menyerahkan video yang di rekam oleh anggota osis dan komite disiplin.


“Ini hal yang kamu minta.”


“Terima kasih, Maaf merepotkan mu ketua kelas.”


Devina memberikan sebuah memori kepadanya.


“Apakah pertandingan semua klub juga sudah kalian copy ?”


“Tentu saja.”


Cindy menjawab dengan sangat percaya diri.


Seluruh orang di dalam gedung olahraga melihat kearah mereka, semua orang di sekolah tau tentang pertengkaran antara Arin dan Cindy, mereka melihat kedua orang itu berbicara dengan normal seperti tidak terjadi apa-apa. Riana menghampiri Intan dan Maya.


“Apa itu tidak apa-apa ?”


“Maksudmu mereka ?”


“Ya, pertengkaran mereka diketahui oleh semua orang di sekolah kita tau ?”


Dia memegang bahu Maya dengan memasang ekspresi cemas.


“Tidak apa-apa, banyak hal yang terjadi tapi sekarang sudah membaik.”


Intan melihat Arin dan tersenyum lega.


Mereka melanjutkan Latihan. Intan yang tangannya masih terluka hanya berdiri melihat teman-temannya berlatih, Kirana dan Lana sudah mulai melakukan latihan ringan.


“Apa kau sudah menemukan sesuatu ?”


Kelima orang itu duduk mengelilingi Arin yang sedang mengecek data yang diberikan kepadanya. Cindy yang penasaran bertanya.


“Belum, tapi aku sudah mencurigai beberapa hal.”


“Apa itu ?”


“.…..”


Dia tidak menjawab itu dan mulai fokus kembali melihat handphone miliknya. Cindy hanya menghela nafas melihat itu.


“Menurutmu apa mereka benar-benar melakukan kecurangan ?”


Devina sangat penasaran saat mendengar cerita dari Cindy tentang apa yang terjadi, dia menonton beberapa video dan tidak menemukan sesuatu yang salah.


“90%, aku yakin itu.”


“Kalau gitu bagaimana kita meminta bantuan panitia atau laporkan ke guru ?”


“Sebaiknya kalian jangan melakukan hal yang tidak perlu, itu hanya akan menyulitkanku.”

__ADS_1


“Tapi bukannya akan lebih mudah jika kita meminta bantuan dari mereka ?”


Kalia memikirkan hal yang sama dengan Devina.


“Pikirlah dari sudut pandang lain.”


“Maksud mu ?”


“Bagaimana jika Panitia dan semua pertugas yang berjaga ada di pihak mereka.”


Dia menjelaskan apa yang menjadi ketakutan terbesarnya.


“Jika kita melaporkan itu tanpa bukti, Hanya jadi kerugian besar bagi kita, kemungkinan mereka akan mendiskualifikasi SMA Barat karena melakukan tuduhan palsu.”


Semua orang yang mendengar perkataan Arin memasang wajah serius dan setuju dengan pendapatnya.


“Baiklah kalau gitu, tapi pasti akan sulit untuk mengalahkan mereka iyakan ?”


“Bahkan jika mereka curang Aku tidak akan menyerah.”


Sambil memandangi layar Handphone miliknya Arin dengan percaya diri berbicara.


“Baiklah kalau gitu kami akan kembali dulu.”


“Ya.”


Kelima orang itu berdiri dan pergi meninggalkan gedung olahraga, akan tetapi Kalia terdiam sebentar.


“Arin.”


“.…..”


“Terima kasih karena sudah menyelamatkan temanku Cindy.”


“Harus berapa kali kubilang kala-.”


Sebelum Arin selesai berbicara dia memotongnya


“Aku tau, Aku meminta maaf karena tidak bisa mencegah Cindy dan para Knight of prince bertindak seperti itu kepadamu.”


“.……”


“Tapi satu hal yang pasti kau menyelamatkan dia.”


“.……”


“Aku hanya ingin berterima kasih.”


“Terserah.”


Kalia tersenyum dan menundukan kepalanya kepada Arin, lalu dia pergi menyusul teman-temannya.

__ADS_1


Setelah latihan selesai dan pulang ke rumahnya Arin terus menghabiskan waktunya untuk mengamati setiap video yang dia dapat, dia menghabiskan waktunya seharian ini dengan memandangi Handphone miliknya. Sampai Jam 01.00 pagi hari selasa dia terus menerus mengamatinya di dalam kamar.


__ADS_2