TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 6. Masa lalu Arin


__ADS_3

Setelah kegiatan sekolah ditiadakan Arin berjalan pulang. Ia berjalan perlahan dan memperhatikan sekitarnya. Setelah berjalan beberapa lama, terasa ada seseorang yang mengikutinya setelah keluar dari sekolah.


“Keluar kau, aku tau kau mengikutiku sejak tadi.”


Wusshh….


Tidak ada jawaban sama sekali, hingga tiba-tiba angin yang sangat besar seperti badai menerbangkan seorang pria yang bersembunyi di dalam gang kecil. Orang itu tergelak di jalan.


“Aduh..  duh.. Apa-apan itu tiba-tiba ada angin besar dari ujung gang yang mentok.”


“Jadi itu kau, mau apa ?.”


Dengan dingin Arin bertanya.


“It.. tuu, ibumu menyuruh untuk mengikutimu diam-diam.”


Bicara dengan pelan dan menundukan kepalanya.


“Stalker ?”


Dengan tatapan dingin ia memandangi lelaki itu


“Maaf.”


Lelaki itu berdiri dan meminta maaf, identitasnya adalah Alvan, sebelum ia berangkat ke sekolah ibu Arin datang ke kemarnya dan minta dia untuk menjaga Arin. Tetapi ia tau kalau gadis tersebut menghindari dia. Oleh karena itu ia mengikutinya secara sembunyi-sembunyi setelah keluar dari sekolah. Tetapi dia Tidak menyangka akan ketahuan. Padahal sudah menjaga jarak cukup jauh.


(Padahal aku sudah berhati -hati dan menjaga jarak, lagi pula apa-apan angin yang tadi?)


“Jadi ?”


“Itu adalah permintaan tante jadi…!”


“……..”


“……..”


“Baiklah tapi jaga jarakmu dan jangan sampai penggemarmu mengetahui ini.”


Dengan tatapan dingin ia melihat dan berbicara, dan mulai berjalan kembali.


(Apakah angin tadi dia yang melakukanya ?, tidak-tidak lagi pula dia tidak memiliki kekuatan)


Ia pun menggelengkan kepalanya dan berjalan mengikuti Arin dengan jarak lebih dari 10 meter. Selama perjalan sampai ke rumah sama sekali tidak ada percakapan sama sekali. Setelah melihatnya memasuki rumah. Alvan pun kembali menuju apartemenya yang berlokasi tempat di sebelah rumah Arin.


-----------------------------------


“Aku pulang”


“Eh ko jam segini udah kembali ?, bolos ya ?”


Ibunya sedang menonton Tv di ruangan tengah dan bertanya karena heran melihat anaknya jam 10.50 sudah berada di rumah.


“Sekolah ditiadakan.”

__ADS_1


“……..”


“Para guru sedang rapat.”


“Ahh, apa karena masalah penyerangan ?”


“Ya mungkin, dan banyak sekali wartawan di depan sekolah tadi pagi.”


Arin berjalan menuju kamar dan menyimpan tas di atas meja. Kemudian ia membuka jaket yang dikenakanya lalu menggantungnya ke dalam lemari. Setelah itu dia mengganti pakain sekolah dengan pakaian yang ia sering gunakan sehari-hari. Ia mengenakan celana panjang berwarna abu dan memakai baju hitam bergambar kucing,


Ia duduk di pinggiran kasur dan menatap langit sedikit melamun memikirkan sesuatu.


Lalu ia berdiri dan mengambil jaket hodie berwarna hitam yang tergantung di belakang pintu dan mengenakannya, lalu dia keluar dari kamar dan jalan menuruni tanggal untuk pergi keluar rumah.


“Eh mau kemana lagi Rin ?”


“Olahraga sebentar.”


“Eh tapi anak-anak dari SMA barat jadi incaran, bahaya loh.”


“Lagian aku bukan target mereka.”


“…….”


Memasang wajah terkejut dengan ucapan Arin.


“Tapi … ?.”


“Aku akan berhati-hati dan aku tidak mengenakan seragam sekolah.”


“Ya.”


Arin membuka pintu dan keluar rumah. Ia melakukan beberapa pemanasan, memutarkan kepalanya, menekuk pergelangan kaki lalu menekuk tubuhnya kedepan. Lalu mengenakan hodie dan mulai berlari untuk mengelilingi kota tempat dia tinggal.


Jika hari sabtu dan minggu, ia akan berolahraga mulai dari jam 7 sampai 8 setiap paginya, dengan jarak kurang lebih 6 km. Ia biasa berlari menuju perbatasan kota barat dan selatan dimana ada sungai besar yang memisahkannya. Dia biasa istirahat duduk di pinggiran sungai sambil menatapinya.


Setelah selesai berorlahraga dan beristirahat sebentar di pinggir sungai. Ia berdiri kembali dan mulai berjalan menuju ke rumahnya. Dia berjalan sambil memasukan kedua tanganya ke dalam saku jaket, ini sudah seperti kebiasaan yang dilakukan oleh Arin.


Saat berjalan ia melihat beberapa sampah berserakan di jalan, lalu secara misterius sampah itu terbawa terbang oleh angin dan masuk ke dalam tempat sampah yang tidak jauh dari lokasi tersebut.


(Masih ada saja orang yang membuang sampah sembarangan.)


Di tengah jalan terlihat beberapa siswa dan siswi dari SMA barat sedang berkumpul dan mengobrol. Mereka berjumlah 10 orang dan salah satunya adalah Cindy.


“Menurut kalian siapa yang menyerang siswa dari sekolah kita ?.”


“Bisa jadi itu penyerangan yang direncanakan loh.”


“Ya mungkin saja orang yang dendam.”


“Oh temanku dari devisi disiplin memberikan pesan. Sepertinya mereka mencari relawan berperingkat C sampai A untuk membantu patroli ditempat sepi dan sekitaran sekolah loh !.”


“Gimana mau ikutan ?.”

__ADS_1


“Akan ku pikirkan.”


“Relawan ya, males sih cape juga jalan-jalan ga jelas gitu.”


Ada yang menganggapnya sebagai lelucon dan juga nenanggapinya dengan serius.


Arin berjalan melewati kerumunan itu tanpa memperdulikannya sama sekali dan kelompok itu juga sama. 10 menit kemudian sampai di rumahnya lalu ia membuka pagar serta pintu rumah dan masuk kedalam.


“Aku kembali.”


“Ya selamat datang.”


“Ibu sudah panaskan water heaternya tuh.”


“Baik.”


Dia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil baju ganti. Lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Ia mengunci pintu dan mulai melepaskan pakaianya dan memasukanya ke dalam mesin cuci. Ia mengambil handuk yang berada di lemari di pinggir mesin cuci. kemudian masuk keruang mandi untuk membersihkan diri.


Kamar mandi dirumahnya memiliki desain minimalis dengan dua ruangan, saat membuka pintu dan masuk ke ruangan pertama, di sana terdapat mesin cuci, lemari handuk dan keperluan lainya, serta wastafel untuk membersihkan tangan dan mencuci gigi. Lalu ruangan kedua berisi 1 bathub, 1 shower,1 wastafel, lalu 1 water heater untuk memanaskan air untuk mandi.


Setelah selesai mandi dan memakai pakaian ia menyisir rambutnya dan berjalan keluar. Di dapur ibunya sedang memasak untuk makan siang. Arin pun datang untuk membantu, karena kalau tidak mungkin dapur akan berakhir seperti medan perang.


Setelah selesai memasak dan menatanya di atas meja mereka makan bersama dan mengobrol beberapa hal.


“Besok hari Sabtu ibu akan pergi bersama perkumpulan ibu-ibu untuk berlibur dan minggu malam baru pulang.”


“Ya.”


“Lebih baik kamu hati-hati ya.”


“…….”


“Ibu takut kejadian dulu akan terjadi lagi.”


“……”


“Rin.”


“Ya, tenang saja lagi pula aku sudah tidak seperti dulu lagi.”


“…….”


Mereka pun melanjutkan makan tanpa berbicara. Setelah selesai makan Arin langsung menuju kamar, ibunya memperhatikan ia dari belakang.


(Huuuh… setelah kejadian 1 tahun yang lalu Arin benar- benar berubah seperti orang lain.)


Amalia mengenang kembali masa lalu yang dilalui anaknya dan memasang wajah cemas dan menghela nafas yang sangat panjang.


1 tahun yang lalu, ia mendapatkan laporan bahwa anak dan temannya masuk rumah sakit. Dia pun bergegas menuju ke sana, setelah sampai di sana ia melihat Arin yang berlumuran darah berdiri di depan ruangan gawat darurat. Dia menghampirinya dengan khawatir dan menanyakan apakah dia baik-baik saja. Akan tetapi anaknnya tidak menjawab dan hanya menangis sambil memeluk ibunya.


Setelah beberapa saat kemudian seorang polisi menjelaskan bahwa Arin dan temannya terlibat kecelakaan. Menurut penjelasan saksi mata, tiba-tiba angin yang sangat besar datang dan menerbangkan semua yang berada di distrik tersebut. Banyak korban yang terluka akibat pristiwa ini.


Temannya mendorong Arin dan menyelamatkan dia saat akan tertimpa oleh mobil. Anaknya selamat Akan tetapi sahabat dekatnya tertimpa oleh mobil dan mengalami luka yang sangat parah. Saat polisi datang dia melihat seorang perempuan yang menangis berlumuran darah sedang berusaha mengangkat mobil. Polisi dan tenaga medis yang melihat itu membantun dan segera membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Itulah dimana Urban legend tentang peringkat S ke 7 dengan kekuatan angin menjadi perbincangan.


__ADS_2