
Seorang gadis sedang duduk pada sebuah sofa sembari memainkan hanphone miliknya, dia sedang melihat sebuah video pendek dan tertawa.
“Haha.. makin banyak ya yang buat video lucu kaya gini.”
Saat dia sedang fokus, tiba-tiba terdengar suara dari arah kasur.
“Ukkhhhh.”
Gadis itu meletakan handphone milinya dan berjalan mendekati seorang gadis yang sedang tertidur di kasur.
(Semenjak masuk rumah sakit, setiap kali Arin tidur pasti akan mengeluarkan ekspresi seperti ini.)
Gadis itu sedang meremas kain yang dia pegang, mengeluarkan ekspresi seperti kesakitan dan mengeluarkan keringat dari seluruh tubuhnya.
(Apa sih yang dia impikan sampai seperti ini ?)
Akhirnya dia mencoba membangunkan Arin karena tidak kuat melihat ekspresi yang dikeluarkannya.
“Ja….ngan… ting…gal.. kan…”
Arin bergumam.
“Arin, bangun.”
Dia berusaha membangunkan gadis itu untuk beberapa menit, sampai akhirnya dia membuka matanya dan melihat kearahnya.
“Kak.. Gina ?”
Terlihat air mata keluar dari kedua matanya.
“Apa kamu tidak apa-apa ?”
Melihat ekspresi Gina, dia menyadari apa yang terjadi, Arin langsung menutupi wajahnya menggunakan tangan kanan dan mengelap air matanya.
“Tidak apa-apa kok kak.”
“Sungguh ?”
“Iya.”
“Hmm… Baiklah, kalau ada yang sakit bilang ya .”
Setelah mengatakan itu Gina mengambil air minum lalu memberikannya kepada Arin.
“Minum dulu.”
“Makasih.”
Gadis itu tersenyum lalu kembali berjalan menuju sofa.
“Maria lama ya.”
Arin menyalakan Televisi lalu mencari siaran yang akan dia lihat, sembari memegang Trigger di tangannya.
30 menit berlalu, Arin melihat kearah jendela. Langit sudah gelap.
Gina berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.
“Aku mandi dulu ya rin !”
“Iya kak.”
Gina masuk ke kamar mandi lalu mulai melepaskan pakaiannya sembari bersenandung.
__ADS_1
“Lalala… lalala…”
Saat dia sedang melepaskan ****** ***** miliknya tiba-tiba saja lampu mati.
“WAAAAAAAAAH.”
Gina yang terkejut mencari handuk yang tergantung di pinggir pintu lalu mengenakannya.
“MANA HANDUK, GELAP-GELAP INI MENAKUTKAN.”
Setelah mendapatkan handuk dia berlari keluar.
“Menakutkan… eh di sini juga gelap.”
“Iya kak.”
Meskipun cukup gelap dia dapat melihat Arin karena langit malam kali ini cukup cerah.
“Ah sial aku keluar hanya mengenakan handuk dan ****** *****, aku harus kunci pintunya agar tidak ada yang masuk.”
Gina berjalan menuju pintu lalu menguncinya. Kemudia dia berjalan kearah Arin dan duduk di kursi.
“Kak Gina takut gelap ?”
”Tii… ti… tidak kok.”
Terlihat sangat jelas kalau itu adalah kebohongan, Arin dengan mudah menyadarinya lalu menahan tawa.
“Engga dingin ka ?”
“Kamu ngejek aku ya rin.”
“Engga ko hahaha.”
Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.
DUG…
“Siapa ?”
Gina bertanya.
Arin memandangi sekitarnya lalu berpikir.
(Ini adalah rumah sakit, tidak mungkin ada pemadaman di tempat banyak orang yang sedang mengalami koma dan lainya, kalau pun iya mereka pasti memiliki batre cadangan untuk menyalakan listrik di rumah sakit ini.)
Arin mengamati situasi mengggunakan Aerokinesis miliknya.
(Ada empat orang di depan pintu, siapa itu, mereka tidak menjawab panggilan kak Gina.)
Gina berdiri, saat dia ingin berjalan menuju pintu Arin meraih tangannya.
“Kak jangan bergerak.”
“Kenapa rin.”
Krak... krak, krak, krak, krak..
Terdengar suara daun pintu yang di buka terus menerus..
“Eh.. apa itu.”
Mendengar itu Gina mulai ketakutan, lalu mendekati Arin.
__ADS_1
DUG…
“Arin apa itu suaranya makin keras, sepertinya mereka mencoba masuk, jangan bilang hantu beneran.”
Tubuhnya mulai bergetar dan perut Arin.
(Mereka mencoba memaksa masuk.)
“Tenang kak, pokoknya jangan bergerak.”
Swooosh… sittt.. sitt….
“AKKKHH.”
Terdengar teriakan dari arah pintu.
Gadis itu menyerang orang yang berusaha masuk ke kamarnya dengan menyayat seluruh tubuh mereka menggunakan angin tipis. Terdengar suara langkah kaki menjauh dari kamar itu. Tetapi Arin terus menerus menyerangnnya.
Pelukan gina kepada Arin semakin keras dan cukup membuatnnya sakit.
“Kak ini sakit.”
“Ahhh maaf Arin.”
Terlihat sedikit air mata keluar dan wajahnya membiru.
(Aku yakin sekarang mereka sudah menjauh.)
“Tidak apa-apa kok kak.”
“A…. apa itu hantu ?”
“Bukan kok, tapi diem di sini dulu sampai lampunya menyala.”
“Ba.. Baik.”
Arin menggunakan kekuatan miliknya mengamati situasi sekitar, terlihat beberapa dokter dan teknisi yang panik berusaha menyalakan kembali listrik yang padam.
Biasanya jika listrik mati, otomatis baterai akan menggantikan dayanya, tetapi kali ini tidak terjadi. Semua peralatan mati termasuk dengan baterai, yang membuat semua orang yang bertugas panik dan berusaha untuk menyalakan kembali listrik.
(Apa ini EMP ?)
15 menit kemudian lampu kembali menyala, Gina masih memegangi tangan Arin, terlihat ekspresinya yang tidak karuan.
“Hahahaha.. segitunya takut sama hantu kak ?”
“Berisik Arin.”
Karena malu gadis itu melepaskannya, kemudian berjalan ke kamar mandi untuk memakai baju.
“Aku akan cek dulu apa yang terjadi ya.”
Dia tidak jadi mandi dan bergegas untuk menanyakan kepada suster dengan apa yang terjadi.
“Baik kak, hati-hati.”
Gina keluar dari ruangan dan berjalan menuju resepsionis di lantai 6, Arin menggunakan kekuatan untuk mengawasinya dari jauh.
Terlihat Gadis itu masih ketakutan akibat kejadian tadi, dia berjalan dan melihat sekelompok orang yang sedang berkumpul di lorong.
“Ada apa ya ?”
Dia berjalan untuk melihat apa yang terjadi,
__ADS_1
“HA ?”
Betapa terkejutnya Gina, melihat 2 orang pria sedang terkapar di lantai tidak sadarkan diri, beberapa di tubuhnya terluka akibat sayatan senjata tajam.