TRIGGER

TRIGGER
BAB 3, Chapter 63. Sesuatu yang menjanggal


__ADS_3

Ting, Tong….


Ujian hari pertama telah selesai, para pengawas ujian kembali. Para murid membereskan barang bawaan milik dan pergi meninggalkan kelas.


Terlihat seorang gadis hanya duduk, tidak bergerak sama sekali sembari memegangi kepalanya dan menghadap kearah meja.


(Salah ngomong, sial gimana sih malah memperburuk keadaan.)


Cindy sangat tidak fokus saat dan saat ujian pun ditegur beberapa kali oleh pengawas.


“Cindy dari tadi kamu kenapa sih ?, Ayo pulang tinggal kamu sendirian tau.”


Kalia datang dan berteriak.


Cindy melihat sekeliling dan sadar kelas sudah kosong. Dia melihat temannya


“Lia Gimana ini.”


“Apanya ?”


Dia menjelaskan apa yang terjadi di atap sekolah.


“Aku juga tadi bertemu dengan Arin yang sedang diganggu oleh Knight of Prince.”


Mendengar perkataan Temannya Dia berdiri dan menghentakan meja.


“APA, MEREKA MASIH MELAKUKAN ITU ?”


“Tenang dulu, Tadi aku berusaha menolongnya tapi banyak orang yang melihat dan menghalangi. Dan saat berhasil mendekatinya, di sana muncul angin yang melukai para gadis lalu merobek pakaian, terlihat beberapa luka di tubuh mereka.”


Setelah mendengar itu Cindy kembali tenang dan duduk kembali.


“Cindy, apa Arin yang melakukan itu ?”


“Mungkin.”


Kalia diam dan mengingat kembali Ekspresi yang dikeluarkan oleh Arin saat itu.


“Kamu tau ?, raut wajah yang dia keluarkan saat mengancam mereka, itu sangat menakutkan.”


“Haha kau melihat itu ?, aku juga pernah melihatnya, di belakang sekolah dan saat dia menyelamatkanku.”


Cindy malah tertawa.


“Hey itu bukan sesuatu yang harus ditertawakan tau.”


“Iya aku tau, tapi mau bagaimana lagi setelah mengetahui apa yang terjadi padanya tentu saja dia akan menjadi seperti sekarang.”


“Kuharap dia cepat berbaikan dengan temannya itu, sendirian itu menyakitkan.”


Kalia berkata dan menatap kearah Cindy.


“AH… aku ingin mengulang waktu dan tidak ingin berkata seperti tadi.”


Pintu kelas terbuka lalu seorang pria masuk ke dalam dan menghampiri mereka berdua.


“Cindy.”


“Eh Al, belum pulang ?”

__ADS_1


“Pulang di saat kamu mengatakan sesuatu kepada Arin ?”


“Kamu melihat kami ?”


Alvan tersenyum dan menarik kursi lalu duduk di hadapannya.


“Bisa dibilang iya, saat aku melihat kamu pergi menuju atap aku mengikuti mu, tapi aku kembali ke lantai 3 dan menggunakan gelombang untuk mendengarkan percakapan kalian, meski tidak jelas aku mendengarkannya.”


“Kenapa kamu tidak menghentikan aku berkata seperti menyalahkan Arin.”


Kepala Cindy menepel di meja, tangannya mengacak-ngacak rambutnya.


“Kurasa gadis itu mengerti maksudmu.”


“.…..”


“Mungkin Arin yang sekarang… menginginkan seseorang menyalahkan dirinya soal kematian sahabat baiknya itu !”


“Tapi Alvan ?”


“Aku tau apa yang kalian dua pikirkan, 1 tahun yang lalu angin besar terjadi membuat kota Barat Daya hancur berantakan, lalu kemarin terjadi hal yang sama.”


Kedua orang itu menatap Alvan.


“Kemungkinan besar kejadian itu juga perbuatan Arin.”


“Benar, tapi tidak mungkin dia sengaja melakukan itu !, kurasa ada sesuatu yang menyebabkan kontrol atas dirinya mengamuk !!”


“Apa lagi setelah mendengar kalau dulu dia sangat penyayang, lembut dan gampang menangis.”


Saat makan di rumah Arin, Amalia bercerita banyak kepada Alvan dan Cindy tentang Anaknya yang dulu. Lalu meminta mereka untuk menjaganya di sekolah.


“Aku penasaran apa yang membuat dia dapat membangkitkan kekuatannya sampai seperti itu.”


“Kalian ingatkan persyaratan untuk menjadi trigger ?”


Alvan bertanya.


“Sesuatu yang membuat seseorang tertekan ?”


Kalia menjawab.


“Benar.”


Mereka bertiga berpikir tentang kemungkinan yang terjadi. Cindy mengepalkan tangannya.


“Aku sangat penasaran, dia membangkitkan kekuatannya setelah melihat temannya tertimpa oleh mobil tapi hal lain ?”


“Apa maksudmu Cin ?”


“Gimana menjelaskannya ya, Terjadi sebuah kecelakaan yang mengakibatkan temannya tertimpa oleh mobil dan Arin membakitkan kekuatannya lalu mengamuk atau-.”


Kepalan tangannya semakin keras.


“Ada sesuatu yang terjadi sebelum itu dan membuat Arin sangat sedih, lalu marah, yang membuat Alam bawah sadarnya mengamuk.”


“Kurasa itu tidak mungkin ?”


“Tapi Al, kamu ingat apa yang tante Amalia jelaskan soal penjelasan polisi ?”

__ADS_1


Cindy mengelarkan raut wajah yang sangat serius.


“Tante bilang menurut saksi mata, Angin yang sangat besar mulai bergemuruh di seluruh distrik perbelajaan dan menghancurkan semuanya, lalu Sebuah mobil terbang kearahnya, Nia yang melihat itu mendorong Arin dan menyelamatkan dia.”


Kedua temannya mendengarkan dengan serius.


“Aku yakin ada sesuatu yang terjadi sebelum Nia tertimpa oleh mobil.”


“Benar juga apa yang kamu katakan Cindy.”


Kalia menjawab.


“Aku akan mencari tahu Arin saat SMP,  katanya dia sering mendapatkan gangguan dari gadis yang iri karena bakatnya. Hal ini selalu terbayang dipikiranku.”


Mendengar penjelasan sahabatnya Alvan menyadari ada sesuatu yang belum mereka ketahui sepenuhnya.


(Apa yang Cindy katakan sangat masuk akal, kenapa aku tidak menyadari itu ?)


“Jika sesuatu seperti pembullyan terjadi terhadapnya bagaimana ?, DAN AKU MELAKUKAN HAL SERUPA KEPADA SESEORANG YANG MEMPUNYAI MASA LALU SEPERTI ITU, AKU BENCI DIRIKU SAAT INI.”


Cindy menaikan nadanya dan mengacak-acak kembali rambutnya.


------------------------------------


Setelah Bel sekolah berbunyi Arin Membereskan Meja dan langsung pergi meninggalkan kelas. Seluruh murid di kelas melihat itu merasa sangat aneh.


“Eh Arin langsung pulang ?”


“Biasanya dia menunggu semuanya pulang.”


Ini pertama kalinya dia pulang dengan cepat, tidak membersihkan kelas terlebih dahulu. Intan melihat itu menundukan kepalanya dan terlihat sedih. Maya berdiri dan menghampirinya.


“Tan ga apa-apa ?”


“.….”


Devina menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi kepada mereka, dia berjalan mendekati keduanya lalu bertanya.


“Apa sesuatu terjadi di antara kalian ?”


“.….”


Intan tidak mendengar apapun dan menggengam kedua tangannya, lalu sedikit mengeluarkan air mata.


Devina menatap orang yang berdiri di belakangnya, Maya hanya menggelengkan kepalanya. Lalu dia berjalan ke samping Intan dan tangan kirinya memegang bahu kanannya.


“Jika kamu membutuhkan sesuatu, kau bisa berkonsultasi kepadaku !”


Setelah mengatakan itu dia pergi mengambil tas miliknya dan pergi meninggalkan kelas. Di depan pintu berdiri seorang gadis dan melihat kearah mereka berdua.


(Intan masih gitu ya.)


Naila mencemaskan keadaan Intan dan Arin selalu bertanya dan menghampiri mereka. Dia berjalan menuju mereka.


“Ayo kembali.”


“Ayo tan, Arin nya juga udah ga ada.”


Dia sangat ingin meminta Maaf, tetapi sangat bingung untuk mengatakan apa, hasilnya Intan hanya diam dan menatapi Arin dari jauh.

__ADS_1


(Salahku Arin menjadi seperti ini.)


Dia mulai menangis kedua temannya mengambil kursi dan duduk di samping tanpa mengatakan apapun.


__ADS_2