
“Seperti yang kalian tau. kalau sekolah kita tidak berfokus untuk melatih para Esper, oleh karena itu banyak Rank E di sekolah, dan juga ada kasus mereka yang memerlukan benda untuk mengeluarkan kekuatannya. Tanpa Trigger mereka sama halnya dengan Rank E yang kekuatanya belum terbangkit.”
Seorang guru sedang menjelaskan di depan kelas.
“Sampai saat ini masih belum diketahui mengapa para Trigger hanya bisa mengaktifkan kekuatannya ketika memegang benda tersebut, dan berdasarkan data hingga saat ini para Trigger hanya bisa mencapai Rank C.”
Seorang murid mengangkat tangannya dan bertanya.
“Tapi bu, bukannya ada sebuah cerita yang mengatakan, Bahwa 1 tahun yang lalu ada seseorang berperingkat S yang mengamuk dan menghancurkan seisi kota ?. dan katanya orang itu adalah Trigger.”
“Hoo… jadi kalian juga mendengar legenda urban itu ya. Bukan berarti aku tidak mempercayainya. Akan tetapi itu belum diketahui kebenarannya hingga saat ini, dan kalau pun itu benar anggap saja sebagai motivasi untuk kalian semua ya.”
Para murid mulai berdiskusi sendiri dengan pendapat yang berbeda, ada yang percaya dan juga tidak.
“Sudah-sudah mari kita lanjutkan pelajaranya.”
Kelas pun berlanjut dan para murid mulai mendengarkan lagi penjelasan dari guru, akan tetapi Arin hanya melihat keluar jendela dan tidak tertarik dengan perlajaran tentang esper.
------------------------------------
Setelah usai kelas seperti biasa Arin diam di dalam kelas hingga tidak ada orang lain, lalu membereskan kursi dan mengambil sampah untuk di buang. Lokasi pembuangan sampah berada di belakang sekolah.
Ia pun berjalan sambil membawa kantung kresek berisikan sampah menggunakan tangan kananya. Sesaat sebelum sampai di lokasi terdengar suara orang berteriak seperti sedang bertengkar.
“Hey kamu pikir kamu pantas untuk jadi pacar Al hah ?”
“Alvan itu cocoknya dengan idol atau seorang putri !”
“Maaf.”
Di sana terlihat ada seorang wanita yang dikelilingi oleh empat orang wanita.
(Jadi ini pembullyan yang dimaksud oleh Maya tadi, dan orang itu banyak bicara itu Cindy)
Bukannya tidak ingin membantu tapi Arin tidak tertarik sama sekali, karena gadis tersebut bukan kenalannya. Bahkan dari awal masuk sekolah dia hanya berbicara dengan Intan. Setelah melihat sebentar ia kembali berjalan dan membuang kresek itu. Lalu kembali ke kelas untuk mengambil tas miliknya dan kembali pulang.
Di lorong depan pintu masuk terdengar beberapa orang sedang bergosip. Karena pendengarannya cukup bagus. tanpa sengaja Arin pun mendengarnya.
“Hey apa kalian dengar ?, Katanya beberapa murid kita ada yang diserang secara mendadak !”
“Iya kapten ekskul sepak bola, saat ini sedang dirawat di rumah sakit karena cidera di kakinya.”
“Katanya dia diserang oleh esper saat dia sedang berjalan di tempat sepi saat mau pulang kerumah.”
“Lebih parahnya kakinya patah.”
“Padahal kapten sangat berbakat.”
“Semoga saja cidera yang dapat disembuhkan.”
“Padahal sebentar lagi ada pertandingan antar sekolah ya.”
“Sayang sekali, Klub bola pasti mengurang kekuatanya.”
Arin berjalan perlahan sambil memperhatikan obrolan tersebut.
(Hmmm… ada kejadian seperti itu, dan bukan hanya satu orang saja yang diserang, semoga kebetulan.)
------------------------------------
Sesampainya di rumah ia membuka pintu dan melihat ibunya sedang mengemas beberapa buah-buahan.
“Rin bantuin bagiin ini ke penghuni apartemen dong.”
“Ya nanti nyimpen tas dulu di kamar.”
Arin pun berjalan menuju kamarnya dan menaruh tasnya di atas meja belajar, setelah itu dia kembali turun menghampiri ibunya.
“Dari mana ibu dapet sebanyak ini, beli ?.”
“Engga, tadi temen ada ngasih banyak, jadi mau dibagikan saja dari pada ga kemakan dan busuk.”
Setelah itu Arin mengambil kresek yang telah dikemas oleh ibunya dan berjalan keluar rumah menuju apartemen, sesampainya di sana ia bertemu Haqi yang baru pulang dari universitas.
__ADS_1
“Rin mau kemana bawa kresek banyak gitu.”
“Ke apartemen mau bagiin buah-buahan dari temennya ibu.”
“Ah biar aku bantuin ya.”
Lalu Haqi mengambil beberapa kresek yang dibawa olehnya dan berjalan bersama menuju apartemen. Sesampainya di sana terlihat Alvan sedang turun dari tangga.
“Selamat sore.”
“Selamat sore.”
“……”
“Ah maaf saya Alvan penghuni baru kamar nomer 7.”
“Haqi penghuni kamar nomer 4, mohon bantuanya.”
“Kalau gitu buat para laki-laki, kakak yang bagikan nya ya.”
Setelah berbicara Arin pun pergi ke atas menuju lantai 3.
(Wah Arin cuek gitu, keliatan banget ngehindarin anak ini.)
“Kalau gitu, Alvan ambil ini 1 dari tante Amalia.”
“Maaf kak bisa nitip dulu. Nanti malam saya ambil, ada janji soalnya udah mepet nih.”
“Haha oke santai aja.”
Setelah sampai di lantai 3 Arin menyalakan bel di kamar nomer 13 tetapi tidak ada yang menjawab kemungkinan penghuninnya belum kembali. Sama halnya dengan kamar nomer 14 dan 15. Ia pun menuju kamar terakhir dan menekan bel.
“Tunggu sebentar.”
Terdengar suara sangat pelan dari dalam kamar, lalu tidak lama setelah itu pintu kamar terbuka.
“Siapa ya, eh Arin ada apa ?.”
“Wah makasih ya.”
Gadis itu bernama Maria, ia adalah penghuni kamar nomer 16, ia adalah seorang mahasiswi jurusan Kedokteran. Terkenal akan kecantikanya dan bakatnya dalam dunia medis. Panjang rambutnya sebahu dengan bentuk tubuh yang sangat sempurna untuk wanita, tingginya sekitar 160cm.
“Sekalian titip ini dong kak, yang lain kayanya belum pada kembali.”
“Oke.”
“Kalau gitu Aku pamit dulu.”
“Makasih ya Rin.”
Setelah berpamitan, Maria melambaikan tanganya kepada Arin, dan ia pun kembali kemarnya. Arin berniat untuk pulang akan tetapi di lantai 1 ada Haqi yang menunggu dengan memegang sebuah tote bag.
“Rin tunggu sebentar, ini buat kamu.”
Dengan heran Arin mengambil tote bag itu lalu membuka dan melihat isinya. Di dalamnya ada beberapa coklat dan makanan ringan lainya.
“Hmm… Ada angin apa ngasih ginian?”
“Ahh I ..ni un.. tuk… ii.. tuu .. “
Arin menatap Haqi yang tidak bisa bicara dengn lancer lalu menatap dengan tajam.
“Apakah ini untuk permintaan maaf ?.”
“Ii.. yaa.. Maaf”
Sambil menundukan kepalanya Haqi meminta maaf, karena ia takut akan tatapan Arin.
“Hmm… Sebaiknya gimana ya. Baiklah kali ini ku maafkan, tapi lain kali kalau hanya segini ga akan dimaafin.”
Dengan candaan Arin membalas perkataannya.
“Okee.”
__ADS_1
“Kalau gitu pulang aku dulu ya.”
“Ya.”
Dengan begitu Arin meninggalkan Haqi dan membawa tote bag yang penuh dengan makanan dan kembali menuju rumahnya, sesampainya di rumah iya menuju kamar dan berganti pakaian, setelah itu kembali turun untuk membuat makan malam.
------------------------------------
Seperti biasa hanya ada Arin dan ibunya yang berada di rumah, dan mereka pun mulai makan bersama. Saat lagi makan Amalia memulai pembicaraan.
“Rin katanya beberapa siswa di sekolah kamu diserang, oleh sekelompok orang tidak dikenal dan sekarang berada di rumah sakit.”
“Ya aku juga mendengarnya pembicaraan serupa di sekolah.”
“Hati-hati ya.”
“Baik, tetapi kenapa ibu bisa tahu ?, padahal aku sendiri baru mendengarnya tadi pas mau pulang sekolah !”
“Huhuhu… Jangan meremehkan jaringan ibu-ibu loh.”
Dengan wajah mengejek menjawab pertanyaan Arin.
“Gimana kalau kamu pulang sama pergi bareng Alvan aja biar aman.”
“Engga makasih.”
“Demi keamanan mu loh.”
“Jurstru kalau selompok Alvan tau, aku bisa mati.”
Dengan wajah kesal ia menjawabnya
“Hah?”
Amalia memiringkan kepalanya karena tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh anaknya.
------------------------------------
Terlihat seorang pemuda keluar dari sebuah mini market, ia berjalan melewati taman. Suasana sangat sepi dan tidak terlihat satu pun orang yang melintas. Hanya terdengar suara serangga.
Syuuuuutt… Dug..
Ketika sedang berjalan seketika ada beberapa batu yang terbang menuju kearahnya dengan sangat cepat. Batu pertama mengenai bagian kepala sebelah kanan. Lalu pemuda itu berusaha menghindari sisa batunya dan melompat menghindari semuanya.
Syut, syut, syut, syut……
Akan tetapi meskipun sudah menghindari semuanya, bebatuan itu terus mengerjarnya seperti dan akhirnya mengenai tangan kanan nya, ia berguling dan lari sekuat tenaga untuk pergi dari sini.
(Sial ada apa ini, meski sudah ku hindari batu ini terus menerus mengejarku.)
Ia lari sambil meloncat ke kanan, berusaha sekuat tenaga untuk menjauh dari taman dan mencari keruman orang. sekuat apapun ia berusaha berlari untuk keluar dari taman tetapi tidak bisa.
(Sialan kenapa sih, kenapa aku tidak bisa keluar dari taman ini. Apakah mereka yang belakangan ini menyerang para siswa lainya. Aku harus berhasil keluar dan mencari mereka.)
Swoosh…
Dia melompat ke belakang untuk menghidari batu yang mengarah kepalanya dari arah kanan. Akan tetapi sebuah batu berdiameter 10 cm tiba-tiba menghantam kepalanya dari belakang dengan sangat kuat.
Dag…
(Ah sial, aku tidak kuat lagi.)
Kemudian pemuda tersebut terjatuh ke tanah dan tergeletak. Ia mengeluarkan sejumlah darah dari beberapa tempat ditubuhnya yang terkena serangan.
Terlihat ada tiga sosok yang mendekati tubuh pemuda tersebut. 2 orang pria dan 1 orang wanita.
“Woaah sangat hebat ya Kapten basket dari sekolah barat. Bisa menahan serangan kita dengan cukup lama. Tidak seperti siswa lainya hahaha.”
“Sudah lah, ayo pergi sebelum ada orang yang datang ke sini.”
“Ya ayo cepatlah.”
Setelah melihat dan mengecek pemuda itu sudah tidak sadarkan diri ketiganya pun pergi meninggalkan taman dan meninggal pemuda yang tengah terluka parah dan pingsan itu di sana.
__ADS_1