
Almya masih menatap tempat dimana Arin melompat dengan ekspresi kaget, dia masih tidak percaya gadis itu menjadi seorang esper, terlebih lagi dapat melakukan sesuatu seperti melontarkan dirinya menggunakan angin, jarang ada seorang Trigger yang menguasai kemampuan seperti Arin, tidak bahkan seorang Esper biasa yang menggunakan kekuatan Aerokinesis tidak akan mungkin mampu mengendalikan angin lebih bagus dari gadis itu. Almya mematung memikirkannya. Awalnya Intan pernah memberitahukan dia kalau Arin menjadi seorang Trigger, tetapi menurutnya itu candaan.
“Sampai kapan kamu mau diam seperti patung di situ mya.”
Maria menepuk bahunya karena dia sudah beberapa menit tidak bergerak.
“Maaf, Maaf, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.”
Dia tersadar lalu menggelengkan kepalanya.
“Arin itu Rank E kan ?, Intan pernah menyinggung soal gadis itu yang menjadi Seorang Trigger, tidak ku sangka akan sekuat ini.”
“Kukuku.. Ini hanya sebagian kecil dari kekuatan Arin, Kamu akan terkejut jika melihatnya mengerahkan 100% kemampuan aslinya.”
Maria terlihat bangga lalu meletakan kedua tangannya di kepala bagian belakang sembari berjalan mendekat ke meja. Dia sedang mengenang kembali ingatan dimana saat menemari Arin melataih kekuatannya.
“Sejak kapan dia menjadi seorang Trigger ?”
Sembari mengikuti dari belakang dia bertanya dengan polosnya, Gina, Kalia, Haqi dan Cindy menundukan kepala mereka, Alvan menggaruk kepalanya.
“Eh.. ?”
Almya cukup terkejut dengan aura yang dikeluarkan orang-orang di hadapannya saat ini.
“Tahun lalu, sejak kematian Nia !”
TIdak ada yang menjawab pertanyaan itu, sampai akhirnya Maria memandangi langit yang mulai gelap lalu menjawabnya.”
“Ah…”
Saat ini Almya mengingat syarat seseorang untuk menjadi seorang Trigger. Biasanya seorang Rank E dapat terbangkit jika mengalami tekanan psikologi, situasi mendesak yang membuat alam bawah sadar mereka kacau dan meledak.
Setelah mengingat itu dia merasa bodoh, karena sudah menanyakan hal yang sudah pasti bisa di tebak oleh orang-orang yang mengenal Arin.
(Sudah pasti kematian Nia yang membuat Arin terbangkitkan, betapa bodohnya aku menanyakan sesuatu yang sudah pasti.)
“Maaf..”
Dengan ekspresi sangat menyesal sembari menundukan kepalanya dia meminta maaf dengan suara kecil.
“Tidak usah sampai meminta maaf, lagi pula kamu tidak berbuat salah ko, benarkan Maria ?”
“Benar, jangan di pikirkan.”
__ADS_1
Haqi berusaha menghiburnya setelah melihat ekspresi dari Almya yang menjadi murung.
------------------------------------
Setelah meninggalkan Universitas Selatan, Arin pergi melompat-lompat di atas rumah serta gedung dia saat ini sedang menuju gedung tertinggi yang berada di wilayah Barat. Sudah jadi kebiasaannya jika merasa tertekan, dia selalu mencari tempat tinggi untuk diam di sana.
Sesampainya di gedung tertinggi dia melihat tangannya serta kaki secara bergantian.
“Pulih dengan cepat, teknologi di pulau Aurora semakin menakutkan.”
Seluruh luka yang selama ini terasa sakit menghilang seperti dalam mimpi, sampai saat ini dia masih tidak mempercayainya. Karena di pagi hari luka-luka pada tubuhnya masih sangat menyakitkan. Lalu alasan Arin melepas gips pada tubuhnya juga karena dia ingin tau perbedaan yang terjadi setelah menggunakan healingpod.
Meskipun saat pagi dia berjalan normal saat, tetapi seluruh tubuhnya merasakan sakit yang amat luar biasa, terutama pada bagian kaki. Tetapi entah sejak kapan Arin sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit dan tidak pernah memperdulikannya.
“Fuuuh.”
Sembari menghela nafas dia berjalan menuju tembok pembatas dan duduk di atasnya. Angin berhembus kearahnya membuat rambutnya bergerak perlahan, dia memandangi langit lalu menikmati waktunya seorang diri.
------------------------------------
10 menit lagi hingga waktu pemulihan Intan selesai, semua orang memberreskan sampah di taman lalu mulai berjalan bersama menuju laboratorium.
“Sudah lama ada yang ingin aku tanayakan kepadamu Almya.”
“Oh apa itu ?”
“Apa nih haha.”
“Nanya nya jangan lagi banyak orang dong haha.”
“Ko panas ya ?” hahaha.”
Maya, Kalia serta Cindy mengejek, Alvan hanya berjalan sembari melihat sekitarnya, Maria tidak peduli sedang memegang bungkusan kripik kentang sembari memakannya.
“Apa sih kalian, aku cuman mau bertanya terkain nama Almya dan Intan !”
“Ehhh… ga seru ah.”
“Kirain nanya, punya pacar apa engga !”
Almya hanya tertawa melihat candaan semuanya.
“Gimana maksudnya qi ?”
__ADS_1
“Tidak, hanya saja.”
Sembari berbicara Haqi memandang kearahnya.
“Almya, Intan. Apakah orang tua kalian itu pecinta permata atau perhiasan ?”
“Ha ?”
Dengan wajah serius dia bertanya, semua orang kecuali Almya terkejut tidak mengerti dengan pertanyaan Haqi lalu memiringkan kepala mereka.
“Hahahahaha.”
Gadis itu tertawa karena tidak menyangkan akan di tanya sesuatu seperti itu, dengan ekspresi yang sangat serius.
“Ku kira kamu akan bertanya apa ahahaha, Benar ko, Almya yang berarti batu berharga, sedangkan Intan Perhiasan yang berharga !”
“Haqi seriusan nanyain itu ?”
“Ah tidak seru !”
“Hahaha.”
“Apaan sih kalian berisik, emangnya engga boleh aku penasaran dengan hal itu ?!?”
Melihat para wanita tertawa Haqi sedikit kesal, lalu berjalan cukup cepat.
Sesampainya di laboratorium Chanan masih bermain game dari laptop, dia tidak sadar kalau waktu sudah cepat berlalu, Maria menegurnya karena sudah waktunya untuk Intan keluar dari healingpod. Almya dan Maya berjalan mendekat ke mesin yang masih menyala.
Perlahan liquid di dalam mulai perlahan menghilang, Healingpod terbuka, tetapi Intan terlihat masih tetapi menutup mata.
“Intan ?”
“Ta.”
Kedua orang itu perlahan memanggil gadis yang terlihat masih tertidur akibat bius yang diberikan. Karena di panggil terus menerus dia akhirnya dia membuka matanya.
“Selamat pagi.”
Mendengar itu semua orang senang, Intan perlahan keluar dari healingpod, dia masih merasa sangat lemas, berbeda dengan Arin yang terlihat langsung seperti normal. Gadis itu di bantu berdiri oleh Maya, dia melihat sekelilingnya lalu menyadari kalau Arin tidak ada.
“Arin mana, apa belum selesai ?”
Semua orang tidak menjawab hanya terdiam, lalu dia melihat kearah healingpod yang berada di sebelahnya, Arin sudah tidak ada di sana.
__ADS_1
“Arin sudah keluar 1 jam yang lalu tan.”
Almya akhirnya menjawab, terlihat wajahnya sangat kecewa.