TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 121. Apakah mereka setuju ? 2


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Chanan langsung mengajak Arin, Maria, dan Haqi menuju lantai dua untuk mendiskusikan sesuatu. Gina cukup kesal karena dia tidak boleh mendengarkan isi dari pembicaraan mereka.


“Maafkan aku ini merupakan pembicaraan penting, sebaiknya kamu temani mereka berdua  saja di sini!”


Devina dan Ina dapat dengan jelas melihat ekspresi kesal dari Gina.


Dua lebih dari 5 menit berlalu sejak mereka pergi ke, semua orang tampak penasaran dengan percakan yang katanya penting itu.


Gina terlihat gelisah, dia benar-benar ingin ke atas lalu mengunping pembicaraan mereka, berbeda dengan kedua gadis yang berada bersamanya. Mereka dapat memaklumi kalau keduanya tidak cukup dekat dengan Chanan, jadi mereka tidak punya hak untuk mengetahui apa yang akan mereka bicarakan.


“Hey kalian berdua, ayo kita menguping.”


Dengan senyuman sangat lebar dia tersenyum.


“Ehhh!”


“.….”


Ina serta Devina saling memandang, karena sangat ragu dengan ajakan itu.


“Hehe, Chanan hanya bilang kepada kita, untuk menunggu di sini kan!”


“Iya.”


“Benar.”


“Tapi dia tidak bilang, untuk tidak menguping pembicaraan mereka!”


“Tapi sebaiknya jangan kak!”


“Benar kata Ina, tidak baik mendengarkan pembicaraan orang lain.”


“Kukuku, ayolah kita keatas!”


Gina berjalan sembari menarik tangan kedua gadis itu. Dari ekspresinya terlihat kalau kedua itu cukup enggan untuk mengikuti tindakan Gina. Tapi tetap saja merka sangat penasaran dari isi pembicaraan itu.


Saat sampai di lantai 2, akhirnya mereka berjalan perlahan lahan menuju pintu beranda luar.


“Pelang-pelang jangan sampai ketauan!”


“Baik kak!”


Dengan sangat hati-hati mereka berjalan seperti seorang detektif dalam film comedy. Di pimpin oleh Gina, Ina lalu Devina.


(Ah jadi ini ya rasanya mengendap-endap bersama seorang teman!)


Ini adalah pertama kalinya Ina melakukan hal seperti ini, dia cukup senang.

__ADS_1


Setelah sampai ketiga orang itu bersembunyi di balik pintu, lalu mengintip melalui celah pada jendela.


“Kemungkinan besar iya, karena siapa lagi yang mampu menyimpan penyadap di rumah sakit, telebih lagi kata Alvan ada beberapa penyadap di dalam ruangan Arin!”


“Jadi atasanmmu menyuruh kita yang sudah terlibat dengan mereka untuk menjadi umpan demi mengungkapkan identitas dari para pelaku kan ?”


“Kurang lebih seperti itu!”


Gina mendengar percakapan mereka, dengan mendengarnya saja dia langsung mengetahui kalau pembicaraan ini sangat serius.


“Aku setuju, aku sangat ingin memukul orang-orang yang sudah berusaha meledakan drone di ruangan milik Arin!”


Gina dan Ina kurang lebih dapat memahami isi pembicaraan mereka, suara maria terdengar sangat emosional. Berbeda dengan mereka Devina tidak mengerti pembicaraan itu.


(Ledakan ?, apa maksudnya!)


Ketiga orang itu terus mendengarkan pembicaraan mereka dengan hati-hati agar tidak ketahuan.


------------------------------------


“Kalian berdua coba dipikirkan lagi, organisasi yang bahkan mampu menyelinap tanpa ketahuan ke laboratorium di Universitas selatan tau !”


Haqi benar-benar tidak setuju, mengingat kembali apa yang sudah musuh lakukan dia benar-benar berhati-hati.


“Kalau gitu kamu tidak usah ikut!”


“Tapi-!”


Terjadi perdebatan antara mereka, Chanan benar-benar membutuhkan kemampuan prekognisi milik Haqi, meskipun kemampuannya tidak dapat digunakan dengan baik. Tapi jika sesuatu yang berbahaya akan terjadi, Haqi pasti mendapatkan pengelihatan.


(Memang benar musuh kali ini masih belum diketahui, Itulah yang membuatnya menjadi sangat bebahaya!)


Argumen demi Argumen Haqi dan Maria keluarkan, Arin serta Chanan hanya melihat itu. Sampai akhirnya Haqi menyerah dan setuju untuk ikut membantu. Karena mau bagaimana juga dia adalah lelaki, lalui memiliki kekuatan untuk melihat masa depan. Dia berharap kekuatannya akan membantu di saat teman-temannya dalam bahaya.


“Tapi aku ingin menegaskan, Jika bahaya terjadi kita semua harus berusaha melarikan diri!”


Haqi berbicara menatap kearah Maria dan Chanan secara bergantian.


“Tentu saja, jika bahaya terjadi kita harus mementingkan nyawa dari pada tugas!”


“..…”


Karena percakapan telah selesai Maria berdiri dari kursi lalu mereka semua berjalan bersama untuk kembali ke dalam rumah.


Gina, Ina dan Devina yang sedang menguping panik melihat Maria yang akan membuka pintu, sedangkan mereka belum melarikan diri.


“Bahaya ini nanti ketahuan!”

__ADS_1


“Ayo cepat pergi.”


“Pelan-pelan nanti ketahuan!”


Mereka sangat ingin bergerak tetapi tubuhnya tidak dapat mengikuti keinginan mereka, saat seseorang sedang panik psikologi mereka akan terganggu lalu membuat pikiran serta tubuh tidak dapat dikendalikan dengan baik.


“Jika kita selesai menyelesaikan misi ini, kita akan mendapatkan, konsol, game dan bayaran yang cukup besar!”


Mendengar perkataan Chanan, Maria, Arin dan Haqi berhenti lalu menoleh ke arahnya.


“Kamu bilang apa tadi ?”


“Ah!!!”


Tanpa dia sadari, suara hatinya keluar dan terdengar, Chanan langsung menggigit bibirnya wajahnya membiru saat melihat Maria tersenyum kearahnya.


“Oi Sialan, Jangan bilang kalau Kamu mengambil misi ini karena hadianya ya ?”


“Ti.. tidak kok qi!”


“Fotocopy, kebohonganmu terlihat dengan jelas!”


Tanpa harus menggunakan angel eyes untuk memeriksa detak jantung Chanan. Semua orang dapat melihat dengan jelas dari ekspresi pria itu, dia terlihat sangat panik dan gelisah. Kedua tangannya ke belakang tubuh sembari menoleh kearah samping dan bersiul-siuk tidak jelas.


“Tidak ku sangka kamu hanya ingin memanfaatkan kami!”


“Kamu sangat ingin aku beri pelajaran ya!”


Maria dan Haqi terlihat sangat marah, keduanya merasa sangat dimanfaatkan oleh Chanan hanya untuk sebuah game. Perdebatan yang mereka lakukan tadi seperti sebuah candaan jika melihat alasan yang sebenarnya.


Maria mendekat lalu memukul perut pria itu dengan cukup keras.


“Hen..tikan Maria, Aku benar-benar ingin mencari identitas mereka karena terus-menerus mengusik kita!”


Tentu saja perkataan itu bukan kebohongan, Maria yang terlanjur marah terus menerus memukul Chanan. Haqi menyemangati dari samping.


“Huuuh!”


Melihat adegan di depannya Arin hanya dia dan menghela nafasnya.


“Hey sepertinya ini waktu yang tepat untuk pergi!”


Gina melihat kesempatan untuk kabur, di saat Mereka sedang sibuk bertengkar, dia mengajak Ina dan Devina untuk segera meninggalkan lokasi agar tidak ketahuan.


“Baik kak!”


“Ayo hati-hati!”

__ADS_1


Dengan perlahan-lahan ketiga orang itu pergi munuju lantai bawah.


__ADS_2