TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 14. Tekad Intan


__ADS_3

Dua orang gadis yang sedang mencari alkohol di lemari tempat penyimpanan di ruangan kesehetan. Arin duduk di sana sembari melihat kedua orang. Setelah mereka sampai ruang kesehatan guru yang menjaga tidak ada jadi mereka mencari Alkohol dan kapas sendiri.


“Tan kayanya yang ini deh.”


“Kalau gitu kapasnya dimana ya.?”


Arin melihat sifat Intan saat ini merasa sangat nostalgia.


(Dia tidak berubah sama sekali ya)


“Ah ketemu, tunggu sebentar ya Rin.”


Intan pun duduk di depan Arin dan membuka botol alkohol lalu membahasi kapas.


“Tahan ya mungkin pasti sedikit sakit.”


Sembari tersenyum dia membersihkan luka yang berada di pipi itu dengan hati-hati


“Gawat nih kalau berbekas cukup dalam ternyata lukanya, maaf ya aku datang terlambat.”


“.…..”


Arin hanya diam melihat Intan yang membersihkan lukanya.


“Tan ini obat merahnya.”


Maya datang dan botol yang berisihkan obat merah.


“Makasih.”


“Ya sama-sama.”


Setelah selesai membersihkan luka, dia mengoleskan obat merah menggunakan cotton bud, lalu menutup luka itu dengan hansaplast agar tidak terjadi infeksi akibat kuman yang ada di udara.


“Yosh selesai.”


Dia tersenyum menatap Arin,


“Kau tidak berubah sama sekali ya !!.”


Dia membalaskan senyum itu dan berdiri


“Ya ?.”


“Tidak apa-apa, ayo kembali ke kelas.”


Intan memasang wajah kebingungan melihat tingkah Arin, sekilas dia mengingat senyum itu dan sangat merasa nostalgia sekali.


Keduanya pun berjalan mengikutinya yang berjalan menuju ruangan kelas.


“Terima kasih.”


Terdengar suara kecil mengucapkan terima kasih kepada Intan dan Maya. Keduanya pun saling memandang.


“Sama-sama.”


Mereka bergita pun menuju kelas.


------------------------------------


Sesaat sampai di kelas  mereka membuka pintu. Guru dan seluruh seisi kelas melihat kearahnya.


“Maaf kami terlambat.”


“Tak apa silahkan duduk dan dengarkan pembelajaran.”


“Terima kasih.”


Arin, Intan, dan Maya kemudian menuju tempat duduknya masing-masing, sebelum duduk Arin melepaskan jaket yang ia kenakan dan menyimpanya.


Teman sekelasnya yang melihat itu mulai membicarakan jaket Arin yang terlihat robek dan bagian wajahnya yang ditutupi oleh hansaplas.


“Wah lihat jaketnya sobek gitu.”


“Knight of prince makin lama makin keterlaluan.”


“Ya benar.”


“Pihak sekolah tidak berani mengambil tindakan, hanya karena mereka anak- anak dari orang kaya, dan pejabat iyakan.”

__ADS_1


“Ya sungguh memalukan.”


Seisi kelasnya mulai membicarakan dengan pelan tentang kejelekan yang dilakukan oleh Fans nya Alvan.


“HEY SAAT INI SEDANG KELAS LOH.”


Guru pun menegur mereka yang berbicara


“Ngobrolnya nanti saja,”


Dengan begitu kelas berlanjut dan guru kembali menjelaskan.


------------------------------------


Terlihat para siswa mulai meninggalkan sekolah, dan beberapa dari mereka ada yang melakukan kegiatan ekskul, klub basket sedang melakukan lari 10 putaran di lapangan sekolah. Disana terlihat Intan dan Maya yang sedang mengobrol.


“Tan jika tadi kita terlambat apa yang akan terjadi?”


“Entahlah, mungkin Arin akan terluka.”


“Itu yang kau pikirkan ?.”


“Iya, tapi setelah melihat dan mendengar itu aku merasa ragu !.”


“Kau bilang dia tidak dapat menggunakan kekuatan iya kan ?.”


”Ya Rank dia E loh dan saat SMP guru sudah mengindentifikasikan, bahwa Arin tidak bisa memiliki kekuatan.”


“Tapi ada kasus juga mereka membakitkan kekuatan setelah itu kan.”


“Ya para Trigger.”


“Jadi kau ingin bilang kalau Arin adalah seorang Trigger may ?.”


“Mungkin aku juga tidak tahu tapi-.”


“Tapi ??.”


Maya memperlambat larinya dan menjelaskan kepada Intan


“Saat kau sampai di belakang sekolah ada angin yang sangat besarkan.”


“Angin itu tidak wajar.”


“.……”


“Aku melakukan teleportasi ke atap sekolah untuk mencarinya dari atas.”


“.…..”


“Angin itu hanya berhembus di belakang sekolah sebagai pusatnya tau.”


“Apa sih yang kamu bicarakan.”


“Aku juga bingung menjelaskan, tetapi instingku mengatakan kalau Arin itu seorang Trigger.”


“..….”


“Terlebih lagi .. bukanya seorang Trigger terbangkit saat mereka terdesak atau terkena sebuah musibah yang membuat kekuatanya terpaksa keluar iyakan.”


“..….”


“Kau pernah mengatakan kepadaku kan ?.”


“Mengatakan apa ?.”


“Kalau sifatnya saat ini dengan dulu berbeda jauh, itu yang membuatku yakin.”


“Jadi kau mau mengatakan kalau Sesuatu terjadi pada Arin yang membuat kekuatanya terbangkit, begitu ?.”


“Benar, apa kau ingat apa yang pangeran katakan kepadamu ?.”


“Ah.”


Dia teringat saat berbicara dengan Alvan, saat itu ia bertanya.


“Apa yang terjadi kepada Arin satu tahun yang lalu ?.”


(Benar pangeran mengatakan itu.)

__ADS_1


Saat mereka sedang Asik mengobrol pelatih menegur


“HEY KALIAN JANGAN MENGOBROL.”


Intan dan Maya mempercepat lari mereka dan menyusul anggota yang lainya.


(Jika aku bertanya kepada Arin mungkin tidak akan dijawab, sepertinya aku harus menanyakan kepada teman saat SMP.)


------------------------------------


Setelah latihan dari ekskul basket sudah selesai Intan langsung kembali ke rumah dan mencari buku kelulusan. Disana terdapat nomer setiap siswa untuk dihubungi dia mencoba menelepon beberapa kenalanya untuk mencari tahu kejadian tahun lalu.


“Lama gak ketemu.”


“Oh ini siapa ya ?.”


“Ini Intan.”


“Wah Intan lama gak ketemu ya.”


Mereka pun mengobrol cukup lama dan akhirnya dia memberanikan diri bertanya kepada temannya.


“Ngomong-ngomong kamu tau apa yang  terjadi pada Arin tahun lalu ?.”


“Tahun lalu.?, aku tidak tahu, apa sesuatu terjadi padanya ya.?”


“Ah tidak apa-apa kalau gitu makasih ya, sampai ketemu lagi dah.”


“Iya dah.”


Setelah itu dia mencoba beberapa kali menghubungi kenalannya akan tetapi jawabanya sama tidak ada yang tau, mereka malah balik bertanya.


“Oh iya ngomong-ngomong di buku kelulusan ini tidak ada Nia, aneh sekali.”


Dia pun membulak balikan buku itu berulang kali karena takut terlewat.


“LOH BENERAN GA ADA LOH.”


“INTAN BERISIK INI UDAH MALAM.”


Kakak Intan datang dan membuka kamarnya sambil berteriak.


“Kamu dari tadi ngapain sih, besisik banget tau.”


“Maaf ka, ada sesuatu yang terjadi pada teman baik ku satu tahun yang lalu.”


“Oh terus itu ngapain ?.”


“Ah engga ini lagi nyari nomer telepon temen, siapa tau mereka tau masalah itu, tapi dari tadi jawabanya sama dan malah bertanya balik ngeselin.”


“Ya kalau tidak tau harus gimana lagi loh hahaha, kenapa ga tanya ke orangnya langsung ?.”


Kakaknya memberikan saran


“Tidak mungkin ka, melihat kondisinya saat ini ?.”


“Kalau gitu tanya seseorang yang dekat dengan dia ?.”


“Ya tapi dari tadi nyari nomer teleponya di buku kelulusan tidak ada.”


“Hmm.. mungkin pindah sekolah jadi tidak terdaftar dibuku itu.”


“Mungkin yah.”


“Kalau gitu jangan berisik udah malem.”


“Ya maaf dan terima kasih ka.”


Kakaknya keluar dari kamarnya dan menutup pintu. Intan kebingungan harus bertanya kepada siapa lagi selain terhadap Nia, karena saat SMP hanya dia dan Intan saja yang dekat dengan Arin.


“Teman sekelasnya mungkin tahu apa yang terjadi.”


Dia menghela nafas panjang


“Huuuuuu, tapi aku tidak ingat siapa saja orang yang sekelas dengan Arin.”


Intan pun berhenti menghubungi temannya karena sudah malam hari, tidak sopan untuk menelepon dimalam hari


(Baiklah, besok aku akan bertanya kepada siswa yang berasal dari SMP yang sama denganku.)

__ADS_1


Dia membulatkan tekadnya dan membersihkan kembali kamarnya.


__ADS_2