TRIGGER

TRIGGER
BAB 3, Chapter 70. Luapan emosi (1)


__ADS_3

Intan dan Maya sedang berjalan menuju kelas 1 F, setelah selesai melakukan tes mereka kembali menuju kelas untuk melihat apakah Arin berada di sana atau tidak. Mereka berdua masuk ke dalam kelas, di sana hanya terlihat satu orang yang sedang duduk di kursinya dan menghampirinya.


“Ketua kelas.”


“Intan, Maya Tes kalian sudah selesai ?”


Devina yang sudah selesai melakukan tes dan kembali ke kelas dan duduk santai sambil membaca buku novel kesukaanya.


“Vin apa kamu lihat Arin ?”


Intan bertanya.


“Tidak, dari pagi aku sama sekali tidak melihat dirinya.”


“Baik terima kasih, Kalau gitu Maya ita berpencar.”


Setelah mengatakan itu kepada temannya Intan pergi dari kelas dan mulai mencari Arin.


“Masih belum berbaikan ?”


Devina bertanya, Maya melihat kearahnya


“Sepertinnya Arin menghindari kami.”


Dia menutup buku miliknya dan berdiri.


“Karena sekarang tidak ada kerjaan, aku akan membantu kalian mencarinya.”


“Terima kasih ketua.”


Mereka pun pergi berpencar untuk mencari Arin.


Maya menggunakan kekuatannya dan mencari di berbagai tempat seperti kantin, gedung olah raga, lantai 2 dan lantai 3, tetapi dia tidak melihatnya sama sekali. Sampai akhirnya Maya berjalan menuju atap, saat dia ingin membuka pintu dia mendengar ada suara orang yang sedang mengorol.


(Ini suara Pangeran dan teman-temannya kan ?)


Dia membuka sedikit pintu dan mengintip dari sana. Terlihat Arin, Alvan, Cindy dan Kalia sedang makan bersama. Setelah mengetahui itu dia berteleportasi mencari Intan.


------------------------------------


“Dimana sih Arin ?”


Intan berlari dengan tujuan tidak jelas dan hanya mencari sahabatnya itu untuk meminta maaf akibat kesalahan yang dia buat. Saat masih ujian pun dia sangat tidak fokus , beberapa kali dimarahi oleh pengawas karena telah menengok ke belakang. Dia berlari menuju tempat pembuangan sampah di belakang sekolah.


“Di sini juga tidak ada !”


Dirinya terus belari mencari ke berbagai tempat yang menurutnya akan dikunjungin oleh Arin. Karena merasa kelelahan Intan berdiam diri sejenak dan melihat kearah handphone miliknya. Dia melihat jam dan tanggal.


Saat dia sedang istirahat Maya muncul tiba-tiba di belakangnya dan menepuk punggungnya.


“Tan.”


“Waahhh.”


Intan yang terkejut melemparkan Handphonenya ke udara. Maya yang melihat itu langsung melompat dan mengambilnya.


“Huuh selamat.”


“Maya jangan mengagetkan seperti itu dong.”


Dia terlihat panik marah.

__ADS_1


“Aku menemukan Arin.”


Tetapi amarahnya mereda saat temannya memberitahukan lokasi dari sahabatnya berada.


“Kalau gitu ayo kesana.”


Maya memegang tangan Intan dan melakuan teleport tasi menuju atap.


Sesampainya di sana mereka mendengar Arin sedang berbicara, oleh karena itu keduanya bersembunyi di balik pintu dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.


“Kelinci percobaan ?”


Intan berbicara dengan sangat pelan.


Saat mendengar kalau Arin tidak ingin mendapatkan kekuatan Aerokinesis miliknya, mereka berdua mengepalkan tangan. Intan menundukan kepalanya dan mengambil handphone miliknya. Dia melihat sebuah foto, dalam foto itu terlihat Arin berdiri di tengah dan sedang di peluk oleh dua orang di sampingnya.


(Apa gadis di sebelah kanan itu yang bernama Nia ?)


Maya Menatap kearah layar handphone milik temannya, terlihat ekspresi Intan menjadi sangat sedih saatmenatap foto itu


“Ga jadi aja ?”


Dengan suara pelan dia bertanya.


“Ti..dak..”


Intan terlihat ragu tapi dia akhirnya berdiri dan membuka pintu.


------------------------------------


Cindy dan Kalia mulai mengobrol kembali, Sedangkan Arin dan Alvan hanya diam dan menghabiskan makanan mereka. Alvan menyadari kalau dari tadi ada 2 orang yang sedang memperhatikan mereka dari balik pintu. Saat pintu itu terbuka terlihat dua orang gadis berjalan menghampiri mereka.


“Cih.”


Intan berjalan mendekati mereka lalu berbicara.


“Arin ada yang ingin kubicarakan sebentar.”


Tidak ada jawaban darinya. Alvan, Cindy dan Kalia memandangi Arin dan sangat canggung dengan situasi saat ini.


Arin menarik nafasnya dan menaruh kotak makan itu di lantai dan berdiri. Ia berjalan menjauh dari mereka semua.


“ARIN KUMOHON DENGARKAN AKU.”


Tetapi tangannya ditarik dan dihentikan. Dia berbalik kebelakang lalu bertanya.


“Apa ?”


Melihat itu Alvan, Cindy dan Kalia mulai membereskan bekas makanan mereka dan menjauh dari sana Maya mengikuti tiga orang itu.


“Apa ini baik-baik saja  ?”


Kalia yang khawatir bertanya.


“Tidak tahu, tapi sebaiknya kita awasi saja dulu.”


Cindy menjawab dan menatap kearah Maya.


“Gimana menurutmu ?”


“Entahlah, Tapi aku ingin mereka menjadi seperti dulu lagi.”

__ADS_1


Maya berbalik dan melihat kedua temannya yang akhirnya bertemu. Setelah cukup jauh mereka berempat berhenti dan memperhatikan.


“Arin maafkan Aku karena telah mengatakan hal kasar kepadamu waktu itu.”


Intan menundukan kepalanya dan meminta maaf.


“Aku tidak dapat menahan emosiku saat itu dan menjadi egois, mengatakan kata-kata kejam seenaknya tanpa memikirkan perasaanmu saat itu. Aku benar-benar menyesal.”


dia mengangkat kepalanya dan menatap Arin yang berdiri di hadapannya, tangannya masuk ke dalam saku jaket dan kepalanya di tutupi oleh hodie.


“Aku benar-benar minta maaf.”


Tidak ada jawaban sama sekali dari Arin.


“Sudah kuduga kamu marah.”


“Tidak.”


Mendengar jawaban Intan memasang ekspresi terkejut dan senang lalu menatap matanya.


“Jadi kamu sudah memaaf-.”


“Aku sudah tidak peduli.”


Sebelum selesai berbicara Arin memontongnya dan berbalik, lalu berjalan menuju pintu untuk pergi meninggalkan lokasi ini.


“Apa maksudmu dengan tidak peduli ?”


“Semuanya.”


Dengan dingin dia menjawab.


Intan yang emosi mendengar jawaban darinya menarik tangan Arin dan menggenggamnya dengan sangat kuat.


“LEPASKAN.”


Arin yang sudah tidak dapat mengontrol emosi miliknya menatap dengan sangat kesal.


“JAWAB DULU APA MAKSUDMU, DENGAN TIDAK PEDULI LAGI ?”


Genggammannya malah menjadi semakin.


“APA KAMU SUDAH TIDAK PEDULI LAGI DENGAN PERTEMANAN KITA ?”


“YA.”


Mendengar jawaban dari Arin, dia melepaskan gengamann dan mendorong gadis di hadapannya dengan kuat. Akibat dorongan Intan, Arin terjatuh dan ke lantai.


Dia mendekati Arin dan menarik kerahnya.


“APA SELAMA INI KAMU BENAR-BENAR TIDAK MENGANGGAPKU SEBAGAI TEMAN ?, BUKANNYA TEMAN ITU SALING BERBAGI SENANG DAN SAKIT BERSAMA.”


Intan mengeluarkan air mata miliknya. Tetapi saat ini Arin benar-benar dalam keadaan tidak ingin diganggu oleh siapa pun, belakangan ini dia selalu mengingat kembali kejadian dimana Nia harus kehilangan nyawa, membuat dia benar-benar tidak dapat mengontrol emosi miliknya. Saat ini Arin seperti mendengar suara pecah di dalam pikirannya dan benar-benar sangat marah.


“KALIAN BERDUA HENTIKAN.”


“HENTIKAN.”


Dari kejauhan terdengar Suara Maya serta Cindy berteriak dan berlari menuju kearah mereka. Tetapi Arin yang sangat kesal mengepalkan tangannya lalu memukul wajah Intan dengan sangat keras. Intan mundur beberapa langkah, hidungnya mengeluarkan darah.


“ARIN.”

__ADS_1


Kedua gadis itu sudah tidak dapat mengontrol emosi mereka dan mulai berkelahi.


__ADS_2