
Setelah mendengar cerita dari Alvan, Maria memasang ekspresi tidak karuan. Kedua tangannya memegang pinggul miliknya dan menatap ke atap. Semua orang yang berada di dalam ruangan memperhatikannya.
(Aku takut dengan apa yang akan terjadi.)
Cindy dan Kalia saling bertatapan.
(Gimana ?)
Alvan takut dia akan marah.
Maria terdiam tidak bergerak sama sekali lebih dari 2 menit. Ruangan menjadi sunyi karena tidak ada satu orang pun yang berani berbicara saat ini.
“Huuuuuuh.”
Mendengar Maria menghebuskan nafas, mereka semua menelan ludah.
“Dimana ruangan Int-.”
SZZZZTTT!!!
Sebelum dia selesai berbicara, Alvan menggunakan kekuatanya untuk mempercepat gerakan dan menghalangi pintu. Di ikuti oleh Cindy dan Kalia.
“Apa yang kalian lakukan ?”
“Aku tidak akan membiarkan Kak Maria bertemu dengan Intan.”
Chanan berjalan kehadapan Maria.
“Tahan emosimu untuk saat ini ?”
“Ha ?”
Dia memiringkan kepalanya karena tidak memahami dengan situasi ini.
“Aku hanya ingin melihat kondisi Intan.”
“EHHH ?”
Semua orang terkejut mendengar itu.
“Kakak tidak marah ?”
“Bukan pergi untuk menghajar Intan ?”
“Seriusan ?”
“Tidak mungkin.”
“Ada apa sih dengan kalian ?”
“Kau tidak berbohongkan Ria ?”
Maria berjalan mendekati Arin dan melihat tangannya.
“Kalian tadi bilang sebelum Arin pingsan, dia menghajar Intan, iyakan ?”
“Itu benar.”
“Beberapa tulang di jarinya ada yang retak, kalian tau artinya ?”
Mereka memasang wajah bingung.
“Itu artinya Arin menghajarnya menggunakan seluruh kekuatan miliknya, sampai melukai tangannya sendiri.”
Dia berjalan mendekati Cindy.
“Kalian belum pernah terkena pukulan dari Arin jadi tidak tahu, tapi pukulannya lebih kuat dariku,”
Semua orang mulai memahami apa yang ingin disampaikan.
“Apa yang terjadi kepada Intan yang menerima pukulan sekuat itu tanpa pelindung sedikitpun ?”
Cindy yang pernah melihat Arin bertarung, menundukan kepalanya.
“Memang benar aku marah, tapi ini bukan saatnya untuk egois, mengingat hubungan mereka.”
Maria menyentuh bahu miliknya.
“Baiklah… tapi aku dan Al akan ikut.”
“Terserah.”
“Chanan kau tunggu di sini.”
“Iya.”
“Kalia jaga Arin ya.”
Kedua orang itu mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju ruangan dimana Intan dirawat.
------------------------------------
“Apa Arin sudah sadar ya ?”
Terlihat Maya sedang duduk di samping kasur Intan. Beberapa menit sebelumnya Devina dan Kana pergi meninggalkan ruangan untuk kembali ke sekolah, karena beberapa pekerjaan belum selesai. Oleh karena itu dia menunggu temannya yang belum sadarkan diri itu sendirian.
__ADS_1
“Mungkin saat ini media sudah mulai meliput apa yang terjadi di sekolah kita.”
Dia menatap Intan yang berbaring tidak sadarkan diri.
“Bagaimana reaksi kakaknya nanti saat melihat ini, semoga saja dia bakal percaya dengan omonganku.”
TOK, TOK!!
Terdengar suara ketukan pada pintu. Alvan masuk lalu diikuti dengan dua orang dibelakangnya. Maya yang terkejut melihat Maria datang dia berdiri dan merentangkan tangan kanannya kebelakang seolah akan melindungi.
“Tenanglah, aku tidak akan berbuat apa-apa.”
Dia melihat kepada dua orang yang datang bersamanya, mereka mengangguk.
Mereka bertiga datang mendekat untuk melihat situasinya saat ini.
“Ini Intan ?”
“Ahhh….”
Alvan dan Cindy sangat terkejut melihat seluruh bagian wajahnya dibalut oleh perban, kecuali Hidung dan matanya.
“Yang dibilang kak Maria benar.”
Cindy sangat tidak menyangka kalau kondisinya akan menjadi seperti ini.
“Ada luka sayatan juga di beberapa bagian ditubuhnya.”
Maya menjawab dengan sedih.
“Saat itu jika Pangeran tidak melindungi kami mungkin luka sayatannya akan lebih parah lagi.”
Maria melihat beberapa luka pada Maya yang sudah diobati dan ditutupi oleh perban.
“Jadi Arin benar-benar menghajar kalian berempat tanpa ampun ya !!”
Setelah mengatakan itu dia mengaktifkan Angel Eyes miliknya dan mulai memperhatikan keadaan Intan.
“Sudah kuduga.”
“.…..”
“Rahang dan tulang di sekitar mulutnya retak.”
Maya menundukan kepalanya.
“Sternum dan tulang rusuknya juga, mungkin akan lama untuk sembuh.”
“Sternum, Apa itu kak ?”
Alvan bertanya.
“Berapa lama Intan akan sembuh ?”
“Kurang lebih 1 bulan untuk luka seperti ini.”
Maya mengepalkan tangannya.
“Berarti dia akan menghabiskan waktu liburnya di rumah sakit !!”
“Arin juga sama, dia akan pulih total sekitar 1 bulan.”
Maria mendekat dan menyentuh tangan Intan dengan perlahan.
“Kemungkinan besar gravitasi yang dia gunakan melampaui kekuatannya saat ini dan membuat Tulang pada kaki Arin retak.”
“.….”
“Setelah terjatuh dan Intan mulai memukulinya, pada saat itulah organ bagian dalam Arin mengalami pendarahan.”
Maya terkejut setelah mendengar penjelasan itu.
“Maafkan aku.”
Dia mulai mengeluarkan air matanya dan menangis.
“Kalau saja aku tidak membawa Intan ke atap hari ini.”
“Tidak.. ini salahku..”
Alvan berbicara dan berjalan kehadapannya.
“Aku mengetahui kalian sedang mengamati kami, tapi tidak memberitahu kepada Arin.”
“Tidak ini salahku karena mengajak Arin makan bersama.”
Cindy juga mulai menyalahkan dirinya.
Maria yang melihat ketiga orang yang berada di belakangnya mulai saling menyalahkan diri sendiri, menengok ke belakang.
“Sudahlah, karena sudah terjadi tidak ada yang bisa kita lakukan, memar pada tubuh kalian juga harus di obati jika tidak itu akan menjadi semakin sakit.”
Mendengar perkataan Maria, Cindy malah ikut menangis dan Alvan menutupi wajahnya.
“Yang penting saat ini adalah kesembuhan keduanya.”
__ADS_1
Tiba-tiba Maria merasakan ada seseorang yang menyentuh tangannya.
“Maaa….af.. Ma….aaaff.”
Terdengar suara Intan sangat pelan. Mereka semua terkejut.
“INTAN ?”
Sepertinya dia dapat mendengar pembicaraan yang terjadi disekitarnya dan tersadar. Maria menggenggam tangannya dengan pelan.
“Untuk sekarang, istirahat sampai kau sembuh.”
Intan kembali menutup matanya.
“Ayo kita berbicara diluar, agar dia bisa istirahat.”
“Iya.”
Mereka berjalan keluar dan menutup pintu.
“Kak apa tidak ada cara cepat untuk menyembuhkan mereka.”
“hmmmm…. 1 bulan itu adalah waktu mereka sampai benar-benar sembuh total, tanpa luka sedikitpun, jika ini di masa lalu mungkin waktu pemulihan mereka akan lebih lama.”
“Jadi seharusnya kita bersyukur ya.”
“Tidak ada satu cara untuk membuat mereka sembuh dengan cepat.”
Mendengar perkataan Maria, mereka mendapatkan harapan.
“Beneran ?”
“Apa itu ?”
“Apa kak ?”
“Kalian pernah mendengar nama Healingpod ?”
“Ah.. itu aku pernah melihatnya pada sebuah artikel.”
Cindy menjawab.
“HealingPod adalah sebuah mesin yang dibuat khusus oleh para peneliti dari pulau Aurora, Untuk mempercepat proses penyebuhan, dengan mempercepat pertumbuhan sel-sel baru.”
Ekspresi cerah dan penuh harapan kali ini muncul di wajah mereka.
“Tapi-.”
Mendengar perkataan itu mereka bertiga mengerutkan halisnya.
“Biaya yang digunakan sangat mahal, kurang lebih 50 juta sekali pemakaian.”
“Yang benar saja.”
Mereka terlihat kecewa setelah mendengar harganya.
“Itu sudah termasuk biaya maintenance, dan menurutku harga segitu sudah murah.”
“.….”
“Obat termahal yang aku tau dulu memiliki harga 30 miliar.”
“Mahal amat ?”
“Apa itu kak ?”
“Zongensma untuk mengobati Spinal Muscular Atrophy.”
“Aku tidak mengerti.”
Maya dan Cindy kebingungan.
“Untuk terapi gen, tapi sekarang obat itu seharga 900 ribu saja, karena ilmu pengetahuan yang semakin maju dan berkembang.”
“Tapi kak apa setiap rumah sakit memiliki alat itu ?”
Alvan bertanya.
“Tidak.. tapi Laboratorium di kampusku memiliki 3 mesin, Jika kita menggunakan itu mungkin hanya akan mengeluarkan biaya untuk obatnya saja.”
“Kira-kira berapa kak ?”
“Mungkin 10 sampai 20 juta ?”
Cindy mengepalkan tangannya dan berwajah serius.
“Kalau mendengar perkataan kak Maria tadi, sepertinya harga obat menjadi turun dan sangat murah.”
“Itu benar, tapi tidak semua memiliki dampak positif saja, dampak buruk dari murahnya ilmu pengetahuan itu sendiri sangat menakutkan.”
Ekspresi Maria tiba-tiba menjadi gelap.
“Aku akan mencoba berbicarakannya nanti dengan orang tuaku.”
“Aku juga.”
__ADS_1
Alvan dan Cindy saling menatap.