TRIGGER

TRIGGER
BAB 3, Chapter 72. Luapan emosi (3)


__ADS_3

“Apa-apan badai angin ini yang mucul secara tiba-tiba.”


“Selamatkan kami.”


“Tidak.”


“Cepat semuanya masuk ke dalam gedung agar tidak terkena benda-benda yang terbang.”


Saat beberapa murid sedang panik, beberapa guru mulai mengarahkan mereka untuk berlindung di dalam gedung.


PRANK!!!


Kaca yang terdapat pada gedung pecah akibat terkena kursi, pohon dan benda lainya yang terbang.


“Menjauh dari kaca dan tetap berhati-hati.”


“Apa yang sebenarnya terjadi saat ini ?”


Semua orang sangat panik, dengan kemunculan badai angin yang sangat hebat di sekolah mereka.


“Ini seperti yang terjadi di kota Barat daya.”


Seseorang berbicara.


Semua orang menyadari kalau bencana ini sama seperti yang terjadi di distrik perbelanjaan di kota Barat daya. Mereka semua mulai berdoa agar ini cepat berakhir dan tidak menyebabkan korban jiwa seperti yang terjadi di sana.


------------------------------------


Arin berjalan perlahan menuju Intan yang berdiri di hadapannya. Amarah miliknya sudah tidak dapat dibendung lagi, dia lampiaskan kepada semua yang ada di hadapannya saat ini.


(Ini salahku kan ?)


Intan yang amarahnya mereda, sadar akibat dari perbuatannya. Niat awal yang ingin berbaikan dengan sahabatnya, tetapi malah membuat keadaan menjadi lebih buruk. Yang mengakibatkan Arin lepas kendali dan mengamuk saat ini.


Arin berjalan perlahan lalu melayangkan sebuah pukulan kearah wajah menggunakan tangan kanannya. Gadis dihadapannya melihat itu hanya diam dan tersenyum. Pukulan itu mengenai pipi Intan dan ia mundur satu langkah.


“SAHABAT ?”


Dia mengayunkan kembali tangan kirinya kearah perut bagian samping dimana ginjal berada.


“JANGAN MEMBUATKU TERTAWA DENGAN CADAAN ITU.”


DUG!!!


Tangan kananya mengarah kearah dada Kanan.


Arin tanpa henti terus mengayunkan pukulan miliknya kepada Intan yang tidak melawan. Dia terus mengincar titik vital pada lawan.


Semua orang yang menyaksikan itu berusaha untuk bangkit dan menghentikan ini, tetapi mereka masih tidak dapat menggerakan tubuh mereka karena terbentur dengan sangat keras.


“A…rin Ku…mohon.. hen..tikan.”


Maya yang berada paling dekat berusaha merangkak mendekat.


Cindy dan Kalia berusaha berdiri dan mendekat secara perlahan.


“Hen….tikan.”

__ADS_1


“Ja…ngan ber..ke.lahi lagi.”


Alvan yang tersandar di tembok memegangi tubuhnya. Terlihat beberapa bagian di tubuhnya seperti tangan lengan, perut, dan kaki tergores lalu mengeluarkan darah.


(Bergeraklah tubuhku, Jika ini terus dibiarkan, Gadis itu akan semakin menderita dan tidak akan dapat memaafkan dirinya lagi.)


Dug, Plak, Dag …..


Gadis itu terus memukul tanpa berhenti.


“DIMANA !!!”


Arin menghentikan pukulannya dan Intan terjatuh lemas ke lantai.


“DIMANA KAU SAAT AKU DAN NIA MEMBUTUHKAN BANTUAN KALIAN.”


Dia berteriak dengan sangat keras lalu mengeluarkan air mata.


“DI SAAT NIA SEDANG DI PUKULI HINGGA TIDAK BERDAYA OLEH PARA BERANDALAN.”


Air matanya terus keluar tanpa henti.


“DIMANA KALIAN SEMUA YANG MENGAKU SEBAGAI TEMANKU ?”


Semua orang mendengar perkataan Arin terdiam di tempat menatap kearahnya.


“APANYA YANG SAHABAT, KALIAN MEMBIARKAN KAMI DISIKSA TANPA DATANG DAN MEMBANTU.”


Intan yang sudah memiliki kekuatan lagi menatap sahabatnya yang menangis.


“OLEH KARENA ITU KEKUATAN INI BANGKIT DAN MENGAKIBATKAN NIA MATI.”


“UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.”


Semua orang yang menyaksikan Arin menangis dan berteriak terdiam. Dia menatap ke langit.


“AKU LAH YANG MEMBUNUH NIA, DENGAN KEKUATAN INI.”


Dia menangis sangat keras dan tidak berhenti. Intan yang melihat itu bangkit dan berlari lalu memeluknya dengan sangat erat.


“Maafkan aku.”


Maya, Cindy dan Kalia mengeluarkan air mata mereka. Lalu memaksakan diri dan berlari memeluk dua gadis itu dengan sangat erat. Alvan yang bangkit menghampiri para gadis yang sedang berpelukan itu. Dia mengeluarkan ekspresi sedih.


Tidak lama setelah itu badai angin mulai berhenti.


Arin memuntahkan darah dari mulutnya terkena kepada Intan dan Cindy yang berada depannya, lalu pingsan tidak sadarkan diri.


“Arin ?”


“Bangun lah.”


“Arin bertahanlah.”


Keempat gadis itu panik melihat itu, berusaha menyadarkannya.


“Arin bohongkan sadarlah.”

__ADS_1


Intan yang terlihat sangat babak belur  menangis dan menatap sahabatnya. Karena sudah mencapai batasnya dia pun terjatuh, mereka bedua tergeletak di lantai.


“Hey… Kalian berdua sadarlah.”


Maya terlihat panik.


“CEPAT PANGGIL AMBULAN.”


Cindy berteriak.


“Handphone milikku jatuh entah kemana.”


Kalia panik mulai mencari.


Dari arah tangga terlihat seseorang datang,  melihat semua orang yang berada di atap sekolah sudah dalam keadaan terluka.


“Apa yang terjadi kepada kalian ?”


------------------------------------


Devina yang membantu Maya dan Intan berkeliling mencari Arin di lantai 3. lalu sebuah angin yang sangat besar tiba-tiba muncul dan mulai menghancurkan SMA Barat. Terlihat murid yang berada di dekatnya mulai panik.


“APA-APAAN BADAI INI.”


“Ini sepeti kejadian di kota itu.”


Para murid itu berada di dekat jendela. Mereka tidak menyadari kalau ada pohon yang terbang kearahnya. Devina melihat itu dia melompat medorong mereka.


PRANK!!!


“Tenanglah cari tempat untuk berlindung.”


“Ba..ik  baik terima kasih.”


Devina berdiri, melihat kearah murid lelaki.


“Kalian Bantu aku tenangkan para gadis untuk mejauh dari kaca.”


“Baik.”


Mereka mendengarkan arahannya lalu mulai bergerak.


Akibat kaca yang pecah Angin mulai berhebus di dalam sekolah dan menerbangkan buku pelajaran, membuat beberapa orang sangat panik.


Dari tangga menuju atap sekolah dia mendengar teriakan seseorang dan langsung berlari menuju sana. Saat berbelok di tangga Devina melihat kalau atap yang seharusnya menutupi  sudah menghilang dan angin di sekitar sana sangat kuat.


“Apa yang terjadi di sini ?”


Lalu dia berjalan menaiki tangga, di sana terlihat Alvan yang bajunya sudah robek dan terluka. Dia berjalan melewati pintu yang sudah terbelah menjadi dua bagian.


“KALIAN SEMUA TIDAK APA-APA.”


dia melihat kalau teman-temannya sudah terluka parah, Devina berlari menghampiri mereka.


“PANGGIL AMBULAN.”


Cindy berbicara.

__ADS_1


Devina sangat panik karena melihat Arin dan Intan yang tidak sadarkan diri, orang-orang di sekitarnya menangis. Dia pun mengambil handphone miliknya dan memanggil ambulan untuk datang.


“Kalian berdua bertahanlah.”


__ADS_2