TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 83. Pengintaian 1


__ADS_3

“Aku tidak percaya kalau sekarang aku dapat menggunakan kekuatan Esper.”


“Benar, haha terima kasih karena sudah mengenalkan kami kepada orang itu.”


“Haha santai saja, teman itu saling membantu iya kan ?”


Beberapa pemuda sedang mengobrol di sebuah family restauran. Mereka terlihat senang karena akhirnya impian mereka terwujud untuk menjadi seorang Pengguna kekuatan. Salah satu orang tiba-tiba mengambil sebuah botol dari sakunya dan mengangkatnya keatas.


“Aku tidak percaya kalau obat ini dapat membuat kita, membangkitkan kekuatan atau bahkan meningkatkan kekuatan yang sudah ada.”


“HEY BODOH JANGAN KELUARKAN DI UMUM.”


Teman yang berada di sebelahnya, dengan cepat menarik lengan yang memegang botol kecil itu ke bawah meja.


“Maaf-maaf karena semangat aku sampai lupa.”


“Kau ingat kan perjanjian dengan orang yang memberi kita ini.”


“Tentu saja, jangan bilang ke orang lain dan jangan memperlihatkannya di depan umum.”


“Kalau tau hati-hati, nanti kita tidak dapat mendapatkan ini lagi.”


“Maafkan aku.”


Pria itu menundukan kepalanya dan menyimpan kembali benda yang dia pegang ke saku.


“Tapi karena banyaknya peminat, sekarang obat ini jadi diperjual belikan tau.”


“Benar dan sepertinya cukup mahal.”


“Hmm… Tapi sepertinnya obat yang di jual itu berbeda dengan yang kita punya deh.”


Seseorang yang berbicara menyentuh dagunya dan memiringkan kepalanya seolah dia sedang berpikir serius.


“Katanya obat itu dapat meningkatkan kekuatan kita kebatas maksimal, meski-.”


“Eh serius ?”


“Aku mau itu.”


“Cepat beritahu kami cara mendapatkannya.”


Sebelum dia selesai berbicara, teman-temannya memontong pembicaraan itu dan suasana menjadi sangat berisik.


------------------------------------


Gina menatapi Arin yang saat ini sedang cemberut, terlihat sedang dalam mood yang kurang bagus. Setelah Mendengar kalau Maria ingin membicarakan sesuatu dia terus menatap mereka dengan sangat sinis.


(Apa yang mereka bicarakan, sampai harus pergi dari tempat ini. Sesuatu yang tidak boleh di dengar olehku ?)


Meski dalam hatinya dia tau kalau Maria melakukan itu agar dirinya tidak mencemaskan hal lain selain pemulihan pada tubuhnya, Tetapi tetap saja Arin yang saat ini emosinya sedang tidak stabil mengeluarkan mimik yang menakutkan.


Gina yang berada di sebelahnya menghela nafas.


“Huh… Raut wajahmu menakutkan loh.”


Arin menoleh ke kanan.


“Nanti wajahmu keriput tau kalau seperti itu.”


Dia berusaha melakukan candaan untuk menenangkannya.


Gina menatapi Arin yang sedang dalam posisi fowler. Sebuah selimut menutupi bagian kaki sampai pinggang. Tangan kanannya berada di bawah selimut.


(Aku yakin, saat ini dia sedang memegang Trigger miliknya di bawah selimut itu.)


Tebakkannya benar. Saat ini Arin memegang cutter miliknya untuk merasakan hawa keberadaan orang-orang yang berada di sekitarnya. Bahkan setelah ia sadar, dia meminta Gina untuk membawakan cutter miliknya.


“Percayalah, mereka tidak ingin membuatmu meghawatirkan hal tidak berguna.”


“Iya.”


Gina datang membawakan segelas air dan obat pengurang rasa sakit.


“Minum dulu ini rin.”


------------------------------------


“Jadi apa yang ingin kau bicarakan ria ?, sampai harus keluar dari ruangan Arin. Apa ini soal yang tadi siang ?”


Haqi bertanya dan melipatkan kedua tangan miliknya. Bahunya menangkat dan memasang wajah serius.


“Benar.”

__ADS_1


“Yang tadi siang ?”


“Apakah Arin tidak boleh megetahui ini ?”


Alvan dan Ina yang tidak mengetahui apapun bertanya.


“Bukan begitu, tapi aku hanya ingin dia fokus kepada pemulihannya dulu.”


“Aku dan Cindy sudah bertanya kepada orang tua kak, mereka setuju. Jadi kapan Arin dan Intan bisa menjalani perawatan menggunakan Healingpod kak ?”


“Besok akan aku urus, jadi mungkin minggu depan.”


“Apa itu Healingpod kak ?”


“Kamu gak tau ya Ina ?”


“Iya.”


“jadi Healingpod itu ada-.”


“Hai, hai, hai .”


Sembari menepuk tangannya Chanan menghentikan pembicaraan mereka.


“Ngomongin itu nanti saja, yang penting dulu saja.”


“Baiklah.”


“Aku penasaran, kenapa kamu mengajak Alvan juga ?”


“Kita membutuhkan kekuatannya untuk tidak mengecek ada seseorang berada di sekitar kita.”


“Gitu ya, tapi dengan matamu juga bisa kan ?”


“Intinya kita harus hati-hati.”


“Sepertinya ini pembiacaraan serius ?”


Alvan mengkerutkan keningnya.


“Alvan apa ada orang di sekitar saat ini ?”


“Tidak kak.”


Pria itu memejamkan Matanya dan mulai fokus mencari gelombang electromagnetic menggunakan Eletrokinesis miliknya. Beberapa saat kemudian Alvan berjalan mendekati sebua kursi yang berada di dekat pagar pembatas. Semuanya melihat itu mengikutinya dari belakang. Dia menundukan badannya, tangan kanannya mencoba meraih sesuatu yang berada di bawah kursi itu.


“Apa ini termasuk penyadap ?”


Dia menunjukan beda kecil sebesar kancing pada baju. Tiba-tiba suasana menjadi tegang.


“Benar itu penyadap.”


Chanan meraih itu dan menghancurkannya dengan cara diremas.


“Apa masih ada di sekitar sini.”


“Kurasa benda itu terpasang hampir di seluruh tempat.”


“Apa kau bisa menghancurkannya van ?”


Maria menatapnya.


SZZZZTT!!!!!


Bam….. Bam……. Bam…….


Terdengar suara ledakan kecil di beberapa tempat.


“Sekarang di sekitar kita sudah tidak ada lagi.”


Dia menghancurkan benda itu dengan mengaliri listrik yang menyebabkan benda itu mengalami konslet.


“Rank S hebat ya.”


Ina terkejut, matanya terlihat bersinar-sinar menatap kearah Alvan.


“Sekarang aku yakin kalau seseorang sedang menyelidiki kita.”


Maria mengepalkan tangan kanan miliknya lalu memukulkannya ke tangan kirinya.


“Drone yang meledak kemarin, dan Obat yang aku teliti menghilang.”


“Drone ?”

__ADS_1


“Iya kemarin ada sebuah drone yang hampir meledak di dalam ruangan Arin di rawat.”


Chanan menjawab.


“Ah aku melihat beritanya tadi pagi.”


“Ina kamu tau dari mana kalian mendapatkan obat peningkat kekuatan itu ?”


“Tidak kak, aku bahkan tidak tau apapun. Aku hanya diajak oleh Kevin dan Hera untuk menyerang orang-orang dari sekolah Barat dan sekitarnya.”


“Gitu ya.”


“Tapi aku pernah melihat seseorang berbicara dengan Kevin. Orang itu mengenakan tudung jadi wajahnya tidak terlihat dengan jelas.”


“Buntu ya.”


Maria menurunkan bahunya.


“Maaf kak.”


“Tunggu.. tunggu..”


Alvan berbicara.


“Dari tadi aku penasaran kenapa Ina berada bersama kita. Secara garis besar aku tau kalau dia terlibat. Tapi apa maksudnya obat yang di teliti ?”


“Ah maaf, kami belum memberitahukannya kepadamu !”


“Singkatnya Arin bertemu dengannya, lalu mendapatkan sampel obat yang digunakan oleh pria bernama Kevin itu, Dan Maria meneliti itu di lab miliknya, tapi saat ini obat itu hilang.”


“Sejak kapan ?.”


Ekspresi rumit terlihat di raut wajah Alvan. Karena dia tidak percaya kalau Arin menemukan obat itu.


“Apa kak Maria berpikir kalau kejadian ini saling berkaitan ?”


“Mungkin, aku tidak tau dari mana mereka mengetahui ini. Yang pasti kita harus hati-hati mulai sekarang.”


“Benar seseorang yang dapat masuk ke dalam laboratorium universitas selatan, mungkin musuh kita saat ini terlalu besar ria.”


Saat Chanan berbicara, Maria berjalan menuju pagar pembatas dan meraih sebuah benda yang berada di saku miliknya, lalu melemparkannya ke suatu arah dengan seluruh tenagannya.


SWUUSSHHH……..


DUAR……


Benda itu mengenai Drone yang terbang 500 meter di depannya dan meledak.


“Bahkan saat ini mereka masih mengawasi kita.”


Wanita dihadapan mereka mengerutkan halisnya dengan ekspresi sangat menakutkan.


(GILA KAK MARIA NGELEMPAR SESUATU DAN MELEDAK.)


(Aku menyadari ada sesuatu yang mendekat, lalu kak Maria melempar beda dan itu tepat sasaran. Apa-apaan kekuatan serta kontrol miliknya.)


Ina dan Alvan berteriak di dalam pikirannya karena takut melihat ekspresi dari Maria.


“Tidak, tidak, tidak, tidak. Apa yang kamu lempar Maria ?”


“Itu cuman kelereng ko aku membawanya jaga-jaga aja.”


“MANA MUNGKIN KELERENG, DARI JARAK SEJAUH INI, GELAP JUGA. BISA KENA.”


“Hahaha jangan memujiku.”


“Apanya yang memuji dasar GORILA !.”


“GORILA MANA MUNGKIN BISA MELEMPAR KELERENG BODOH.”


Maria mendekatinya dan mulai memukuli Chanan yang mengejeknya.


“Kak sebaiknya kita pergi.”


“Benar, ini ledakan kedua kalinya pasti bakal lebih heboh dari kemarin.”


Alvan dan Ina menghentikan mereka.


“Baiklah… Intinya kita harus Hati-hati. Alvan cek apa di kamar Arin ada penyadap atau tidak.”


“Baik.”


Setelah mengatakan itu mereka pergi meninggalkan atap dan menuju ruangan 608.

__ADS_1


Banyak sekali orang yang berkumpul dan melarikan diri karena mendengar ledakan lagi. Mereka menyangka itu perbuatan ******* dan mulai ketakutan sepanjang malam.


__ADS_2