
‘Terjadi sebuah pencurian terhadap salah satu Bank di Kota Barat, menurut saksi mata, pelaku berjumlah 5 orang, seluruh CCTV yang terpasang di daerah dekat lokasi kejadian mati !’
Seorang gadis sedang berbaring di sofa sembari menguap, mendengarkan berita di pagi hari.
‘Dalam 1 minggu terakhir sudah terjadi 20 kali perampokan, mini market, super market bahkan food truk juga menjadi incaran, para petugas keamanan saat ini sedang mendalami kejadian ini.’
Dari arah kamar mandi seorang gadis keluar menggunakan baju olahraga, kepalanya ditutupi oleh tudung jaket yang dikenakannya, dia berhenti di ruang tamu dan melihat kearah televisi.
‘Diduga kalau pelaku adalah seorang Esper, terlihat dari tempat kejadian, ada logam, lantai, serta tembok yang meleleh.’
“Wah tembok bisa jadi kaya begitu.”
Gina melihat foto yang di tampilkan terkejut, pintu brankas yang menyimpan uang terlihat meleleh seperti terkena api yang sangat panas, sama halnya dengan tembok yang digunakan pencuri untuk melarikan diri, tapi hal yang sangat aneh adalah, di sekitar benda meleleh tidak terlihat satupun benda yang terlihat sudah di bakar. Jika sesuatu di bakar akan ada noda hitam (gosong), atau debu.
“Hmmm.”
Dengan wajah tidak peduli sembari kedua tangannya masuk ke dalam jaket berjalan menuju pintu keluar.
“Aku keluar dulu.”
“Ya, hati-hati Rin.”
Semalam setelah Arin kembali, dia langsung menuju apartemen stars ruangan 16, di sana ada Maria serta Gina yang sedang mengobrol, saat dia ingin meminta kunci rumahnya kepada Gina, Maria bilang kalau mereka akan menginap di rumah Arin. Gadis itu pasrah akhirnya membiarkan keduanya mengikuti mereka. Saat ini Maria masih tertidur di kamar Arin.
------------------------------------
Setelah berlari dengan jarak 5 km Arin seperti biasa beristirahat di pinggir sungai, meskipun baru pulih kemarin tetapi dia langsung berlari, karena setiap minggu pagi sudah menjadi rutinitasnya, dia cukup terkejut karena tubuhnya sudah dapat bergerak dengan normal, meskipun menurut perkataan Maria kalau dirinya baru 80% pulih, tetapi dia merasa sudah pulih.
Arin yang sendirian di pinggir sungai, mempraktikan gerakan-gerakan boxing nya, dari kejauhan terlihat dua orang gadis sedang memperhatikanya, terlihat ekspresi dari salah satu gadis itu terkejut dengan gerakan yang cepat dan sempurna.
“Apa yang kalian lakukan ?”
Salah satu temannya datang, dia melihat kedua gadis itu sedang mengendap-endap dan melihat kearah sungai, seolahbersembunyi di balik pohon dan mengamati seseorang seperti stalker.
“Ah bukannya Arin.”
__ADS_1
“Sttt, Kak Riana jangan berisik.”
“Memangnya kenapa ?”
Lalu dia memperhatikan Arin yang sedang melakukan gerakan boxing.
“Wah dia hebat.”
Melihat itu dia berjalan mendekat tanpa memperdulikan kedua orang yang berusaha menghentikannya.
“Ah kak jangan kesana.”
“Ya mau bagaimana lagi, kita juga ikut saja Nai.”
“Bukannya kamu yang tadi bilang jangan ganggu Arin dulu.”
Setelah melihat Arin, Naila berniat langsung untuk menemuinya, dia terkejut dengan gadis yang seharusnya masih terbaring di rumah sakit tetapi sekarang berada di pinggir sungai sedang melakukan latihan. Akhirnya Maya menjelaskan apa yang terjadi, lalu dia bilang kalau jangan ganggu dulu Arin karena moodnya sekarang sedang buruk.
“Mau gimana lagi !”
Akhirnya mereka berdua mengikuti Riana yang berjalan sembari bersenandung.
“Hai Rin.”
Mendengar seseorang memanggil namanya Arin berhenti lalu memandang kearah jalan. Ekspresi wajahnya menjadi agak kesal lalu bersikap acuh.
“Kapan kamu keluar, bukannya sedang di rawat ?”
Tidak ada jawaban sama sekali, gadis itu memulai kembali gerakannya tampa memperdulikan apapun.
(Wah beneran kata Maya dong.)
“Huh.. Kemarin Arin sama Maya menggunakan healingpod di universitas selatan.”
“Wah.. apa itu ?”
__ADS_1
Riana dan Naila menjawab secara bersamaan.
Maya menjelaskan semuanya kepada mereka berdua, mereka terkejut dengan harga sekali pengobatan karena cukup mahal, terlebih lagi biaya itu semuanya ditanggung oleh Cindy serta Alvan. Mereka mulai bertanya-tanya antara hubungan Arin serta Prince.
“Kenapa Alvan sama Cindy sampai segitunya ?”
“Jangan-jangan mereka berpacaran ?”
Sembari tertawa kecil, mata mereka melihat kearah Maya, ekspresi seperti seseorang yang tertarik dengan gosib mereka keluarkan, mata mereka penuh dengan bintang.
“Tidak kok.”
“Eh ?”
“Kalau gitu-.”
“Benar, jangan jangan dengan Intan ya ?”
“Bukan juga kok,”
“Bohong, tidak mungkin seorang pria melakukan hal seperti itu jika tidak menyukai seorang gadis !”
“Benar kata Naila !”
“Apa jangan-jangan Alvan berpacaran denganmu May !”
Ekspresi kesal langsung Maya keluarkan sembari memeluk Naila dengan keras dan membuatnya cukup merasakan sakit.
“APA YANG KAMU BICARAKAN, AKU SAMA SEKALI TIDAK TERARIK DENGAN SI PRINCE.”
“Ah may, sakit lepaskan aku.”
Arin cukup terganggu dengan kebisingan itu, akhirnya dia berhenti lalu memandangi mereka. Sembari menarik nafas dia cukup kesal, Riana yang melihat ekspresi itu berusaha menghentikan keduanya sambil berbicara.
“Maaf Ya rin jadi mengganggu latihanmu.”
__ADS_1
Maya serta Naila yang menyadari kalau gadis itu sedang menatap mereka akhirnya berhenti.