TRIGGER

TRIGGER
BAB 2, Chapter 54. Kebenaran (2)


__ADS_3

Chanan berjalan menuju Ruang pengawas, dia berbohong saat bilang ingin pergi ke toilet, dia pergi untuk mencari tahu sesuatu yang mengganggu dirinya tentang turnamen kali ini dan apa yang terjadi di SMA Utara.


(Di sini terlihat Sepi.)


Di sekitar ruang staf sangat sepi, tidak terlihat ada seorang pun orang. Lalu dia berjalan menuju ruang pengawas, saat berbelok di depan ruangan terlihat ada beberapa orang sedang mengobrol, Chanan yang melihat itu kembali dan mengintip dari tikungan dan bersembunyi di balik dinding.


“Maaf saat aku menggunakan kekuatanku, tubuhku terasa tersengat dan itu sangat menyakitkan jadi aku tidak dapat menggunakannya.”


Pelatih dari SMA barat sedang berbicara dengan beberapa pria.


“Pantas saja kau beringkah Aneh saat pertandingan terakhir.”


“Apa sekarang masih sakit ?”


“Tidak, ini aneh.”


“Tak apa-apa Juara 2 juga sudah bagus, sebaiknya kita berhati-hati.”


“Sepertinya ada seseorang yang mengganggumu saat menggunakan kekuatan.”


“Tapi ini bukan berarti rencana kita akan gagal dan terhenti, jadi tenang saja.”


(Rencana, apa mereka adalah orang di balik semua kecurangan ini ?)


Chanan berusaha mengintip wajah mereka agar dapat melakukan pencarian data saat dia kembali, tetapi dia tidak menyadari di bawah kakinya ada sebuah kaleng minuman dan tertendang.


Teng, teng teng….


Kaleng itu memantul beberapa kali dan kelompok orang itu menyadarinya.


“Siapa itu ?”


Mereka berlari mendekati sumber suara di sana tidak ada orang, hanya ada kaleng minuman, mereka melihat ke kiri dan ke kanan.


(Gawat… gawat… gawat.. ini sangat gawat.)


Dia bersembunyi di dalam lemari tempat menyimpan peralatan untuk bersih-bersih. Terlihat seorang pria dia mendekati lemari itu


(Bahaya, aku harus melakukan sesuatu.)

__ADS_1


Orang itu menoba untuk membuka lemari, Chanan Sudah bersiap-siap untuk melarikan diri jika pintu akan terbuka.


“Meow.. Meow…”


Terdengar suara kucing dari atas lemari tempat dimana dia bersembunyi.


“Ah ternyata kucing, mungkin ada orang yang menyimpan kaleng itu di atas sana dan dijatuhkan olehnya.”


Semua orang mendekat dan melihat kucing yang sedang melakukan peregangan.


“Aku mengira ada orang yang mendengar percakapan kita.”


“Benar aku panik tadi.”


“Kalau gitu, ayo kita pergi.”


Mereka pergi dan kembali ke ruang pengawas.


(Untung saja.)


Setelah merasa aman Chanan keluar dan melihat ke atas lemari.


Dia pergi dan berlari sekuat tenaga meninggalkan lokasi itu lalu pergi menuju Taman dimana teman-temannya berada.


------------------------------------


“Intan ?”


Dia masih membeku dan tidak  bergerak sama sekali, karena mengeluarkan ekspresi tekejut, Citra mencemaskannya mendekatinya dan menepuk bahunya.


Intan akhirnya tersadar dan memegang bahu temannya dan mencengkramnya dengan kuat.


“Bohongkan ?, KUMOHON KATAKAN ITU BOHONG.”


Dia menggoyangkan badan temannya dan cengkraman yang dilakukan semakin kuat.


“.….”


Kirana dan Danti yang melihat itu menghentikan dan menariknya.

__ADS_1


“Intan apa yang kamu lakukan hentikan itu.”


“Apa kau tidak apa-apa, apa yang terjadi ?”


Mata Intan mulai memerah, dan menjatuhkan dirinya ke lantai.


“Hey intan kamu tidak apa-apa.”


Kirana mencemaskannya lalu memegangi tubuhnya, tangan adik kelasnya bergetar tidak berhenti.


Citra melihat itu menundukan badannya dan berjongkok.


“Maafkan, aku kira kamu sudah mengetahuinya dari Arin, aku lupa kalau yang mengetahui ini hanya kelas kami, dan seorang pun dilarang untuk menyebarkan kabar kalau Nia sudah meninggal.”


Kirana dan Danti yang mendengar perkataan itu melihat kearahnya.


“Nia, apa dia partner Arin ?”


“Sang jenius dari SMP Barat ?”


Citra menganggukan kepalanya, kedua orang yang di depannya terkejut dengan infomasi yang mereka dapatkan secara mendadak, kedua orang itu tau betul siapa yang dimaksud karena sering pernah berhadapan dengan Nia dan dikalahkan dengan mudah.


Intan berdiri dari tempatnya dan langsung berlari.


“Intan mau kemana berhenti.”


“Tunggu Intan.”


“Lebih baik kita ikuti dia, disaat seperti ini tidak boleh dibiarkan sendirian.”


Ketiga orang itu mencemaskanya dan mulai mengikutinya dari belakang.


(Ini bohongkan ?, kumohon ini bohongan, tidak mungkin Nia  sudah meninggal dan Arin tidak mengatakan apapun kepadaku.)


Terlihat dia berlari dengan terburu-buru dan menabrak beberapa orang yang menghalangi jalannya, dia mengeluarkan Air mata.


(Perubahan sikap Arin, dia menjadi seorang Trigger lalu berhenti bermain Basket, Kumohon semua ini hanya bohongan atau mimpi.)


Intan berlari mencari Arin yang sedang bersama Maria.

__ADS_1


__ADS_2