
“Intinya aku ingin berterima kasih kepada kalian berdua, meski pun itu bukan niatan kalian tapi bukti kalau itu terjadi aku tidak bisa mengabaikannya.”
Sekali lagi devina menundukan kepalanya kepada Maya.
“Terserah saja, tapi bagaimana tanggapan sekolah setelah mengetahui penyerang ?”
“Ya mereka langsung melaporkan itu ke petugas keamanan.”
“Percuma saja, karena petugas keamanan berada dipihak mereka.”
“Ehh…… APA ?”
Devina berteriak dengan keras.
“Karena jika mereka beneran di pihak netral harusnya setelah penjelasan dari Intan mereka sudah menangkap beberapa orang untuk dimintai keterangan.”
“Intan ?”
“Ya, karena itu lah gadis di sana memasang wajah menakutkan dan bahkan berdebat dengan para petugas yang berusaha menangkap kami, lalu memotong semua pistol mereka hahaha.”
“Memontong ?, Hey apa kalian baik-baik saja ?”
“Ya kenalan Arin datang menyelamatkan kami dari para petugas itu, dan ya kalau apa yang dikatakannya benar maka harusnya dalam beberapa hari akan ada petugas kepolisian yang ditangkap, aku sendiri menantikan itu.”
Lalu Maya pergi menuju lapangan untuk melanjutkan latihannya.
“Hey tunggu dan jelaskan kepadaku.”
__ADS_1
Tanpa memperdulikan Devina, dia melanjutkan latihannya, akhirnya dia pergi meningalkan ruangan olahraga dengan wajah yang kebingungan.
------------------------------------
Setelah selesai latihan Kana mengumpulkan seluruh anggota.
“Baiklah setelah banyak melakukan pertimbangan, Tim inti yang akan bermain di pertandingan pertama adalah Riana, Maya, Lina, Mika dan terakhir adalah Sheila.”
Tina menangkat tanganna dan betaranya.
“Pelatih aku tidak ingin mengakuinya tapi kenapa Arin tidak menjadi pemain inti ?”
“Ya perjanjianya adalah dia menjadi pemain cadangan.”
Dengan kecewa dia melihat kearah Arin yang cuek dan tidak peduli dengan percakapan mereka.
“Kita tidak tau apa yang terjadi saat pertandingan jadi kalian harap hati-hati, yang harus dilakukan adalah melakukan hal yang sama saat latihan itu saja.”
“Ingat jaga kesehatan kalian karena 3 hari pertandingan dimulai, kalau begitu sekian untuk hari ini dan bubar.”
Seluruh anggota kembali menuju ruang klub dan mengambil pakaian ganti dan menuju ruang mandi, mereka mulai mandi dan membersihkan diri mereka. Arin melepaskan perban pada kakinya, kulitnya masih terlihat sangat memar dan berwarna ungu Naila yang melihat itu bertanya kepadanya.
“Apa itu masih sakit ?”
“Ya, jika kau mungkin akan menangis.”
Setelah menjawab itu Arin pergi ke dalam dan mulai mandi membersihkan dirinya. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dia duduk dan mulai kembali membalut kakinya agar tidak terlihat oleh ibunya.
__ADS_1
“Ayo rin.”
“Ya tunggu.”
Maya menunggunya di depan pintu di sana juga ada Riana dan Naila.
“Jika orang biasa mungkin tidak akan ikut latihan dengan luka seperti itu.”
“Ya kau tau itu terbentur cukup keras, dan seharusnya akan berjalan pincang, aku sedikit takut dengan tubuh anak itu, apa dia tidak bisa merasakan sakit.”
Maya yang tau sebab dari luka itu memandanginya dengan cemas karena Arin sudah mulai berjalan normal padahal baru kemarin mendapatkan luka itu.
“Tadi Arin bilang kepadaku kalau itu luka terjadi padaku mungkin aku akan menangis, jadi mungkin baginya itu sangat menyakitkan tapi dia tahan.”
Naila menjawab pertanyaan Maya.
“Sudah yang penting tidak terjadi sesuatu yang berbahaya kepada kalian, Lain kali jangan melakukan hal yang berbahaya .”
Arin berdiri dan menghapiri mereka.
“Ayo.”
Mereka pulang bersama-sama, di tengah jalan Riana dan Naila berpisah dan Maya menggunakan kekuatanya untuk mengantar Arin pulang. Di depan rumah Amalia sudah menunggu ke pulangannya
“Makasih ya sudah sering anterin Arin gimana mau ikut makan hari ini ?”
“Tidak apa-apa tante, hari ini banyak tugas jadi aku akan langsung pulang saja.”
__ADS_1
“Hati-hati di jalan ya.”
Setelah mengatakan itu Maya menghilang dari hadapan mereka, mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.