TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 11. Latihan


__ADS_3

Terlihat seorang gadis sedang berjalan melewati jalan sepi sendirian. Dia membawa kantung kresek berisikan bahan makanan, dan berjalan menuju rumahnya. Setelah selesai berolahraga, Arin membeli bahan makanan untuk membuat sarapan untuk Haqi, Chanan dan Maria yang menginap di rumahnya. Sesampainya di rumah dari ruang tengah masih terdengar dua orang yang sedang bermain game dan belum beristirahat sama sekali.


“Aku pulang.”


“Oh Arin selamat datang.”


“Kalian masih bermain .?”


“Sekarang lagi lawan final bos.”


“Ya abis ini kita akan tidur.”


“Udah jam 9 pagi. Huuh.”


Kemudian ia pergi ke dapur dan menyimpan plastik belanjaan.


“Aku akan mandi jika ada yang berani mengintip siapkan nyawa kalian.”


Dengan berkata begitu Arin meninggalkan keduanya dan pergi ke kamar untuk mengambil pakaian ganti, di sana terlihat Maria yang sedang tertidur dan memeluk guling, sambil mengigau.


“Makanku -- hmhmhm--.”


lalu berjalan perlahan dan mengambil pakaian dengan hati-hati, agar tidak membangunkan maria yang tertidur pulas, lalu dia turun menuju kamar mandi dan mengunci pintu, dan mulai melepaskan baju dan mulai membersihkan diri.


------------------------------------


“Qi mau ngintip ?.”


“BODOH.”


Dengan menggunakan tangan kananya dia memukul kepala Chanan dengan kuat.


“Kau ingin mati ? Maria juga ada di sini, kita bisa dijadikan bahan eksperimennya kalau ketahuan.”


“Yah ada benarnya.”


“Lagi pula kita di sini karena diminta oleh tante Amalia melindungi Arin kan jika ketauan kita akan dikeluarkan.”


“Ah kalau itu bisa gawat, Apartemen murah dan bagus, dimana lagi mendapatkanya.”


“Lagi pula, Arin sudah seperti adikku sendiri, mana mungkin aku melakukan itu.”


“Baik baik, maafkan aku.”


Chanan pun meminta maaf.


“Huh akhirnya berhasil hahah.”


“Ini rekor kita mentamatkanya dalam 7 jam hahaha.”


“Haha iya, tapi aku mulai mengantuk jadi akan tidur sembentar.”


“Ya aku juga.”


Keduanya tertidur langsung tertidur di lantai ruang tengah.


------------------------------------


Arin selesai mandi, tubuhnya ditutupi oleh sekain handuk dan berjalan keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti, lalu dia mengambil pakaian dan mulai mengenakannya. setelah selesai dia pergi ke dapur untuk memasak untuk membuat sarapan. Dia melihat Haqi dan Chanan yang tertidur di lantai, karena cuaca sedang dingin, ia mengambil 2 selimut dan mengenakannya pada mereka dengan perlahan.


“Sekarang jam 10 kurang, dari pada sarapan pagi mungkin ini akan menjadi makan siang.”


kemudian pergi ke dapur dan mulai memasak.


------------------------------------


Maria terbangun dari tidurnya karena mencium bau yang sangat harum, dia melihat jam menunjukan pukul 11.20 dan melakukan peregangan tidur, lalu keluar dari kamar dan ke arah bau itu berasal. Dia melihat Haqi dan Chanan yang sedang tidur dan berjalan menuju dapur. Di sana dia melihat Arin yang telah merapihkan meja makan dan menatapnya.


“Selamat pagi Rin.”


“Oh udah bangun ka ?.”


“Ya barusan, karena mencium bau yang sangat harum.”


“Menakutkan.”


“Kukukuku.”


“Kalau gitu cuci muka dulu ka.”


“Oke.”


Ia pun menuju kamar mandi dan mulai membersihkan wajahnya. Setelah itu dia keluar dan menuju ke Haqi dan Chanan dan berencana membangunkannya.


“BANGUN.”

__ADS_1


Dia mendang mereka yang sedang tidur dengan agak keras.


“Aaaaahhhh perutku.”


“Maria apa yang kau lakukan menginjak perut seperti ini.”


Haqi ditendang pada bagian perutnya dan Chanan diinjak.


“Waktunya makan.”


“Makan gimana perut jadi sakit gini, sialan kau.”


“Lagi pula kita baru tidur jadi sangat ngantuk.”


“OH JADI KALIAN TIDAK MAU MAKAN MASAKAN ARIN ?, MAU KU TENDANG SEKALU LAGI BIAR BANGUN ?.”


Mendengar itu keduanya langsung berdiri.


“Kami bangun, kami bangun.”


Mereka bertiga mulai duduk di meja makan. Di sana sudah disajikan makanan yang Arin buat.


“Eh apa ini Rin.”


“Cream soup.”


Mencium bau dari makanan merekapun jadi terbangun dan mereka bertiga mulai memakanya.


“Enak.”


“Ya.”


“Kuku sungguh hebat adikku ini, ingin rasanya ku jadikan sebagai istri.”


“Woi kau itu wanita dan Arin juga sama.”


“Apa salahnya hahaha.”


Sembari bercanda Mereka melanjutkan memakan cream soup dan mengabiskan semuanya.


------------------------------------


Setelah selesai makan dan membersihkan piring kotor, Arin mengambil sapu dan mulai menyapu seisi rumah. Haqi dan Chanan melanjutkan tidur mereka dan Maria pergi untuk mandi. Kemudian ia mengepel lantai dan mengelap jendela, sudah menjadi rutinitasnya membersihkan rumah dari kecil. Karena ibunya tidak dapat diandalkan dan membuat seisi rumah malah menjadi seperti medan tempur. 90% rumah ini dibersihkan oleh Arin setiap harinya.


“Sejuknya, wah udah beres tiap hari bersihkan rumah, Arin Banget ya.”


“Sekarang baru jam 1 kita akan pergi ke tempat latihan jam 5 sore, gimana kalau maen game dulu ?.”


“Hmm.. oke, ga ada kerjaan juga.”


“Mau maen game apa ?.”


“Terserah.”


“Hmm baiklah.”


Keduanya mulai mencari game dan memainkanya.


------------------------------------


“Aaaaaaaaaah kalah terus, mengalah dong Rin.”


“Itu tak mungkin.”


“Eh udah jam 16.45 nih harus siap siap.”


Mereka berdua melihat kearah jam lalu mematikan konsol


“Hey bangun.”


“Ugh.”


“Aku dan Arin akan pergi untuk berlatih jadi kalian lanjutkan tidurnya di kamar saja.”


Arin munuju kamarnya dan membawa perlengkapan latihanya dan pergi keluar bersama yang lainya.


“Woah masih ngantuk tidur lagi ah.”


“Ya aku juga akan tidur lagi.”


Mereka berjalan bersama menuju apartemen.


“Ah Arin konsolnya dititip dulu ya ngantuk banget nanti diambil.”


“ya.”

__ADS_1


“Simpan saja, biar kita bisa main lagi.”


“Oi kalau gitu aku main apa di kamar dong.”


Sesampainya ketiganya langsung pergi menuju ruanganya masing-masing. Akan tetapi haqi dihentikan oleh Arin.


“Ka Haqi tunggu.”


“Ya kenapa Rin.”


“Ibu ga bawa kunci, jadi nitip ini.”


“Ah oke, tapi udah dikasih tau ?.”


“Ya tadi siang sudah ditelepon jadi bakal ke kamar kakak.”


“Oke, semangat latihannya.”


Haqi pun masuk kekamarnya dan Arin menunggu Maria di dekat tanggal lantai satu, beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.


“Ayo rin kita berangkat.”


“Ya.”


Keduanya pergi menuju tempat latihan.


------------------------------------


Terlihat seorang gadis sedang memuluk heavy bag, dan diberi arahan oleh seorang pelatih pria.


“Ya bagus, benar seperti itu.”


“Makin lama, dia makin jauh melewatiku skillsnya.”


“Kukuku, Adikku memang berbakat.”


Terlihat Maria dan beberapa orang lainya tengah melihat latihan Arin. Dia mengguakan Sport bra dan celana pendek


“Yosh, kalau gitu sekarang adalah latih tanding, Alex kamu akan menjadi teman latihanya Arin.”


“Baik, kali ini aku tidak akan kalah Rin.”


“Cobalah.”


Dengan ekspresi dingin Arin menjawabnya. Dengan kekuatannya yang sekarang tidak banyak wanita yang dapat menandinginya jadi pelatih membuat pria berlatih tanding dengannya, karena jika dengan Maria, Arin selalu kalah. Dan meskipun bertanding melawan beberapa pria, Arin dapat menandingi mereka.


Teng, teng…


Pertandingan pun dimulai. Mereka saling berhadapan dan menjaga jarak, lalu alex mendekati Arin dan memberikan beberapa pukulan, akan tetapi berhasil ditahan dengan mudah. Lalu ia membalasnya dengan memukul perut dan bagian, kemudian Alex mengayunkan tangan kananya kearah kepala, Arin dengan reflek menundukan tubuhnya dantangan kananya memukul dari arah bawah keatas dengan cepat. Musuhnya terjatuh karena wajahnya terkena pukulan.


*Teng teng*


“Wah liat Arin menghidari itu dengan cepat dan melakukan uppercut,”


“Hahaha Alex kau kalah lagi.”


“Ugh sial.”


“Refleknya sangat mengerikan, dia menahan serangan Jab dan menghidari Cross.”


Arin yang berdiri ditengah ring membuka sarung tinjunya dan mengulurkan tangannya kepada Alex yang tergeletak dibawah.


“Kau baik baik saja.”


“Ya terima kasih, lain kali tidak akan kalah.”


“Lakukan yang terbaik.”


Mereka saling berbicara dan pertandingan pun berakhir.


“Yosh dengan itu kemenangan Arin untuk kesekian kalinya, jika saja kamu mau ikut pertandingan pasti menang loh rin.”


“Maaf tapi aku tidak tertarik untuk itu pelatih.”


“Haha baik-baik tenang saja.”


Pelatih sangat ingin dia untuk ikut pertandingan mewakili tempat latihannya akan tetapi Arin selalu menolak, Maria yang melihat itu hanya tertawa.


“Kalau gitu selanjutnya denganku, kau harus bisa mengalahkanku hahaha.”


“Baik ka kali ini aku akan menang.”


“Wah Arin lawan Maria seru nih.”


Maria melangkah kedalam ring dan mengajaknya bertanding, banyak penonton berkumpul untuk pertandingan kali ini.

__ADS_1


Teng, teng…


“Baiklah pertandingan dimulai.”


__ADS_2