TRIGGER

TRIGGER
BAB 2, Chapter 58. Penyesalan


__ADS_3

“Kalau gitu tolong jaga Intan ya ?”


“Jika ingin mencari udara ingatlah bawa handphone milikmu Maya.”


“Iya.”


Seluruh anggota Basket berkumpul di depan pintu keluar, Kana dan Kirana meminta Maya untuk menjaga Intan yang kondisnya saat ini sedang tidak stabil, Naila dan Riana sangat penasaran dengan apa yang terjadi, meski pun mereka memaksa dan menanyakan terus menerus Kirana sama sekali tidak menjawab itu dan hanya menggelengkan kepalanya.


“Lebih baik kita tidak terlalu mencampuri urusan mereka, dan masalah ini tidak bisa keluar dari mulutku tampa persetujuan kedua orang itu.”


“Sudah ayo pergi sebentar lagi akan dimulai.”


Sheila berkata.


Seluruh tim basket dan beberapa klub lainnya pergi menuju lapangan utama dimana acara penghargaan berlangsung diadakan.


“Apa kau sudah mulai tenang ?”


Intan masih memeluk bagian perut Maya, dia terus mengelus kepalanya dengan tangan kanannya.


“Aku tidak tau apa yang terjadi kepada kalian berdua, jika tidak keberatan apa kamu ingin menceritakannya kepadaku ?”


Setelah mulai tenang Intan mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini secara perlahan. Saat dia mulai bercerita tentang Nia dia mulai menangis lagi.


(Di saat aku sedang tertidur terjadi kejadian seperti ini, tidak ku sangka kalau Arin punya pengalaman seperti itu.)


“Harusnya aku tau kalau Arin pasti sedih setelah kehilangan Nia yang selalu bersama dengannya sejak kecil.”


“.….”


“Tapi aku mengatakan hal kejam kepadanya hari ini.”


(Sejujurnya aku bingung harus mengatakan apa di saat seperti ini.)


“Apa yang harus aku lakukan Maya.”


Maya menatap ke atap dan berpikir.


“Baiklah, di saat seperti ini aku selalu mencari udara segar.”


Dia meraih handphone yang berada di dalam tasnya, lalu memengang tangan Intan dan menariknya agar berdiri. Dia memakai kekuatannya dan berpindah ke luar gedung.


“Mau kemana May ?”


Dia berteleportasi lagi menuju atas gedung, angin berhebus dengan kencang, terdengar suara yang sangat kecil dari dalam gedung. Tapi tempat dimana mereka berdiri dan berada sangat sepi dan tenang.


“Lihatlah langit malam ini tan, sangat indah bukan.”


Langit sudah mulai gelap, Maya menatap kearah langit dan melihat bintang-bintang yang mulai bermunculan, dia tersenyum melihat temannya.


“Jujur saja aku tidak tahu harus berbuat apa di saat seperti ini.”


Angin berhebus dan menggoyangkan rambut mereka.


“Tapi saat aku sedih aku selalu mencari tempat sepi untuk menenangkan diri dan menatap langit.”


Dia berjalan mendekati Intan dan mulai duduk perlahan.


“Duduk lah tenangkan dirimu.”


Intan duduk di sampingnya dan menatapi langit.


“Kupikir kalian berdua tidak ada yang salah, Benar apa yang dikatakan oleh Citra, Arin itu benar-benar berbeda saat kau berada di dekatnya, aku bahkan tidak pernah berpikir akan menjadi teman dari gadis yang dijuluki sebagai Ratu es itu, ini semua berkatmu.”


Intan terdiam dan menatap bintang-bintang yang bercahaya di langit, dia menangis hingga air matanya kering dan tidak bisa keluar lagi, matanya sangat merah dan terlihat bengkak.


“Tapi aku sudah mengatakan hal egois dan kejam seperti itu, aku rasa dia akan membenciku.”


“Hahahaha kau ini sangat bodoh ya.”


“Di saat seperti ini kau masih mengejekku ya.”


“Tentu saja karena kamu itu bodoh hahaha.”


Maya tertawa.


“Aku bukan Arin, tapi kalau ada teman baikku tiba-tiba datang dan marah-marah tidak jelas, tentu saja aku akan diam karena berbicara akan menambah banyak kesalahpahaman.”

__ADS_1


“.….”


“Tapi ya, aku tidak menangka kalau hal yang membuat kekuatan Esper miliknya terbangkit adalah kematian sahabat baiknya sendiri.”


Maya menjulurkan tangannya ke langit seolah akan meraih bulan yang sedang bersinar.


“Apa kau ingin berbaikan dengan Arin ?”


“Tentu saja.”


Intan memeluk lututnya.


“Tapi aku bingung harus berbuat apa.”


“Pertama-tama, tenangkan lah dirimu, lalu bicarakan baik-baik dengannya.”


“Tapi-.”


“Jika aku adalah Nia, aku pasti akan sedih melihat kedua sahabatku bermusuhan akibat perselisihan yang terjadi karena ku.”


Maya merangkul temannya dan berusaha menghiburnya, mereka dia di atap cukup lama hingga acara berakhir.


Handphone miliknya bergetar, dia melihat ada panggilan dari Riana.


“Iya ada apa ?”


“Kami sudah selesai dimana kalian ?”


“Kalau gitu kami akan kembali, tunggu sebentar.”


Dia menyimpan handphone ke dalam saku dan berdiri.


“Ayo kembali, sepertinya sudah selesai.”


------------------------------------


Seluruh murid yang mengikuti lomba berbaris di lapangan, saat klub yang meraih juara disebutkan dan dipanggil ke depan para penonton bersorak sangat meriah, Riana menjadi perwakilan SMA Barat untuk mengambil piala dan medali. Penonton melihat anggota mereka yang berbaris dan kekuarangan 3 orang.


“Bukannya anggota mereka lebih banyak ya ?”


“Benar SMA Barat kekuarangan 3 pemain mereka.”


“Mungkin dia kelelahan.”


Berbagai reaksi keluar.


Freya menyadari kalau orang yang mengalahkannya tidak datang menatap kearah SMA Barat.


(Kemana Dia.)


------------------------------------


Setelah pembagian seluruh penghargaan selesai dan acara berakhir, Citra datang mendekati Kirana.


“Kemana Intan dan Arin ?”


“Arin kembali bersama kakaknya dan Intan diam di ruang tunggu bersama Maya.”


Dia menjelaskan apa yang dia ketahui.


“Gitu ya, semoga saja mereka cepat berbaikan.”


Seseorang datang mendekati mereka.


“Kemana Athena ?”


Orang itu adalah kapten dari SMA Utara dia adala Freya.


“Pulang duluan karena ada urusan.”


“hmmmm.”


“.….”


“Kalau gitu sampaikan kepadanya, lain kali aku tidak akan kalah.”


Dia pergi menjauh dari mereka dan kembali menuju rombongannya.

__ADS_1


“Kalau gitu aku juga harus kembali.”


“Hati-hati.”


“Iya, kalau gitu mohon jaga Arin dan Intan.”


“Tentu saja.


Citra pergi menuju Danti yang sedang mengobrol bersama anggota timnya dan menuju keluar.


Kirana memandangi anggota timnya yang sedang mengangkat piala dan saling memeluk satu sama lain karena senang.


(Kalau saja ada Arin, Intan dan Maya, maka kemenangan ini akan menjadi sangat bahagia.)


Mereka kembali menuju ruang tunggu keberadaan Intan dan Maya tidak terlihat, Riana mengambil Handphone miliknya dan menghubungi mereka, tidak lama setelah itu kedua orangnya kembali, lalu mereka bersiap untuk pulang.


------------------------------------


Setelah mengambil Barang bawan Arin, Alvan dan teman-temanya langsung kembali menuju apartemen stars, akan tetapi di tengah jalan Daniel dan Kalia berpisah dan kembali pulang.


“Kalian saja yang mengatarnya.”


“Benar, tidak enak datang dengan jumlah banyak, dan situasinya seperti ini.”


Cindy mengikuti Alvan karena penasaran dengan kondisi Arin, saat sampai menuju rumah Arin langit sudah mulai gelap.


Ting, Tong…


Seseorang membuka pintu.


“Ah Alvan.”


“Ini tas milik Arin tante.”


“Makasih ya sudah bawain.”


Amalia mengambil tas yang di serahkan oleh Alvan.


“Dan ini siapa ya ?”


“Temanku Cindy.”


“Salam kenal.”


“Gimana kalau kalian ikut makan bersama kami ?, Haqi sedang memasak saat ini.”


“Ga usah tante, nanti merepotkan.”


Cindy menolak karena malu.


Maria yang telah kembali dari toilet melihat kearah pintu masuk.


“Ah kalian berdua, Ayo masuk dan ikut makan.”


Dia mengajaknya dan mendekati Amalia untuk mengambil tas milik Arin.


“Tante biar aku cek dulu barang bawaan Arin, dan aku akan membawa ke kamarnya.”


“Makasih ria, dan kalian berdua ayo masuk.”


Akhirnya mereka setuju dan masuk menuju ruang tengah, terlihat Haqi dan Chanan sedang memasak di dapur, Amalia menghampiri mereka dan mulai membantun. Maria, Alvan dan Cindy duduk di sofa.


“Apa ada yang ketinggalan ?”


“Bentar aku cek dulu.”


Dia mengecek barang satu persatu. Cindy yang terlihat asing dengan tempat baru yang di datanginya melihat sekeliling.


“Sepertinya sudah semua, kalau gitu aku akan ke kamar Arin dulu.”


Maria pergi menuju lantai 2 dimana kamar Arin berada.


Cindy dan Alvan duduk di sofa karena di suruh untuk menunggu, mereka bilang akan membantu tetapi Amalia menyuruh mereka untuk duduk dan menunggu, tidak lama setelah itu Maria turun.


“Gimana keadaan Arin ?”


Cindy bertanya kepada Maria yang berjalan menuju sofa.

__ADS_1


“Sepertinya tidur, tapi tidak tau juga.”


Maria melihat Arin berbaring dikasur, kepalanya ditutupi oleh bantal dan saat dia bertanya tidak ada jawaban sama sekali.


__ADS_2