TRIGGER

TRIGGER
BAB 2, Chapter 57. Kebenaran (5)


__ADS_3

“Arin tidak masuk sekolah kurang lebih selama 3 bulan, setelah kembali masuk sekolah dia benar-benar menjadi seseorang yang berbeda.”


Citra menggenggam kedua tangannya, mereka bertiga mendengarkan tanpa berbicara.


“Ekspresi dan aura yang dia keluarkan, dia tidak pernah bebicara sama sekali, semua orang di kelas berusaha menghiburnya tapi itu tidak berguna, hatinya benar-benar hancur dan membeku, tapi-.”


Citra berdiri dan berjongkok di depan Intan yang duduk lalu memegang tangannya.


“Setelah melihatnya kembali di sini, ekspresinya sedikit membaik dan bahkan sudah mau bermain basket yang sangat ia benci saat itu, kurasa itu semua berkatmu.”


Dia memegang dengan erat tangannya dan menatap matanya.


“Aku tidak bisa melakukan apapun satu tahun yang lalu, jadi kumohon jangan sampai rusak pertemanan kalian gara-gara ini, Hanya kamu dan Nia yang sangat dekat dengannya, Hanya kamu yang bisa membuka kembali hatinya yang telah hancur itu.”


Kirana dan Danti melihat adegan di depannya dan ikut berbicara.


“Maaf karena orang luar sepertiku ikut berbicara, tapi kurasa ini hanya salah pahamkan ?, Arin tidak salah sama sekali, jika ada yang membocorkan berita itu. Citra, para murid dan bahkan wali kelas akan dikeluarkan dari sekolah.”


Danti berdiri di belakang Citra.


“Apa yang dibicarakan mereka berdua ada benarnya, kalau kalian sudah mulai tenang bicaralah baik-baik, aku yakin Nia tidak ingin melihat persahabatan kalian hancur karenanya, dia mungkin akan menangis dan tidak tenang di surga sana.”


Kirana duduk di sebelah Intan dan menghelus kepalanya.


Mereka diam untuk beberapa saat, dan jam menunjukan pukul 17.30.


“Sebentar lagi pembagian piala dan piagam dimulai, kita harus segera kembali.”


“Karena Intan juga sudah mulai tenang ayo kita kembali.”


Semuanya berdiri dan berjalan menuju gedung olahraga, langit sudah mulai gelap dan pengunjung sudah berkurang.


“Kuharap kalian tidak menceritakan cerita ini kesembarangan orang, aku tidak tau kenapa tapi sepertinya insiden ini sangat ditutupi, aku takut salah satu dari kita akan terlibat sesuatu jika tersebar.”


Citra berbicara.


“Tenang saja.”


“Benar, lagi pula untuk apa menceritakan kesedihan orang lain.”


Sesampainya di gedung mereka berpisah, Kirana memegang tangan Intan menuju ruang tunggu.


------------------------------------


“Permisi.”


Cindy dan Kalia mengetuk pintu ruangan tunggu klub SMA Barat.


“Iya tunggu sebentar.”


Naila membuka pintu.


“Oh Cindy ada apa ?”


“Aku mau membawa barang milik Arin.”


“Hey mau kamu apakan itu ?”


Naila sedikit curiga dan bertanya.


“Tenang saja Kami disuruh kak Chanan untuk mengambil barang bawaan Arin, benarkan Alvan, Daniel ?”


Kalia meyakinkan dan menoleh ke belakangnya.


“Apa benar ?”


“Tenang saja aku ini tinggal di apartemen yang dikelola oleh ibunya Arin.”


Dengan senyum Alvan meyakinkanya.


“Baiklah kalau kalian berbicara begitu, tapi awas saja kalau ada barang yang hilang atau kalian melakukan sesuatu terhadap barang Arin.”


Kalia kembali dan mengambil tas.


“Gara-gara Cindy nih.”

__ADS_1


Daniel mengeluh.


“Maaf.. Maaf.. Aku tidak akan melakukannya lagi.”


Cindy menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih.


“Nih.”


Cindy mengambilnya


“Tolong sampaikan kalau Arin pulang duluan bersama Kak Maria dan kami sudah mengambil barangnya.”


Kalia berbicara.


“Iya hati-hati.”


Mereka pergi menjauh, Naila kembali masuk ke dalam ruangan dan duduk sambil menunggu acara penghargaan dimulai, Anggota klub Lainnya pergi mencari Kirana dan Intan yang tiba-tiba menghilang. terlihat Maya yang sedang tertidur dan memeluk tas miliknya.


------------------------------------


“Kalian berdua kemana aja kami nyariin tau.”


Riana menegur kedua orang yang baru saja datang, karena mereka bertiga tidak kunjung kembali dan handphonenya ketinggalan, semua anggota klub mencari.


“Ngomong-ngomong mana Arin ?”


Naila bertanya, tetapi Intan malah menundukan kepalanya.


“Eh Intan kenapa denganmu ?”


Beberapa anggota menyadari kalau matanya lembab dan sangat merah.


“Tidak apa-apa.”


Kirana mendorongnya menuju Maya sedang tiduran di lantai.


“May.”


“Iya kapten ?”


Setelah mengatakan itu dia berjalan menuju kearah luar.


“Sisanya ikuti aku, jangan ada yang membantah.”


Dengan wajah bingung para anggota klub keluar mengikutinya.


“Ada apa Intan ?”


Maya menyadari kalau ada sesuatu yang aneh kepada sahabatnya duduk di kursi, Intan memeluk perutnya dan kembali menangis. Dia sudah menahannya selama ini, setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Citra dia sadar kalau Arin menderita lebih dari yang dia pikirkan.


(Harusnya aku menyadari ini, Tidak mungkin kalau Arin tidak menderita dengan kematian Nia, terlebih lagi itu terjadi di depan matanya sendiri.)


Maya bingung harus bereaksi seperti apa dan hanya mengelus kepalanya.


(Aku egois, kemarahaan sesaatku menyebabkan semua ini.)


Dia mulai menangis dengan keras dan memeluk temannya dengan sangar erat.


“INTAN BODOH, INTAN BODOH, INTAN BODOH.”


Dirinya hanya terus mengulangi perkataan itu.


“TIDAK MUNGKIN KALAU ARIN TIDAK MENDERITA, SIKAPNYA SAJA DARI YANG LEMAH LEBUT MENJADI SEPERTI SEKARANG, KENAPA AKU SANGAT BODOH.”


Tangisannya sangat keras dan terdengar sampai luar.


“JIKA SESEORANG DATANG KEPADAMU DAN BERTERIAK TIDAK JELAS, MAKA AKU JUGA AKAN BEREAKSI SEPERTI TADI.”


(Apa yang terjadi saat aku sedang tertidur tadi ?)


Maya tidak paham dengan situasi saat ini, dia melihat temannya menangis dan menyalahkan dirinya terus menerus.


“AKU BENCI DIRIKU, AKU SANGAT MEMBENCI DIRIKU SENDIRI.”


------------------------------------

__ADS_1


Semua anggoya klub keluar dari ruangan tunggu, semua orang bertanya apa yang terjadi kepada kirana.


“Aku bingung harus menjelaskan dari mana.”


Kana datang setelah melihat anggota klubnya berkumpul di luar ruangan.


“Apa yang terjadi, kenapa semuanya berkumpul di sini ?”


Sesaat dia menanyakan, terdengar suara tangisan dan teriakan Intan dari dalam ruangan, Kana menuju pintu tetapi dihentikan.


“Pelatih, serahkan pada Maya saja.”


Dengan ekspresi sangat serius dia menatapnya


“Apa yang sebenarnya terjadi ?”


“Terjadi pertengkaran antara Intan dan Arin tadi.”


“Haa… ?”


“Bukannya tadi baik-baik saja ?”


“Benar bahkan tadi mereka duet bareng kan ?”


“Tidak mungkin bertengkar.”


Para anggota klub yang mendengat itu tidak percaya.


“Tapi itulah kenyataanya, Sepertinya Intan tidak akan bisa ikut di acara penghargaan nanti.”


Kirana memegang kepalanya.


“Arin mana ?”


Riana menanyakan keberadaannya karena dia tidak ada saat ini.


“Dia bersama Kak Maria dan yang lainya.”


“AAAHH.”


Naila tiba-tiba berteriak.


“Ada apa ?”


“Tadi Cindy dan Alvan datang kemari untuk mengambil perlengkapan Arin karena ingin pulang duluan, aku lupa mengatakan itu kepada semuanya.”


Tina dan Olivia yang berada di belakang memukul punggungnya.


“Lain kali Ceritakan hal seperti itu.”


“Maafkan, Aku benar-benar lupa.”


Kirana datang menghampiri kana.


“Pelatih ada yang ingin aku bicarakan.”


Mereka berdua pergi menjauh tetapi masih dalam pandangan anggota klub, terlihat mereka sedang mengobrol dan tiba-tiba Kana berteriak. Semuanya memandanginya dari jauh.


“APA, APA ITU BENAR ?”


“Sttttt, sebenarnya aku dilarang mengatakan ini, tapi kurasa pelatih harus mengetahui itu.”


“Tidak-tidak, Informasi ini terlalu mendadak.”


Kana memegangi kepalanya dan terlihat pusing.


“Aku juga baru mengetahui ini tadi dari Citra pemain SMA selatan, dia adalah teman Sekelas Arin saat SMP, dan ini lah yang menjadi pertengaran antara mereka berdua.”


“Gitu ya, Intan pasti sangat terkejut saat ini.”


“Kita serahkan saja pada Maya untuk saat ini.”


“Benar, Maya dan Intan tidak usah ikut nanti, dan tunggu saja di sana, Ku harap mereka berdua dapat berbaikan.”


“Iya.”

__ADS_1


kedua kembali menuju anggota klub lainya, mereka semua bertanya apa yang mereka bicarakan tapi, Kirana dan Kana hanya bilang kalau itu masalah biasa, dan kedua orang yang di dalam ruangan tidak akan ikut dalam pembagian pernghargaan jam 18.00 nanti.


__ADS_2