
Langit malam, bintang-bintang, bulan, dan lampu-lampu yang bersinar menghiasi kota barat terlihat sangat indah. Seseorang sedang memandangi kota dari sebuah gedung yang paling tinggi yang berada di kota Barat. Dia mengenakan Jaket berhodie untuk menutupi kepalanya dan menggunakan celana pendek. Gadis itu sudah berdiri di sana lebih dari 30 menit dan memandangi pemandangan dari atas gedung. Angin berhebus melewatinya dan menggerakan pakaian yang dikenakannya.
Dia mengarahkan yang tangannya kepada bulan dan mencoba meraihnya.
(Terlihat tapi tak bisa di raih.)
Tangannya kembali masuk ke dalam saku jaket. Lalu dengan santai dia melompat dari gedung berlantai 200.
------------------------------------
Suasana apartemen star sudah sangat sepi karena sekarang jam 11 malam dan besok bukan lah tanggal merah.
Seorang gadis sedang berbaring di kasur memandangi handphone miliknya, dia sedang melihat map, di sana terlihat berada titik yang sedang bergerak.
“Arin keluar malam lagi ya.”
Setiap malam Maria selalu mengecek handphone miliknya untuk memastikan keberadaan Arin. Semenjak kejadian yang menimpanya dulu, Chanan memberikan sebuah smart watch dan menanamkan sebuah GPS agar mereka dapat selalu melacar keberadaannya.
Tentu saja Arin mengetahui itu, dengan perjanjiannya dengan Maria, dia selalu mengenakan jam tangan itu kemana pun jika keluar rumah.
“Gadis ini pasti menyelinap lagi lewat jendela kamarnya.”
Maria sangat mencemaskan Arin, setelah pertengkarannya dengan Intan dia menjadi seperti pertama kali saat kehilangan sahabatnya.
“Aku tau kenapa Haqi tidak menghentikan Intan saat itu, karena cepat atau lambat anak itu akan mengetahunya.”
Dia berdiri dari kasurnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
“Tapi kenapa kematian Nia harus ditutupi ?, tidak dipublikasikan ?, Bahkan Chanan sampai saat ini masih mencari tahu hal itu dan hasilnya sangat nihil !”
Maria meminum Air dari gelas, lalu kembali duduk di kasurnya.
------------------------------------
Arin yang melompat dari atas gedung mencari tempat sepi untuk mendarat agar tidak menjadi keributan karena lumayan banyak orang yang berada di bawah. Meski pun bukan hari libur tapi kota di pulau Aurora setiap malamnya pasti akan ramai oleh orang-orang, karena tempat ini juga dijadikan sebagai objek wisata dari seluruh dunia untuk berlibur, banyak juga pelajar dan pekerja kantoran yang nongkrong hingga malam hari untuk menghilangkan stres mereka.
Gadis itu memilih mendarat pada sebuah gang yang berada di belakang gedung, dia berjalan keluar dari sana lalu menuju sebuah market yang menjual cokelat yang tidak jauh diri sana.
Arin masuk dan mulai mengambil beberapa makanan yang diinginkan. Saat sedang memilih dia merasakan ada seseorang yang menatapnya dan mulai melihat sekitarnya tetapi tidak terlihat ada orang yang mencurigakan. Lalu dia mengambil beberapa jenis cokelat dan membawanya ke kasir.
“Tidak ada tambahan lagi ?”
Kasir bertanya dan Arin mengangguk, lalu memberikan berikan sejumlah uang.
(Sudah kuduga ada yang menatapku.)
“Terima kasih, atas pembeliannya.”
Kasir memberikan kantung plastik kepadanya.
Arin berjalan keluar dari toko dan mulai mewaspadi sekitarnya. Dia merasakan ada seseorang yang mengikuti, orang itu berjalan, menjaga jarak darinya, Arin dapat merasakan kehadiran musuh dengan kekuatan Aerokinesis. Saat tempat sudah mulai sepi dia membalikan badan lalu berbicara.
“Keluarlah, aku tau kamu mengikuti dari tadi.”
Tetapi orang itu tidak keluar, Arin menggunakan kekuatan miliknya dan dari balik pohon seorang gadis terhempas dan terjatuh di tanah.
“Aaaah… ini lumayan sakit.”
Dia berjalan mendekatinya.
“Mau apa kau ?”
“Ah maaf aku tidak bermaksud jahat.”
Saat gadis itu bebicara, dia mengingat sebuah foto yang Chanan tunjukan kepadanya.
“Kau Ina dari SMA Utara ?”
__ADS_1
Seorang Gadis yang di lawan oleh Maya dan selalu meminta maaf berada di depannya saat ini.
“Ah iya, Maaf aku tadi melihat wajah yang ku kenal tapi aku sedikit ragu.”
Ina berdiri dan menatap kepada Arin.
“Maafkan aku.”
Tiba-tiba dia menundukan kepalanya.
“Aku menggunakan kekuatanku untuk mengganggumu waktu itu.”
“Huh.”
Orang-orang yang melewati tempat di sekitar mereka mulai melihat, karena tiba-tiba seorang gadis jatuh, lalu meminta maaf sambil menundukan kepalanya.
“Terlalu banyak orang di sini, ayo cari tempat lain untuk berbicara.”
“Ah.”
Ina melihat sekelilingnya, ada beberapa orang yang memandangi dirinya.
Arin bejalan dan dia mengikutinya dari belakang.
Mereka tiba di sebuah taman yang tidak jauh dari sana. Taman itu cukup dipenuhi dengan orang, mulai dari yang nongkrong bersama temannya dan mereka yang sedang berpacaran.
Ina melihat itu wajahnya memerah dan menundukan kepalanya, dia mengikuti Arin yang sedang mencari tempat kosong untuk berbicara.
“Di sini tidak banyak orang, jadi apa yang ingin kamu bicarakan.”
Arin berhenti dan duduk disebuah kursi yang berada di dekat mesin penjual minuman. Ina mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
“Aku minta maaf atas kejadian waktu itu.”
“.…..”
Arin tidak membalas perkataan gadis itu dan malah membuka cokelat yang ia beli dan memakannya. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi kepada gadis ini dari penjelasan Chanan dari hasil investigasi.
“Sudah lah, aku tidak peduli.”
“Aku benar-benar menyesal karenanya dan ingin meminta maaf kepada mereka semua.”
“Lebih baik tidak usah.”
“Eh ?”
Saat Arin berbicara Ina terkejut dan memandanginya dan bertanya
“Apa kamu tidak memaafkanku ?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa aku tidak boleh meminta maaf kepada orang lain ?”
“Tidak perlu minta maaf kepada semua orang.”
“Kenapa begitu ?”
“Karena tidak semua orang bisa memaafkan orang yang sudah melakukan sesuatu kepada mereka.”
“Tapi kalau aku ingin mengakui kesalahanku.”
Ina menatap Arin dengan serius.
“Terserah saja.”
Setelah di jawab mereka diam cukup lama dan tidak berbicara apa-apa.
__ADS_1
“Oh iya Semester depan, aku akan dipindahkan oleh Shield ke SMA Barat, jadi mohon bantuannya.”
Ina tersenyum dan berkata.
“Huh.. Bukan kau sedang dalam masa tahanan, kenapa bisa keluar ?”
“Oh lihat ini.”
Dia memperlihatkan sebuah gelang yang dia kenakan di tangan kanannya.
“Gelang ini terdapat GPS yang untuk mengetahui keberadaanku.”
Ina tersenyum dan memandangi langit.
“Semenjak kejadian itu aku ditempatkan di sebuah apartemen yang berada di sekitar sini, Katanya akan berbahaya jika aku diam di SMA Utara, jadi mereka mengurus semua keperluan agar aku dapat pindah ke SMA Barat.”
“Kau tidak ujian ?”
“Ah kalau itu aku melakukannya di kamar dan di awasi oleh guru dari SMA Barat.”
Karena sekarang sedang ujian untuk liburan musim panas Arin sedikit kebingungan dengan situasi yang dihadapi oleh Ina.
“Namamu Arin kan ?, sebaiknya hati-hati karena sepertinya Kevin dan yang lainya belum tertangkap.”
Dia mengepalkan tangan dan memandangi gadis yang duduk di sebelahnya.
“Dia sangat pendendam dan pasti sedang mencarimu saat ini.”
“.….”
“Dia pasti bersembunyi dengan orang yang memberikan obat untuk meningkatkan kekuatan itu kepada kami.”
Arin mendengar itu menghentikan makannya dan menoleh ke pinggir.
“Kau memakan pil itu ?”
“Tidak, karena takut ada yang salah dengan obat itu.”
“Masih memiliki obatnya ?”
“Iya, berada di kamarku saat ini.”
“Apakah Shield tidak mengambilnya ?”
“Mereka tidak bertanya, jadi aku menyimpannya !”
Arin yang sangat penasaran dengan obat yang membuat seseorang esper menjadi meningkat dengan instan. Meskipun insiden ini sudah berakhir tapi dia, Chanan dan Maria sangat ingin meneliti obat tersebut.
“Bisa kau berikan obat itu kepadaku ?”
“Eh, apa kau ingin memakannya ?.”
Arin terlihat kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Ina.
“Bodoh, Aku akan meneliti obat itu bersama kenalanku.”
“Boleh saja, mau kapan ?”
“Sekarang gimana ?”
“Sudah malem tau, dan juga kamu seorang gadis berkelian tengah malam begini bahaya tau.”
“Kau juga sama saja.”
“Haha, iya juga kalau gitu ayo ke apartemen milikku.”
Keduanya berdiri dan menuju apartemen dimana Ina tinggal saat ini. Setelah bertemu dengan Ina, Arin seperti melupakan pertengkarannya dengan Intan dan berbicara seperti biasa kepada gadis yang berjalan di pinggirnya.
__ADS_1