TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 9. Malam penuh emosi


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Arin langsung menuju dapur dan mulai memasak, ia mengambil dada ayam lalu mulai mengiris menjadi 2 bagian. Dia mengambil wadah cukup besar dan memasukanya ke sana. Setelah itu membaluri ayam dengan garam dan lada putih, lalu memasukanya ke dalam kulkas dan dimarinasi selama 15 menit.


Di saat yang bersamaan Haqi membantu dengan mengiris bawang bombay.


Setelah semua bahan selesai dibuat, lalu ia mengambil ayam tadi dan melumurinya dengan tepung terigu, setelah itu masukan ke dalam kocokan telur yang sudah diberi bumbu dan memasukannya kedalam tepung roti.


“Rin ko buat banyak gitu.”


“.…..”


Maria bertanya akan tetapi tidak ada jawaban


Setelah itu dia memanaskan 2 wajan yang 1 berisi penuh dengan minyak untuk menggoreng ayam dan tugas itu diberikan kepada Haqi. Lalu dia mulai memasak bawang bombay dan menambahkan 5 sendok air 1 sendok olive oil, soy sauce, dan beberapa bumbu lainya. Dan dia mulai memecahkan telur ayam mengocoknya Setelah bau bawang bombay sudah tercium, Arin memasukan telur merata di atas wajan dan mengecilkan api lalu menutupnya. Lalu ia mengambil mangkok dan mengisinya dengan nasi, 1 menit kemudian telur itu disajikan di atas nasi dan di beri katsudon yang sudah di goreng dan di potong kecil-kecil. Dan Chiken katsudon pun sudah selesai.


Setelah selesai memasak dan duduk di meja makan maria dan Chanan yang melihat masakan Arin terkejut.


“Oh ini seperti yang ada di restoran.”


“Ini sempurna, kalau gitu tinggal rasanya.”


“Selamat makan.”


Lalu mulai memakan, Sesaat memakan katsudon buatan Arin mereka bereaksi


“Wah ini sangat enak.”


Maria memberikan komentar, lalu dijawab oleh Haqi.


“Ya benar padahal aku melihat semua prosesnya tapi bisa seenak ini.”


“Sesaat setelah memakan ini aku merasa seperti pakaianku robek dan dikerumuni oleh para ayam.”


Chanan juga memberikan komentarnya.


Mereka bertiga dengan cepatnya menghabiskan makananya dan dengan kompak berbicara.


“Tambah lagi dong.”


“Ya setelah aku selesai makan akan ku buat lagi.”


“Ah jadi karena itu tadi membeli banyak.”


“Kau memprediksi semuanya sungguh hebat.”


Setelah Arin selesai makan dia memasak kembali, Haqi dan Chanan Menghabiskan 2 piring, dan Maria 3 piring.


“Huuh kenyang nya.”


“Kau makan 3 kali sungguh gila Ria.”


“Makan mu sungguh banyak tapi style tubuh tetap bagus.”


“Ya kak Maria membuat semua wanita iri dengan tubuhnya itu.”


------------------------------------


Jam menunjukan pukul 23.50 dan mereka berempat Asik bermain game, berbagai macam game dan konsol mereka mainkan, dan karena sudah tengah malam akhirnya mereka memutuskan bermain game VR horor.


“Haqi belakang mu hantunya mengejar cepat lari.”


“Akh.. Maria jangan berisik dan gerak hantunya malah nyamperin tar kita kalah lagi.”


Mereka berdua menjadi tim untuk game VR ini, game horor yang membahas tentang pemburu hantu dan mengungkapkan hantu apa yang terjadi di lokasi tersebut. untuk saat ini skor tim adalah 10 : 9 kemenangan untuk tim Arin dan Chanan dari berbagai game yang dimainkan.


“Ah ayolah kalau kita kalah, harus menteraktir .”


“Itu salahmu berteriak teriak terus.”


“Ahh aku mati lagi.”


Mereka berdua kalah dan tidak mau mengakuinya dan terus berlanjut hingga sekarang dan ini adalah permainan terakhir.

__ADS_1


Arin yang melihat tingkah laku Maria dan Haqi tertawa, Chanan yang berada di sebelah melihatnya dan tersenyum.


(Sudah lama kayanya tidak melihat Arin seperti ini.)


Tawa dan senyuman tanpa paksaan yang saat ini dikeluarkannya sama seperti dia 1 tahun yang lalu.


Akhir dari permainan sudah terlihat. jelas ini adalah kemenangan bagi Arin dan Chanan, Maria mengeluhkan itu


“Aahhh kalah lagi sekali lagi dong.”


“Udah hampir jam 1 pagi loh kak.”


“Dari tadi kamu sekali lagi aja terus.”


“Aku duluan kak udah ngantuk.”


“Ehh besok liburkan ayo begadang.”


“Engga jam 7 nanti mau lari lagi.”


“Baiklah kalau gitu.”


Dengan itu Arin meninggalkan ketiganya menuju ke kamar dan bersiap untuk tidur.


------------------------------------


Waktu penunjukan pukul 02.10, di ruang tamu rumah Arin masih terdengar suara orang yang sedang bermain game.


“Sudah lama rasanya tidak melihat Arin tertawa dan tersenyum seperti itu.”


“Ya tapi sepertinya dia tidak menyadari itu.”


“Itu bagus, jujur saja melihat Arin yang sekarang hatiku terasa sangat sakit.”


Maria menjawab pembicaraan Haqi. Bahunya melemah dan menyenderkan punggungnya ke sofa.


“Bukan kau saja loh, kita semua yang mengenal Arin sejak lama pasti akan merasakan hal yang sama.”


“Ya kalau saja waktu itu aku bisa menggunakan kekuatanku, semuanya pasti bisa dihindari.”


“Jangan menyalahkan dirimu Qi, itu bukan salahmu. Saat aku melihat tubuh Nia dengan kekuatanku, itu tidak mungkin bisa diselamatkan.”


Maria memiliki kekuatan mata yang dapat menembus dan melihat jarak jauh dengan kode name “Angel eyes” dengan kekuatanya saat ini dia dapat melihat seseorang dari jarak 0 sampai 2 km dengan jelas. Dan dapat melihat dengan detail bagian dalam tubuh manusia. Ranknya adalah A.


“Kau melihatnya ?”


“Ya saat itu kebetulan aku melihat tante Amalia terlihat panik dan pergi menuju rumah sakit jadi aku memutuskan untuk mengikutinya.”


Dengan ekspresi sedih dia menjelaskan situasinya.


“Sesaat sesampai di sana kami melihat Arin yang berlumuran darah, aku langsung menggunakan kekuatanku dan melihatnya tetapi anehnya tidak ada luka sama sekali meskipun banjunya robek semua seperti tersayat oleh pisau yang sangat tajam.”


Keduanya mendengarkan dengan sangat serius.


“Setelah itu aku bernapas dengan lega sampai polisi menceritakan apa yang terjadi, lalu aku menunjukan kartu ku kepada polisi dan dokter, lalu diizinkan masuk ke dalam ruang operasi. dengan sekali lihat aku tau kalau itu tidak akan tertolong bahkan dengan teknologi maju saat ini.”


“apa yang kau lihat ?”


“Aku bisa melihat seluruh tulang telah remuk dan hancur, organ bagian dalamnya sudah hancur, dan bahkan jantungnya pun robek.”


Maria sedikit mengeluarkan air matanya saat mengenang itu.


“Sungguh keajaiban dia bisa masih bisa hidup sampai di rumah sakit dengan kondisi tubuh seperti itu.”


Mereka bertiga pun diam dan tidak ada yang berbicara sama sekali lebih dari 5 menit.


“Kalau begitu aku tidur dulu ya, awas kalau berani naik ke lantai atas.”


Maria pergi dan memberikan peringatan.


“Kami akan sedikit lebih lama bermain gamenya.”

__ADS_1


“Ya selamat tidur.”


Maria pergi ke kamar. Dan di sana sudah ada kasur yang digelar di lantai untuk tidurnya. Dia pun menatap Arin dengan senyum dan mengelus kepalanya menuju kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut dan tidur.


“Aahhh karena mendengar cerita tadi aku jadi teringat Arin yang tidak pernah berhenti menangis.”


“Kita main game sampai pagi untuk melupakan itu.”


“Ayo, lagi pula Arin sudah tidak menangis lagi.”


Mereka berdua pun melanjutkan bermain game hingga jam 9 pagi.


------------------------------------


Di saat yang bersamaan Alvan dan teman-temannya berkumpul di salah satu rumah siswa hingga jam 11 malam.


“Kalau gitu hati-hati dijalan ya ?.”


“Ya hati-hati.”


“Selamat tinggal.”


Mereka pun membubarkan diri dan kembali kemuuju rumah masing-masing. Cindy dan salah satu temannya yang bernama Kaila berjalan dengan alvan karena buruk untuk wanita pulang sendiri jam segini.


“Eh maaf handphone ku ketinggalan aku akan balik lagi.”


“Kalau gitu kami juga.”


“Engga usah udah jauh juga.”


“Tapi cewe sendirian bahaya loh.”


“Tidak apa apa aku ini Rank B dengan kekuatan air seperti Cindy, dan juga sudah di ajari cara membuat barier,.”


Swosh…


Kemudian sejumlah air berkumpul dari pinggir selokan kecil dan mengitari gadis itu.


“Lihatlah .”


“Tapi ..”


“Sudahlah Al ayo dengan adanya barier itu tidak akan ada yang bisa menembusnya hahaha.”


Dengan paksaan Cindy akhirnya Alvan menyerah dan membiarkanya sendirian lalu mengantarkan Cindy pulang.


Gadis itu pun kembali untuk mengambil handphonenya.


Swishh… Bam….


Tidak lama kemudian di tengah jalan tiba tiba ada Bola api besar yang menyerangnya. Akan tetapi berhasil terblokir dengan perisai air yang dia buat meski airnya menjadi berkurang akibat menguap.


(Apa ini ?, Jangan-jangan penyerangnya beneran keluar dong gimana ini.)


Dia berlari sekuat tenaga untuk melarikan diri.


Splash…


Akan tetapi sebuah batu dengan sangat cepat menembus perisai yang ia buat dan menghantam kepalanya lalu tidak sadarkan diri.


------------------------------------


Salah satu handphone temanku ada yang tertinggal. Setelah mengetahui itu aku berlari mengejar mereka. Dari kejauhan aku melihat seseorang tergeletak di tengah jalan dengan posisi tengkurap lalu aku menghampirinya.


“Permisi apakah tidak apa apa.”


Saat aku bertanya tidak ada jawaban sama sekali dan aku melihat darah dari belakang kepalanya. Saat aku membalikan badannya ternyata dia adalah Kalia yang handphone tertinggal.


"Woi Kalia apa yang jadi padamu."


Dengan panik aku mencoba membangukan dia lalu menelpon rumah sakit dan polisi.

__ADS_1


__ADS_2