
Langit malam yang dihiasi oleh Bintang-bintang, terdengar suara pesawat melintas dan beberapa kelelawar berterbangan. Terlihat ada empat orang sedang berdiri di atap rumah sakit Barat.
(Entah kenapa aku bisa berakhir di atap rumah sakit bersama tiga orang ini. Salah satunya adalah seorang Esper berperingkat S, dia terkenal dengan julukannya sebagai pangeran. Ini adalah kali kedua aku melihatnya. Yang kedua adalah seorang lelaki bernama Chanan. Aku pernah bertemu dengannya saat sedang di dalam ruangan introgasi di markas sheild. Dan yang terakhir adalah kak Maria, dia mengaku sebagai kakak Arin. Saat pertama kali melihatnya aku merasa pernah melihatnya entah dimana, dan benar saja dia adalah Maria yang dijuluki sebagai dewa petarung oleh para fans tinju. Jujur saja aku sangat canggung bersama semuanya saat ini atas apa yang pernah aku lakukan dulu.)
“Maaf ya sudah menyuruh kamu untuk menginap di sini.”
Maria berbicara.
“Tidak apa-apa kak, aku senang kok.”
Ina berbicara sembari menundukan kepalanya karena malu. Dari awal gadis itu tidak pandai berinteraksi dengan orang lain.
------------------------------------
Setelah Maria memeriksa kondisi Arin, dia langsung membuka makanan yang di bawanya dan melahapnya , membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut, dengan nafsu makan miliknya. Terlebih lagi ekspresi kesal yang terus iya keluarkan, yang membuat Gina dan Alvan bertanya-tanya apa yang terjadi kepadanya.
Sekitar jam 5 sore ada 3 orang wanita yang datang masuk untuk menjenguk Arin. Mereka adalah Riana, Kirana dan Naila. Awalnya seluruh anggota klub basket ingin datang untuk menjenguknya tetapi Maya menghentikan mereka.
“Lebih baik perwakilan saja, Gadis itu tidak suka keramaian seperti Intan.”
Oleh karena itu dipilih lah ketiga orang yang cukup dekat dengan Arin, sisanya menunggu di ruangan Intan.
“Arin gimana kabarmu ?”
“Syukurlah kamu sudah sadar.”
“Apa sudah baikan ?”
Meskipun ketiga mengajaknya berbicara Arin hanya diam tidak menjawab dan menonton sebuah acara di televisi. Gina yang melihat datang mendekati mereka dari belakang dan menepuk bahu Riana.
“Kalian ke sini.”
Dengan ajakannya mereka menuju sofa. di sana ada Ina, Cindy, Kalia, Alvan dan Maria yang sedang memakan kue.
“Maaf ya, belakangan ini Arin moodnya cukup buruk.”
“Tidak apa-apa kok kak.”
“Tapi bukannya Arin itu harusnya begini.”
Naila berbicara dengan senyum lebar.
“Apa maksudmu ?”
Kirana memiringkan kepala dan melipatkan kedua tanganya.
“Aku dari dulu sangat mengagumi sikap Arin yang terkenal sebagai Ratu Es.”
Naila mengepalkan tangan, posisi kakinya berlutut lalu menatap ke atap seolah seakan sedang berdoa.
“Sikap dia yang cuek, menatap orang lain dengan tatapan tajam miliknya, aku sangat mengagumi. Aku ingin bisa seperti itu. Aku sangat bersyukur dapat berteman dengannya saat ini.”
Dengan posisi berdoa gadis itu mengeluarkan air mata. Seluruh orang yang melihat adegan itu terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya mereka tertawa akibat tingkah laku Naila.
Mereka betiga pun diajak untuk makan bersama. Riana cukup terkejut dengan apa yang terjadi diatas meja. Di sana ada kue, donat, es krim, pizza, kebab dan berbagai makanan lainya. Di sisi mereka tepatnya di lantai terdapat setumpuk makanan ringan yang menumpuk seperti gunung.
“Pesta apa ini menurutmu Kirana ?”
“Baru pertama kali aku melihat yang seperti ini hahahha.”
__ADS_1
Riana dan Kalia saling memandang dan tersenyum. Mereka pun duduk lalu ikut makan bersama mereka.
Arin sesaat memandang kearah orang-orang yang sedang menghabiskan waktu mereka di ruangan dimana dia di rawat. Dia menghela nafasnya dan kembali menonton anime. Tidak lama setelah itu Chanan serta Haqi datang dan menghabiskan waktu bersama mereka.
------------------------------------
Cindy mengambil handphone miliknya dan melihat kalau jam sudah menunjukan pukul 19.00 malam.
“Eh.. sudah jam 7 tau kita harus segera kembali.”
“Gak kerasa sudah malam lagi.”
Kalia melihat keluar jendela. Langit sudah gelap.
“Aku juga harus segera kembali.”
Ina mengambil tas miliknya dan berdiri.
“Gimana kalau kita pulang bareng ?”
Cindy berdiri dan menatapnya.
“Boleh saja.”
Dengan ragu gadis itu menjawab.
Setelah menghabiskan waktu dan mengobrol bersama, mereka akhirnya menjadi cukup dekat. Akan tetapi Ina mengalami sedikit trauma karena pernah dimanfaatkan oleh orang lain karena kekuatan miliknya, ia cukup menjaga jarak dari mereka. Ketiganya pun bertiga berjalan menuju pintu.
“Ina tunggu.”
Maria yang berdiri dekat jendela memanggilnya. Mereka berhenti dan berbalik.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu terlebih dahulu bisa tunggu sebentar ?”
“Tapi sudah terlalu malam. Aku takutnya pihak shield menyangka kalau aku kabur.”
“Tenang saja, aku akan berbicara kepada atasan kok.”
Chanan menghampirinya dan berbicara.
“Kalau gitu sampai pembicaraanya selesai, kami akan menunggu kalian.”
“Tidak ini akan cukup lama. Kalian kembali saja terlebih dahulu.”
Sembari memakan kripik yang berada di tangannya Maria berjalan mendekati mereka.
“Tapi ?-”
“Ina menginap saja di sini bersama Maria dan Gina. Temani Arin agar dia tidak bosan.”
Chanan melihat kearah Arin yang sedang disuapi makan oleh Gina.
“Apa tidak apa-apa kak Chanan ?”
“Tidak apa-apa kok, lagi pula kamu memakai itu kan ?”
Dia memandang kearah gelang yang dikenakan oleh Ina.
“Ah benar juga, aku memakai gelang ini.”
__ADS_1
“Gelang ?”
Cindy melihatnya juga dan bingung.
“Ah ini adalah gelang yang shield, untuk mengetahui keberadaanku.”
Gadis itu mengangkat tangan kanan dan memperlihatkan gelangnya.
“Ah maaf.”
“Tidak apa-apa kok.”
Melihat kedua gadis yang berada dihapannya memasang ekspresi sedih, Ina tersenyum.
Mereka sudah mendengar kisah hidup Ina yang datang ke pulau Aurora sendirian, dimanfaatkan oleh Kevin serta beberapa orang dari sekolah Utara.
Setelah mengetahui itu Cindy cukup marah dan mulai berteriak-teriak. Ina merasa senang dengan itu. karena ia tau kalau ada orang yang masih peduli kepadanya dan marah untuk dirinya.
“Baiklah, aku akan menginap untuk hari ini. Maaf ya Cindy, Kalia.”
“Tidak apa apa kok.”
“Benar, kalau gitu kami kembali duluan ya.”
“Tunggu kalian.”
Maria menghentikan mereka berdua.
“Kali ini apa lagi kak ?”
“Tolong buang itu sekalian ?”
Maria menuntuk ke tumpukan kantung platik yang penuh dengan sampah.
“Ah baiklah.”
“Huh.. 70% makanan ini dihabiskan oleh kak Maria kan.”
“Dan sekarang masih terus ngemil.”
“Hahaha, kalian jangan memujiku seperti itu.”
Melihat Maria yang malah tertawa mereka berjalan dan mengambil plastik.
“Kalau gitu kami kembali dulu ya.”
“Sampai ketemu lagi.”
Setelah berpamitan, kedua gadis itu pergi meninggalkan ruangan.
“Baiklah kalau gitu Ina, Chanan dan Alvan ikuti aku.”
“Alvan juga ?”
Ina menatap lelaki itu.
“Gina dan Haqi jagain Arin ya.”
Mendengar perkataan Maria Arin melihat kearahnya dengan tatapan tajam. Tetapi gadis itu hanya membalasnya dengan senyuman dan pergi meninggalkan ruangan diikuti dengan ketiga orang di belakangnya.
__ADS_1