TRIGGER

TRIGGER
BAB 2, Chapter 34. Pertandingan pertama


__ADS_3

Suara para murid sedang berkumpul di halaman sekolah terdengar sampai dalam gedung, berbagai Ekskul sekolah berkumpul bersama dan sedang bersiap-siap. Terlihat klub basket yang sudah berkumpul sedang mengobrol bersama.


“Entah kenapa aku mulai gugup.”


“Iya sama sebelum pertandingan pasti akan sangat gugup.”


“Haha padahal kalau sudah di lapangan tidak bengini ya.”


Saat mereka sedang mengobrol Kana datang.


“Sudah berkumpul semua ya ?, tunggu Riana mana ?”


“Tadi ke toilet bersama Mika.”


“Hmm.. Baiklah kalau gitu kita karena Anggota klub basket sudah berkumpul kalian semua tunggu saja di dalam bus, sebentar lagi kita akan berangkat.”


Mereka masuk ke dalam bus yang terpakir di parkiran sekolah. Arin pergi menuju kursi belakang dan mulai mengenakan earbuds dan mendengarkan musik. Beberapa menit kemudian Raina dan Mika datang. Setelah mengecek tidak ada barang yang ketinggalan akhirnya mereka berangkat menuju pusat kota.


Klub basket menjadi yang berangkat pertama karena mereka udah berkumpul bersama, beberapa klub lain masih menunggu anggota yang belum datang dan beberapa dari mereka terus berusaha menghubungi temannya yang sulit di hubungi.


Sepanjang jalan beberapa anggota merasa gugup dan mulai berbicara tidak jelas, Maya yang melihat itu hanya menertawakannya.


“Hey kalian tidak seperti biasanya dan terlalu gugup.”


“Tapi pelatih ini pertama kalinya kita bertanding tanpa kapten tentu saja kami gugup.”


“Sudah lah sekarang kalian diam fokus ke hal lain aja, nanti juga gugupnya hilang.”


Beberapa dari mereka mulai duduk dan bermain Handphone. 30 menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Terlihat beberapa sekolah lain sudah sampai duluan di sana.


Arin yang menyadari mobil sudah di parkir mematikan musik dan memandangi sekitarnya.


“Hey kita sudah sampai ayo cepat turun dan menuju ruang tunggu.”


Seluruh anggota klub basket mengambil perlengkapan dan mulai turun dari mobil satu per satu, beberapa orang dari sekolah lain memandangi mereka dan mulai berbisik.


“Itu sekolah barat.”


“Tapi kurasa kali ini akan sulit karena dua pemain inti mereka sepertinya tidak ada.”


“Sangat disayangkan ya.”


Kemudian mereka melihat seorang wanita menggunakan jaket Hodie yang menutupi wajahnya turun dari bus mengikuti anggota lainya.


“Hey siapa itu ?”


“Tidak tau mungkin pemain pengganti.”


“Rasanya pernah lihat.”


“Iya entah kenapa aku pernah melihatnya.”

__ADS_1


Arin berjalan tanpa memperdulikan omongan orang lain dan mereka pergi menuju ruang tunggu pemain yang sudah disediakan oleh panitia. Sepanjang jalan banyak yang memperhatikan mereka terutama Arin yang bari kali ini terlihat.


“Hahaha kau benar-benar menarik banyak perhatian rin.”


Maya menertawakannya.


“Lebih tepatnya kalian, karena Tim basket sekolah barat sudah cukup terkenal karena selalu masuk 3 besar.”


“Ya tapi kali ini mungkin akan sulit, jika saja kalau kau mau bermain rin.”


Riana yang terlihat banyak tekanan mengajak Arin berbicara.


“Huh aku ini permain pengganti, Tapi ya jika ada sesuatu yang terjadi aku akan bermain.”


“Yes, baiklah kami akan berusaha sebaik mungkin, dan kalau ada apa-apa mohon bantuannya.”


Mereka masuk keruang tunggu dan menyimpan tas dan perlengkapan lainya.


------------------------------------


Para penonton sudah berkumpul, pertandingan akan dimulai sebentar lagi. Terlihat lawan pertama mereka sudah berada di lapangan dan mulai berkumpul. Lawan pertandingan mereka kali ini adalah SMA Tenggara.


Ekskul basket Sekolah barat mulai memasuki lapangan semua orang melihat mereka yang memasuki lapangan, Kana berjalan di depan dan di ikuti dengan seluruh anggota, Arin dan Naila berjalan paling belakang. Banyak sekali orang yang menganggap kalau SMA barat akan kalah dalam pertandingan kali ini karena kekuarangan dua pemain pentingnya.


“Baiklah kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu.”


Raina memberi intruksi kepada anggota lainya dan mulai melakukan pemanasan, Arin yang menggunakan Jaket hodie untuk menutupi wajahnya justru menjadi perhatian.


Naila yang berada di sampingnya memberikan nasihat kepadanya.


“Tak apa, justru akan sangat merepotkan jika mereka mengetahui aku kembali bermain, untuk saat ini biarkan seperti ini.”


Mereka melakukan pemanasan dengan melakukan Lay up secara bergiliran. Arin yang kakinya masih di perban duduk di bangku cadangan dam memperhatikan musuh.


(Sepertinya mereka semua bukan pemain terkenal, kurasa pertandingan akan baik-baik saja selama mereka tidak melakukan kesalahan.”


Saat dia sedang memperhatikan musuh Kana menghampirinya dan mengajak berbicara.


“Rin apa kakimu sudah membaik ?”


“Ya, mungkin 2 hari lagi akan sembuh total.”


“Baiklah, aku berpikir jika sesuatu yang buruk terjadi aku akan membuatmu bermain, tapi melihat kondisimu sepertinya tidak mungkin.”


“Kalau emang  dibutuhkan aku akan bermain, tapi sepertinya pertandingan pertama akan baik-baik saja.”


Dia terus memperhatikan tim lawan sembari bericara dengan Kana.


“Hey tidak baik loh meremehkan musuh.”


“Tidak yang meremehkan itu mereka.”

__ADS_1


“.…..”


“Kebanyakan orang yang menonton pertandingan ini berpikir bahwa kita akan kalah karena Kekurangan pemain inti, tapi kalau dilihat saat latihan mereka cukup baik saat melawanku secara one on one.”


Setelah Arin mulai ikut berlatih bersama anggota klub basket, mereka selalu memintanya untuk bertanding satu lawan satu, akan tetapi hingga saat ini masih belum ada orang yang berhasil mengalahkannya.


“Iya selama latihan mereka berkembang pesat akibat berlatih melawanmu, dan beberapa dari mereka menjadi termotivasi, aku sangat berterimakaih padamu.”


Teeeeeet….


Bel pertandingan di mulai dan seluruh permain pergi ke lapangan dan melakukan salaman, setelah itu pemain cadangan kembali  dan duduk. Seluruh pemain inti bersiap dan wasit mulai melempar bola, Riana berhasil meraih bola dan mengomperkannya kepada Maya, kemudian dia berlari menuju ring dan melakukan Lay up. Seluruh penonton dan Tim musuh terkejut dengan performa bermain. Permainan pun di lanjutkan dan babak pertama dimenangkan oleh SMA Barat dengan skor 18 vs 10.


“Lanjutkan seperti itu kalian, jika kalian melakukan seperi ini kita pasti akan menang.”


“Baik.”


“Posisi akan tetap seperti babak pertama, musuh akan lebih waspada jadi kalian juga tetap berhati-hati.”


Babak kedua dimulai bola dari tim lawan, kali ini mereka tidak bertindak ceroboh dan melakukan Passing untuk mengecoh Raina dan yang lainya, mereka mendapatkan poin pertama di babak kedua. Para penonton yang melihat mulai bersorak melihat pertandingan mereka.


Arin yang duduk di bangku cadangan memperhatikan lapangan dimana SMA Utara melawan SMA Timur, terlihat pertandingan berat sebelah dan kemenangan telak bagi SMA Utara. Dia terus memperhatikan mereka dan tidak peduli dengan pertandangan yang dilakukan oleh sekolahnya.


(Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh dari mereka.)


Saat Arin sedang mengamati, Naila yang duduk disebelahnya bertanya kepadanya


“Dari tadi kamu lihat kemana rin ?”


“.….”


“Meski kita unggul, tapi kita tidak tau menang atau kalau jadi fokuslah.”


Tina ikut mengatakan apa yang dia pikirkan.


“Terserahlah, emang benar kalau fokus kepada musuh yang berada di depan, tapi kalau kalian terlalu melihat satu lawan kalian akan menderita nantinya.”


“Apa kau melihat sesuatu rin ?”


Kana juga memperhatikan pertandingan Tim lain.


“Iya, dari semua Sekolah, SMA Utara yang harus diwaspadai, dalam Artian Baik dan Buruk.”


“Gitu ya, permainan mereka memang benar sangat bagus.”


“Pelatih suruh siapa pun untuk merekam pertandingan mereka mulai dari sekarang, mungkin akan membantu kita nantinya.”


Arin memberikan saran kepada Kana.


“Baiklah aku akan meminta anggota osis untuk membantu.”


Pertadingan pun terus berlanjut. Tidak seperti prediksi para penonton SMA Barat menunjukan performa yang baik dan unggul dalam pertandingan.

__ADS_1


__ADS_2