
“Gimana kondisi tubuhmu ?”
“Apa masih ada yang terasa sakit ?”
Almya serta Maya menanyakan kondisi Intan, gadis itu masih menundukan kepalanya karena kecewa Arin sudah tidak ada, sesaat sebelum dirinya terkena bius, Intan berjanji pada dirinya sendiri, hal yang pertama akan dia lakukan adalah meminta maaf kepada gadis itu.
“Rasanya sangat aneh !”
“Aneh ?”
Melihat wajah cemas dari kakak serta temannya, akhirnya Intan memilih memjawab pertanyaan dihadapannya terlebih dahulu.
Dia melihat kaki serta bagian tubuhnya yang lain, badannya masih menggunakan perban dan gips. Intan memegang bagian lehenya lalu melpaskan gips itu.
“Tan ?”
“Ah.. maaf, rasanya bernar-benar aneh, padahal beberapa saat yang lalu seluruh tubuhku masih merasakan sakit, tetapi sekarang-.”
Gadis itu melihat kedua telapak tangannya, lalu berjalan kearah meja kerja Maria, dia melihat kearah cermin dan memperhatikan dirinya sendiri.
Semua orang kecuali Maria terkejut melihat Intan benar-benar pulih tenpa luka, Kalia menggoyangkan tubuh Cindy terus menerus. Mereka semua mengetahui fakta kalau luka yang di derita Intan itu lebih parah dari Arin, tulang rusuk serta rahang yang patah sekarang sudah terlihat normal.
“Jangan senang dulu !”
Di saat Almya sedang bersyukur melihat adiknya yang kembali sehat, tiba-tiba saja Maria berbicara dengan nada yang datar.
“Luka yang kamu derita itu lebih buruk dari Arin, jadi sekali pengobatan tidak akan 100% pulih.”
“Tapi tubuhku terasa sangat sehat, bahkan ini terasa sangat ringan seperti di lahirkan kembali.”
Gadis itu melompat-lompatkan tubuhnya dan memperlihatkan kalau seluruh tubuhnya sudah pulih, Maria meremas bungkus dari kiripik yang dia makan lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah. Dia berjalan menuju Intan lalu mengetuk dadanya dengan pelan.
“AWW.”
Tanpa di duga gadis itu menjerit dan terjatuh ke lantai lalu memegangi dadanya, terlihat dari ekspresinya kalau sentuhan itu menyakitkan. Tangan kanannya meremas pakaian renang yang dikenakannya lalu nafasnya terengah-engah.
__ADS_1
“Kamu gak apa-apa ?”
Almya berlari lalu memegangi bagian punggung adiknya dan mengelusnya secara perlahan.
“Padahal hanya aku sentuh-, itu sakit kan ?”
Maria menatapnya dengan sinis dan terlihat marah, dia melihat seluruh tubuh Intan menggunakan kekuatannya lalu mengeceknya dengan teliti, Luka pada seluruh tubuhnya terlihat sudah pulih, tetapi pada bagian tulang badan, serta rusuk bagian kanan masih terlihat ada retakan.
“Memang benar sebagian lukamu sudah sembuh, tapi jangan terlalu senang, sebaiknya selama liburan ini kamu diam di rumah untuk pemulihan.”
Maria menatap ke Almya, dia melakukan kontak mata, seolah menyuruh Almya untuk menjaga Intan agar tidak melakukan hal ceroboh sebelum tubuhnya pulih 100%. dia mengerti maksud dari di hadapannya lalu menganggung.
Maya membawakan pakaian ganti yang telah disiapkannya, lalu Intan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Tapi tetap saja.”
Dia melihat kearah cermin sembari melepaskan perban yang masih membalut tubuhnya. Dia sangat terkesan dengan healingpod yang dapat menyembuhkan luka yang di deritanya dengan sangat sempurna. Dia mulai membersihkan badannya sembari memikirkan Arin.
“Karena sudah selesai sebaiknya kita berkemas karena sudah malam.”
“Gimana dengan Arin ?”
“Mungkin saat ini dia sedang melompat-lompat di atas gedung.”
Menanggapi pertanyaan dari Cindy Haqi melihat kearah handphonenya untuk melihat posisi dari Arin. Kemudian Kalia dan Alvan melihat layar handphone itu karena penasaran.
Almya serta Maya menunggu di depan pintu karena masih cemas dengan adiknya.
“Kita harus lebih berhati-hati.”
“Kenapa ?”
Karena melihat semua orang cukup sibuk dan tidak memperhatikannya Chanan berbicara dengan Maria dengan suara yang sangat pelan serta hati-hati.
“Saat aku sedang bermain game, ada seseorang yang berusaha masuk ke dalam sistem pertahanan universitas selatan.”
__ADS_1
“Apa mereka ?”
“Mungkin, mereka berhasil mengakses beberapa CCTV, tetapi aku langsung memblokirnya.”
“Aku kira kamu sedang asik bermain game !”
“Jangan bodoh, aku baru bermain game selama 5 menit sebelum kalian datang.”
“Hahahaha.”
“Dilihat dari tindakannya, mereka mencoba untuk memeriksa kegiatan apa yang kita lakukan di sini.”
“Hmmmm.”
Kedua orang itu memasang ekspresi serius, keduanya menghelas nafas mereka.
Mereka sadar kalau saat ini terlibat masalah yang cukup besar, karena tidak mungkin orang biasa bisa meretas sistem di Universitas Selatan untuk kedua kalinya. Terlebih lagi semua ini di mulai sejak Arin menghajar orang-orang dari SMA Utara. Tetapi mereka semua tidak menyangka akan menjadi sebesar dan serumit ini.
“Aku tidak peduli siapa mereka, karena sudah berusaha menyerang Arin di rumah sakit, aku pasti akan membuat mereka menyesal.”
Pernyataan tidak terduga keluar dari Maria, ternyata dia cukup marah akibat adanya serangan di rumah sakit saat Arin di rawat, bukannya marah karena dirinya di jadikan target penculikan, meskipun itu gagal yang berakhir semua orang di hajar olehnya sendirian.
“Huh, tenangkan dirimu.”
Tanpa mereka sadari, dari tadi Maya mengupin semua pembicaraannya, dia melihat tingkah laku dari Maria serta Chanan yang cukup mencurigakan, lalu mengamati mereka.
(Mereka, bertindak hati-hati, lalu apa yang di masuk dengan menyerang Arin ?)
Maya tidak dapat memahami percakapan keduanya, tetapi sejak awal dia sudah curiga kalau ada sesuatu yang terjadi, dia cukup kesal karena tidak diberitahukan situasi saat ini, dirinya menyangkan kalau ini menyangkut dengan Arin yang menjaga jarak darinya dan Intan. Oleh karena itu orang di sekitar Arin menjaga jarak darinya sejak berada di rumah sakit. Maya tidak mengetahui fakta kalau Arin sendiri tidak tau dengan apa yang sedang terjadi.
(Sudahlah, mungkin tidak ada hubungannya denganku tapi-.)
Dia mengingat kejadian saat di rumah sakit, terjadi dua ledakan yang tidak diketahui sumbernya, lalu rumah sakit mengalami pemadaman, saat menyala ada orang mesum yang tidak memakai baju di tengah koridor rumah sakit.
(Apa mungkin-, Yah lebih baik dari sekarang aku berhati-hati.)
__ADS_1