
“Salah satu dari Esper terkuat, Rank S peringkat 2, entah kenapa sekarang aku merasa bahwa gelar itu tidak ada apa-apanya.”
Sembari menundukan kepalanya Alvan berbicara, dia terlihat sangat syok mendengar fakta tertang Maria.
“Hahahaha.”
“Seorang Rank S sedang termenung saat ini.”
“Kita harus mengabadikan momen ini.”
Gina mengambil handphone miliknya lalu memfoto Alvan yang duduk di sebelah Cindy, Gadis itu berpose sembari tersenyum kearah kamera, seolah sedang mengejek temannya yang sedang termerenung. Maya tidak dapat menahan tawanya terus tertawa tapa henti, berdiri dan berpose di belakang Alvan.
Dari kejauhan Maria, Kalia dan Almya datang menghampiri mereka, wajah mereka terlihat cukup senang karena penjelasan dan akan diberikan beberapa sampel kecantikan yang di buat oleh Maria.
“Ada apa dengan Alvan ?”
Kalia bertanya karena melihat temannya menundukan kepala dan kedua lagi lelaki di dekatnya memasang wajah murung.
Saat ini mereka sedang membandingkan dirinya dengan Maria, mereka merasa malu kalah dengan seorang wanita, terutama Haqi yang merasa terpuruk dengan insiden kali ini. Tetapi dia sudah membulatkan tekadnya untuk berusaha agar menjadi cukup kuat untuk bisa melindungi apa yang dia sayangi.
“Tidak apa-apa kami hanya sedang bercanda haha.”
“Benar.”
“Hahahaha.”
Gina dan Cindy saling menatap lalu tertawa bersama.
Mereka menghabiskan waktu di taman cukup lama, langit mulai berwarna oren gelap menandakan waktu sudah mulai menjelang malam, angin berhembus di sekitar mereka dengan sangat pelan, membuat udara menjadi sejuk.
Tet, Tet, Tet, Tet !!!!!
Getaran terasa dari meja, Suara terdengar dari handphone milik Chanan, sebuah peringatan muncul dari layarnya, dia segera langsung mengecek dan melihat apa yang terjadi, terlihat status pada Arin memerah, detak jantungnya berdetak dengan kencang, semua orang menanyakan apa yang terjadi tapi dia tidak menjawab apapun dan langsung mengaktifkan camera yang sudah di pasang pada ruangan itu untuk mengontrol situasi.
Tidak ada hal yang mencurigakan di ruangan itu, dia mengganti dengan kamera yang dapat meliaht situasi pada Arin, ekspresi anak itu terlihat sedang kesakitan, tubuhnya terus bergerak seakan meronta-ronta.
__ADS_1
“Ria.”
Mendengar panggilan Chanan, Maria langsung berdiri dan berlari menuju ruangan laboratorium miliknya, di ikuti dengan oleh Chanan dari belakangnya.
“Ada apa ?”
“Apa yang terjadi ?”
“Sebaiknya kita juga ikut.”
Almya, Maya, Cindy serta Kalia yang melihat itu menanyakan apa yang terjadi, dengan ekspresi bingung, karena melihat keduanya begitu panik, mereka berpikir terjadi sesuatu yang sangat genting.
“Tunggu.”
Alvan berbicara dan menghentikan ketiga gadis yang ingin menyusul mereka.
“Kenapa Al ?”
“Kamu juga ayo ikut.”
“Alasan ?”
“Benar kata Alvan, biarkan Maria dan Chanan saja, lagi pula kita tidak akan bisa membantu mereka.”
Haqi berdiri dan mencoba meyakinkan para gadis, tetapi ekspresinya cukup rumit dan tidak meyakinkan.
“Memang benar kita tidak akan membantu, tapi ?”
“Aku sekilas tadi melihat dari layar Handphone, detak jantung Arin meningkat.”
“Meningkat ?”
“Ya, kurasa da bermimpi buruk.”
“Ha ?”
__ADS_1
Mendengar itu mereka kebingungan lalu berjalan mendekat.
“Kamu tau ?, aku selalu menjaga Arin di rumah sakit kan, Setiap malam aku melihat
Gadis itu mengerang dan bergumam sesuatu.”
“Benar kata Alvan, Arin tidak pernah tidur cukup semenjak bertengkar dengan Intan, di rumah sakit juga setiap di beri obat tidur dia selalu seperti terlihat kesakitan, mau tidak mau aku selalu membangunkan Arin.”
Gina yang dari tadi duduk sembari mengepalkan tangannya memberitahukan apa yang terjadi, dia sudah menebak apa yang terjadi, karena sebelumnya mereka sudah berdiskusi dengan kemungkinan Arin akan sadar lebih cepat karena mimpi buruk itu.
“Aku sudah dengar dari Intan kalau Nia meninggal di depan Arin, apa dia selalu bermimpi buruk seperti ini ?”
“Tidak, aku lupa tapi, dia bermimpi buruk selama 3-5 bulan, setelah itu kondisinya mulai membaik.”
Haqi memandang kearah langit sembari berbicara.
“Jadi Arin kembal bermimpi buruk setelah berkelahi dengan adikku ?”
“Benar, mimpi yang terus berulang, Arin pernah menceritakannya kepada Maria lalu kami mendengarnya.”
“Mimpi dimana kejadian itu terjadi, Nia yang tertimpa oleh mobil karena mendorong Arin untuk menyelamatkannya.”
Mendengar perkataan Gina semua orang terdiam dengan ekspresi sedih, lalu semua orang kembali duduk di kursi taman tanpa ada yang berbicara.
“Untuk sekarang kita berdoa saja untuk kebaikan gadis itu.”
Alvan berbicara sembari melihat kearah handphone miliknya, dia melihat jam.
(Mimpi buruk ya.)
Maya melihat kearah Kedua orang yang sedang berlari menuju gedung.
Mereka semua setuju, menunggu dengan tenang, tetapi diantara semuanya terlihat ekspresi dari Almya menjadi tidak karuan, mungkin dia sangat merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada Arin, karena menyangkut dengan tindakan adiknya, di balik meja dia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras.
(Semoga saja setelah ini Intan sama Arin akan berbaikan, tidak ku sangka kalau kematian Nia membuat trauma yang sangat mendalam bagi anak itu.)
__ADS_1
Tentu saja menjadi sebuah trauma, Bahkan Ekspresi, sikap serta tindakan dari Arin berubah 180 derajat, kematian sahabatnya membuat retakan besar pada hati itu, membuatnya menjadi orang yang sangat berbeda, Intan sendiri yang sudah menjadi sahabatnya tidak dapat mengenali Arin saat pertama kali ketemu setelah sekian lama, entah retakan itu akan semakin besar, berubah menjadi lubang hitam yang tidak memiliki dasar atau perlahan kembali utuh seriring berjalannya waktu. Hal itu akan tergantung kepada Arin dan orang-orang yang berada di sekitarnya.