TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 117. SIapa sebenarnya dia


__ADS_3

“Haha bukannya kali ini juga kita berhasil membobol bank dengan mudah!”


“Benar terlebih lagi itu adalah salah satu bank paling besar di kota Barat.”


Terlihat kelompok orang yang terdiri dari 4 orang sedang melarikan diri menggunakan sebuah mobil, dari kaca bagian belakang mobil terlihat sebuah gedung yang terbakar, gedung itu adalah Bank yang mereka rampok.


“Tapi kali ini kita sampai membakar gedungnya!”


“Hahaha yang penting kita berhasil kaburkan!”


Terdengar sirine dari mobil ambulan, pemadam kebakaran serta petugas keamanan yang datang menuju lokasi kejadian.


Keempat orang ini berhasil melarikan diri dengan cara membakar seluruh gedung, petugas yang sudah membaca gerak gerik mereka berhasil menyudutkan kelompok itu. Tetapi saat gedung terbakar, para petugas panik dengan kobaran api besar yang menyulut hampir seluruh ruangan.


Orang-orang itu berhasil melarikan diri berkat salah satu kemampuan dari mereka. Saat orang itu menyetuh objek dengan telapak tangannya, bend atau objek yang di sentuh akan berubah menjadi cairan. Mereka menghancurkan tembok dimana petugas tidak ada untuk melarikan diri. Lalu melarikan diri menggunakan mobil yang berada di sekitar sana.


“Berkat EMP yang di berikan oleh orang-orang itu, pekerjaan kita menjadi lebih mudah!”


Salah saru pria memegang sebuah benda bulat sebesar bola tenis. Benda itu di berikan oleh seseorang yang memberikan mereka obat.


“Benar semua CCTV dan alat elektronik lainya dari mati haha!”


“Karena di zaman kita hampir seluruh benda sudah menggunakan chip dan wifi, jadi mendapatkan EMP adalah hal yang sangat menakjubkan!”


Wajah mereka penuh dengan kebahagiaan, pada bagasi mobil serta orang yang duduk di belakang. Terlihat beberapa tas yang di dalamnya berisikan uang hasil curian.


------------------------------------


“Akhh itu sakit kak”


Maria sedang memijat bahu Devin yang terkilir. Ekspresi kesakitan dapat terlihat sangat jelas dari rautwajah gadis itu. Hanya dengan melihat baju serta tubuh yang di penuhi dengan goresan. Haqi, Chanan, dan Maria bisa menduga apa yang dialami oleh gadis itu.


“Tahan lah, kalau dibiarkan saja nanti malah semakin sakit.”


Maria dengan santai membenahkan posisi dari tulang bahu anak itu, teriakan demi teriakan di keluarkan, yang membuat Ina memasang ekpresi ngeri, wajahnya sedikit gelap ketika membayangkan kalau dirinya di pijat seperti itu.


“Gin apa airnya udah ?”


“Ya.”


Gina datang dari arah dapur membawa ember kecil yang berisikan Air hangat serta beberapa handuk di pundaknya lalu meletakannya di samping Maria.


“Sekarang kita bersikan lukamu!”


Maria mengambil handuk dan mencelupkannya ke dalam air, sembari memerasnya dia menoleh ke belakang.


“HAQI, CHANAN JANGAN DIEM AJA AMBILKAN AIR DINGIN UNTUK KOMPRES.”


Dengan wajah yang sangat kesal melihat kedua lelaki itu hanya diam menonton.


“BAIK!”


Mendengar perkataan itu mereka langsung berlari menuju dapur.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan sih ?”


Sembari mengelap kepala Devina yang terluka, Maria bertanya.


”Gimana ya !!!”


Sembari menahan nyeri gadis itu membuka mulutnya.


“Aku pulang dari Sekolah setelah membantu guru mengisi beberapa data, tidak ku sangka kalau akan selesai hingga larut malam seperti ini!”


“Ha??, bukannya udah libur, ngapain juga harus ke sekolah!”


“Coba saja tanya Kalia kak, dia juga ada di sana bersamaku!”


“.….”


“Setelah dekat dengan apartemen tempat aku tinggal, sebelum belokan ada beberapa berandalan yang sedang nongkrong, karena sudah dekat aku lewat sana, ya akhirnya jadi seperti ini deh hahaha!”


Sembari tertawa gadis itu berbicara, tetapi sorotan matanya tidak terlihat seperti seseorang yang sedang senang.


“Kamu bodoh ya, anggota komite disiplin tapi melanggar apa yang dia katakan!”


Maria secara blak blakan berbicara kepada gadis itu, dia pernah mendengar Devina berbicara untuk menghindari tempat sepi saat menjenguk Arin.


“SSTTTT RIA.”


Gina menyikut Maria yang berbicara terlalu frontal tanpa memikirkan perasaan dari gadis yang sedang terluka.


“Apa sih sakit tau, lagian udah tau ada orang-orang kaya gitu tapi tetep aja ngelewat!”


Ina melihat itu hanya dapat tersenyum pahit melihat kelakukannya.


Dari arah tangga terdengar langkah kaki, Devina menoleh ke sana. Arin mengenakan baju kaos serta celana pendek turun mendekat kearahnya.


“Gimana lukamu ?”


“Berkatmu, menjadi lebih baik!”


Setelah melihat dari kondisi teman sekelasnya sudah mulai membaik, Arin beralan kearah dapur untuk mengambil air minum.


Gadis itu terlihat sangat dingin seolah tidak peduli, tetapi entah kenapa Devina dapat memaklumi sifat dari gadis itu. Karena dia sudah diselamatkan oleh Arin. Dia tau kalau Ratu Es yang selama ini di kenalnya ternyata sangat berbeda dengan yang berada di sekolah.


(Kalau dipikirkan lagi, dulu juga Cindy bilang kalau telah diselamatkan oleh Arin.)


Dia mengingat kembali perkataan Cindy saat bercerita di ruang guru mengenai insiden yang di alaminya.


(Waktu itu aku penasaran bagaimana Cara Arin menyelamatkan Cindy, ku kira dia menggunakan teleportasi milik Maya untuk melarikan diri.)


Karena tidak ada cctv yang merekan kejadian di taman, tidak ada yang mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, mereka hanya menduga-duga dengan apa yang terjadi,karena Cindy juga tidak menjelaskannya dengan detail seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu.


Dia menoleh kearah dapur, memperhatikan Arin yang sedang minum.


(Tidak di sangka kalau Arin ternyata Esper dengan kekuatan Aerokinesis, kalau gitu apa dia seorang Trigger?, tapi kekuatanya tidak memperlihatkan dirinya adalah seorang Trigger, lalu kenapa dia menyembunyikan kekuatannya?)

__ADS_1


Banyak sekali pertanyaan yang ingin di tanyakan kepada gadis itu, dapat terlihat dari gerak gerik Devina, Maria dapat dengan mudah membaca pikiran dari gadis yang sedang di obati olehnya.


“Diem sebentar aku mau membalu kepalamu!”


Kepala gadis itu Maria tahan agar tidak bergerak,lalu mulai membalut kepalanya yang terluka.


“Apa Arin seorang Trigger ?”


Dengan suara kecil dia berbicara.


“Benar!”


“Eh ?”


Tanpa sadar gadis itu mengeluarkan suara hatinya, dia tidak menyangka kalau pertanyaanya kan dijawab oleh Maria.


“Lalu kenapa dia menyembunyikan kekuataanya selama ini ?”


Karena sudah terlanjut, akhirnya Devina memberanikan dirinya untuk bertanya.


“Hmmm.. bukan berarti aku tidak tau sih, tapi-.”


Maria telah selesai membalut kepalanya lalu mulai mengobati tempat lain yang terluka.


“Tanya saja langsung sama Arin, dia pasti jawab ko!”


Melihat senyuman itu Devina menyadarinya langsung, mungkin pertanyaan ini seharus dia dengar langsung dari Arin, bukan dari mulut orang ketiga.


“Terima kasih kak, nanti aku akan tanyakan sendiri!”


Haqi seta Chanan kembali membawa wadah dengan air dingin meletakannya di samping Maria.


“Baik, dengan ini selesai, sekarang kalian para cowo keluar dulu gih!”


“Eh kenapa ?”


Dengan wajah kesal Chanan bertanya.


“DEVINA BAHUNYA MAU DI KOMPRES, KALAU KALIAN TIDAK ADA DI SINI DARI TADI AKU SUDAH MEMBUKA BAJUNYA TAU.”


Dengan tatapan tajam Maria berbicara, dia sangat kesal kepada dua temannya yang tidak dapat membaca situasi saat ini.


“Ba.. Baik”


Akhirnya kedua pria itu pergi keluar rumah, mereka berdiam diri di sana cukup lama, udaranya di luar cukup dingin membuat Haqi dan Chanan mengeluh sepanjang waktu.


Devina melepaskan baju yang dikenakan olehnya, Maria langsung menempelkan handuk basah ke bahunya.


“Pakaianku jadi berantakan ya!”


Dia cukup kecewa saat melihat pakaian yang dikenakannya menjadi robek, padahal baju yang dikenakannya hari ini adalah salah satu dari sekian banyak baju favoritnya.


“Setelah selesai kenakan ini!”

__ADS_1


Tiba-tiba saja Arin memberikannya pakaian kemeja berwarna putih.


“Ah.. ya terima kasih.”


__ADS_2