TRIGGER

TRIGGER
BAB 3, Chapter 62. Berusaha menghibur


__ADS_3

“Apa kau sedang menghafal ?.”


Cindy berjalan dan duduk di sebelah Arin, dia membuka plastik yang di bawanya lalu menyimpan 2 bungkus sandwich dan minuman teh.


“Makan lah.”


“.….”


“Kamu belum makan iya kan ?, untuk tes selanjutnya ada baiknya mengisi perut dulu.”


Gadis itu berbicara dan mulai mengambil makanan dan memakan di sampingnya. Arin melihat, menutup bukunya dan bertanya.


“Apa mau mu ?”


“Tidak ada.”


Selagi memakan sandwich Cindy berbicara dan menatapnya.


“Hm,.. Anggap saja sebagai salah satu permintaan maafku.”


Arin menyimpan buku yang bawa di kursi dan mulai mengambil sandwich. Pada dasarnya dia adalah seorang yang baik hati, tidak pernah menolak permintaan orang lain yang menurutnya tidak mengganggu. Cindy melihat dan tersenyum.


“Gimana ujian tadi ?”


“Mudah.”


“Aku tidak mengerti kenapa orang sepintar dan berbakat sepertimu tidak berada di kelas A.”


“..….”


“Bukannya aku ingin ikut campur tapi hanya aneh saja.”


Arin menghabiskan makanan yang berada di mulutnya dan mulai berbicara.


“Apa kau senang saat seseorang memujimu ?”


“Mungkin ?”


“Semua pujian yang kamu dapatkan itu hanyalah ilusi yang tidak berguna.”


“.…..”


Arin mengambil teh lalu meminumnnya.


“Apa kau harusnya berada di kelas A dan menolaknya ?”


“Iya.”


“Tapi bagaimana caranya bukannya kelas diatur oleh pihak sekolah, dengan prestasimu kau pasti ditempatkan di sana.”


“Jika ditempatkan dikelas A, Aku akan pergi ke sekolah lain.”


“Wahhh… itu kalimat yang kamu katakan kepada mereka ?”


“Iya.”


Arin meminum teh menggunakan sedotan dan menatap ke langit. Setelah berbicara, mereka hanya diam dan tidak berbincang hingga menghabiskan makanan serta minuman. 5 menit kemudian Cindy berdiri lalu menatap kepadanya.


“Apa kalian masih bertengkar ?”


“.….”


Dia hanya menatap tanpa berbicara apapun.


“Secara garis besar, aku tau tentang masa lalu mu.”


“.…..”

__ADS_1


“Tante Amalia berbicara saat aku dan yang lainya makan malam di rumahmu.”


“.….”


“Tornado yang terjadi 2 hari kemarin adalah ulahmu kan ?”


“.….”


“Sebagai seseorang yang awalnya bermusuhan, aku tidak tau harus berbuat apa tapi apa kekuatan milikmu terbangkit 1 tahun yang lalu ?”


Cindy menatap lurus kearahnya.


Arin menyimpan sampah bekas makanan dan minuman mereka ke plastik dan berjalan menuju tempat sampah yang berada di dekat kursi. Dia berjalan perlahan ke hadapannya.


“Menurutmu ?”


“Entah kenapa aku memikirkan skenario yang sangat buruk di otakku saat mengetahui soal dirimu.”


Setelah mendengar cerita dari Amalia dan orang-orang dari apartemen star dia mencari tahu kejadian yang menghancurkan distrik perbelanjaan di kota Barat daya, entah kenapa dia merasakan sesuatu yang buruk dan sangat ingin menanyakan ini kepada Arin.


Arin berjalan menjauh dari Cindy, mendekati pagar pembatas yang mengarah ke belakang sekolah.


Dia sangat ingin mengatakan sesuatu tapi takut memperburuk suasana hati gadis di hadapannya.


Cindy merasa kalau Badai angin yang merusak kota Barat Daya sangat berhubungan dengan kuat dengan Arin.


(Setelah melihat video tersebar soal angin besar kemarin, aku merasa yakin kalau kejadian tahun lalu juga mungkin adalah perbuatannya di saat kekuatan miliknya bangkit dan mengamuk.)


“Arin apa mungkin… sahabatmu itu.. karenamu ?”


Dia kebingungan dan mengatakan hal yang tidak terlalu jelas.


Arin yang berdiri di dekat pagar pembatas menatap Cindy dari kejauhan.


“Iya.”


“HEY APA YANG KAU LAKUKAN ITU BERBAHAYA, INI LANTAI 4.”


Cindy berteriak lalu berlari. Gadis di hadapanya tanpa ragu melompat.


“ARIN.”


Dia mencoba meraih jaketnya tetapi tangannya tidak berhasil meraihnya. Cindy sangat panik dan melihat ke bawah tapi pemandangan di sana sangat mengejutkannya.


Arin yang melompat di sekitar tubuhnya berkumpul Angin dan saat 1 sampai 2 meter menuju tanah, Angin itu berkumpul di bawahnya dan membuatnya mendarat dengan sangat pelan. Dia berjalan seperti tidak terjadi apapun dan menuju kelas F.


“Haha.. haha.. haha.”


Cindy tertawa aneh melihat itu.


“Sial aku panik.”


Jantungnya berdebar dengan sangat cepat.


“Ku pikir dia akan bunuh diri.”


Dia terjatuh ke lantai dan memandang langit.


“Jika bisa melakukan hal seperti itu, kasih tau aku.”


Gadis itu terdiam dan menundukan kepalanya.


“Aku salah bicara, Aku ingin mengatakan kalau kematian sahabatnya itu bukan salah dia. Bagaimana ini ?, Ingin menghilang saja rasanya !!.”


Seluruh tubuhnya masih bergetar karena melihat seseorang melompat dari lantai 4, ini sangat mengejutkan dia.


------------------------------------

__ADS_1


Seluruh sekolah masih membicarakan mengenai pertandingan final antara SMA Barat melawan SMA Utara, tentu saja nama Arin menjadi sorotan mereka, Seorang wanita yang terkenal dingin dan tidak bisa berbicara ternyata sangat berbakat dan memiliki julukan Dewi yaitu Athena. Para fans lelakinya semakin banyak dan selalu membicarakannya di lingkungan sekolah. Akan tetapi ada sekelompok wanita yang sangat tidak menyukai dengan berita ini.


“Makin lama makin ngeselin banget si Ratu es ini.”


“Benar.”


“Apa-apan Dewi Athena, karena dia Prince memjauhi kita sangat menyebalkan.”


Mereka adalah Knight of Prince setelah menghina dan menyalahkan Cindy sekarang mereka memutuskan untuk mengganti ketuanya dan masih dalam tahap pemilihan. “Ku dengar sekarang Cindy malah dekat dengan Anak itu.”


“Sudah lah, yang penting bagaimana sekarang agar prince memaafkan kita.”


Para wanita itu berjalan sembari terus menerus menghina Arin dan Cindy sebagai pelampiasan amarah. Di depan mereka berdiri seseorang yang wajahnya tidak terlihat karena ditutupi oleh jaket yang dia kenakan. Gadis itu berjalan melewati mereka, salah satu gadis menabrak tubuhnya lalu terjatuh.


“Hey sialan kalau jalan lihat-lihat dong.”


Gadis yang menabrak Arin malah balik memarahi dia.


“PUNYA MATA GA SIH ?”


“KAMU GAK TAU SIAPA KITA YAH ?”


Mulai terjadi keributan karena Knight of Prince berteriak. Kalia melihat sebuah keributan dan menghampiri mereka.


“Jaket itu Arin kan ?”


Dia merasa akrab saat melihat jaket dari belakang dan mulai berlari kearah mereka.


“HEY DENGAR TIDAK JANGAN DIAM SAJA.”


Salah satu wanita melihat wajahnya dan mengamati.


“AH KAMU SI RATU ES ITU KAN.”


“OH JADI KAMU ?”


“SENGAJA CARI MASALAH DENGAN KITA YAH.”


“KAMU HARUSNYA SADAR DENGAN TEPATMU SENDIRI.”


Arin yang melihat itu berjalan mendekati wanita yang banyak bicara dan berdiri dan bertatap mata dengannya.


“BERISIK.”


Mata menyimpit, mulut yang terlihat cemberut membuat eskpresi terlihat menyeramkan, yang  membuat gadis itu diam dan mundur 1 langkah. Lalu dia berjalan menjauh dari mereka.


“HEY TUNGGU KITA BELUM SELESAI.”


Beberapa dari Knight of Prince berjalan mendekati Arin dan ingin menghentikan dia, tetapi saat ingin menyentuh tubuhnya, Angin berhebus lalu merobek pakaian yang mereka kenakan.


“AH APA YANG TERJADI.”


“WAJAHKU TIDAK.”


Pakaian mereka robek dan berusaha menutupi bagian tubuhnya serta wajah mereka mengeluarkan luka sayatan akibat senjata tajam.


Arin membalikan badannya dan menatap para gadis itu yang duduk di lantai, sedang berusaha menutupi tempat, pakaian yang robek.


“Lain kali jika bertemu di luar sekolah, Berhati-hatilah.”


Dia mengatakan itu dengan tersenyum, dan berjalan menjauhi mereka.


Kalia melihat adegan itu terkejut dan melihat ekspresi Arin saat ini.


(Apa yang terjadi, itu kekuatannya ?, yang lebih penting ekspresinya benar-benar menyeramkan.)


Dia berusaha menghentikan Para Knight of Prince, tetapi banyak sekali orang yang menghalanginya, saat dia sudah berhasil di depan dia melihat senyuman Arin.

__ADS_1


__ADS_2