
Terlihat seorang gadis sedang berlari menuju Rumah sakit barat, dia menyuruh Alvan pergi lebih dahulu untuk mengecek kondisi Arin. Karena dia tau kalau Pria itu lebih cepat darinya jika mengerahkan seluruh tenaganya.
“Tidak di sangka stamina milik Prince sangat hebat, Aku juga harus cepat.”
Maria berlari dengan seluruh tenaganya tanpa meperdulika apapun di sekitarnya.
Sesampainya di depan ruangan 608 dia langsung membuka pintu dan masuk.
“Apa kalian tidak apa apa ?”
Di sana terlihat 3 orang yang sedang berdiri.
“Akhirnya sampai juga.”
Gina memasang ekspresi kesal dan mendekat kearahnya.
“KENAPA BARU SAMPAI ?, ALVAN JUGA JANGAN MASUK LEWAT JENDELA.”
Gadis itu terlihat sangat marah.
Alvan yang mencemaskan kondisi Arin, menggunakan kekuatannya dia melompat-lompat di atas gedung. Setelah sampai di rumah sakit barat pria itu langsung menuju ruangan 608 lewat atap dan masuk lewat jendela yang terbuka.
Gina dan Arin yang melihat seorang pria tiba-tiba melompat ke dalam kamar terkejut.
“SAAT INI AKU BENAR-BENAR KESAL TAU.”
“Hahahaha.”
Arin melihat itu hanya tertawa memandanginya.
Setelah Gina cukup tenang, akhirnya Alvan menjelaskan situasi yang mereka hadapi saat ini.
“Wah benar juga baju kalian cukup kotor dan-, Maria terdapat beberapa noda darah di bajumu.”
“Ah sialan, harus cepat di cuci ini.”
Setelah mendengar percakapan mereka Arin memasang ekspresi kesal.
(Jadi mereka menyembunyikan fakta kalau kita sedang diincar!)
Handphone milik Alvan bergetar lalu dia mengangkatnya.
“Ah Cindy kau baik-baik saja ?”
“.….”
“Tentu, aku sudah ada di rumah sakit saat ini.”
__ADS_1
“.….”
“Ya kita akan bicarakan besok, jadi sebaiknya kamu menginap saja di apartemen Kalia untuk hari ini.”
Ia mematikan telepon itu lalu menyimpan kembali handphone ke dalam saku.
“Cindy ?.”
”Iya, sekarang dia sudah berada di apartemen Kalia.”
“Bagus lah.”
Setelah menjelaskan apa yang terjadi, Gina pergi mandi dan Maria mengganti bajunya untuk segera di cuci. Alvan duduk di sofa dan memperhatikan sekitarnya.
(Kak Maria, Kak Gina cepat.)
Dia menyadari kalau Arin saat ini menatap tajam kearahnya, dia memalingkan wajahnya karena takut dan kebingungan saat ini.
(Pasti banyak yang ingin dia tanyakan kan, entah kenapa menakutkan.)
“Prince.”
Mendengar namanya di panggil tubuhnya bergetar.
“Ya…yaaaa ?”
“Cek kamar Intan sekarang.”
Pria itu cukup tenang karena di perintahkan untuk mengecek kondisi dari temannya, dia langsung berdiri dan menuju kamar 695.
------------------------------------
Haqi dan Chanan sedang menaiki mobil menuju apartemen Star, setelah menunggu lebih dari 20 menit, akhirnya anggota shield datang dan membawa berandalan itu ke markasnya untuk dilakukan introgasi kepada. Mereka saat ini sedang diantarkan oleh salah satu anggotanya.
“Sial, kita bahkan tidak dapat mengetahui indentitas dari organisasi yang berusaha menculik Maria.”
“Mereka semua hanya orang-orang bodoh yang mudah diperdaya.”
Kedua orang itu cukup kesal dengan jawaban dari musuh yang sudah sadarkan diri. Mereka menjelaskan akan dijadikan anggota organisasi jika misi kali ini berhasil.
“Kalian berdua tenang lah, sudah bagus teman kalian selamat dan tidak terjadi masalah yang lebih besar.”
Orang yang mengendarai mobil mencoba menenangkannya.
“Sisanya biar dilanjutkan oleh shield saja, yang penting sekarang kita tau mereka, berkaitan dengan orang yang menyebarkan drugs belakangan ini.”
10 menit kemudian mobil sampai di depan apartemen Star.
__ADS_1
“Terima kasih.”
“Iya sama-sama, Kalian lebih baik jangan memaksakan diri.”
Setelah mengatakan itu mobil pergi meninggalkan mereka, Haqi dan Chanan berjalan menuju apartemen.
“Aku akan mencoba mencari tahu gerakan mereka melalui CCTV malam ini.”
“Kau tidak akan ke rumah sakit ?”
“Kita serahkan saja pada Maria dan Alvan.”
“Kalau gitu aku juga akan tidur, seluruh tubuhku sakit.”
Mereka berpisah dan masuk ke ruangannya masing-masing.
------------------------------------
Terlihat empat orang sedang duduk di dalam sebuah ruangan, salah satu orang sedang berbicara dengan seseorang menggunakan handphone.
“Sepertinya orang-orang itu telah gagal.”
“Benarkah ?”
“Sialan, sudah kuduga kita harus turun tangan sendiri.”
“Tenang lah ini masuk dalam rencanaku.”
Salah satu dari mereka terlihat tenang berbeda dengan ketiganya.
“Serangan kali ini hanya ancaman untuk mereka.”
“.….”
“Sekarang seharusnya mereka tau, kalau kita tidak dapat di remehkan dan mampu menggerakan orang-orang dengan jumlah yang banyak.”
“Tapi bukannya mereka nanti akan menjadi lebih waspada terhadap kita ?”
“Justru karena itu, saat mereka sedang sibuk mencari kita, kita akan mengambil kesempatan ini untuk membuat orang-orang bodoh seperti kelompok tadi menyebarkan obat peningkat kekuatan ini.”
“Apakah bos akan mengijinkan hal itu ?”
“Yang Ketua inginkan adalah hasil dari penelitian dari obat inikan hahaha.”
Sembari melemparkan botol berisi beberapa pil obat ke atas.
“.…”
__ADS_1
“Kita juga harus membalaskan dendam kepada orang-orang itu lain kali.”
Keempat orang itu setuju dengan rencara ini dan memulai kembali pergerakan mereka di malam hari.