TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 87. persiapan 2


__ADS_3

“Jadi kenapa kak Maria memanggil kami ke sini ?”


Alvan bertanya.


“Bukannya Kalian sendiri yang bilang, kalau ingin melihat tempat penelitianku ?”


“Benar sih.”


“Haha tenang saja, tadinya aku ingin meminta bantuan Haqi serta Chanan, tapi mereka sibuk dan bisa datang nanti sore, kalau Gina kan harus merawat Arin. Jadi kalian yang sudah libur harus membantuku menyapkan semuanya.”


“Tapi apakah kami bisa ?”


“Tenang saja aku akan mengarahkan kalian, Karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan jadi ayo cepat.”


Setelah itu Maria memberi arahan kepada ketiga orang itu untuk membantunya menyiapkan healingpod, mereka terlihat bersemangat karena baru pertama kali melihat benda-benda dihadapan mereka.


------------------------------------


Seorang gadis yang berbaring di kasur sedang menatap kearah luar jendela seakan dia sedang memikirkan sesuatu, Sudah lebih dari 2 jam gadis itu hanya diam.


“Intan dari tadi tidak bergerak sama sekali.”


“Di panggil juga ga ngedenger May, yang penting di mau makan.”


Maya dan Almya memandangi gadis itu.


(Awalnya ingin berbaikan, tapi malah ini yang terjadi, tentu saja dia banyak pikiran.)

__ADS_1


“Ngomong-ngomong-.”


Almya bertanya kepada Maya yang sedang memakan sebuah cemilan.


“Bukannya Cindy dan Alvan terlalu baik kepada Intan ?”


“Kenapa gitu ?”


”Mereka bilang mau menggunakan healingpod untuk menyembuhkan anak ini kan.”


“.….”


“Aku pernah membaca artikel, di sana mengatakan biayanya kurang lebih 50jt sekali pakai.”


Almya tambak bingung saat ini, tentu saja dia sangat ingin melihat adiknya cepat pulih, tapi menggunakan uang orang lain dengan nominal yang besar membuat dia sedikit ragu.


Almya yang tampak bingung menanyakan niat mereka, dia terkejut karena kedua orang itu berkata akan membawa Arin dan Intan untuk di obati menggunakan Healingpod agar penyembuhannya cepat. Intan yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, tentu saja kakaknya juga menolak karena tidak ingin merepotkan mereka lebih jauh dari ini. Tapi dengan tegas Cindy mengatakan kalau dia sudah membayar semua biayanya dan akan dilakukan hari sabtu nanti.


“Aku berbuat seperti ini bukan berarti tidak ada bayarannya.”


Dengan ekspresi agak marah Cindy berbicara.


“Jika kamu sudah sembuh, aku harap kamu dapat berbaikan dengan Arin, Itulah harga yang harus kau bayar.”


Setelah mengatakan itu Cindy pergi meninggalkan ruangan bersama Alvan.


“Tapi ya Cindy itu keras kepala loh kak, lebih baik terima aja, lagian dia punya banyak uangkan.”

__ADS_1


Maya berbicara sambil terus memakan cemilan.


“Tapi apa yang harus aku lakukan untuk membalas itu ?, biayanya juga terlalu mahal untuk kami.”


Almya menyenderkan badannya ke sofa lalu menatap atap sambil menyentuh kepalanya.


“Gadis itu sudah bilang kan ?”


“.…..”


“Bayarannya adalah Intan dan Arin yang berbaikan.”


“Tapi-.”


”Kalau ditolak juga tidak sopan kak, soalnya mereka sudah menyiapkan semuanya.”


Maya dari awal sudah tau kalau Cindy dan Alvan akan menggunakan healingpod untuk Intan dan Arin. Oleh karena itu saat ini dia berusaha meyakinkan Almya dan Intan untuk menerima permintaan keduanya.


“Baiklah akan aku pikirkan dulu.”


Mereka berdua melihat Intan memandangi jendela.


(Kenapa malah jadi seperti ini.)


Intan saat ini sedang mengingat kembali kenangannnya. Kenangan saat mereka masih SMP, dimana Arin, Nia dan seluruh anggota basket berkumpul dan bercanda bersama. Dia mengeluarkan sedikir air mata. Sampai saat ini dia masih tidak percaya Nia sudah meninggal.


(Kalau aku tidak bertemu dengan Citra saat itu, Kalau Citra tidak mengatakan kepadaku kalau Nia sudah tidak ada.)

__ADS_1


Intan menundukan kepalanya lalu menangis, karena mengingat kembali ingatan yang menyenangkan bersama gadis itu.


__ADS_2