
Lapangan pertama sudah dipenuhi dengan penonton, Maria, Chanan, Haqi dan Alvan duduk bersama dan mengamati para pemain yang sedang melakukan pemanasan, sedangkan Cindy, Kalia dan Daniel sedang pergi untuk mengecek urang pengawas.
Arin sedang melakukan three poin shoot, dia menarik perhatian para penonton karena menggunakan jaket dan menutupi wajahnya dengan hodie.
Pertandingan sebentar lagi akan di mulai. Terlihat kedua tim sedang berkumpul dan melakukan diskusi bersama.
“Aku tidak akan bermain di babak pertama.”
Setelah mengatakan itu Arin duduk di kursi cadangan. Kali ini Kirana, Intan dan Lana berdiri di lapangan bersama mereka, karena dari awal nama mereka terdaftar sebagai pemain. Akan tetapi Kana masih saja tidak mengizinkan mereka untuk bermain. Kirana merasa bertanggung jawab sebagai kapten dan bersih keras ingin ikut dalam pertandingan, dan diizinkan bermain tetapi pada quarter terakhir.
Rencana awal Kana ingin membuat Arin bermain dari babak pertama. Tapi karena pernyataan darinya gadis itu jadi tidak bisa melakukan apapun karena dari awal Arin bukanlah Klub basket, takutnya dia malah pergi dari pertandingan dan itu akan merugikan SMA Barat.
“Baiklah karena Arin tidak akan bermain dibabak pertama Riana, Maya, Naila, Sheila dan Mika.”
Bel pertandingan dibunyikan para pemain berkumpul di lapangan dan saling bersalaman, kemudian mereka semua bersiap dalam posisinya Mika akan melakukan Rebound untuk memperebutkan bola pertama. Lalu wasit melemparkan bola ke atas dan pertandingan dimulai.
Mika berhasil menepis bola dan melemparkannya kearah Riana, dia melakukan dribble akan tetapi pemain dari sekolah Utara berhasil menghentikan gerakkannya. dia mengoper kepada Maya. Saat Mika dan Naila berada di bawah ring. Dia langsung melakukan Three poin shoot. Bola memantul dan tidak masuk. Kedua orang itu melompat dan memperebutkan bola dengan pemain lawan. Naila berhasil merebutnya dan melakukan fake pass, saat musuh lengah dia langsung melakukan Shooting dan berhasil mendapatkan angka pertama.
Seluruh penonton berteriak, Para Murid dari SMA Barat mulai mendukung mereka dengan kompak.
“Bagus juga anak itu haha.”
Maria tertawa.
“Tapi tidak sebagus tipuan yang Arin lakukan.”
Haqi membandingannya.
“Asal kalian tau Arin itu sangat bagus dalam basket, tidak semua orang bisa melakukan itu meski dengan berlatih sangat keras, dan lebih mengerikannya dia sudah memiliki bakat itu, berlatih terus menerus. itulah yang membuatnya sangat bagus mahir.”
Chanan menambahkan kesimpulan yang dia dapatkan.
“Hahaha sungguh hebat adikku itu.”
“Sekarang giliran musuh amatilah.”
Kali ini giliran tim lawan yang melakukan serangan mereka menyerang dengan perlahan. Dan sebisa mungkin tidak membuat kesalahan. Mereka saling melakukan Pasing dan membuat Naila lengah yang menyebabkan musuh mendapatkan poin.
------------------------------------
Cindy dan Kalia berusaha mengintip ruang pengawas, Daniel berada cukup jauh dari mereka mengawasi sekitar. Daerah ini cukup sepi karena hanya para staf panitia yang biasanya ke sini.
“Gimana Cin.”
Mereka mengintip melalui celah Kaca yang berada di pintu masuk karena Jendela di pasang semacam Striker buram jadi tidak bisa terlihat.
“Iya semua monitor menyala semua dan terlihat mereka melakukan pekerjaanya.”
“Jadi kemungkinan besar seperti yang Arin duga ya.”
“Benar kita harus hati-hati.”
Setelah mengatakan itu tanpa sengaja Cindy terpeleset karena kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan tangannya saat ini masih dibalut oleh perban.
__ADS_1
“Cindy kamu tidak apa-apa.”
“Tidak lebih dari itu mereka pasti mendengar kita.”
Pintu ruangan pengawas tiba-tiba terbuka.
“Hey kalian jangan berisik di tempat ini.”
“Maafkan kami.”
Mereka berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat mecurigakan, Daniel melihat mereka dari jauh dan mencemaskannya.
“Ngapain kalian di sini ?, wah kau penuh dengan perban apa tidak apa-apa ?”
Pria itu menjulurkan tangannya dan membantu Cindy berdiri.”
“Terima kasih banyak.”
“Sama-sama, jadi kenapa kalian di sini ?”
“Itu…. Kami-.”
“Kami sedang mencari toilet, tempat ini luas jadi kami sangat kebingungan bisa kah beritahu kami lokasinya ada dimana ?”
Kalia memotong pembicaraan Cindy karena dia tidak berbicara dengan lancar.
“Ah tentu saja kalian tinggal lurus dan nanti belok kanan.”
Karena pintu terbuka dengan lebar Kalia bisa melihat isi seluruh ruangan dia tidak melepaskan kesempatan ini dan memperhatikan semuanya.
“Hati-hati jangan sampai terjatuh lagi.”
Kedua gadis itu pergi menjauh dengan memasang wajah panik. Pria itu masuk kembali ke dalam ruangan dan menutup pintu.
“Sudah kubilang kalian berdua harus berhati-hati.”
Daniel menghampiri mereka dan berjalan menjauh dari lokasi itu.
“Maaf-maaf kaki ku tiba-tiba sakit lagi.”
“Tidak Cin, berkatmu aku dapat meliat seluruh ruangan itu dengan jelas, Semua orang benar-benar sedang mengawasi pertandingan, dan kurasa seluruh peralatan di sana semuanya menyala.”
Kalia tersenyum melihat temannya yang melakukan kecerobohan.
“Huhu siapa dulu dong.”
“Di puji malah gitu ngeselin ini anak.”
Daniel merasa kesal.
“Apa kamu bilang ?”
Cindy berjalan ke depannya.
__ADS_1
“Tidak-tidak.”
“Sudah lah, kalian berdua kita sebaiknya kembali secepatnya dan memberitahu mereka semua.”
“Baiklah, Karena kemungkinan besar semua staf berada dipihak sekolah Utara.”
“Kita harus hati-hati.”
Setelah mengatakan itu mereka datang menuju lapangan 1 dimana lokasi pertandingan sedang berlangsung.
------------------------------------
Sesampainya di sana terlihat Para murid yang sedang memberikan dukungan terlihat senang. Karena Quarter pertama dimenangkan oleh SMA barat dengan skor 18 vs 10 poin.
“Mereka menang.”
“Baguslah.”
Ketiga orang itu datang menghampiri Alvan yang terlihat sedang fokus menatap kearah pelatih Tim lawan.
“Al kami kembali.”
“Jadi bagaimana.”
“Kemungkinan besar seperti dugaan Arin.”
Kalia memberitahu kepada Alvan, Maria, Chanan Dan Haqi.
(Tidak kusangka kalau staf yang berada di gedung ini melakukan kecurangan apa mereka tidak takut kalau Shield akan menangkap mereka, aku harus memberitahu ini kepada ketua, kurasa aku harus melihat para staf nanti dan mencari data mereka.)
Chanan memasang wajah serius setelah mendengar penjelasan.
“Tapi bukan kah bagus mereka menang di babak pertama ?”
Daniel melihat papan skor.
“Belum tentu, karena mereka belum melakukan sulap itu.”
Maria memasang mimik kesal dan melihat kearah kursi cadangan tim lawan. Haqi memegangi kepalanya dan menunduk ke tanah.
“Haqi kenapa kamu ?”
“Tidak apa-apa van, aku hanya menggunakan kekuatanku untuk melihat beberapa menit kedepan, dan terlalu banyak yang terlihat, dan ini adalah efek sampingnya.”
Ketika dia terlalu banyak menggunakan prekognisi Haqi akan merasa pusing, dan saat dia melihat masa depan yang melebihi kekuatannya kepalanya akan sakit.
“Kau tahu masa depan itu tidak hanya satu, banyak sekali cabangnya dan sangat sulit untuk menggunakan kekuatan ini.”
“Seperti Dunia pararel kan ?, ada dimana aku yang menjadi Rank S seperti sekarang, tetapi di dunia itu aku tidak menjadi siapa-siapa ?”
“Benar, Dan sepertinya Arin akan bermain dipertengahan Babak ke dua atau awal babak ketiga.”
Dia terus memegangi kepalanya.
__ADS_1
“Sepertinya SMA Barat akan terdesak oleh mereka.”