TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 18. Amarah dari singa yang tertidur


__ADS_3

“Polisi kesulitan mencari para pelaku yang menyerang terhadap siswa dan siswi dari SMA barat, seluruh CCTV di lokasi kejadian semuanya mati terkena EMP .kami mendapatkan laporan bahwa kemarin sore seorang siswi ditemukan di dekat pusat perbelajaan dengan penuh luka.”


Electromagnectic pluse adalah ledakan pendek radiasi elektromagnetik, menggangu bahkan merusak peralatan elektronik.


“Wah hati-hati di jalan ya Rin ada lagi korban.”


“Ya.”


“Semoga saja para pelaku cepat ditangkap.”


Terlihat Arin yang sudah memakai pakaian sekolah berjalan menuju pintu keluar


“Kalau gitu aku pergi dulu.”


“Hati hati ya.”


Dia pergi menuju sekolah.


------------------------------------


Sesampainya di sekolah seperti biasa dia mebersihkan papan tulis dan menyapu kelas. setelah itu dia duduk di kursinya dan membaca buku. 30 menit kemudian datang seorang gadis dan menyapanya.


“Selamat pagi.”


“Selamat pagi.”


Dia spontan menjawab salam itu. tetapi setelah melihat di sana hanya ada Maya sendirian.


“Mana Intan ?.”


“Gak tau, pagi juga ga ikut latihan.”


Setelah mengatakan itu dia pergi menuju kursinya. Para siswa mulai berdatangan ke kelas. Bel tanda pelarajan pun berbunyi.


Wali kelasnya datang dan mengumungkan sesuatu.


“Intan akan izin sekolah untuk beberapa hari ?.”


“Kenapa bu ?.”


Kelas menjadi ribut mendengar itu.


“Tidak apa-apa, hanya demam ringan.”


Tiba-tiba dari belakang kelas terdengar suara yang tidak biasa mereka dengar bertanya.


“Jangan bohong, alasanya ?”


Arin bertanya kepada wali kelas. Dia merasakan perasaan yang sangat tidak enak. Karena mendengar berita pagi ini, seluruh murid menatap kearahnya.


“Tidak apa-apa ko sungguh.”


“Kami adalah teman sekelasnya jadi wajar mengetahui alasanya.”


“Benar beri tahu kami alasannya.”


“Benar.”


Maya pun mengatakan hal yang sama kepada guru itu dan teman-teman lainya ikut berbicara.


“Baiklah, Baiklah tapi jangan sampai kesebar ya, nanti jadi panik !.”


Guru itu menghela nafas dan menjelaskan situasi sebenarnya.


“Kemarin sore pihak sekolah menerima telepon dari petugas keamanan katanya seorang siswi dari sekolah kita diserang. Pagi ini ibu diberi tahu kalau itu adalah Intan.”


“Eh ?.”


“Wah asli ?.”


“Eh Intan ?.”


“Wah seriusan ada korban dari kelas kita.”


Setelah mendengar ini Arin memasang ekspresi sangat marah, hal yang sama terjadi pada Maya.


Dia berdiri dan memakai tasnya kembali lalu melangkah menuju pintu dan menatap wali kelasnya. Sesaat ditatap dengan tajam oleh Arin guru itu menjadi sangat gugup.


“Aku izin sakit .”


“Ahh.. ya … hati hati di jalan ..”


Sejak pertama bertemu entah kenapa wali kelasnya merasa takut. Lalu Arin keluar dari pintu dan meninggalkan kelas. Semua orang di dalam kelas diam hanya melihat kecuali satu orang.


“OII ARIN MAU KEMANA.”


Maya membawa tas dan pergi mengikutinya.


------------------------------------


“Woi Arin tunggu mau kemana ?.”


“Mencari Intan.”


“Kau tau dimana dia ?”


Dia berlari mengikut dari belakang.


“Tidak .”

__ADS_1


“Tunggu aku akan mencoba menghubunginya.”


Dia mengambil handphone yang berada di tas dan mencoba menghubungi Intan. Akan tetapi tidak diangkat sama sekali.


“Tidak ada jawaban sama sekali bagaimana ini.”


“Dia berada di pusat rumah sakit barat.”


“Kau tau ?.”


“Mereka semua di rawat di sana.”


“Tapi bagaimana dengan kamarnya.”


“Ikuti, jika kau ingin bertemu dengan Intan.”


Arin kembali berjalan dan Maya mengikutinya dari belakang.


------------------------------------


Sesampainya di sana Maya mengajaknya untuk bertanya kepada resepsionis.


“Lebih baik tanya dulu kepada resepsi- , Hey tungggu bagaimana jika salah woii.”


Tetapi Arin tidak peduli  dan masuk ke dalam lift langsung menuju ke kamar ruangan 405.


“Beneran ada di kamar ini ?”


Tanpa mempedulikan Maya langsung membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Di dalam sana terlihat dua orang wanita, salah satunya berbaring di tempat tidur. Kedua orang itu melihat Arin dan menyapanya.


“Ah Arin ko bisa di sini ?.”


“.……”


“Lah beneran ada di kamar ini.”


Maya mengikutinya masuk dan terkejut melihat Intan sedang berbaring di tempat tidur.


“Woi woi, kalian berdua bukanya sekarang jam sekolah kenapa ada di sini ?.”


“Wah pelatih iblis.”


“HAAA ?”


Kemudian dia bersembunyi di belakang Arin.


“Sudah lah.”


Kemudian mereka memeriksa keadaan Intan bahunya terkilir, luka bakar di tangan kanan, luka gores bagian kaki dan lengan kanannya patah.


“SETELAH KEMBALI KE SEKOLAH AKU PASTI AKAN MEMARAHI MEREKA SEMUA DAN MEMBUAT LATIHAN EKSTRA.”


Saat ini dia sangat marah mendengar anggota dari Ekskul basket meninggalkan Intan sendiran kemarin sore.


“Pelatih ini bukan salah siapa pun.”


“Tidak usah begitu Intan, AKU PASTI AKAN MEMBUAT MEREKA BERLATIH DI NERAKA HAHAHHAA.”


Maya melihat itu dan ketakutan menatap pelatihnya.


“Tapi masalah ya, padahal minggu depan pertandingan akan segera di mulai, dan sekarang 3 pemain inti tidak dapat ikut bermain.”


Kana kebingungan dan menggaruk kepalanya


“Eh tunggu pelatih maksud mu ?.”


“Ah iya Kirana dan Lana saat ini di rawat juga di rumah sakit ini.”


“Jangan jangan mereka juga di serang ?.”


“Kalau Kirana iya, tapi Lana dia terpeleset di tangga sekolah huuuh.”


“Berarti saat ini hanya ada 8 pemain, sepertinya pertandingan kali ini akan sulit.”


“Maafkan aku.”


Tiba tiba Intan meminta maaf kepada semuanya


“Bukan berarti aku menyalahkan mu ko, cuman setidaknya aku ingin 1 pemain kuat lagi tapi yah sepertinya kali ini kita pasrah saja.”


Saat pelatih memasang wajah kecewa tiba tiba intan memberi sebuah saran


“Hey bagaimana jika Arin menggantikanku bermain ?.”


Semua orang di dalam ruangan memandang kearahnya


“Ah gadis ini ya.”


“Apa… .Arin…. ?


“Hey tan.”


“Arin itu adalah salah satu pemain favorit saat SMP, bahkan lebih baik dariku .”


Dia menjelaskan kepada Maya.


“Ya aku tau. saat Aku melihat anak ini masuk ke sekolah aku sudah mengundang nya untuk masuk klub basket tapi dia menolak.”


“Aku sudah lama tidak bermain basket jadi tidak mungkin.”

__ADS_1


Kana memegang tangan Arin dan memohon kepadanya.


“Setidaknya menjadi pemain cadangan, jika terjadi sesuatu-, aku mohon kepadamu.”


“Bukanya pendaftaran sudah ditutup ?.”


“Jika aku menjelaskan apa yang terjadi, pasti diberi keringanan.”


“Iya setidaknya jadi pemain cadangan. Aku mohon padamu.”


Intan memohon dan menundukan kepalanya. Maya hanya diam berdiri di sampingnya.


“BAIKLAH.. karena ini permintaanmu, tapi kali ini saja, dan jangan berharap karena sudah lebih dari 1 tahun aku tidak memegang bola basket.”


“YOOSHH, karena kau sudah setuju aku akan langsung mengurus data-datanya.”


Pelatih langsung lari keluar ruangan dan kembali kekelas untuk mengurus dokumen yang diperlukan.


Arin menghela nafasnya dan memasang wajah dengan sangat serius.


“Baiklah karena aku sudah menyetujui permintaanmu sekarang jawab pertanyaan dariku tanpa ada kebohongan.”


Suasana di ruangan menjadi sangat tegang.


“Siapa yang melakukan itu kepadamu ?, apakah Knight of prince ?.”


“APA,. Apa itu benar ?.”


Maya mendekati Intan dan ikut mengajukan pertanyaan.


“Maaf tapi bukan mereka pelakunya.”


Mereka berdua menyimpitkan matanya dan mendengarkan.


“Jadi siapa ?.”


“Dari pakaiannya mungkin mereka adalah seseorang dari sekolah Utara.”


“Kau melihatnya ?.”


“Ya aku menyerangnya dan dia keluar, tingginya sekitar 180 cm dan menggunakan telekinesis dan sangat kuat. Kemungkinan Rank A.”


“Apa kau membicarakan ini kepada penyidik ?.”


Maya bertanya.


“Ya tapi sepertinya akan sulit karena tidak ada bukti yang kuat.”


“Hanya satu orang ?.”


“Tidak sepertinya ada 3 atau lebih, dan yang menyerang ku adalah pengguna telekinesis dan pyrokinesis.”


Setelah itu dia menghela nafas panjang dan melanjutkan ceritanya.


“Mungkin salah satu dari mereka memiliki kekuatan Mind control, atau sesuatu yang dapat mengendalikan seseorang.”


“Apa maksudmu ?.”


“Saat penyerangan terjadi, tempat dimana aku berada benar benar tidak ada orang, padahal biasanya tempat itu, tidak pernah sesepi itu.”


“Kau bilang dulu saat kita pulang latihan ada beberapa orang yang mengawasikan ?.”


“Ya, mungkin saat itu mereka mengawasi kita dan mengecek setiap orang, dan saat melihat aku tidak ada di rombongan itu, mereka langsung bersiap siap, karena serangannya sangat terkoordinasi.”


“Terima kasih sudah menceritakan.”


“Baiklah ternyata bukan para gadis sialan itu.”


Setelah itu mereka pun mengobrol cukup lama di ruangan itu.


------------------------------------


Telihat dua orang gadis  yang sedang berjalan di lorong rumah sakit menuju keluar. Arin masang wajah sangat marah saat ini, para perawat dan pengunjung yang melihat seperti ketakutan kepadanya. Maya di belakangnya menyadari sesuatu yang aneh kepadanya hari ini dan saat mereka sampai di luar dia bertanya.


“Apa yang akan kau lakukan ?.”


“Entahlah .”


“Hmmm.”


“.…..”


“Dengan raut wajah seperti itu, jika orang lain melihatnya mungkin akan melarikan diri. aku punya pertanyaan padamu Rin.”


Arin menatap Maya yang sedang berbicara.


“..….”


“Apa kau seorang Trigger ?.”


“Kenapa kau berpikir seperti itu ?.”


“Ya ada beberapa alasan.  Hari ini aku yakin kalau itu benar, tapi aku tidak tau kenapa kau menyembunyikan itu.”


“Cepat atau lambat kau akan mengetahuinya.”


Setelah berbicara kepada Maya dia berjalan meninggalkanya.


(Merepotkan sekali anak ini.)

__ADS_1


__ADS_2