TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 5. Kesamaan dalam penyerangan


__ADS_3

“Terjadi penyerangan terhadap beberapa siswa dari SMA Barat. Para siswa yang terluka saat ini tengah dirawat Di rumah sakit setempat. Menurut laporan lebih dari 20 siswa dan siswi. Kemarin malam sekitar jam 20.00 ditemukan seorang pemuda tergeletak di taman Di kota barat dengan keadaan tragis berlumuran darah. Polisi dan penegak hukum setempat mulai mengambil langkah untuk menyelidiki kasus ini. Dimohon untuk para warga dan siswa untuk tetap berhati-hati dan diharapkan untuk mengurangi keluar sendiri saat malam hari.”


Arin dan ibunya sedang makan pagi sembari medengar berita ditelevisi.


“Sampai masuk tv loh, taman dekat rumah kita kan itu, hati-hati Rin, kamu sering keluar malem untuk belanja makanan di mini market dekat taman itu kan ?.”


“Ya aku akan hati-hati !”


“Ibu suruh Alvan bareng kamu aja ya ?”


“Apa pun selain itu.”


Dengan wajah kecewa Amalia pasrah dan menurunkan bahunya.


“Kalau begitu aku berangkat dulu bu.”


“Ya hati-hati.”


Arin mengambil tas dan berangkat menuju ke sekolah.


------------------------------------


Di  depan gerbang sekolah berkumpul reporter yang sedang bertanya ke sejumlah siswa. Beberapa dari mereka tengah diwawancari. Berbagai reaksi dapat terlihat ada yang menganggap ini adalah lelucon ada juga yang menganggap ini serius dan ketakutan.


Seperti tidak peduli dengan semua ini Arin berjalan melewati mereka semua dengan tenang dan menuju ke kelas, para Siswa dan siswi di kelas pun berdiskusi tentang penyerangan tersebut. Ia menyimpan tasnya dan duduk.


“Woi bukannya makin parah. Kapten dari tim basket pria sekarang masih belum siuman loh.”


“Ya , aku jadi sedikit takut pulang sendiri.”


“Gimana kalau kita pulang bersama.”


“Ya lebih baik setiap orang pulang bersama. Jangan sampai sendirian serta hidari tempat sepi. Karena kesamaan dari penyerangan ini semua murid sedang sendirian di tempat sepi.”


Yang memberi penjelasan kepada orang di kelas adalah seorang gadis bernama Devina. Dia adalah ketua kelas dari kelas F dan tergabung dalam anggota komite disiplin.


“Pagi Rin.”


Ada dua orang yang mendekatinya sembari menyapanya.


“Pagi.”


“Sebaiknya kamu hati-hati, karena pulang dan pergi sekolah sendirian kan !”


“Ya itu benar.”


Sambil menghela nafas Arin pun menjawab.


“Huuhh, yang  berhati-hati itu kalian.”


“Hah ?.”


Dengan terkejut mereka melihat.


“Apa maksudkmu ?”


“Karena kalian tidak menyadarinya. Ada kesamaan dari penyerangan ini !”


“Kalau itu kami juga tau. Mereka yang sendirian dan di tempat yang tidak ada orang iya kan ?”


“Sepertinya kalian tidak menyadarinya  ?”


Intan dan Maya melihat kearah Arin dengan serius dan beberapa siswa yang mengobrol tadi mendengar ucapannya dan mulai memperhatikan percakapan ketiganya.


“Ya tidak salah kalau mereka diserang di tempat sepi dan sedang sendirian. Tapi kalian melewatkan hal yang sangat penting.”


Dengan santai dia menjelaskan.


“Apa itu ?.”


Keduanya berbicara bersamaan dan memasang ekspresi penasaran.


“Mereka semua adalah orang yang berprestasi dalam kegiatan sekolah.”


Setiap orang yang mendengar ucapanya diam dan memasang muka serius.


“Bukannya sebentar lagi akan ada pertandingan antar sekolah ?. Seluruh korban adalah mereka yang menjadi wakil dari sekolah kita.”


Sambil menatap Arin, Intan berwajah serius dan menelan ludahnya.


“Yang harus berhati-hati adalah kalian. Karena menjadi wakil dalam pertadingan basket !”


Dengan wajah santai dan tidak peduli Arin menjawab pertanyaan mereka berdua.


“Kalau dipikir-pikir sepertinya ada benarnya juga.”


Devina yang mendengar percakapan ketiganya datang menghampiri mereka.


“Apa yang kau katakan itu benar ?.” Tangan kanannya menyentuh meja Arin.


“Mana ku tahu.”


“Ehh…?.” Dia terkejut mendengar jawaban Arin

__ADS_1


“Kau anggota komite disiplinkan ketua kelas ?. Kau bisa cek sendiri, ini hanya instingku !”


“Huuuuh…  baiklah aku akan mengeceknya. Terima kasih atas infonya.”


Setelah itu Devina segera pergi menuju ruang guru untuk mengecek informasi yang diberikan.


“Jadi hati-hatilah Tan.”


“Huhu, baiklah tapi tenanglah lagi pula aku itu Rank B loh.”


“Kau tau ?” Arin menoleh dan menatapnya.


“Jika ini adalah sebuah cerita kau pasti akan mati duluan.”


“Iya Intan, itu adalah ucapan kematian tau.”


Arin dan Maya Membalas ucapan intan dengan mengejek.


Ting, Tong….


suara bel tanda masuk sekolah telah dimulai, para siswa dan siswi duduk ke bangku masing-masing dan menunggu guru datang.


------------------------------------


Waktu menunjukan pukul 09.30 sudah satu setengah jam lebih tapi guru tidak kunjung datang. Para siswa mengobrol satu sama lain.


“Kepada seluruh ketua kelas mohon segera berkumpul di ruang guru sekarang”


Suara pengumuman dari speaker sekolah terdengar. Terjadi keributan di kelas F karena Devina tidak kunjung kembali setelah dia pergi menuju ruang guru.


“Pasti ada sesuatukan ?”


“Iya ketua kelas dari tadi tidak kembali.”


“Dan sekarang seluruh perwakilan kelas dipanggil keruang guru loh.”


“Kayanya bener deh yang diserang itu siswa yang mewakili sekolah kita.”


Beberapa siswa mulai berdiskusi tentang apa yang dibicarakan oleh Arin. 30 menit kemudian ketua kelas kembali, dan berjalan ke depan kelas lalu mengumumkan sesuatu.


“Hari ini sekolah diliburkan dulu.”


“WOOOOOOOOOAAAAAAHHHHH”


Seketika seisi kelas berteriak kegirangan dan beberapa orang melompat-lompat.


“TENANG.”


Devina memukul meja dan berusaha menenangkan mereka.


Dengan instruksi darinya para siswa merapihkan meja dan mulai meninggalkan kelas. lalu dia menghampiri Arin.


“Terimakasih atas informasinya. Dengan ini pelaku mungkin bisa tertangkap.”


“…….”


“….…”


“Huuuh.. Semoga saja.”


Setelah itu ketua kelas pergi meninggalkan kelas. Tetapi dia tidak pulang karena anggota osis dan komite disiplin berkumpul untuk mendiskusikan bagaimana cara menangani masalah penyerangan terhadap murid dari sekolah barat.


“Rin langsung pulang ?.”


Intan dan Maya menghampiri Arin. Kemudian mereka berjalan bersama keluar dari kelas.


“Ya.”


“Enaknya, kami harus kumpul ekskul dan berlatih sampai sore.”


“Bukannya diliburkan ?.”


“Tidak pelatih mengirim pesan di grup katanya pakai waktu ini untuk berlatih.”


“Ya pelatih sialan, ingin sekali aku memukulnya sekali.”


“Kalau gitu aku dulu ya.”


“Ya hati-hati.”


Dengan begitu Arin pergi meninggalkan mereka berdua. Dan keduanya pergi menuju ruang klub.


------------------------------------


Setelah mendapat laporan dari Devina. Para guru langsung memeriksa data terkait korban penyerangan, dan terbukti benar bahwa mereka semua adalah orang yang terdaftar sebagai perwakilan dari SMA barat. Oleh karena itu guru, Osis, dan Komite Disiplin mengadakan rapat Untuk mendiskusikan bagaimana mereka untuk mencegah hal ini terjadi lagi.


Dari hasil rapat para guru. Setiap anggota Osis dan Komite Disiplin yang memiliki Rank C sampai A, akan berpatroli mulai dari pulang sekolah hingga jam 6 sore di sekitar lingkungan sekolah dan tempat terjadinya penyerangan. Dibagi menjadi 10 grup setiap grup berisi 4 orang.


Setelah selesai rapat dan pembagian grup Devina dan 3 anggota lainya mulai mengelili sekolah. Mereka melihat masih banyak siswa yang berada di lingkungan sekolah dan menyuruh mereka pulang. Ada yang protes tetapi mereka takut saat anggota lainya ikut memarahi para siswa itu.


Di dalam gedung olahraga terdengar suara para siswa dan siswi yang sedang latihan mulai dari ekskul badminton, voli, dan basket. Devina dan anggotanya pun datang menyapa mereka dan memberitahu peringatan agar berhati-hati saat pulang nanti. Dari belakang ada dua orang yang menghapiri dia dan menyapa.


“Yo.. ketua kelas.”

__ADS_1


“Oh Maya, Intan.”


“Sedang apa di sini, patroli ?.”


“Ya, karena kalian berdua juga adalah perwakilan dari ekskul basket kalian harus berhati-hati.”


“Jadi apa yang dikatakan oleh Arin itu benar ya ?.”


Maya bertanya.


“Iya semuanya adalah perwakilan dari sekolah kita.”


“Kita harus berhati-hati.”


“Jangan sampai pulang sendirian dan hindari tempat sepi.”


“Siap ketua.”


Keduanya menjawab secara bersamaan.


“Kalau begitu aku akan melanjutkan patrolinya, kalian semangat latihannya dah.”


“Dadah”.


Ketiganya saling melambaikan tangan, Devina dan anggota disiplin lainya mulai berkeliling kembali. Intan dan Maya mulai berlatih kembali.


------------------------------------


Suasana gedung olahraga mulai sepi hanya tersisa klub basket yang sedang mengumpulkan bola untuk disimpan kembali kedalam gudang penyimpanan. Itan mengambil dua bola dan menyimpanya ke dalam keranjang yang sudah penuh terisi dengan bola basket. Kemudian iya mendorong keranjang bola itu masuk ke dalam gudang penyimpanan yang berada di pojok gedung.


“Intan ayo keburu gelap loh.”


“Ya tunggu.”


Maya dan anggota ekskul lainya memanggil Intan, setelah itu dia keluar dari ruangan dan menutup pintu lalu menguncinya, lalu mereka pergi ke ruang ganti untuk mandi dan mengganti baju.


Sekolah barat memiliki ruang mandi khusus untuk kegiatan setelah berolahraga dan berenang. Karena memiliki jadwal pelajaran olahraga di pagi hari, supaya para siswa tetap bersih dan tidak bau saat pelajaran berikutnya.


Setelah selesai mandi dan mengganti baju. Mereka kembali keruangan klub untuk membawa tas dan berjalan bersama untuk pulang. Di perjalanan pulang mereka berbicara tentang hari ini dan hal lainya.


“Hahaha, di saat yang lain pulang dan berlibur kita cape harus latihan sialan.”


“Mau bagaimana lagi haha.”


“Sayang sekali ya, yang terjadi terhadap kapten basket anak laki-laki.”


“Iya, oleh karena itu kita juga harus berhati-hati ya.”


“Ya mulai hari ini sampai kita akan pulang bersama.”


Selagi teman-temanya mengobrol Intan merasa bahwa mereka tengah diikuti, dia memperhatikan sekitarnya dengan teliti.


“Kenapa tan ?.”


Maya bertanya, lalu ia membisikan ke kuping Maya dengan pelan.


“Kaya ada yang ngikutin.”


“APA ?”


Secara spontan ia berteriak dan membuat teman lainya melirik kearah mereka berdua.


“Kenapa May ?.”


Intan mencubit bagian tangan Maya dan menatapnya dengan tajam lalu menjawab pertanyaan teman temanya.


“Engga apa apa kok hehehe.”


“Gitu ya ?.”


Setelah itu teman-temannya melanjutkan obrolan mereka sambil berjalan secara perlahan. Kemudian intan menarik maya perlahan untuk mundur dan menjaga jarak.


“Jangan keras-keras tar yang lainya panik.”


“Tapi bisa saja mereka penyerang itu dan kita harus memperingatkan yang lainya juga.”


Dengan suara pelan mereka berbicara.


“Ya itu benar, tapi mereka akan panik, terlebih juga mereka tidak akan menyerang kita karena jumlah kita lebih dari 10 orang loh.”


“Kalau gitu dimana, jangan sampai ketahuan kalau kita menyadarinya.”


Maya memperhatikan sekitarnya dengan hati-hati supaya tidak ketahuan.


“Kayanya udah pergi, tadi ada sekitar 3 orang di 3 tempat berbeda memperhatikan kita, tapi sekarang sudah tidak ada, setelah teriak mu tadi.”


“Bagus lah, kalau gitu tapi ada baiknya kita hati hati.”


“Ya.”


“OOOIIIIIII…. Intan, Maya kalian jalannya lama banget aya cepetan keburu gelap.”


“Ya.”

__ADS_1


“Lebih baik jangan beritahu mereka.”


Mereka berduapun berjalan agak cepat menghampiri anggota ekskul yang memanggil mereka. Sembari memperhatikan lingkuran sekitar dan melanjutkan perjalan pulang mereka dengan aman.


__ADS_2