TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 77. benda mencurigakan


__ADS_3

“Hey ayo cepat, aku ingin melihat kondisi Arin.”


Terlihat tiga orang sedang berjalan menuju rumah sakit Barat.


“Tenanglah gin.”


Setelah kembali ke apartemen dia mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan olehnya lalu menuju lantai 3 untuk menuju kamar Maria. Tetapi sesaat sebelum masuk Gina melihatnya dan menghentikan dia.


“MAU APA KE KEMAR MARIA ?”


“Tenanglah, Maria menyuruhku untuk mengambil barang dan pakaian ganti miliknya.”


“HOO JADI KAMU MAU NYURI PAKAIAN PUNYA MARIA ?”


Gina yang marah menghampirinya.


“Tenang… tenang saat ini dia berada di rumah sakit.”


“Eh… hah..kenapa ?


“Aku akan menjelaskan, tapi jangan berisik takutnya tante Amalia dengar.”


“Tante sudah pergi dari tadi ko.”


“eh ?… Baiklah.”


Dia meletakan barang bawaanya di lantai dan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Gina.


“EEEH.. tunggu kau tidak berbohong kan ?”


“Untuk apa aku berbohong.”


“Kalau gitu kau ikut aku ke rumah sakit, tapi ambilin sekalian pakaian ganti milik Maria, setelah itu kita pergi ke sana.”


Chanan memberikan kunci kamar no 16.


“Baiklah kau tunggu saja di bawah.”


“Iya.”


Chanan mengambil kembali barang bawaanya dan pergi menunggu di bawah. Gina masuk ke dalam kamar Maria dan mengambil pakaian dalam, baju serta celana dan dimasukannya ke dalam tas. Setelah itu dia kembali ke kamarnya untuk mengambil tas. Lalu dia mengunci pintu kamar dan menuruni tangga.


“Maaf menunggu, Eh ada Alvan juga ?”


“Iya kami sudah janjian akan berangkat bersama.”


Alvan dan Chanan berdiri di depan tangga.


“Kalau gitu ayo pergi.”


“Iya.”


------------------------------------


Tok, tok!!


Setelah sampai di depan ruangan 608 Gina mengetuk pintu dan membukanya.


“Oh Gina kau datang ?”


Maria yang duduk di kursi yang berada di samping kasur menyapanya.


“Ya, Gimana dengan Arin ?”


Mereka bertiga masuk ke dalam.


“Belum sadarkan diri, tapi kondisinya sudah membaik.”


Chanan dan Alvan meletakan barang bawaan mereka di meja.


“Nih, Ganti baju dulu sana.”


Gina menyerahkan pakaian ganti kepada Maria.


“Makasih ya aku mau sekalian mandi.”


“Mandi di sini ?”


“Benar, kau cobalah masuk ke kamar mandinya.”


Maria mengambil tas miliknya dan berjalan masuk ke kamar mandi, Gina mengikutinya dari belakang.


“Wah apa ini ?”


Dia terkejut melihat fasilitas yang terdapat di kamar mandi.


“VIP emang gila ya haha.”


Maria tertawa.


“Kalau gitu jaga Arin ya.”


“Baik.”


Dia meninggalkan Maria yang mulai melepaskan pakaiannya dan menutup pintu.


(Jika ku perhatikan bukan hanya kamar mandinya saja, seluruh ruangan diisi dengan fasilitas yang bagus ada kulkas juga di dalam sini.)


Dia berjalan mendekati Para lelaki yang sedang duduk di sofa dan bertanya.


“Hey.. Bukannya akan mahal untuk biaya ruangan ini ?”


“Ah tengan saja kak, aku yang membayar semua biayanya.”


Alvan dengan santai menjawabnya.

__ADS_1


“Haha.. orang kaya beda ya.”


Gina berjalan melihat kondisi Arin dan duduk di kursi.


“Apa sih kamu lakukan Arin.”


Dia memperhatikan Arin . Alvan dan Chanan mulai menceritakan detail cerita kepada Haqi.


15 menit kemudian Maria keluar dan mengeringkan rambutnya dengan Handuk. Dia berjalan menuju kulkas untuk mengambil Air minum yang telah dibeli.


Glukglukgluk!!


“Apa kalian semua akan menginap di sini ?”


Maria bertanya.


“Tidak kami akan kembali nanti sekitar jam 10 malam.”


Chanan menjawab.


Dia menatap kearah jendela lagi karena merasa kalau benda yang dilihat sebelumnya kembali. Kali ini dia memperhatikan itu dengan kekuatan miliknya.


(Sudah kuduga itu drone, entah kenapa itu terus terbang di sekitar sini.)


Bukan hanya Maria yang menyadari kalau ada drone yang terbang di sekitar mereka Alvan yang memiliki kepekaan tinggi terhadap medan elektromagnetic dari tadi sudah memperhatikan hal itu. Dia berdiri dan menjulurkan tangannya kearah benda itu terbang.


Szzzzzt…..


“Hey Alvan apa yang kau lakukan.”


“Di sini banyak barang elektrik hentikan menggunakan kekuatanmu.”


Chanan dan Haqi yang berada di dekatnya terkejut dan memarahinya.


Tetapi pria itu tidak peduli dan pergi menuju jendela dan melompat keluar.


“Apa yang kamu pikirkan bodoh.”


“Hey ini lantai 6.”


“Alvan.”


Ketiga orang selain Maria mendekat kearah jendela dan melihat ke bawah.


“Diamlah.”


“Tapi ini lantai 6 Maria.”


“Dia itu Rank S tenang lah, Alvan hanya ingin mengambil sebuah drone.”


“Drone ?”


Mereka semua melihat dari jendela, Alvan yang melompat meraih sebuah benda, lalu dia menjulurkan tangannya kearah tembok.


Szzzzzzztttt….


“Wah, wah seperti spiderman ya haha.”


Chanan berbicara.


“Rank S bisa apa saja ya.”


“Percuma saja mencemaskan anak itu.”


Gina dan Haqi memegang kepala mereka.


Alvan merangkak perlahan, di tangan kirinya memegang sebuah drone dengan ukuran sebesar handphone. Dengan cepat sudah sampai di depan jendela kamar 608, dia melompat masuk ke sana.


“Apa kamu mendapatkanya ?”


Maria bertanya.


“Ini.”


Dia meletakan drone itu di meja dan Maria mengambilnya.


“Apa sih yang kalian lakukan ?”


“Tidak, Hanya saja semenjak kak Maria pergi mandi benda ini terus terbang di sekitar kamar ini, itu sangat menggangguku.”


“Bukan hanya itu, aku juga sebelumnya melihat dia sedang terbang dan mengambil gambar kearah kamar ini.”


”Mungkin kebetulan ?”


Haqi menjawab.


“Itu tidak mungkin, Benda ini benar-benar mengarah ke kamar ini, aku sudah memperhatikannya dari tadi, oleh karena itulah aku ,mengambilnya..”


Chanan mendekat dan mulai memeriksa drone itu.


“Aku belum pernah melihat drone dengan model seperti ini, aku akan mencoba mengeceknya.”


Kemudian dia mulai mengutak-atik benda itu.


“Apa tidak apa-apa ?”


Gina merasa khawatir mendekati Maria.


“Tenanglah jika itu benda punya seseorang, kita akan buat mereka membayarnya hahaha.”


Maria masih tetap bercanda dan menyentuh bahunya.


“Baiklah.”


Setelah body benda itu terbuka, Chanan berusaha mencari memori yang tertanam.

__ADS_1


“Pasti ada sebuah memori yang tertanam di dalamnya kita akan mencari itu.”


Sebuah drone bisa dipantau dari jarak jauh dan videonya bisa langsung terupload pada sebuah cloud, tetapi di dalamnya pasti akan ada sebuah memori jika internet yang digunakannya terganggu.


Saat dia sedang asik membulak-balikan benda itu tiba-tiba saja temannya berteriak.


“CHANAN HENTIKAN.”


“Kenapa.. eh ?”


Saat ia bertanya dan menekan sebuah tombol dimana memori dari drone itu berada tiba-tiba saja berbunyi sebuah alarm dari benda itu.


Tit, tit, tit ,tit, tit.


“Sialan.”


Haqi langsung meraih benda itu dan melemparkanya keluar ruangan.


DUARR…..


Benda itu bersinar sangat terang dan meledak dengan daya yang cukup besar.


“Untung tepat waktu.”


Dia terjatuh ke lantai dan tangannya gemeteran.


“Jika Haqi tidak melemparkan benda itu.”


“Saat ini kita mungkin sudah hangus terbakar.”


Mereka semua terkejut apa yang terjadi, banyak sekali dari berbagai ruangan melihat kearah ledakan dari jendela.


“Maaf aku telat menyadari kalau benda itu akan meledak.”


“Tidak apa yang kau lakukan sudah menyelamatkan kami.”


Terdengar dari luar ruangan mulai ribut dan beberapa orang dan petugas keamanan berkumpul di lantai bawah.


“Jika ada pengawas yang bertanya sebaiknya kita diam.”


Chanan berbicara.


“Iya.”


“Maria kau yakin benda itu yang kau lihat dari tadi ?”


“Tidak mungkin aku salah lihat.”


(Apa mungkin kita sedang diincar ?)


Chanan berpikir dan menundukan kepalanya.


“Sebaiknya kalian tidak pulang dan menginap saja.”


Gina merasa ketakutan dan menatap kepada para pria.


“Maaf tapi aku masih banyak tugas dan harus kembali.”


Haqi dengan menyesal berbicara.


“Aku juga.”


“Kalau gitu Alvan kamu menginap di sini bersama aku dan Maria.”


Gina menyarankan.


“Boleh saja, tetapi besok pagi aku akan kembali ke sekolah untuk mengecek nilai dan hal lainya.”


“Oh iya kalian belum libur ya.”


“Untung saja Universitasku sudah libur jadi aku bisa menjaga Arin.”


Maria berkata.


“Baiklah kalau gitu kita sepakat, Alvan akan menginap di sini bersama kalian berdua, sedangkan aku dan Haqi akan kembali, Besok setelah pekerjaanku di shield selesai aku akan segera datang kemari.”


Merekapun berdiskusi dengan waktu yang cukup lama, dan terdengar suara ketukan dari pintu ruangan. Di sana terlihat ada seorang pertugas berdiri, menanyakan beberapa pertanyaan kepada mereka, Setelah mencatat petugas itu pergi ke ruangan yang berada di sebelahnya.


“Kalau gitu kami kembali dulu.”


“Iya kalian juga.”


Chanan dan Haqi pergi meninggalkan ruangan.


------------------------------------


Terlihat beberapa orang dalam sebuah ruangan yang sangat gelap. Hanya monitor dan keyboard lah yang menjadi pencahayaan dari ruangan itu.


“Sepertinya drone milik kita sudah diketahui oleh target.”


“Tidak apa-apa lagi pula drone itu akan meledak dengan sendirinya.”


“Awasi saja mereka, jangan sampai mengganggu rencana kita saat ini.”


“Baiklah kalau gitu aku akan pergi keluar, Handphoneku sudah berbunyi dari tadi haha, sepertinya beberapa orang sangat menginginkan benda ini hahaha.”


Orang itu memegang sebuah botol kecil di tangannya.


“Lakukan dengan hati-hati.”


“Tenang saja.”


Salah satu dari mereka pergi dari ruangan itu.


“Awasi mereka dan jika terjadi sesuatu yang mencurigakan beritahu aku dengan cepat.”

__ADS_1


“Baik.”


__ADS_2