
Keadaan rumah sakit sangat ramai sampe jam 11 malam, karena mereka takut akan adanya aksi teror*s yang melakukan kejahatan. Petugas keamanan yang datang mengecek ke setiap kamar dan menanyakan informasi. Mereka juga mengecek CCTV tapi tidak ada bukti rekaman yang memperlihatkan ledakan itu terjadi.
Oleh karena itu mereka memberitahukan kalau itu mungkin ledakan sebuah balon yang terbang di atas rumah sakit. Tapi semua orang tidak langsung percaya dengan omongan petugas. Karena beberapa dari mereka menyaksikan kalau ada cahaya dari langit. Setelah dilakukan penyelidikan lebih dari 2 jam, tidak ditemukan sebuah bom dan orang mencurigakan di rumah sakit itu, semua orang akhirnya dapat bersantai. Beberapa petugas ditempatkan di rumah sakit untuk berjaga-jaga.
Waktu menunjukan pukul 03.00 pagi hari. Terlihat Maria dan Gina yang sedang tertidur di sofa, sedangkan Alvan tidur di kursi yang berada di dekat kasur milik Arin. Waktu sudah berlalu cukup lama, gadis itu belum sadar. Terlihat lampu ruangan yang mati dan hanya ada beberapa cahaya dari alat elektrik lainya. Sebelum mereka tidur Maria bilang kalau dirinya tidak bisa tidur kalau lampu tidak dimatikan. Jadi Alvan mematikan lampunya.
Sebuah aura hitam muncul di lantai dekat kasur Arin berbaring. Aura itu berputar membentuk sebuah lingkaran hitam pekat dan terlihat sesuatu mulai muncul dari dalam sana. Sosok yang keluar itu terlihat seperti manusia tetapi beberapa bagian ditubuhnya ditutupi oleh aura hitam miliknya. Dia mendekati Arin dan memandanginya.
“Arin !!!”
Alvan yang menyadari ada seseorang selain mereka berada di ruangan ini bangun dengan cepat dan langsung berdiri. Dia memandangi sekitarnya dengan teliti tanpa melewatkan sedikit pun kewaspadaanya.
(Aku merasakan gelombang ESP di sini tadi.)
Dia berjalan menuju jendela dan membukanya.
“Apa hanya halusinasiku ?, aku seperti mendengar seseorang berkata Arin, tidak mungkin kekuatanku salah mendeteksi sesuatu.”
Pria itu terus memperhatikan sekitarnya dengan hati-hati.
Tetapi dia tidak dapat menyadari kalau sosok yang tadi berada di ruangan itu, Saat ini sedang memadanginya dari atap gedung yang berada di sebrang ruangan 608.
“Prince Rank S pringkat 3.”
Setelah mengatakan itu dia kembali masuk ke dalam bayangan miliknya dan menghilang.
------------------------------------
Cit, cit… cit, cit…
Suara burung sudah mulai terdengar dan langit mulai cerah. Maria yang baru bangun dari tidurnya duduk di sofa dan menguap.
“Hoaaammm.. sekarang jam berapa ?”
Dia meraih handphone miliknya dan melihat jam pukul 06.11. dia meregangkan tubuhnya.
“Eh… Arin ?”
Saat dia meregangkan tubuhnya dia melirik kearah kasur dan melihat Arin yang sedang dalam posisi duduk di sana.
“KAMU SUDAH SADAR ?”
Dia bangkit dan langsung berlari mendekat. Gina dan Alvan yang sedang tidur mendengar teriakan Maria jadi terbangun.
“Wah Arin.”
“Apa ada yang sakit ?, jangan dulu duduk keadaan organ dalammu masih belum membaik cepat berbaring lagi.”
__ADS_1
Maria memegangi Arin, Gina yang bangun mendekat kearanya dan Alvan memandangi mereka sembari menguap.
“.….”
“Dengarkan Maria Arin, Kamu harus banyak istirahat.”
Gadis itu hanya diam dan memandangi sekelilingnya.
“Bagaimana dengan Intan ?”
Ketiga orang itu cukup terkejut, dengan ucapan pertama yang Arin katakan saat pertama kali sadar.
(Itu hal yang dia katakan ya ?)
Alvan menatap raut wajah gadis itu.
“Di… Dia sedang dirawat di rumah sakit ini juga.”
Arin menatap Maria.
“Keadaanya tidak jauh berbeda denganmu.”
Dengan ragu dia menjelaskan itu.
“Bagaimana dengan Ibu ?”
“Baguslah.”
Setelah berbicara gadis itu kembali membaringkan dirinya dan menutup mata.
“Tenanglah kami semua bersamamu.”
Maria berbicara dan berdiri membuka jendela agar udara pagi masuk ke dalam ruangan.
“Kak Maria, Kak Gina, karena sudah pagi aku akan kembali ke Apartemen untuk ganti baju dan pergi ke sekolah.”
“Baiklah, sekalian liatin nilai Arin, kalau ada apa-apa cepat beritahu kami.”
“Iya.”
Alvan berjalan menuju pintu.
“Oh iya dan bilang pada Cindy untuk bawa makanan enak.”
Maria tersenyum.
“Hahaha, Baiklah tunggu saja.”
__ADS_1
Dia pergi meninggalkan rumah sakit dan menuju apartemen Star.
“Ah aku lupa semalam tidak memberitahu Gym Monarch bahwa kami tidak akan latihan, sudahlah.”
Gina berdiri dan menatap kearahnya yang sedang melakukan peregangan.
“Aku akan keluar dan membeli beberapa makanan kau mau apa ?”
“Beli saja makanan kotak yang berada di mini market biar tidak ribet.”
“Oke, kalau gitu aku pergi dulu.”
“Hati-hati.”
------------------------------------
Terlihat beberapa siswa sedang berjalan menuju SMA Barat. Meskipun sekolah mereka terlihat masih belum pulih sepenuhnya mereka tetap masuk. Karena hari ini adalah hari terakhir Tes Kekuatan Esper dan pengumuman nilai untuk para murid. Dan karena yang terjadi kemarin, masih banyak siswa yang belum menjalani tes ESP mereka.
Seorang gadis sedang duduk di dalam kelas 1 F, menatap keluar jendela, seluruh temannya melihat itu hanya diam dan tidak berani berbicara. Awalnya sejak ke datangan Maya orang-orang yang berada di kelas F menanyakan kondisi Arin dan Intan yang di bawa oleh ambulan. Tetapi gadis itu tidak menjawab apapun dan malah duduk di kursi milik Arin.
Devina yang baru datang ke kelas menyimpan tas miliknya di atas meja dan berjalan menghampirinya.
“Kau baik-baik saja may ?”
“.….”
“.….”
“Entahlah..”
Gadis itu hanya memandang keluar jendela dan tidak peduli dengan sekitarnya.
“Huuuh, semangat lah.”
Devina menyentuh bahunya dan pergi menjelaskan apa yang terjadi kepada teman-temannya yang dari tadi melirik dan memanggilnya.
“Diberitahukan kepada seluruh murid kalau nilai dari ujian kali ini sudah ada di papan pemberitahuan, kalian juga bisa mengeceknya di website sekolah, dan untuk para Siswa dan siswi yang belum melakukan tes ESP diharap untuk tidak pulang dan menunggu gilirannya.”
Seorang guru mengumumkan sesuatu, diulang selama 3 kali.
“Ayo kita liat.”
“Aku takut nilaiku jelek dan mengikuti kelas tambahan.”
“Jangan sampai, Aku tidak ingin Hari liburku berdiam di sekolah.”
Terlihat beberapa murid yang putus asa dan mereka pergi menuju depan papan pemberitahuan berada. Setiap lantai memiliki papan pemberitahuannya masing-masing, jadi mereka tidak terlalu berdesak-desakan dan diurutkan sesuai kelas.
__ADS_1