TRIGGER

TRIGGER
BAB 1, Chapter 3. Knight of Prince


__ADS_3

Ring…. Ring….. Ring…. Ring…


Terdengar alarm yang berbunyi dalam sebuah kamar. Terlihat seseorang sedang tertidur tubuhnya ditutupi oleh selimut berbulu berwarna merah. Perlahan ia meraih handphone yang berada meja di sebelah tempat tidur. Kemudian menatap layar, jarinya menggeser layar untuk mematikan alarm tersebut. Terlihat waktu sudah menunjukan pukul 06.00. Lalu ia bangkit dan duduk di sisi kasur, tangan kanannya ke atas, tangan kiri meraihnya seperti sedang melakukan peregangan.


Arin pun bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu menuju ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya lalu mengelapnya menggunakan handuk, lalu menyalakan water heater dan pergi menuju dapur. Melihat isi di dalam kulkas ia mengambil bahan makanan dan memulai mengiris daging, salada, dan tomat, setelah itu meletakannya di atas roti ia memasukanya ke dalam sandwich maker. Sembari menunggunya ia mulai menyapu dapur dan mengelap meja.


“Wah wah.. Jam segini udah bersihin rumah, penyakit gila kebersihan mu itu bikin ibu ga cape ngurusin rumah ya hahahaha.”


“Penyakit yah ? huh, lagian ibu kalau sudah melakukan sesuatu tidak pernah rapih dan jika memasak pasti dapur akan seperti kapal pecah.”


“Haha maaf maaf.”


“Dari pada diem, itu sandwich udah mateng kalau bisa bantuin susun di meja.”


“Ya.”


Kemudian ibunya mengambil sandwich yang sudah matang dan meletakanya di atas meja, lalu Arin pergi untuk mandi.


Setelah selesai mandi ia kemudian menuju kamar untuk menggati pakaiannya menggunakan pakaian sekolah, lalu ia menggunakan jaket dan mengambil tas dan segera menuju ruang makan.


Di sana ibunya tengah memakan sandwich, Arin pun duduk dan mulai makan. Setelah itu dia berdiri,


“Kalau gitu aku pergi dulu bu.”


“Eh ?, ini masih jam 7 loh, bukannya sekolah dimulai jam 8 ?, biasanya kamu pergi jam setengah delapan kan ?”


Lalu Arin melihat ke arah ibunya sambil tersenyum.


“Lebih cepat lebih baik.”


Ibunya memiringkan kepalanya dan terheran-heran dengan sikapnya. Kemudian ia membuka pintu dan pergi menuju ke sekolah.


------------------------------------


Sekolah masih sangat sepi, gerbang sekolah, lapangan, lorong masih sedikit orang yang berkumpul. Kecuali mereka yang mengikuti kegiatan Ekskul. Karena dari sekolah Barat beberapa kegiatan selalu memenangkan kompetensi dan karena itu membuat beberapa perselisihan dengan sekolah lain yang tidak terima dengan prestasi yang diraih.


Di pulau Aurora ada 4 Sekolah yang sangat diminati oleh para esper.


SMA Utara fokus akan pelatihan para esper.


SMA Timur mengembangkan teknologi.


SMA Selatan mengembangkan ilmu medis.


SMA barat sekolah dimana Arin berada berfokus kepada pendidikan, tidak menjurus seperti ketiga sekolah lainya, akan tetapi banyak yang berminat masuk karena mudah mencari pekerjaan dan melanjutkan pendidikan saat lulus nanti, dan tidak ketat seperti sekolah lainya.


Arin berjalan menuju kelas 1 F di lantai 1. Ia menyimpan tasnya dan memulai membersihkan kelas. Sudah jadi kebiasaanya datang pagi hari untuk menyapu kelas dan membersihkan papan tulis. Beberapa saat kemudian pintu kelas terbuka dan seorang wanita masuk.


“Selamat pagi, seperti biasa kamu datang pagi ya.”


“Selamat pagi.”


“Sekarang masih jam 07.30 loh Rin udah rapihin aja kelas.”


“Ya… bukannya kamu datang terlalu pagi ?”

__ADS_1


“Ah.. Ekskul basket kan bentar lagi bakal ikutan turnamen antar sekolah. Jadi ada latihan pagi mulai dari jam 06.00.”


Selagi mengobrol dengan Arin, teman-teman kelasnya mulai berdatangan.


“Selamat pagi Intan, dimana Maya ?”


“Ah dia masih di ruang klub, bentar lagi juga kesini.”


Intan pun mengobrol dengan teman kelas lainnya.  Arin telah selesai menghapus papan tulis menyimpan penghapus dan kembali duduk ke kursinya. Tidak lama setelah itu jam pelajaran pertama pun di mulai.


------------------------------------


Ting, tong…..


bell istirahat sekolah sudah berbunyi, guru dan para murid mulai keluar kelas untuk pergi ke kantin dan membeli makanan.


Arin pergi ke kantin untuk membeli makan, setelah mengantri ia membeli nasi goreng dengan tambahan Chiken katsu sebagai topingnya. Lalu mencari tempat duduk ia duduk di sudut kantin dekat dengan taman sekolah, dari taman terdengar sekelompok siswa yang sedang mengobrol.


“Alvan katanya kamu tinggal di apartemen ya ?”


“Wah tempat nya bagus ga ?”


“Ya baru kemarin ?”


Orang yang bertanya adalah gadis bernama Cindy dia adalah teman Alvan dari kecil, dia selalu bersamanya sudah seperti seorang kakak dan adik.


Tidak lama kemudian dua orang datang menghampiri tempat duduk Arin.


“Rin boleh duduk di sini ga, soalnya penuh nih.”


“Ya.”


Yang menghampirinya adalah Intan dan Maya. Intan duduk lalu tersenyum. Akan tetapi Maya dengan ekspresi yang agak kesal menatap Arin. Mereka bertiga pun makan bersama.


“Wah .. Bukannya yang ada di taman itu adalah kelompok orang kaya ?”


“Mereka setiap hari berkumpul bersama seperti itu, engga bosan apa?”


“Hey bukannya kamu juga sering bersamaku ? jadi May bosan bersama denganku ya ?”


“Bukan gitu.”


“Hahaha.”


“Aku tidak suka dengan mereka, melihatnya saja bikin kesal !”


“Kenapa begitu ?, Bukanya emang sudah bawaannya ya Maya seperti itu.”


Maya yang kesal memukul bahu Intan dan Ia hanya tertawa.


“Tuh lihat !”


“Udah dibilangin bukan gitu.”


“Jadi kenapa ?”

__ADS_1


“Lihat itu sekelompok wanita di sana, mereka menyebut dirinya sebagai knight of prince.”


Intan yang kaget dengan sebutan itu hampir memuntahkan makan dimulutnya dan membuatnya tersedak dan batuk-batuk, Arin yang berada di seberang meja terlihat sedang menahan tawa mendengar julukan tersebut. Maya sedikit terkejut melihat Arin pertama kali tertawa.


“Hey Intan ga apa-apa ?”


Dia memberikan segelas air.


“Uhuk.. Uhuk .. Haa apa-apan dengan sebutan itu ?, kesatria pangeran, uhuk.. Uhuk..”


“Bukannya sedikit berlebihan ?, dari pada dilihat sebagai kesatria mereka terlihat seperti berandalan.”


Arin ikut dalam Obrolan


“Ya itu benar, kalau tidak ada makanan di mulutku aku pasti akan tertawa juga.”


Maya menyimpitkan matanya dan memandangi Intan dan Arin secara bergantian.


“Hey kalian berdua bercandakan ?, mereka terkenal, masa tidak tahu.”


“Kalau soal julukan prince aku tau.”


“……..”


“Huh.. Baiklah akan aku jelaskan, Knight of Prince itu dipimpin oleh Cindy, dia dan Alvan sudah berteman sejak kecil, dan jika ada Seorang gadis yang mendekati prince di sana, kelompok itu akan datang mendatanginya dan membully mereka.”


“Membully, bukannya sedikit kejam ?”


“Aku juga pernah melihat mereka sedang membully dengan sangat kejam, membuat salah satu gadis di sekolah kita sampai trauma loh !”


“Kayanya pangeran itu melihat ke kita.”


Intan memberitahu bahwa Alvan sedang melihat kearah sini, Maya dan Arin pun melihat ke sana.


Selagi teman-temannya mengobrol Alvan terus memandangi kearah mereka bertiga dari taman.


“Wah beneran ngeliat dong, kedengeran emangnya.”


“Ya mungin dia mendengar obrolan kita, lagi pula dia itu adalah salah satu dari orang yang memiliki Rank S, lagi pula kemampuanya adalah elektrokinesis, mungkin dia bisa mendengar gelombang frekuensi kita.”


Arin menjelaskan kepada mereka berdua lalu ia menghela nafas.


“Huuuh..”


“Kenapa Rin ?.”


“Engga, kalau begitu aku duluan.”


Arin bangkit dari tempat duduk dan berjalan perlahan.


“Semoga tidak terjadi hal yang merepotkan.”  Berbicara dengan nada kecil


Maya dan Intan saling menatap, karena perkataan arin terdengar oleh mereka.


“Apanya yang merepotkan ?”

__ADS_1


“Mana ku tahu !!.”


Keduanya pun memandangi Arin yang perlahan menjauh dari mereka.


__ADS_2