TRIGGER

TRIGGER
BAB 2, Chapter 42. Kebingungan


__ADS_3

Setelah pertandingan berakhir, seluruh Tim pergi ke ruangan tunggu dan beristirahat di sana. Akan sesaat pertandingan selesai Arin pergi mencari Maria dan Haqi untuk menanyakan hasil penyelidikan mereka. Para anggota klub basket mencarinya karena ia tiba-tiba menghilang setelah bilang akan pergi sebentar. Intan mulai mencemaskan keadaannya dan mengajak Maya dan Naila berkeliling untuk mencari keberadaanya.


Dan di saat yang bersamaan, Arin berjalan menuju Taman yang berada di sebelah gedung olahraga, Maria dan Haqi sudah menunggunya sambil duduk dan memakan Burger.


“Arin aku belikan juga untukmu ambil ini.”


“Makasih kak Maria.”


Dia membuka bungkus itu dan duduk bersama meraka.


“Jadi gimana kak ?”


“Jika ditanya seperti itu, aku bingung mau menjawab apa benarkan qi ?”


“Betul, Karena tidak terlihat ada yang aneh saat pertandingan.”


Mereka berdua berbicara sambil makan.


“Tapi ada satu hal yang benar-benar membuatku kepikiran sih.”


“Apa itu kak ?”


Maria berhenti memakan burger dan menatap kelangit.


“Ada saat dimana pemain dari sekolah Selatan kebingungan saat berhadapan dengan musuh !”


“Maksud kakak ?”


Dia tidak mengerti apa yang dimaksud dan memiringkan kepalanya. Lalu Haqi mengeluarkan Handphone miliknya dan memberikannya pada Arin.


“Lihat lah video itu, Aku sudah memindahkannya dan melihat itu berulang kali.”


Arin mengambil handphone dan mulai memutar video. Di sana terlihat Citra sedang berhadapan dengan musuh tapi saat musuh mengoper bola kepada temannya, dia tetap diam di sana dan mengawasi orang itu seakan dia masih memegang bola, padahal bola sudah masuk ke ring.  Dia terlihat kebingungan dan pelatih mereka melakukan Time out.


“Ini aneh.”


“Benarkan, Meski aku tidak tau banyak tentang basket, tapi ada teknik mengecoh lawan kan ?, dia melakukan dribble dengan sangat cepat lalu berbalik badan dan berlari, musuh akan mengejarnya padahal bola itu sudah tidak ada padanya.”


Maria mengetukan jarinya ke meja dan berpikir.


“Iya, dalam Streetball teknik seperti itu pasti digunakan, dan kecepatan saat melakukan dribble akan menjadi kuncinya.”


“Benarkan, itulah yang membuatku bingung.”


“Apa yang Maria katakan benar rin, musuh tidak melakukan gerakan hebat dan hanya mengoper bola seperti biasa. Kalau tidak salah gadis itu adalah bekas Tim mu saat SMP kan ?, jadi tidak mungkin dia akan melakukan kesalahan seperti itu, dan tampang mereka benar-benar kebingungan dengan apa yang terjadi loh.”


Dia terus menonton ulang video yang di berikan Haqi.


“Memang benar, Bisa dibilang Citra sangat bagus dalam basket dan tidak mungkin akan terkecoh dengan fake biasa saja, musuh hanya melakukan passing biasa, Ini aneh.”


“Kamu kenal dengan dia kan ? tanya saja langsung ke orang nya.”


“Huuuh entah lah.”


Dia memasang muka malas dan meletakan Handphone itu di meja.

__ADS_1


“Oh iya Cindy dan Alvan sudah kembali terlebih dahulu, mereka terlihat kelelahan karena menonton pertandingan dari pagi hingga sore hahaha.”


“Kau yang menyuruhnya ?”


“Iya.”


“Dia bilang malam Hari akan datang ke apartemen Stars dan menunggumu di sana untuk memberikan video.”


“Karena kalian bertemu kenapa tidak dititipkan saja, atau bisa saja di berikan kepada Alvan ?”


“Mungkin dia ingin bertemu denganmu  hahaha.”


Maria melakukan candaan dan Arin memasang wajah kesal. Mereka pun melanjutkan makannya dan terus mengobrol. Dari belakang ada dua orang wanita mendekatinya dan berteriak.


“ARIN.”


Dia berbalik kebelakang dan melihat Ada Citra dan Danti yang datang mendekati mereka, lalu Arin berdiri.


“Ada apa ?”


Keduanya kelelahan dan mengatur nafas mereka.


“Apanya yang ada apa, Aku melihat Intan terlihat panik, dia bilang kamu tiba-tiba menghilang dan mulai mencarimu keberbagai tempat.”


Citra memberikan penjelasan kepadanya.


“Itu benar, mereka semua mencemaskan mu.”


Danti mengatur napas dan berbicara kepada Arin, kedua orang di depannya benar-benar terlihat sangat kelelahan.


Maria mengambil handphone miliknya dan menelpon Intan. Tidak lama setelah itu telepon itu tersambung.


“Halo Intan, Ah Arin ada di sini bersamaku jadi kau tidak perlu Panik haha, gimana kalau kalian ke sini saja ?, kami berada di taman yang berada di sebelah gedung olahraga, tidak jauh ko, Oke sampai jumpa.”


“Makasih kak.”


Arin berteri makasih, Citra merasa lega karena tidak terjadi apa-apa kepada temannya.


“Kak Maria, Kak Haqi lama tidak bertemu ya.”


“Lama tidak bertemu Citra.”


“Setahun lebih ya hahah.”


Setelah menyapa kedua orang di depannya dia melihat jam.


“Masih ada waktu, kalau gitu bisa pinjam Arin sebentar, ada yang ingin aku bicarakan dengannya ?”


“Tentu saja.”


Mereka berjalan sedikit menjauh lalu berbicara.


“Selamat atas kemenangan kalian, maaf meski aku sudah berjanji akan melawanmu di final tapi malah kalah.”


“Tidak apa-apa, kalian juga akan bertanding untuk menentukan juara 3 iyakan”

__ADS_1


Kedua orang yang berada di depannya tersenyum dan mulai berbicara kembali.


“Hati-hati dengan musuh mereka sangat hebat dalam melakukan gerakan tipuan.”


“Benar bola sering tiba-tiba menghilang. Dan saat kami melakukan blok bola itu menembus tangan kami dan masuk begitu saja.”


Danti dan Citra menjelaskan apa yang mereka alami saat bertanding melawan sekolah utara.


“Tiba-tiba menghilang ?”


“Iya seperti mereka yang melakukan StreetBall, aku bahkan tidak menyadari itu sama sekali mereka sangat hebat, seperti dalam Anime yang pernah aku nonton bolanya menghilang seperti sulap haha.”


“Karena itulah kami kalah dengan selisih 40 poin sangat memalukan.”


Mendengat ucapan temannya dia memikirkan sesuatu.


(Bola tiba-tiba menghilang ya, apa mereka menggunakan kekuatan, dan perasaan yang aku rasakan saat itu mungkin saja ?)


“Aku sempat berpikir mereka menggunakan kemampuan Esper, tapi rasanya tidak mungkin karena saat pertandingan resmi pasti akan ada alat untuk mengecek itu, saat seorang Esper menggunakan kemampuan mereka alat itu pasti akan berbunyi.”


(Benar ada alat untuk mengetahui jika seseorang menggunakan kemampuan mereka.)


“Hey Kapten jangan seperti itu, Iya meski ada sekelompok orang dari sekolah mereka yang menyerang beberasa siswa agar bia menang dengan mudah, tapi tidak boleh seperti itu.”


Setelah Ina di tangkap terungkap semua konspirasi yang SMA Utara lakukan, dia memberikan saksi kepada petugas keamanan dan akhirnya media pun mengetahui semua kejadian itu, banyak sekali orang yang marah dan menuntut sekolah untuk melakukan ganti rugi atas kejadian tersebut.


Saat mereka sedang mengobrol Terlihat Intan, Maya dan Naila yang datang mendekati mereka.


“Intinya Hati-hatilah saat menghadapi mereka.”


“kalau gitu kami permisi dulu ya, Semoga kalian bisa menang di final nanti.”


“Terima kasih banyak sudah memberikan informasi penting kepadaku.”


“Tentu saja karena aku ingin melihat Athena memenangkan pertandingan.”


Citra mengejek Arin dan berjalan meninggalkan mereka, dia bertemu dengan Intan dan saling menyapa sebentar.


“Arin kalau mau pergi lama bilang.”


“Benar jangan membuat kami cemas.”


“Mereka berdua sangat berisik tau rin.”


Karena Maya sudah melihat kemampuan Asli miliknya dia tidak terlalu khawatir sesuatu akan menimpanya, tapi kedua temannya berbeda dan sangat mencemaskan nya.


“Maafkan aku.”


“Yang penting kamu baik-baik saja.”


Maria dan Haqi mendekati mereka.


“Arin kami kembali duluan ya, Nanti malam ke kamarku saja untuk melanjutkan permbicaraan ini bersama yang lainya.”


“Iya Makasih banyak kak.”

__ADS_1


Maria dan Haqi kembali menuju apartemen, sedangkan Arin kembali ke ruang tunggu karena seluruh Pelatih dari berbagai klub sedang berkumpul dan berbicara mengenai pertandingan.


__ADS_2