
“Tentu saja aku sendirian!”
Malam hari pukul 22.00, Seorang pria sedang mengendap-endap sembari melihat sebuah gang kecil.
‘Jangan banyak mengeluh bodoh!’
Terdengar suara perempuan dari earbuds yang di kenakan oleh orang itu.
“Iya aku tau!”
‘Berhati-hati nanti mereka mendengar suaramu!’
Saat ini Chanan sedang mengintai sebuah gang, yang di duga menjadi tempat transaksi dari organisasi yang menyebarkan obat di wilayah Barat. Maria serta Haqi diam di apartemen Star mereka memantap pergerakan Chanan dari komputer milik Chanan. Sedangkan Arin memantau dia dari atap gedung dengan hati-hati.!
(Sial setelah mereka tau kalau bayarannya adalah game akhirnya aku di suruh menjadi umpan sendirian)
Pagi hari setelah Chanan kembali dari kantor Shield, dia langsung kembali menuju Rumah Arin. Haqi masih tertidur di lantai menggunakan selimut, di ruang meja makan terlihat Arin, Ina dan Devina sedang duduk meminum segelas teh hangat.
“Huaaa…. Dari mana kamu ?”
Gina turun dari tangga, gadis itu menguap lalu bertanya kepada Chanan.
“Ada urusan tadi!”
“Hoo.. biasanya kamu sama Haqi bangunnya paling lama!”
“Aku juga inginnya tidur tau!”
Sorot matanya terlihat sangat kesal. Lalu Chanan melihat sekitarnya.
(Maria masih tidur ya, terlebih lagi Ada Devina serta Ina di sini!)
Chanan menghela nafasnya lalu pergi menuju pintu.
“Aku ke luar dulu bentar!”
Melihat pria itu Gina terlihat kebingungan lalu begumam pelan.
“Ada apa dengannya!”
Pria itu mengambil handphone miliknya lalu menghubungi seseorang. Sudah lebih dari 2 menit panggilan itu tidak di jawab.
“Apa masih tidur ya ?”
‘Ada apa ?, maaf aku baru saja bangun tidur!’
“Maaf, menghubungi di pagi hari.”
“Tidak apa!”
“Apakah malam ini kamu sibuk ?”
Dapat terdengar dari suaranya kalau Alvan masih sangat mengantuk. Chanan sempat merasa ragu mengajak Pria itu, Alvan sekarang sedang tidak berada di Apartemen Star, dia dihubungi oleh ibunya untuk menemuinya.
“Sibuk sih tidak, tapi ibuku pasti tidak mengijinkan aku pergi untuk beberapa hari!”
“Gi.. gitu ya!”
Dari suaranya dapat terdengar kalau Chanan merasa kecewa.
“Apakah ada urusan penting ?”
“Tidak kok, maaf mengganggu ya!”
Dalam rencana yang dia pikirkan, Alvan dan Arin akan mengawasi umpan saat memata matai musuh, setelah musuh menangkap umpan, kedua orang itu akan mengikutinya, untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tidak terduga akan terjadi. Karena dia tahu kalau musuh sering menggunakan EMP untuk menghancurkan alat elektornik.
“Kalau Arin juga menolak bisa gawat ini!”
Dia memasukan kembali handphone ke dalam saku.
Tanpa dia sadari Arin berdiri di belakang pintu menguping pembicaraan mereka berdua, setelah melihat tingkah laku yang tidak biasa dikeluarkan oleh Chanan, Akhirnya dia diam diam mengikutinya
__ADS_1
“Ya Karena Maria dan Haqi masih tidur, aku akan ke apartemen dulu untuk menyusun beberapa rencana, terlebih lagu masih ada Ina dan Devina, aku tidak ingin melibatkan lebih banyak orang!”
Pria itu berjalan menuju apartemen star.
“Rencana ya ?”
Arin membuka pintu perlahan sembari melihat punggung Chanan.
“Ada apa dengan Chanan ?”
Alvan menyadari kalau temannya seperti sedang memikirkan sesuatu, dapat terlihat jelas dari cara bicaranya yang sangat berbeda.
“Alvan kamu sudah bangun ?”
Terdengar suara wanita dari depan pintu kamarnya.
“Sudah bu, Ada apa ?”
“Cindy datang mengunjungimu!”
“Baik, aku akan ganti baju dulu.”
Alvan melemparkan handphone miliknya ke kasur, lalu berjalan kearah lemari untuk mengganti bajunya.
“Ya… Kalau hal penting mungkin Chanan akan kembali menghubungiku!”
Setelah selesai berganti pakaian dia keluar dari kamar, menuruni tangga menuju ruang tamu. Di sana ada Cindy sedang berbicara dengan ibunya.
“Selamat pagi!”
“Ternyata udah bangun Al!”
“Kalau gitu gimana kita sarapan bersama.”
“Gak usah tante ngerepotin!”
“Gak apa Cin, banyak ko makanannya!”
“Baiklah, maaf merepotkan!”
Merekapun pergi menuju ruang makan, terlihat meja dengan ukuran besar dengan 11 kursi, berbagai makanan tersedia. Ketiga orang itu mulai makan bersama. Dengan ukuran ruangan yang sangat besar hanya tiga orang yang makan besama, terasa cukup aneh.
“Tidak ku sangka kamu sudah bangun jam sengini Al!”
Cindy memulai obrolan sembari memotong daging di piringnya menggunakan pisau.
“Hmmm ya!”
“Ya?”
Alvan memiringkan kepalanya.
“Aku bangun karena Chanan meneleponku terus menerus!”
“Oh Kak Chanan ?, kenapa emangnya!”
“Engga tau, tapi dari suaranya dia terdengar gelisah!”
“Chanan Siapa itu ?”
Mendengar sebuah nama yang tidak pernah di dengarnya Aneisha mulai bertanya kepada Cindy.
“Dia adalah penghuni dari apartmen Star tante!”
“Wah.. Alvan sekarang banyak temen dong ?”
Dengan ekspresi seperti mengejek dia menoleh ke anaknya.
“Lumayan ya, Ada Kak Haqi, Kak Chanan, Arin, Ina Kak Maria sama Kak Gina!”
“Jadi ada cewe juga ya di sana ?”
__ADS_1
“Benar, terlebih lagi mereka sangat cantik !”
Kedua orang itu seakan kompak mengejek Alvan. Pria itu mengkerutkan keningnya sembari menusuk daging dengan sangat keras.
“Kenapa sih kalian berdua!”
“Haha, marah nih!”
“Apakah ada gadis yang menarik perhatiamu di sana Al ?”
Alvan tidak menjawab pertanyaan ibunya dia hanya melanjutkan makan.
“Kalau gitu gimana dengan Arin ?”
“Uhuk.. Uhuk.. Uhuk…!”
Dia terkejut akhirnya batuk dan tersedak, kedua wanita itu hanya tertawa melihat tingkah laku dari Alvan.
“KENAPA IBU TIBA-TIBA BERKATA SEPERTI ITU ?”
“Hahaha, sepertinya kamu-.”
“BUKAN.. Bukan seperti itu!”
Sebelum Aneisha membereskan perkataanya, ALvan membentak itu lalu berkata sembari menundukan kepalanya.
“Hanya saja, seorang gadis bisa sampai seperti itu!”
“Seperti itu ?”
“Jika Ibu melihatnya langsung, Ibu pasti akan tau !”
Aniesha tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh anaknya lalu menoleh kearah Cindy.
“Benar, mungkin jika tante melihat Arin, tante akan tertarik, tidak-”
Cindy menundukan kepalanya lalu memasang ekspresi cukup sedih.
“Mungkin tante akan merasa kasihan kepadanya!”
Aniesha memperhatikan kedua anak yang berada dihadapannya, tiba-tiba saja suasana menjadi sedikit muram.
(Ada apa dengan keduanya ?)
Mereka melanjutkan makan tanpa berbicara sedikitpun.
Setelah selesai makan Mereka berdua pergi kembali menuju ruang tamu, dia mengambil handphone miliknya dan melihat sebuah foto.
“Oh iya!”
“.….”
“Devina menginap di rumah Arin loh Al!”
“Devina ?, ketua kelas F kan !”
“Iya!”
“Kok bisa ?”
Cindy memperlihatkan foto kepada Alvan, Di sana terlihat Devina yang di balut dengan perban sedang melakukan selfie, di belakangnya ada Maria, Haqi, Ina, Gina dan Chanan sedang fokus bermain game.
“Bentar kok dia di balut oleh perban ?”
“Aku juga kurang tau tapi kata Kalia, Devina di serang lalu Arin menolongnya!”
“Hmmmmm.”
Setelah melihat itu Alvan berpikir, apakah Chanan menghubungi dirinya ada hubungannya dengan ini ?, tapi kenapa dia seperti ragu mengatakannya. Berbagai spekulasi keluar di dalam pikirannya. Jika Devina di serang mungkin mereka meminta bantuanya untuk mencari pelaku.
“Al ?”
Tapi semua sepertinya Arin sendiri juga sudah dapat menghajar semua orang yang menggangu Devina, jadi pemikiran itu dia lewatkan. Hal yang paling mungkin adalah organisasi yang menargetkan mereka beberapa kali.
__ADS_1
(Apa mungkin orang-orang itu bergerak lagi!)
Cindy melihat temannya yang berdiri mematung, saat namanya dipanggil juga Alvan hanya diam. Dia benar-benar sudah larut dalam pemikirannya.