TRIGGER

TRIGGER
BAB 4, Chapter 90. Penyergapan 2


__ADS_3

“Wah tidak disangka ternyata targetnya adalah gadis cantik.”


“Hati-hati mereka adalah esper.”


“Tenang saja, lagi pula kita menang jumlah.”


“Benar, dengan ini kita akan di terima di organisasi itu.”


15 orang lelaki datang dan mulai mengelilingi Alvan, Cindy dan Kalia, raut wajah mereka sangat merehkan 3 orang yang menjadi targetnya.


(Target, organisasi ?, apa yang mereka bicarakan.)


Alvan mulai mengamati orang-orang itu dan berusaha melindungi temannya.


“MAU APA KALIAN ?”


Cindy bertanya.


Kalia memegangi baju belakang Alvan dan mulai merasa ketakutan.


“Entahlah, Tapi yang pasti kalian harus ikut dengan kami ke suatu tempat.”


“Jika kami menolak ?”


Alvan mengkerutkan keningnnya.


“Dengan paksaan ?”


“Tentunya hahahha.”


Mereka malah tertawa dan mengejek mereka.


“Cindy, Kalia bersiap untuk berlari.”


Alvan berbicara dengan pelan.


“Tapi Al.”


“Pokoknya kalian bersiap lari cari tempat aman.”


Alvan mengumpulkan electro di tangan kanannya yang ia sembunyikan di belakang badannya, Cindy dan Kalia menutupi itu dengan tubuh mereka.


Szzzzzttttt…… Sing!!!!!!


“APA YANG TERJADI.”


Tiba-tiba cahaya yang sangat terak mucul dari mereka.


“SEKARANG.”


Mendengar teriakan itu Cindy serta kalia berlari sekuat tenaga mereka untuk mencari tempat aman.


Alvan berlari lalu memukul pria yang berada di hadapannya.


“Ukkkhhhh.”


“Sialan jangan lengah.”


“Beraninya kau.”


3 pria berlari kearahnya dan mengayunkan Besi dan kayu.


Swishh…


Alvan melompat ke belakang lalu memegang badan musuh.


“AKKKHHH.”


“SIAAAL.”


Dia mengaliri musuh dengan electrik dan membuat mereka tidak sadarkan diri.


Terlihat ada dua orang pria yang berlari mengejar Cindy dan Kalia, Alvan yang menyadari itu ingin mengejar mereka tetapi dihentikan oleh musuh.


“Apa ini ?”


Salah satu musuh menggunakan kekuatan miliknya, orang itu tertawa lalu mengejek.

__ADS_1


“HAHAHA ini adalah kekuatanku.”


“.……”


“Apapun yang aku sentuh akan kembali menjadi ke bentuk semula.”


“Cih.”


Saat ini kaki Alvan tenggelam ke dalam Aspal yang kembali mencair.


“Setelah aku membatalkannya itu akan kembali keras hahaha.”


Dia tidak dapat bergerak karena kakinya sekarang terjebak di dalam aspal.


“Dengan ini kau tidak akan bisa kabur.”


“Cepat tangkap kedua gadis itu.”


Salah satu orang memerintahkan temannya untuk mengejar Cindy.


“DIAM DI TEMPAT.”


Alvan terlihat sangat marah saat ini karena mereka mulai mengincar sahabatnya. Dia sangat mencemaskan mereka karena sudah tidak terlihat oleh matanya.


“KALIAN YANG MEMINTANYA.”


SZZZZZZTTTTT…..


Dia mengumpulkan listrik di tangannya, Sinar berwarna biru muda menyelimuti tubuhnya.


“Sepertinya bahaya !”


“SERANG DIA SEKARANG.”


“JANGAN BIARKAN DIA BERBUAT SEENAKNYA.”


Jgerrrr….


Terdengar ledakan cukup keras yang membuat tanah bergetar, orang-orang yang mengelilingi mereka saat ini sudah terjatuh di tanah, warna kulit mereka berubah menjadi coklat dan terlihat mengeluarkan asap dari tubuhnya.


“JANGAN PERNAH MEMBUATKU MARAH.”


“Oi oi, aku tidak dengar ini.”


“Katanya musuh kita hanya sekelompok anak SMA.”


“Electrokinesis yang sangat hebat, bisa membuat petir seperti itu.”


Mereka terlihat panik dan menatap kearahnya.


“Bentar aku ingat dia, salah satu Esper terkuat di pulau Aurora, rank S dari SMA BARAT prince.”


Setelah mendengar itu wajah mereka membiru dan terlihat sangat panik.


Alvan  berjalan melewati mereka dan berusaha mengejar orang yang mengincar temannya.


“Kuharap kalian baik-baik saja.”


Dia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan electrokinesis lalu bergerak sangat cepat.


Di depannya terlihat 2 orang gadis sedang berdiri.


“CINDY, KALIA kalian tidak apa-apa ?”


“Oh Alvan.”


“Untung saja mereka bodoh.”


Kedua gadis itu melihat ke bawah mereka, di sana tergelak dua orang yang tadi berusaha mengejarnya.


“Apa yang kalian lakukan ?, sampai membuat wajah mereka terlihat biru seperti itu.”


------------------------------------


“Cindy ada orang yang mengejar kita gimana ini.”


Kalia melihat ke belakang dan menyadari kalau ada dua orang yang mengejar mereka.

__ADS_1


“Sialan di sekitar sini tidak ada air.”


“Tidak, kalau tidak salah di depan sana ada taman.”


“Taman ?”


“Iya ada air mancur di sana.”


“Baiklah.”


Cindy menganggukan kepalanya dan mengikuti Kalia dari belakang.


“JANGAN KABUR GADIS SIALAN.”


“AWAS SAJA KALAU KALIAN TERTANGKAP.”


Kedua gadis itu berlari menuju taman lalu segera mencari air mancur.


Setelah menemukannya mereka berhenti lalu membalikan badannya.


“Sial, aku cape.”


“Ini melelahkan.”


Sembari mengatur nafas mereka melihat musuh mendekati mereka.


“Sepertinya kalian sudah kelelahan ya.”


“Jika kalian ikut kami dengan damai, kami tidak akan melakukan apapun !”


Mereka terlihat sangat percaya diri sembari berjalan mendekati Cindy.


Kalia dan Cindy tersenyum kepada musuh.


BLUK…. BLUK… BLUK….


Sejumlah air dengan cepat menerjak kearah para pria itu dan menutupi bagian kepalanya. Mereka tidak bisa bernafas dan akhirnya jatuh pingsan ke tanah.


------------------------------------


“Iya intinya, kami berpura-pura kelelahan.”


“Setelah musuh lengah dan mendekati kami.”


“Air dari kolam di belakang, kami gunakan untuk menutupi kepala mereka agar tidak bisa bernapas hahaha.”


Kedua gadis itu menjelaskan dengan sangat senang karena bisa mengalahkan musuh mereka tanpa cidera sedikit pun.


“Bagus karena musuh lengah, tapi lain kali kalian harus lebih berhati-hati.”


Alvan bisa bernafas dengan lega meliha kedua temannya selamat.


“Tapi-.”


Ekspresinya kembali menjadi serius.


“Bisakah kalian mencari tempat aman ?, sepertinya di sana banyak orang jadi sepertinya aman.”


“Kenapa al ?”


“Aku mencemaskan Kak Maria, Haqi dan Chanan.”


Setelah mendengar target dan organisasi dari musuh, Alvan menyadari kalau orang yang mereka hadapi saat ini adalah orang-orang yang telah mengintai mereka beberapa hari ini, oleh karena itu dia sangat mencemaskan teman-temannya, terlebih lagi Maria yang kembali sendirian menuju apartemen.


“Kalau gitu kami ikut.”


“JANGAN.”


Cindy ingin ikut karena mencemaskan mereka, tetapi alvan menghentikannya dengan berteriak dengan kencang.


“Maaf tapi, kalian akan menghambatku.”


Kalia dari belakang memegang tangan temannya.


“Cindy, apa yang Alvan bilang ada benarnya, lebih baik kita kembali ke apartemenku karena sudah dekat.”


“Huh… baiklah.. baiklah.. tapi kamu harus hati-hati Al.”

__ADS_1


“Begitu juga dengan kalian.”


Setelah mengatakan itu Alvan kembali berlari meninggalkan kedua temannya.


__ADS_2