TRIGGER

TRIGGER
BAB 3, Chapter 67. Mencari dan menghindar


__ADS_3

Sudah 7 hari berlalu sejak Intan membulatkan tekadnya untuk meminta maaf kepada Arin. Tetapi sejak saat itu Arin selalu datang terlambat ke kelas dan saat Istirahat atau pulang sekolah dia sudah menghilang dari dalam kelas tanpa ada yang menyadarinya.


“Arin dimana sih.”


Intan sedang berjalan mencari sahabatnya di lantai 2, di sekelilingnya terlihat murid kelas 2 yang sedang membaca buku. Di pulau Aurora setiap sekolah menetapkan kalau setiap kelas ditempatkan di lantai yang berbeda. Jika kelas 1 SMA maka akan di lantai 1, kelas 2 di lantai 2 dan begitu seterusnya.


“Besok tanggal 21 ujian selesai, tanggal 22 dan 23 adalah tes Esper.”


Dia terus berjalan dan mencari kemana-mana.


“Setelah itu akan ada libur musim panas sampai Agustus, Aku harus meminta maaf sebelum libur dimulai.”


------------------------------------


Terlihat dua orang Gadis sedang makan bersama di kantin, sekitar mereka di penuhi dengan murid lain yang sedang makan dan istirahat.


“Akhirnya Besok hari terakhir ujian.”


Naila berbicara.


“Ya.”


Maya melamun dan hanya menatap makanannya.


“Gimana Ujianmu tadi.”


“Ya.”


“Huh, MAYA.”


“Ah iya ?”


Dia terkejut dengan teriakan Naila dan akhirnya tersadar.


“Ada apa sih dengan mu ?”


Temannya bertanya dengan raut wajah yang sangat marah.


“Engga apa-apa ko.”


“Engga apa-apa gimana ?, udah beberapa hari kamu gini loh.”


“Maaf.. maaf.”


Naila menarik nafas.


“Apa ini soal Intan dan Arin ?”


“Kurang lebih ya, banyak yang ku pikirkan dan semakin membuatku bingung.”


Maya menjawab dan menatap atap.


“Apa mereka belum baikan ?”


“Tiap hari Intan nyariin Arin, tetapi dia selalu menghilang entah kemana saat ujian selesai.”


“Masa ga ketemu sih pasti ada di sekolah kan ?”


“Memang benar.”


Maya mengambil makanan dan memakannya.


(Arin bisa mendeteksi seseorang yang mendekatinya, kalau gitu mungkin dia sengaja menghindari kita.)


“Biasanya kita makan banyakan ya, sekarang hanya berdua saja.”


Naila terlihat murung karena dia suka dengan lingkungan yang ramai.


“Para senior sedang fokus untuk ujian,  kelas 3 pasti sangat berusaha keras jadi jangan ganggu mereka.”


“Iya aku tau ko.”


Saat mereka sedang makan dan mengobrol terlihat Alvan berjalan sendirian membawa piring di belakang Maya.


“Alvan.”


Naila yang melihat teman sekelasnya berjalan sendirian memanggil, Alvan berjalan menghampirinya.


“Ya ?”

__ADS_1


“Sendirian aja ?”


“Iya, mereka sibuk menghafal haha.”


“Gimana kalau makan sama kami ?”


Alvan memandangi gadis yang berbicara dengannya, lalu dia melihat kearah Maya.


“Terserah saja.”


Maya menjawab. Naila tersenyum kepadanya.


“Baiklah.”


Dia menarik kursi yang berada di sebelah Maya dan duduk di sana.


“Biasanya Cindy selalu bersamamu kan van.”


“Ah dia belakangan ini sering pergi sendiri kalau istirahat.”


“Jadi dia tidak bersama Kalia ?”


“Benar, Kalia dan Daniel sedang membaca buku di kelas untuk ulangan nanti.”


“Bukannya pangeran akan selalu di kelilingi oleh para kesatria yang melindunginya.”


Maya yang berada di sebelahnya mengejek.


“Kau selalu menghinaku setiap kali bertemu ya.”


Alvan mengerutkan halisnya dan tersenyum.


“Bukannya emang itu kenyataanya Prince ?”


Mereka berdua saling tersenyum sembari menyembunyikan kekesalan.


“Jadi kalian berdua cukup dekat ya ?”


Naila yang memandangi bertanya.


“TIDAK.”


“Hahaha.”


Saat Naila sedang tertawa Alvan bertanya sembari memakan makanan miliknya.


“Apa kalian belum berbaikan dengan Arin ?”


“Apa maksudmu, aku bahkan tidak pernah bertengkar dengannya ?”


Maya membantah.


“Tapi bukannya Arin selalu menghindari kalian ?”


“Dia itu menghindari Intan, tapi-.”


Saat sedang berbicara dia berhenti sejenak dan berpikir.


“Dari awal aku mengenal gadis itu dia sudah seperti ini, jadi tidak aneh jika ratu es menghindari orang lain ?”


“Gitu ya ?”


Alvan menghabiskan makanan yang berada di mulutnya lalu bicara kembali.


“Semoga saja mereka cepat berbaikan ya.”


“Aku juga berharap seperti itu.”


Naila menjawab.


Mereka bertiga berdiam cukup lama tanpa berbicara dan menghabiskan makanannya.


“Gimana Arin saat di rumah ?”


Maya bertanya dan memandangi makanannya.


“Entahlah.”


Alvan memandang ke atap.

__ADS_1


“Dia tidak pernah keluar dari kamarnya kata tante,  dia sering pergi keluar saat malam hari ?”


“Keluar kemana ?”


“Tidak tahu, yang pasti aku mendengar jendela terbuka dan tidak ada orang yang terdeteksi dari arah kamarnya.”


Maya memiringkan kepalanya.


“Bukannya bahaya wanita keluar malem saat malam hari ?”


Naila bertanya dan memasang wajah cemas.


“Benar, oleh karena itu aku bertanya kepada Chanan, dia menjawabnya dengan santai.”


“Eh ?”


“Apa itu ?”


“Dia bilang saat ini Arin berada di kota Barat daya.”


“Jadi mereka tau kemana anak itu pergi ?”


“Ya dan tidak.”


“Apa maksudmu van ?”


“Karena jawaban dari Chanan seperti itu, aku mencoba bertanya kepada Haqi dan kak Maria, jawaban mereka sama.”


“.….”


“Sepertinya mereka memasang sebuah GPS atau semacamnya pada Arin untuk mengetahui keberadaan dia, itulah yang ku pikirkan.”


“Apa Arin tidak marah dengan itu ?”


Naila memasang ekspresi bingung.


(mengingat sifat kak Maria, mungkin saja itu terjadi.)


Maya berpikir dan menggenggam kedua tangannya.


------------------------------------


Terlihat dua orang gadis sedang berada di atap sekolah. Salah satunya sedang tiduran di lantai. Kedua tangannya memegang kepala bagian belakang dan terlihat sangat santai. Lalu gadis satunya duduk di sebelahnya sambil memakan sebuah kripik kentang.


“Kau mau ?”


Dia menawari makanannya kepada gadis yang sedang bersantai itu, tetapi tidak ada jawaban.


(Setidaknya dia tidak menghindariku.)


Tidak lama setelah itu, gadis yang sedang bersantai itu berdiri, berjalan menuju pagar pembatas dan melompat ke bawah.


“Setidaknya lewat jalan yang benar, aku tidak bisa terbiasa melihat itu.”


Saat dia sedang berbicara datang seorang gadis membuka pintu atap, dia terlihat sedang mencari seseorang dan berjalan kearahnya.


“Cindy kan ?”


“Ya.”


“Apa kamu lihat Arin ?”


Cindy berpikir sejenak untuk memikirkan jawaban apa yang dia ingin katakan.


“Tidak ko.”


Gadis di depannya terlihat kecewa.


“Baik terima kasih.”


Lalu gadis itu pergi meniggalkanya dengan memasang ekspresi sedih.


(Sudah kuduga kalau Arin menghindari Intan.)


Cindy memandangi langit sembari memakan kripik kentang.


(Kemarahan Intan saat menyelamatkan Arin, lalu kemarahan Arin saat melawan Sekolah Utara.)


Dia tersenyum.

__ADS_1


“Haha mereka benar-benar membuatku iri. Semoga saja ini tidak berakhir dengan bad ending.”


__ADS_2