TRIGGER

TRIGGER
BAB 3, Chapter 71. Luapan emosi (2)


__ADS_3

Awalnya kedua gadis yang sedang memandangi satu sama lain itu terlihat baik=baik saja, membuat keempat orang yang melihat dari kejauhan tampak tenang. Akan tetapi teriakan mulai terdengar.


“Bagaimana jika mereka berkelahi.”


Kalia benar-benar mencemaskan apa yang terjadi di hadapannya.


“Kurasa mereka tidak mungkin berkelahikan ?”


Cindy berbicara.


“Iya.”


Maya juga merasa kalau kedua gadis itu tidak akan berkelahi dan akan mulai berbaikan.


tetapi perkiraan mereka salah, Intan tiba-tiba mendorong Arin dan terjatuh, lalu menarik kerah bajunya. Setelah melihat itu mereka berlari mendekati untuk memisahkan mereka.


“KALIAN BERDUA HENTIKAN.”


“HENTIKAN.”


Saat sudah cukup dekat, Cindy dan Maya terkejut melihat Arin memukul Intan tepat di wajahnya, perkelahian mereka tidak dapat dihindari. Intan berlari mengepalkan tangan kanannya dan berusaha memukul. Tetapi Arin dengan mudah menghidari itu lalu menendang kakinya yang membuat dirinya tersungkur di lantai. Dia sangat kesal dan mulai menggunakan gravitokinesis miliknya dan membuat tubuh Arin menjadi berat.


“SIALAN.”


Arin berusaha agar dirinya tetap berdiri dan tidak terjatuh ke lantai. Intan melihat celah berlari dan mendorongnya jatuh lalu mulai memukuli Arin.


“BUKANNYA TEMAN ITU AKAN MEMBAGIKAN RASA SAKIT MEREKA BERSAMA.”


Dia terus memukuli Gadis yang saat ini tidak dapat bergerak karena gravitasi di sekitarnya menjadi berat.


“JIKA KAMU MENGAKUI AKU ADALAH SAHABATMU KATAKANLAH ITU DARI AWAL.”


Intan berbicara dan terus memukul temannya sampai mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.


Maya menggunakan teleport kehadapan Intan lalu mendorong dia dengan sangat kuat.


“HENTIKAN INI INTAN KAU SUDAH KETERLALUAN.”


Intan yang terdorong, kekuatan miliknya dibatalkan. Cindy menghampiri gadis yang terkapar. Akibat tekanan gravitasi yang sangat kuat tubuh Arin mengalami rasa sakit disekujur tubuhnya. saat dia ingin berdiri dari mulutnya keluar darah.


“Arin kamu tidak apa-apa.”


Cindy yang cemas memegangi Arin yang sedang menyentuh dadanya yang terasa sakit. Lalu gadis itu mantap dengan sangat marah ke depannya. Dia mendorong Cindy dan berlari lalu menendang Maya dan Intan.


Dia langsung memukul wajah dan dada gadis yang terjatuh itu beberapa kali.


“ARIN HENTIKAN.”


Kalia menahan gadis itu dari belakang, Cindy bangkit dan membantunya.

__ADS_1


“KALIAN BERDUA HENTIKAN PERKELAHIAN INI.”


Intan mencoba bangkit tetapi ditahan oleh Maya.


“LEPASKAN.”


Kekuatan yang dimiliki Arin sangat besar, Kedua gadis yang menahannya tidak kuat dan akan lepas.


“ALVAN JANGAN DIEM AJA CEPAT BANTUIN TAHAN ARIN.”


Cindy berteriak melihat pria itu hanya diam dan menatap kejadian ini. Alvan sangat ingin membantu tetapi dia takut dianggap melakukan pelecehan kepada wanita jika menyentuh tubuh mereka. Tetapi setelah diteriaki oleh temannya dia berlari ke belakang Arin dan menahannya.


“INTAN SADARLAH.”


Maya berteriak dan menahan tubuh temannya yang berusaha memulai perkelahian lagi.


“HAHAHAHAHA….. HAHAHAHAHAHAHA…. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.”


Tiba-tiba saja Arin tertawa dengan sangat keras.


Intan melihat itu tersadar dan melihat Kalau jaket Arin dipenuhi dengan darah yang keluar dari mulutnya.


“Apa… ya..ng ak..u laku..kan ?”


Dia melihat kearah tangan yang penuh dengan darah. Tangan miliknya tidak berhenti bergetar saat dia menyadari apa yang sudah dilakukan kepada orang yang disayanginya.


“HAHAHAHAHHAAHA.”


“Lepaskan atau kalian bertiga akan menyesal.”


“Tidak akan, aku tidak akan membiarkanmu berkelahi dengannya.”


“Hentikan ini Arin aku mohon.”


Cindy dan Kalia menjawab dan terus memegangi tubuhnya dari depan.


“Dia adalah Sahabatmu kan Arin ?, jangan berkelahi lagi.”


Alvan menahan dia dari belakang dengan memegangi kedua lengannya.


“Teman ya ?, HAHAHAHAHA.”


Gadis itu menarik nafas. Lalu menyikut dada milik pria yang menahannya dari belakang dengan sangat keras.


“AHHH.”


Kemudian dia menendang Kalia menggunakan lutut. Cindy didorong, lengannya ditarik lalu dibantingkan ke lantai. Setelah tidak ada orang yang menahannya gadis itu mengambil trigger yang berada di saku jaket miliknya.


WUUUUUUSSHHHHH……..

__ADS_1


Angin yang sangat besar mengitarinya dan menerbangkan tiga orang yang terjatuh di dekatnya.


“UWAAAAAAAA.”


“AAHH HENTIKAN.”


Cindy dan Kalia diterbangkan dan menabrak pagar pembatas dan Alvan di hempaskan keluar gedung sekolah.


“Pangeran.”


Maya yang melihat itu berteriak.


Arin menatap dan tersenyum kepada dua gadis yang berada di hadapanya saat ini. Angin yang sangat besar seperti badai muncul tiba-tiba di seluruh sekolah, membuat beberapa orang panik dan mengungsikan diri mereka ke dalam gedung.


“Ini kekuatan Arin ?”


Intan terkejut karena ini pertama kalinya dia melihat kekuatan Aerokinesis sekuat ini dan itu dikeluarkan oleh temannya yang memiliki Rank E. gadis itu perlahan berjalan mendekatinya.


“Rin hentikan semua ini !!”


Maya masih berusaha menghentikan perkelahian mereka.  Tetapi saat ini gadis yang ditahan olehnya sudah tidak melawan dan hanya diam. Mereka berdua hanya melihat ekspresi penuh amarah dari gadis yang berjalan mendekati mereka dengan perlahan. Tiba-tiba di hadapan Mereka muncul Listrik dan terlihat Alvan turun dari langit.


“Arin hentikan ini !”


Meskipun terjatuh dari lantai 4, Alvan kembali dalam keadaan tanpa terluka, karena saat dia akan jatuh dia membuat elektromagnetik tubuhnya  menjadi kutub yang berlawanan dengan bumi. Dengan itu dia bisa mendarat tanpa terluka.


Arin mengayunkan tangan kepadanya lalu Tebasan Angin datang.


Alvan mengumpulkan elektrik di tangannya dan memukul lantai. Pelindung dari listrik melidungi mereka dari tebasan angin itu. Saat dia bernafas lega karena berhasil menghindari serangan. tetapi gadis yang menyerangnya sudah berlari kearahnya dari samping kanan dan di sekitar tangannya terlihat angin yang sangat cepat membentuk sebuah pedang.


“Terbanglah.”


Gadis itu mengayunkan serangannya. Alvan Menyilangkan tangannya dan mengumpulan elektrik untuk melindungi dirinya dari serangan itu. Tetapi dia terlempar dan beberapa luka goresan muncul di tubuhnya. Dengan sangat keras dia menghantap tembok dan tembok itu hancur seperti terkena tebasan benda yang sangat tajam.


“Ini bahaya.”


Maya merasakan bahaya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


(Sudah kuduga anak ini tidak boleh dibuat marah, tidak ada pilihan lain.)


“Intan kamu pergi dari sini.”


Tetapi gadis itu hanya diam melihat badai angin yang semakin besar dan mengacaukan lingkungan di sekitar SMA Barat. Terdengar juga teriakan para siswa dari bawah.


“Maafkan aku rin.”


Dia langsung melakukan teleportasi ke belakang Arin dan mencoba menendang kepalanya agar dia kehilangan kesadarannya.


Tetapi gadis itu menengok ke belakang dan tersenyum lalu menghindari tendangannya dengan mudah. Kaki Maya dipegang dan dibantingkan ke lantai dengan sangat keras.

__ADS_1


“Aaaakkh.”


Saat ini hanya tersisa Arin dan Intan yang berdiri. Cindy, Kalia serta Alvan masih berbaring di lantai. Mereka terlihat sedang menahan rasa sakit akibat benturan dan tidak sanggup untuk berdiri. Tidak ada orang lagi yang dapat menghentikan perkelahian kedua sahabat yang sedang bertengkar ini.


__ADS_2