
“Serius aku sudah mengendap-endap ke berbagai tempat, tapi tidak ada pergerakan sama sekali!”
Ekspresi sangat kesal terlihat dari seorang pria yang sedang bersembunyi di belakang tempat sampah besar, dia mengamati beberapa tempat yang di duga menjadi lokasi dari transaksi obat peningkat kekuatan. menurut kesaksian dari Arin yang belakangan ini sering berkeliaran di malam hari, beberapa orang sering kali terlihat di gang-gang, karena gedung yang sangat tinggi, tempat-tempat itu menjadi celah untuk seseorang berbuat kejahatan.
Banyak orang yang melewati gang untuk memotong jalan, tetapi beberapa berandalan mengambil kesempatan itu untuk mengambil uang dari orang yang melewat.
‘Jangan mengeluh bodoh, Arin saja dari tadi berpindah-pindah lokasi!’
‘Benar dari tadi dia tidak mengeluh sama sekali tau.’
Maria dan Haqi sedang mengamati monitor di kamar Chanan. Terlihat dua titik berwarna biru dan merah. Warna merah adalah Chanan, lalu biru adalah Arin.
“Iya aku tau.”
Selama Chanan pergi ke beberapa tempat, dia juga menempelkan beberapa kamera kecil di tembok atau tempat yang menerutunya sulit untuk ditemukan. Oleh karena itu Maria dah Haqi mampu memonitoring tempat tempat itu.
“Bagaimana dengan keadaan tempat lain!”
‘Tidak ada pergerakan sama sekali!’
Haqi melihat layar 2 di sana memperlihatkan 10 tempat berbeda.
‘Bagaimana denganmu rin ?’
‘A… Aneh.’
Karena Arin berada di atas gedung jadi suara suara angin dapat terdengar saat dia berbicara. Semakin tinggi kita berdiri angin akan semakin berhembus dengan kencang, karena tidak ada tembok yang menghalanginya.
“Aneh ?”
‘Kenapa rin ?’
‘Biasanya para berandalan pasti berkumpul bersama di tempat seperti ini.’
Orang-orang dengan Rank E biasanya membentuk semacam kelompok, mereka akan berkumpul pada malam hari. mereka yang selalu dihina oleh guru atau profesor saat di sekolah, Kesal dan mulai berbagi keresahan mereka.
Setelah membuat kelompok orang-orang itu mengklaim beberapa tempat menjadi wilayah kekuasaan mereka. Mereka pasti akan menyerang Esper sebagai pelampiasan. Bentrok antar kelompok pun sering terjadi.
Karena liburan musim panas sudah tiba, biasanya orang-orang itu akan sering berkumpul bersama. Tetapi kali ini sangat sepi, tidak seperti biasanya.
Arin yang mulai mengamati situasi ini sembari menyimpitkan matanya. Selama beberapa hari terakhir dia keluar pasti akan terlihat orang-orang yang tampaknya seperti berandapan berkumpul. Tapi kali ini tidak terlihat sama sekali.
“Aku akan pergi ke tempat lainnya!”
Setelah mengatakan itu Chanan pergi ke titik selanjutnya.
Dia berjalan perlahan sembari mengamati sekitarnya, memang benar kata Arin di sekitar mereka terlalu sepi dan hal ini sangat aneh, biasanya saat libur di mulai orang-orang dari luar pulau Aurora akan datang untuk berlibur, hampir setiap jalan di penuhi dengan orang-orang.
Meskipun masih ada orang yang berlalu lalang tapi kondisi saat ini membingungkan buatnya.
__ADS_1
(Entah kenapa perasaanku tidak enak!)
Tidak ada hal yang aneh, hanya saja tempat yang di datanginya sepi, tidak terdengar apapu suara hanya langkah kaki miliknya.
(Sial aku mulai membayangkan hal-hal yang mengerikan!)
Saat ini dia mengingat kembali beberapa urban legend yang bereda di pulau Aurora, ketika seseorang berjalan sendirian, di sekitarnya tidak ada siapapun hanya langkah kaki yang terdengar. Langit mulai gelap orang itu tidak dapat kembali dan hanya berputar-putar di tempat, Dia tidak dapat keluar dari jalan itu.
Tubuhnya mulai berkeringat dingin dan mulai membayangkan hal-hal horor lainya.
‘Kenapa detak jantungmu menjadi sangat kencang ?’
Haqi melihat monitor yang memantau detak jantung miliknya. Detak jatungnya perlahan-lahan mulai naik.
“Tidak tau kenapa aku mulai membayangkan hal-hal horor sekarang.”
Dengan wajah sedikit biru dia berjalan dengan waspada.
‘Bodoh emang!’
Maria mengejeknya. Terdengar gadis itu seperti sedang mengunyah sesuatu.
“Hey kamu sedang makan ya ?”
‘Hmm ya!’
‘Dia sedang makan kripik kentang !’
Chanan terlihat sangat kesal.
Haqi melihat kearah Maria yang sedan duduk bersantai di kasur sembari memakan kripik kentang. Terlihat dia sudah menghabiskan 3 bungkus.
Arin yang mendengar percakapan mereka hanya dapat menghela nafas, lalu pergi melompat ke gedung selanjutnya sembari terus menerus menggunakan kekuatannya untuk merasakan keberadaan orang-orang.
------------------------------------
Gina masih berada di rumah Arin, setelah mendengar detail pembicaraan Chanan, dia diamlalu merenungkan sedikit keadaanya. Dia sadar kalau mereka tidak ingin membuat terlibat karena terlalu beresiko, dan dia memiliki Rank E.
“Kalau gitu aku bakal Anter Devina pulang dulu kak!”
Ine serta Devina berdiri di depan pintu keluar, lalu berpamitan.
“Iya.”
Gina berjalan kembali menuju ruang tamu dan merilekkan tubuhnya di sana.
“Semoga kalian baik baikj saja!”
Devina dan Ina bejalan perlahan. Mereka menuju apartemen Devina, guru meminta data yang berada di rumahnya oleh karena itu keduanya pergi ke sana. Padahal Chanan dan yang lainya menyuruh mereka untuk tidak meniggalkan rumah Arin. Karena mungkin akan berbahaya.
__ADS_1
Devina awalnya setuju tetapi seorang guru terus menerus menghubunginya. Gina menyuruh untuk berbicara dulu kepada mereka tetapi dia tidak ingin membuat mereka kerepotan lalu menambahkan tugas mereka.
“Musim panas tapi dingin ya!”
“Benar, mungkin beberapa minggu lagi akan mulai panasnya.”
Tubuh Devina masih di balut oleh perban, saat mereka berjalan beberapa orang memandangi kearahnya. Tetapi keduanya berjalan dan tidak memperdulikan pandangan itu.
Mereka berdua menjadi cukup akrab saat ini, setelah menghabiskan waktu bersama dan bermain game mereka saling berbicara satu sama lain. Devina sudah mengetahui apa yang sudah di alami oleh Ina.
Ina menceritakan kisah itu setelah mendengar percakapan Chanan di atas siang tadi.
“Dimana tempat kamu diserang kemarin ?”
“Sebentar lagi, tempat itu benar-benar sudah cukup dekat dengan apartemen dimana aku tinggal!”
Keduanya belok kearah kiri, tempat dimana dia pernah di serang.
“Di depan sana!”
Devina menunjukan tempat itu, kekacauan sepertinya sudah di tangani oleh pihak berwenang, tetapi jalanan yang retak masih terlihat cukup jelas.
“Wah ini.”
Keduanya lanjut berjalan. Beberapa tembok masih terlihat hangus akibat laser yang di tembakan kemarin.
“Cukup berantakan juga ya!”
“Ya, untung saja kekuatanku Power Defend, jika tidak mungkin aku tidak akan selamat.”
Sekarang gadis itu benar-benar bersyukur karena memiliki kekuaran pertahanan, karena mengingat daya serang dari laser yang di tembakan kearahnya. Bisa-bisa dia mati terkena itu.
Mereka akhirnya sampai di apartemen.
“Ayo masuk ?”
“Hmm… tidak deh aku ingin menghirup udara!”
“Baiklah!”
Tujuan mereka adalah mengirimkan data kepada guru, Devina ingin kembali ke apartemen Arin karena sangat penasaran dengan kelanjutan dari percakapan mereka. Gadis itu masuk ke dalam sedang kan Ina menunggu di luar apartemen.
“Semoga Arin baik-baik saja!”
Sembari memandang ke langit dia tersenyum dan berdoa.
Beberapa menit kemudian Ina merasakan ada tatapan yang di tunjukan kearahnya, dia menoleh kebeberapa tempat untuk memastikan tatapan itu.
“Apa perasaanku saja ?”
__ADS_1
Karena tidak melihat siapapun dia akhirnya mengabaikan itu lalu bersenandung.